
"James, apa kau sudah mendapatkan tiket yang aku minta pada mu?" tanya Rex pada James.
James sedang duduk bersantai dikamar Rex. Sedangkan Rex sedang mengemasi pakaian dan barang barang penting nya ke dalam koper.
"Sudah. Ini, penerbangan besok jam sepuluh pagi." Ucap James sambil menyerahkan tiket pesawat yang sempat ia minta James carikan.
"Terima kasih James." Ucap Rex tulus.
Rex dan James kini berteman baik sejak Max tidak terlalu mengurusi mereka lagi.
"Rex, apa kau yakin akan tinggal di Jepang dan meninggalkan kakak mu disini?" tanya James penasaran.
Pasalnya Rex tidak membicarakan sama sekali keinginan nya untuk tinggal di Jepang pada Max. Rex melakukan semuanya dan mempersiapkan nya sendiri dengan sedikit bantuan dari James.
Hah
Rex menghela nafas kasar.
"Tidak James. Keputusan ku sudah bulat. Aku tidak ingin lagi terlibat dengannya meski dia adalah kakak ku." Ucap Rex sendu.
Rex sebenarnya tidak tega, tapi ia juga tidak ingin lagi terlibat dengan Max selama Max belum benar benar berubah. Setelah pemakaman Vanessa hari itu, Max malah memilih menghabiskan waktu nya untuk mabuk mabukan. Bahkan tak jarang terlibat perkelahian dengan beberapa orang hingga berakhir dikantor polisi.
"Aku akan membawa nya jika dia benar benar berubah. Tapi kau lihat saja, bukannya berubah dia malah semakin parah. Bahkan kematian Vanessa saja tidak bisa merubah nya menjadi lebih baik." Timpal Rex lagi.
"Apa Vanessa benar benar sudah tiada?" tanya James ragu.
Rex menghentikan kegiatan dan menatap tajam kearah James.
"Tentu saja. Apa kau pikir aku bisa berbohong soal kematian." Ucap Rex.
James memperhatikan dalam kedua mata Rex untuk mencari celah yang menunjukkan kebohongan, tapi nihil hasil nya.
"Baiklah jika itu keputusan mu. Aku akan mendukung mu." Ucap James menendang ringan kaki Rex.
"Terima kasih James." Ucap Rex meninju pundak James ringan.
"Ya sudah, aku pergi dulu." Pamit Rex sambil menyeret kopernya.
"Kau mau kemana?" tanya James bingung.
"Aku akan menginap di hotel saja malam ini." Jelas Rex.
"Biarkan aku mengantar mu." Ucap James merangkul pundak Rex.
Mereka pun keluar dari kamar Rex, namun lagi lagi berpapasan dengan Max yang sedang mendengar pembicaraan mereka dari depan pintu kamar. Entah kenapa Max selalu saja bisa mendapat kesempatan untuk menguping pembicaraan orang. Rex tidak menghiraukan nya dan melewati nya, sedangkan James mematung tidak mengikuti langkah Rex.
"Kau mau kemana?" tanya Max pada adiknya membuat langkah Rex terhenti.
"Aku akan pergi dari sini ke tempat seharusnya aku berada." Ucap Rex dengan nada datar.
__ADS_1
"Jangan pergi Rex." Pinta Max menundukkan kepala.
"Aku tidak pergi. Aku hanya kembali ke tempat seharusnya aku berada. Dari awal aku memang tidak seharusnya disini." Rex tetap menjawab dengan nada datar.
"Jangan pergi Rex. Aku mohon. Aku hanya punya kau saja sekarang ini." Ucap Max berlutut menghadap Rex sedangkan Rex tetap membelakangi nya.
Hah
Rex menghela nafas kasar.
"Keputusan ku sudah bulat. Aku tidak bisa terus bertahan disini." Rex tidak berekspresi sama sekali. Hanya tatapan datar bahkan suara nya sangat datar.
"Jika begitu ijinkan aku ikut bersama mu." Max meminta pada Rex.
"Aku tidak bisa membawa mu. Kau hanya akan terus menambah masalah pada ku." Ujar Rex tanpa mempedulikan perasaan kakak nya. Bahkan untuk menyebut kakak pada Max saja ia berat.
"Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya." Pinta Max lagi, kini ia memeluk kaki Rex.
Hah
Rex lagi lagi menghela nafas kasar.
"Susul aku jika kau sudah menyelesaikan semuanya disini." Rex akhirnya mengalah.
"Sekarang lepaskan aku. Biarkan aku pergi." Pinta Rex. Akhirnya Max pun melepaskan pelukan nya pada kaki Rex.
Rex meninggalkan nya tanpa sekalipun menoleh pada kakaknya. Max tetap dalam posisi berlutut memandangi kepergian adiknya.
"Sayang, bangun lah ini sudah hampir siang." Ucap Vivian membangunkan suami nya.
"Tidak, aku masih ingin tidur." Raymond berkata lalu menarik tangan istrinya hingga Vivian jatuh terbaring di ranjang.
"Ray, ayolah. Ini sudah siang." Ucap Vivian mencoba mendorong tubuh suami nya agar menjauh.
"Ayo. Aku juga menginginkan nya." Ucap Raymond jahil. Ia masih baring dengan posisi memeluk Vivian.
"Kau ini keterlaluan." Vivian memukul punggung suaminya dengan cukup kuat, membuat Raymond mengerang kesakitan.
"Itu kasar sayang. Aku ingin yang lembut." Ucap Raymond lalu memandangi wajah kesal Vivian.
"Hah, sudahlah. Berbicara dengan mu hanya membuang waktu." Ketus Vivian lalu berusaha mendorong tubuh Raymond menjauh. Namun Raymond enggan.
"Jadi, jika kita melakukan sesuatu itu tidak akan membuang waktu begitu?" tanya Raymond memandang Vivian dengan tatapan menggoda.
"Raymond apa tidak ada hal lain didalam otak mu?" tanya Vivian meninggikan suaranya dan mulai kesal.
"Hahaha aku seperti ini pada mu saja sayang. Tidak ada yang lain." Timpal Raymond mencium gemas wajah Vivian, mulai dari kening hingga bibir tak luput dari serangan nya.
Tok tok tok
__ADS_1
Seseorang mengetok pintu dari luar membuat Raymond kesal. Ia segera bangkit dari posisinya dan berjalan menuju pintu untuk membuka nya.
"Ada apa?" tanya Raymond ketus saat melihat Jiro yang berdiri didepan nya.
"Hehe maaf mengganggu Tuan. Di bawah ada yang ingin bertemu dengan Tuan dan Nona Vivian." Jelas Jiro terkekeh sekaligus senang karena sudah berhasil mengganggu waktu berharga atasan nya.
"Mengganggu saja. Aku tidak ingin bertemu siapapun hari ini. Kau ini lebih baik cepat menikah dengan Dream agar kau tahu rasanya punya istri." Raymond mengomeli Jiro bertubi tubi.
"Ayolah Tuan. Aku hanya menyampaikan pesan. Jangan memarahi ku seperti itu." Keluh Jiro.
"Memang nya siapa yang mengganggu ku di waktu berharga seperti ini." tanya Raymond. Vivian melihat perdebatan suaminya dan Jiro kemudian memutuskan untuk mendekat.
"Max Jiang, Tuan." Ucap Jiro tegas. Vivian seketika langsung ketakutan dan bersembunyi di belakang Raymond. Ia menggenggam erat pergelangan tangan Raymond.
"Sialan. Untuk apa dia ingin menemui kami. Tidak takut mati kah?" Tanya Raymond tersulut amarah.
Tanpa menunggu jawaban dari Jiro, ia langsung berlari turun kebawah. Vivian mengikuti dari belakang walau ia ketakutan.
Saat dibawah dan sudah melihat sosok Max yang sedang berdiri gelisah, seketika ia langsung menghantam wajah Max dengan tinju nya. Max terpelanting jatuh kelantai.
"Bajingan sialan. Masih berani kau menampakkan wajah mu dihadapan ku." Ucap Raymond geram terus memukul Max.
"Tuan Lu, aku mohon dengarkan aku kali ini saja." Ucap Max terbata menahan sakit akibat pukulan Raymond.
Ia tidak membalas setiap pukulan Raymond.
"Tidak ada yang perlu aku dengar dari mu. Bajingan sialan." Raymond terus memukul dan meninju perut Max.
"Ray, aku mohon hentikan." Ucap Vivian yang sudah terisak.
Mau tidak mau akhirnya Raymond menghentikan hantaman nya pada Max dan kemudian berdiri dan berbalik membawa Vivian kedalam pelukan nya.
"Ijinkan aku berbicara kali ini saja Tuan Lu, Vi." Ucap Max dengan suara menahan sakit.
"Semua aku serahkan pada mu sayang. Kau ingin mendengar nya atau pun tidak." Ucap Raymond lembut pada istrinya.
"Aku ... "
***********
Kira2 Vivian bakal mau gak kasih kesempatan Max buat ngomong?
Dan apa yang mau dibicarakan Max?
Tungguin update selanjutnya yah.
Mampir juga di karya ku yang judul nya " IF LOVE "
Jangan lupa tinggalkan jejak komentar, like, vote, dan favorit kedua cerita ku.
__ADS_1
Salam sayang dan selalu jaga kesehatan kalian.