Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
Aku Mencintaimu, Max.


__ADS_3

"Pelan pelan sayang." Ucap Vanessa saat Max mulai mencumbu tubuhnya dengan buas.


"Apa kau menginginkan ku?" tanya Max menghentikan aksinya sebentar. Ia menatap dalam mata Vanessa.


"Aku mencintai mu Max." Ucap Vanessa membalas menatap mata tajam Max yang mulai sayu karena gairah.


Tidak ada kebohongan dimata Vanessa. Perasaan Max jadi tak menentu, antara ingin percaya tapi juga takut dibohongi.


"Masa bodoh." Batin nya.


Segera ia pun kembali mencumbu Vanessa dengan buas. Ia berada di atas Vanessa karena ketika Vanessa mulai mencium nya tadi, dengan segera ia memposisikan Vanessa dibawah nya. Mereka masih berada di Club tadi dan ditempat duduk yang sama.


Max mulai menyingkirkan lengan dress yang dikenakan Vanessa hingga tidak menghalangi nya untuk mencumbu leher Vanessa. Vanessa membiarkan Max melancarkan aksi nya sejenak. Ketika tangan Max mulai masuk kecela dress nya dan berusaha menembus milik nya, dengan cepat, ia melepas salah satu anting nya dan menusukkan anting itu dileher Max.


Seketika Max pun tumbang di atas nya tanpa sempat menikmati tubuhnya. Anting anting Vanessa sudah ia rakit sedemikian rupa sehingga ia dapat menyimpan jarum kecil berisi bius yang dapat membuat orang tertidur seketika dan tidak akan merasakan sentuhan dari jarum itu.


"Bawa dia ke kamar yang sudah ku pesan tadi." Ucap Vanessa pada dua bawahan nya yang baru mendekat.


Dengan segera, dua anak buah nya pun membawa tubuh pingsan Max kekamar yang dimaksud oleh atasannya.


"Bantu aku membuka pakaiannya." Perintah Vanessa pada dua bawahan nya tadi. Segera mereka pun melakukan perintah bos nya. Setelah itu mereka menutupi tubuh polos Max dengan selimut. Vanessa kemudian masuk kedalam selimut itu lalu menurunkan tali dress nya hingga seolah ia tidak mengenakan pakaian. Ia memeluk Max dengan intim.


"Potret aku." Ucap nya lagi sambil menyerahkan sebuah kamera yang ia bawa didalam tas nya tadi. Ia menggunakan kamera polaroid agar dapat segera di cetak fotonya.


"Ini bos." Ucap Salah satu bawahannya menyerahkan kembali kameranya.


Ia pun segera mencetak foto tersebut. Setelah tercetak ia kemudian keluar dari selimut itu dan berjalan untuk meraih pena dari dalam tasnya. Setelah ia menuliskan sesuatu di foto itu, ia pun segera meninggalkan kamar itu setelah memperbaiki pakaian nya. Anak buahnya pun meninggalkan kamar itu juga dan berjalan berlawanan arah dengan nya. Ia sengaja meninggalkan foto itu untuk Max.


Di negara yang berbeda, Raymond dan Vivian baru saja selesai melakukan kegiatan panas nya. Padahal hari masih siang, tapi mereka sudah melewati beberapa ronde kegiatan panas mereka.


"Sayang, lagi." Pinta Raymond memelas. Ia benar benar tidak pernah cukup menikmati tubuh istrinya.


"Aku lelah sayang." Ucap Vivian dengan nafas tidak menentu.

__ADS_1


"Aku akan memimpin, kau hanya diam dan menikmati saja. Yah yah." Ucap Raymond. Vivian menatap nya kesal. Bagaimana suaminya bisa semaniak ini.


Tanpa menunggu lama Raymond pun kembali mencumbu istrinya dan menyatukan miliknya. Raymond menyerang istrinya lagi dan lagi. Hingga akhirnya ia yang lelah sendiri.


Kembali pada Max.


Malam terasa sangat cepat berlalu. Kini sudah tergantikan oleh fajar yang menyongsong. Perlahan Max membuka matanya dan bangkit untuk duduk di ranjang nya. Ia melihat di sekeliling nya tidak ada siapapun. Seingat nya tadi malam ia sedang bergulat panas dengan Vanessa. Tapi sekarang yang ada dikamar itu hanya dirinya sendiri.


Kemudian pandangan nya tertuju pada foto yang Vanessa tinggalkan. Ia kemudian meraih foto itu untuk melihat isi foto itu. Ia sedikit tidak percaya bahwa foto itu adalah dirinya yang dipeluk intim oleh Vanessa. Ia membalikkan foto itu dan membaca tulisan dibelakang nya.


"Maaf sayang aku harus pergi duluan. Kau sangat hebat dan membuat ku puas berkali kali. Terima kasih. Aku mencintai mu Max." Isi pesan yang ditulis oleh Vanessa dibalik foto itu.


Max tertegun dengan kalimat terakhir difoto itu. Untuk kedua kalinya perempuan arogan seperti Vanessa mengatakan kalau ia mencintai Max. Max antara percaya dan tidak.


Ia meraih ponselnya dan mencoba menghubungi ponsel Vanessa. Vanessa memang sengaja menulis nomor ponselnya di belakang foto itu juga. Dan panggilan nya terhubung.


"Halo Tuan perkasa kau sudah bangun?" tanya Vanessa tanpa basa basi. Ia sudah menduga Max akan menelpon nya.


"Kenapa kau tinggalkan aku sendiri sayang?" tanya Max. Tanpa sadar ia tersenyum kecil. Dan pandangan nya tiba tiba beralih pada darah yang ada dikasur nya. Senyum nya semakin lebar, padahal itu hanya tetesan pewarna merah yang sengaja Vanessa teteskan kemarin malam.


"Aku merindukan mu." Ucap Max lagi lagi senyum nya terbit di bibir nya. Bukan senyuman atau seringai yang menakutkan. Tapi senyum manis yang terlihat bahagia.


"Aku akan menemui mu nanti sayang. Berikan alamat rumah mu yang lain. Aku hanya ingin berdua dengan mu." Ucap Vanessa menggoda Max.


"Baiklah nanti aku akan mengirimkan nya padamu." Ucap Max.


"Baiklah sayang. Sekarang aku harus bekerja dulu. Banyak pasien sedang menunggu ku. Aku mencintai mu Max." Lagi lagi Vanessa mengatakan cinta padanya.


Max belum sempat menjawab, karena Vanessa sudah mematikan panggilannya.


"Max Max, bukan aku yang akan tunduk dan memohon di bawah mu. Tapi kau yang akan tunduk dan memohon di atas ku." Ucap Vanessa menyeringai. Lalu ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya sebagai dokter kembali.


Hari ini juga sangat cepat berlalu dan kini sudah berganti lagi menjadi malam. Vanessa yang baru menyelesaikan pekerjaannya pun segera mengganti pakaian nya dengan pakaian yang lebih sexy namun tidak mencolok.

__ADS_1


Dengan segera ia pun melajukan mobilnya menuju alamat yang sudah Max kirimkan tadi untuknya. Setelah sampai ia pun segera masuk kedalam rumah itu karena Max sempat memberi tahu nya kalau pintu nya tidak dikunci.


Saat ia masuk, ia pun langsung melihat Max yang sedang duduk membelakangi nya sambil menonton televisi.


"Aku merindukan mu Max." Ucap Vanessa merangkul mesra pundak Max dari belakang dan mencium pipinya.


Max pun membelai lembut puncak kepala Vanessa dan mengecup lembut pipi Vanessa.


"Aku juga sayang." Ucap Max. Ia lalu meraih tangan Vanessa untuk duduk di samping nya. Vanessa menurut dan berjalan untuk duduk di samping nya.


Max merangkul mesra pundak Vanessa, dan Vanessa memeluk pinggang nya. Mereka sama sama saling memberikan kenyamanan.


"Max ... " Vanessa ingin mengatakan sesuatu namun ragu.


"Ada apa?" tanya Max yang kini sedang menatap wajah cantik Vanessa. Vanessa hanya tersenyum dan menggeleng. Ia kembali mengeratkan pelukan nya pada Max. Max hanya terus mengusap pundak nya dan sesekali mengelus kepala nya tanpa berniat melakukan apapun selain menonton televisi bersama.


Tak lama Vanessa terlelap dalam pelukan Max. Max yang menyadari itu pun, lalu memutuskan untuk membawa Vanessa ke kamar agar Vanessa bisa tidur dengan lebih nyaman. Setelah membaringkan Vanessa dan menyelimuti nya, ia pun berjalan mengitari ranjang nya dan bergabung di samping Vanessa.


"Aku mencintai mu Max." Ucap Vanessa dalam tidur nya.


Max hanya menatap wajah damai Vanessa. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya ada perempuan yang dengan tulus mengatakan ia mencintai nya. Walaupun ia tidak sepenuhnya percaya begitu saja.


Entah kenapa Max menetes kan air mata. Ia kemudian mengecup dalam kening Vanessa dan memeluk tubuh mungil itu hingga akhirnya ia pun terlelap tanpa melakukan apapun pada Vanessa.


**********


Akankah pada akhirnya Max menjadi bucin nya Vanessa?


Atau sebenarnya semua yang dikatakan Vanessa itu hanya tipuan belaka agar ia bisa lebih mudah mencapai tujuannya ?


Jangan bosan nungguin update nya yah.


Makasih buat kalian yang selalu setia.

__ADS_1


Tinggalkan jejak komentar, like, favorit san Vote nya.


Mampir juga di karya ku yang judul nya "IF LOVE" yuk dan tinggalkan jejak juga yah.


__ADS_2