
Hari demi hari, bulan pun berganti hingga tak terasa kini telah berjalan tiga bulan sejak Axnes memutuskan untuk memaafkan Raiyan.
Raiyan benar-benar membuktikan dirinya berubah, dari caranya memperlakukan istrinya.
Ia kini lebih mengutamakan istri dan anaknya lebih dari apapun.
Untuk urusan perusahaan, mau tidak mau akhirnya Ayvin mencoba ikut terlibat dan membantu.
Raymond dan Vivian bernafas lega karena rumah tangga putra sulungnya tidak perlu hancur seperti yang mereka takutkan.
Raiyan merekrut dua pelayan untuk membantu meringankan pekerjaan rumah jadi Axnes hanya fokus mengurus Yanes dan dirinya.
Setiap akhir pekan, Raiyan akan memboyong anak istrinya untuk melepas jenuh atau sekedar menyuruh istrinya untuk pergi mempercantik diri.
Dan tepat hari ini, Yanes berulang tahun yang pertama.
Tentu saja kedua belah pihak keluarga besar Papa dan Mama nya hadir semua tak terkecuali Rex bersama istrinya.
Rex yang awalnya memutuskan untuk tidak menikah, akhirnya bertemu jodoh diusianya yang tak lagi muda.
Ia dan istrinya memutuskan untuk menikah tanpa mengadakan resepsi apapun, hanya sah tercatat di catatan sipil negara saja.
Semua orang saat ini sedang berkumpul di kediaman Raymond dan Vivian. Sedangkan Axnes dan Raiyan masih dirumahnya untuk mendandani putra mereka.
"Sayang, jangan yang itu. Yang ini saja, warna merah. Ini ulang tahun pertama Yanes, jadi dia harus tampil cerah dan ceria." Usul Raiyan memberikan sepasang pakaian berwarna merah menyala pada Axnes.
"Astaga Rai, Yanes tidak suka warna merah. Setiap kali kita memakaikan pakaian warna merah untuk nya dia selalu menangis. Kau lupa?" Tanya Axnes sambil memilih pakaian yang lebih cocok untuk Yanes.
"Kenapa anak sekecil ini cerewet sekali?" Gumam Raiyan menatap putranya yang sedang duduk tanpa mengenakan pakaian.
"Ah, ini dia." Gumam Axnes girang saat menemukan sepasang tuxedo Yanes.
Axnes pun segera memakaikan tuxedo itu pada Yanes.
"Wah..putra ku tampan sekali." Ucap Axnes girang.
"Dia tampan karena kita juga tampan dan cantik sayang." Ujar Raiyan mengedipkan matanya pada istrinya.
"Terserah saja." Ketus Axnes pura-pura.
"Apakah sudah?" Tanya Raiyan menggendong Yanes.
"Em.." Jawab Axnes langsung menggandeng manja tangan suaminya.
Mereka pun keluar dari kamar mereka untuk berjalan kerumah Raymond dan Vivian.
"Ramai sekali. Apa semua orang sudah berkumpul?" Tanya Axnes melihat kemeriahan dirumah besar mertuanya.
Mereka tidak mengundang orang asing selain anggota keluarga mereka saja.
__ADS_1
"Ah, ya ampun cucuku tampan sekali." Ucap Vanessa mengambil alih Yanes dari gendongan Raiyan.
"Wah, jika benar-benar berkumpul seperti ini ternyata ramai sekali." Ucap Raiyan senang.
"Hai, bibi Mily. Aku Axnes, kita belum pernah bertemu sebelumnya tapi senang bertemu dengan mu." Sapa Axnes pada istri Rex.
"Hai." Mily membalas sapaan Axnes dan memeluknya.
"Dan kau adalah Raiyan, suaminya Axnes." Ucap Mily kemudian memeluk singkat Raiyan.
"Senang bertemu bibi." Ucap Raiyan.
Mereka sangat bahagia.
"Paman, apa paman dan bibi berencana ingin mempunyai momongan?" Tanya Raiyan penasaran pada Rex.
"Kami tidak berpikir sampai ke sana. Tapi jika yang Maha Kuasa memberikan kepercayaan, maka kami akan siap." Jawab Rex tersipu.
Raiyan mengangguk paham.
"Ngomong-ngomong dimana Papa ku dan Papa Ray? Mama Vivian juga tidak kelihatan?" Tanya Axnes bingung.
"Mereka sedang menyiapkan suatu hadiah untuk Yanes." Jawab Rex tersenyum.
Raiyan dan Axnes mengangguk paham.
"Lalu, kalian kapan akan menambah momongan?" Tanya Rex antusias.
"Maafkan aku sayang. Aku yang salah." Ucap Raiyan memeluk istrinya dari belakang.
"Em.." Axnes berdehem lembut sambil membelai rahang suaminya.
Mereka meneruskan berbincang kecil sedangkan Yanes sedang dimanjakan oleh Vanessa, Ayvin, dan Harley.
"Selamat ulang tahun..selamat ulang tahun..selamat ulang tahun Yanes Lu..selamat ulang tahun.."
Vivian, Raymond, dan Max datang sambil mendorong sebuah meja dengan kue ulang tahun lucu berbentuk seperti Yanes.
"Astaga, ini lucu sekali." Ucap Axnes girang.
Vanessa dan yang lainnya yang ada didalam rumah pun keluar untuk melihat apa yang terjadi.
"Wow..Yanes lihatlah, kue nya sangat mirip dengan mu." Ucap Vanessa pada cucunya.
"Atatata." Yanes kecil bersuara seolah bahagia melihat kue duplikat dirinya.
Kue tersebut kemudian didorong masuk kedalam rumah oleh kedua kakek Yanes.
"Ayo, aku akan memotret Yanes bersama duplikat nya." Ucap Raiyan mengambil alih Yanes dari Vanessa dan mendudukkan Yanes di samping kue duplikat dirinya.
__ADS_1
"Ini benar-benar mirip sayang." Ucap Axnes melingkarkan tangannya pada pinggang suaminya.
Yanes kecil tertawa bahagia disamping kue duplikat dirinya.
"Lihatlah, cucu kita sangat menyukainya." Max menimpali.
"Semoga kebahagiaan selalu beserta kalian." Ujar Harley tersenyum.
Semuanya sangat bahagia, meskipun Yanes belum terlalu mengerti akan perayaan ulang tahun ini tapi ia bisa merasakan kebahagiaan yang sedang melingkupi dirinya.
Ia bahkan selalu tertawa dan tersenyum.
"Apa yang akan terjadi sekarang jika tiga bulan lalu aku tetap bersikeras ingin bercerai?" Gumam Axnes melihat kebahagiaan kedua keluarga besarnya.
"Sayang, kau tahu? Aku sangat sangat sangat bahagia. Rasanya tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan kebahagiaan ini." Ujar Raiyan memeluk istrinya dari belakang.
Mereka agak menepi dari kehebohan keluarga mereka.
"Rai, terima kasih karena kau sudah menepati janji mu untuk berubah. Terima kasih sekarang kau menjadi suami dan Papa yang baik untukku dan Yanes. Terima kasih untuk semuanya." Ucap Axnes terharu dan memeluk erat suaminya.
"Aku yang harusnya berterima kasih sayang. Kau mau memberikan kesempatan padaku untuk berubah menjadi lebih baik. Tapi ini tidak seberapa dengan semua pengorbanan mu untuk ku dan Yanes. Jadi jangan selalu mengatakan terima kasih. Jika ingin berterima kasih, maka berikan seorang adik kepada Yanes." Kelakar Raiyan.
"Nanti saja. Sekarang Yanes masih sangat membutuhkan perhatian kita." Ujar Axnes tersipu malu.
"Aku mengerti sayang. Aku juga harus menebus kesalahan ku selama delapan bulan kemarin mengabaikan nya." Ujar Raiyan.
Mereka terus berpelukan tanpa peduli dengan yang lainnya.
Cinta mereka yang sempat dingin kini menghangat kembali. Rasa sayang mereka yang sempat layu kini mekar kembali.
Dan semua berkat kesabaran dan perjuangan, bukan hanya Axnes tetapi juga Raiyan dan keluarga mereka.
Axnes berjuang membuang jauh ego nya, memaafkan suaminya, dan belajar untuk percaya sekali lagi pada suaminya.
Raiyan juga belajar sama membuang jauh egonya belajar menjadi pria yang lebih bertanggung jawab, dan menepati setiap janjinya.
Dan semua itu tak lepas dari dukungan kedua belah pihak keluarga besar mereka.
"Kau bahagia sayang?" Tanya Raiyan.
"Em..aku sangat bahagia." Jawab Axnes.
Mereka masih setia berpelukan.
"Aku juga. Aku sangat bahagia mempunyai istri seperti dirimu. Kau yang terbaik." Ucap Raiyan bangga.
"Sebaiknya kita bergabung dengan mereka." Ajak Axnes melepas pelukannya.
Mereka pun ikut bergabung dengan keluarga mereka yang selalu tertawa heboh itu.
__ADS_1
"Semoga saja kebahagian kita untuk selamanya. Semoga apapun yang terjadi kedepannya, kita bisa menghadapi dengan kepala dingin." Raiyan dan Axnes.
...~ END ~...