
"Sayang, kau ingin bayi laki laki atau perempuan?" Tanya Vivian mengelus kepala suaminya yang sedang berbaring diatas pangkuan nya.
"Aku terserah saja. Asalkan jika dia laki laki, dia harus tampan seperti ku. Dan jika perempuan, maka dia harus cantik seperti dirimu." Ucap Raymond dengan bangga nya.
"Kau ini percaya diri sekali. Aku memang cantik, tapi kau? Kau sama sekali tidak tampan." Ucap Vivian mengejek suaminya.
"Hei, jika aku tidak tampan mana mungkin kau mau menikahi ku." Ucap Raymond sombong.
"Aku menikahi mu karena terpaksa. Kau sudah dengan sengaja melamar ku didepan banyak orang, jadi dengan terpaksa aku menerima nya." Ucap Vivian mengelak.
"Wao, baiklah baiklah. Aku akan menceraikan mu setelah bayi kita lahir dan mengambil alih hak asuh anak ku." Ucap Raymond mengancam. Ia tahu istrinya hanya bercanda. Dia pun demikian.
"Dan sebelum itu, aku akan merobek perut mu. Lalu aku akan mengeluarkan organ mu dan memberikan nya pada singa singa mu." Ucap Vivian namun ia tersenyum manis.
"Ya Tuhan. Ternyata ia masih begitu menakutkan walaupun beberapa hari ini tidak meminta hal aneh padaku." Batin Raymond tak percaya mendengar perkataan Vivian.
"Kau menakutkan sekali sayang." Ucap Raymond mengejek istrinya.
"Harus. Agar tidak ada yang berani mengganggu ku." Ucap Vivian santai. Ia tidak sedang mengingat masa lalu.
"Yah, baiklah baiklah." Ucap Raymond parsrah.
"Sayang kau sudah menyiapkan nama untuk anak kita?" Tanya Raymond kemudian.
"Sudah. Jika dia anak laki laki aku akan menamainya Raiyan dan jika perempuan aku akan memberi nya nama Vira." Ucap Vivian bersemangat.
"Baiklah. Aku suka nama yang kau siapkan sayang." Ucap Raymond mengelus perut istrinya yang sudah tampak membesar.
#####
"Sayang, kau yakin akan melakukan ini?" Tanya Vanessa ragu.
Mereka kini sedang berada di depan mansion Raymond yang dulu. Max kembali berniat untuk minta maaf dengan benar pada Vivian. Ia membutuhkan maaf yang tulus dari Vivian.
"Aku yakin sayang. Aku sudah memikirkan ini. Aku butuh maaf yang tulus dari Vivian agar aku benar benar bisa meninggalkan semua masa lalu ku." Ucap Max menghela nafas kasar.
Jantung nya berpacu cepat, perasaan nya tidak menentu. Ia akan kembali bertemu dengan perempuan yang pernah ia jaga dan ia cintai, sekaligus juga ia sakiti.
"Baiklah. Aku akan setia disisi mu." Ucap Vanessa mengusap punggung Max.
"Aku sangat gugup." Ucap Max lalu meraih tangan Vanessa dan menggenggam nya erat.
"Kita masuk sekarang?" Tanya Vanessa dan dibalas anggukan oleh Max.
Mereka pun perlahan melangkah masuk. Perasaan Max semakin tak karuan seiring langkahnya yang semakin mendekati pintu mansion milik Raymond.
Ia menekan bel yang ada di sudut kiri pintu mansion berkali kali.
Bukan Raymond atau Vivian yang membuka pintu, melainkan Sion.
"Wooo, tamu besar rupanya." Ucap Sion dengan ekspresi sulit dibaca.
"Sion, em aku ingin bertemu Vivian dan Raymond sebentar." Ucap Max gugup.
"Mereka sudah tidak tinggal di sini." Ucap Sion ketus lalu hendak menutup pintu, namun Max menghalangi.
"Aku mohon Sion. Hanya sebentar saja." Ucap Max mencoba bernegosiasi. Ia mengira Sion sedang berbohong.
"Aku tidak berbohong." Ucap Sion kembali ingin menutup pintu, namun lagi Max menahan nya.
"Sebentar saja." Ucap Max memohon.
Hah
Sion menghela nafas kasar.
__ADS_1
"Masuk lah dan cari sendiri jika memang kau mengira aku berbohong." Ucap Sion menepi dari pintu agar Max dan Vanessa bisa masuk.
Max dan Vanessa akhirnya masuk. Namun yang Max dapati adalah puluhan bahkan mungkin ratusan pria sedang berlatih bertarung dan bela diri.
Dalaman mansion juga sudah dirombak sedemikian rupa, hingga terlihat lebih seperti arena pertarungan.
"Apa aku salah tempat?" Batin Max dalam hati.
"Kau tidak salah tempat. Tuan Ray memang sengaja merombak mansion nya menjadi tempat latihan bagi kami agar memperkuat kelompok dan kekuasaan nya." Ucap Sion yang sudah berdiri di belakang Max dan Vanessa.
"Lalu, mereka tinggal di mana sekarang?" Tanya Max benar benar ingin tahu.
"Cari tahu saja sendiri." Ucap Sion ketus lalu pergi meninggalkan mereka.
Mau tidak mau Max dan Vanessa terpaksa meninggalkan mansion itu. Saat diluar mansion, ia berpapasan dengan Jiro yang polos.
"Jiro." Max menyapa Jiro.
"Ya ampun. Iblis ini kenapa disini?" Gerutu Jiro menatap malas pada Max.
"Jiro, aku mohon berikan aku alamat tempat tinggal Raymond dan Vivian." Pinta Max memelas.
"Untuk apa? Masih belum cukup dengan semua yang kau lakukan?" Tanya Jiro malas.
"Aku mohon Jiro. Aku perlu menyelesaikan sesuatu." Ucap Max melepas genggaman tangan nya dari Vanessa dan menyatukan kedua telapak tangan nya dihadapan Jiro.
"Aku tidak akan memberi tahu mu." Ucap Jiro melenggang pergi.
"Jiro aku mohon." Ucap Max lagi membuat langkah Jiro terhenti.
Jangan bertanya kenapa Vanessa diam saja. Vanessa hanya ingin Max menjadi pria sejati yang mampu menyelesaikan masalah nya sendiri.
Hah
"Terima kasih Jiro. Terima kasih." Ucap Max bersemangat dan meraih tangan Jiro serta mengecup nya beberapa kali.
"Enyah dari hadapan ku." Ucap Jiro menepis kasar tangan Max dan mengelap tangannya pada jas yang ia kenakan seolah jijik.
Max pun akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana dan segera menuju ke alamat yang sudah Jiro berikan. Keringat dingin membasahi tubuhnya membuat Vanessa terkekeh. Max hanya diam dan fokus menyetir.
"Kau pasti bisa sayang." Ucap Vanessa mengelus pipi Max, membuat Max merasa sedikit lebih tenang.
Tak lama, akhirnya mereka sampai didepan sebuah rumah megah yang indah. Max menarik dan menghela nafas beberapa kali sebelum akhirnya turun dari mobil.
Ia menggenggam erat tangan Vanessa. Vanessa tertawa geli dalam hati. Perlahan ia melangkah mendekati pintu besar yang memang sedang terbuka. Semakin mendekat, ia dapat melihat Vivian dan Raymond sedang bercumbu mesra.
"Vi." Max memanggil Vivian lirih membuat kegiatan suami istri itu terhenti.
"Max?" Gumam Vivian saat ia menoleh kearah suara. Ia sudah tidak setakut dulu lagi pada Max.
Max menatap Vivian intens. Vivian tampak semakin cantik. Raymond hanya duduk menunggu apa yang akan dilakukan oleh Max.
"Vi, aku datang kesini hanya ingin memohon ampun pada mu sekali lagi. Aku ingin benar benar keluar dari masa lalu ku yang buruk. Aku ingin maaf mu yang tulus Vi." Ucap Max lirih mengatupkan tangannya didepan dadanya.
Vivian belum menjawab.
"Vi, aku mohon. Maafkan aku. Aku hanya butuh sebuah kata maaf yang tulus dari mu. Dan setelah itu aku benar benar tidak akan mengganggu mu lagi." Ucap Max lagi hendak berlutut namun segera Vivian menghentikan nya
"Tidak perlu berlutut Max. Kau seorang pria, tidak perlu merendahkan dirimu seperti itu." Ucap Vivian. Max tertegun mendengar perkataan Vivian. Bahkan ketika ia sudah menyakiti nya pun, Vivian masih menghormati nya sebagai seorang pria.
Hah
Vivian menghela nafas kasar.
"Aku memaafkan mu, Max. Aku juga ingin keluar dari sakit yang pernah aku dapatkan. Aku memaafkan mu dengan tulus. Dan terima kasih karena dulu kau sudah menjaga dan melindungi ku dengan baik. Aku juga minta maaf jika aku mengecewakan mu. Aku dulu sempat mencintai mu dan menunggu mu kembali. Tapi kau malah hadir sebagai Louise dan selalu menyangkal dirimu adalah Max. Jadi sejak saat itu lah aku melepaskan perasaan ku dan memilih Ray." Ucap Vivian menjelaskan.
__ADS_1
Mungkin dari awal sebenarnya inilah yang mereka perlukan, kesempatan untuk saling bicara.
"Maafkan aku Vi. Seandainya aku tahu kai benar benar sedang menunggu ku saat itu, mungkin aku tidak akan ... " Max tidak melanjutkan perkataannya. Air mata nya menetes mengingat semua kebodohan nya.
"Sudahlah Max. Semua itu sudah berlalu. Aku percaya kau juga sekarang sudah menemukan kebahagiaan milik mu." Ucap Vivian bangkit dari duduk nya dan berjalan menghampiri Max dan Vanessa.
Max tertegun melihat perut Vivian yang membesar. Vivian benar benar terlihat sangat cantik dengan tubuhnya yang sedikit berisi. Ia hanya kagum, bukan berarti masih cinta. Baginya Vanessa tetaplah segalanya dalam hidupnya.
"Hiduplah dengan baik Max. Jangan lagi menoleh kebelakang." Ucap Vivian tiba tiba memeluk Max.
Ingin rasanya Raymond menyerang Max namun ia mencoba mengerti istrinya.
"Terima kasih Vi." Ucap Max membalas pelukan Vivian.
Walau bagaimana pun mereka dulu pernah saling menyayangi.
"Kau hamil?" Tanya Max bahagia, saat mereka sudah melepaskan pelukan mereka.
"Itu bayi ku." Ucap Raymond sombong lalu mendekati istrinya dan merangkul posesif istrinya.
"Aku tahu Tuan Ray." Ucap Max tidak enak hati.
"Em, Vi mau kah kau nanti datang ke acara pernikahan ku?" Tanya Max lalu menggenggam tangan Vanessa.
"Aku akan usahakan Max. Kau tahu semakin besar kehamilan ku, aku semakin mudah lelah." Ucap Vivian menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
Max tidak lagi cemburu, ia justru bahagia.
"Baiklah, aku memakluminya. Tapi aku sangat berharap kau dan Tuan Ray bisa hadir." Ucap Max penuh harap.
"Jika Vivi tidak bisa, aku sendiri yang akan mewakilkan." Ucap Raymond dingin membuat Max tersenyum.
"Terima kasih." Ucap Max.
"Berbahagia lah. Buat dia tunduk pada mu." Ucap Vivian memeluk Vanessa.
"Terima kasih Nyonya Lu." Ucap Vanessa membalas pelukan Vivian.
"Tidak perlu seperti itu. Panggil aku Vivian saja sudah cukup." Ucap Vivian melepas pelukan nya.
"Baiklah." Ucap Vanessa.
"Em, Vi aku dan Vanessa harus pergi. Kami memang tidak akan lama disini. Aku memutuskan untuk benar benar menetap di Jepang dan menata ulang kehidupan ku." Ucap Max berpamitan.
"Semoga kau berhasil pria sinting." Raymond yang berkata.
"Aku anggap itu pujian Tuan Ray." Ucap Max yang sudah melangkah pergi sambil melambaikan tangannya dan satu tangannya setia menggenggam tangan Vanessa.
...~**End~...
Aku sedih, gara2 Vivian ngidam psyco, readers tersayang malah kayaknya gak senang dan jadi sepi.
Jadi aku selesaikan dulu deh.
Makasih buat dukungan kalian yang sangat berharga ini. Aku selalu sayang kalian.
Selalu jaga kesehatan yah.
Jika kalian ingin meminta season dua atau ekstra part, aku akan memikirkan nya dan coba membuatnya.
Tapi niat ku klo bikin season 2, cerita nya fokus pada anak Ray-Vivi dan Max-Vanessa.
Ada yang minat mungkin?
Jangan buru buru di UnFavorit dulu yah**.
__ADS_1