
"Sayang bangunlah." Ucap Max sambil membelai lembut wajah cantik Vanessa.
Vanessa tidak menghiraukan nya dan berbalik posisi membelakangi Max. Max tersenyum kecil, jika kemarin ia sangat marah saat Vanessa mengabaikan nya, tapi tidak pagi ini. Pagi ini ia malah merasa gemas dengan tingkah Vanessa.
"Sayang bangunlah, atau aku akan memakan mu sekarang." Ucap Max kembali.
Dengan malas Vanessa kembali membalikkan badan nya menghadap Max.
"Aku masih sangat mengantuk." Ucap Vanessa dengan suara serak dan malas.
"Bangunlah. Kau bisa terlambat bekerja nanti." Max tetap berusaha membangunkan Vanessa. Max tetaplah Max yang tidak suka dibantah.
"Kau berisik sekali." Ucap Vanessa ketus. Ia lalu mendorong wajah Max dengan telapak tangan nya dan menarik selimut kembali menutupi dirinya hingga kepala nya pun ikut tertutup.
Jika biasanya Max akan marah diperlakukan kasar terlebih oleh seorang perempuan, maka sekarang itu tidak tampak dari dirinya. Ia justru tersenyum gemas melihat perempuan disamping nya ini. Perempuan yang benar benar tidak takut pada apapun. Bahkan ia masih berani melanjutkan tidurnya disaat ada pria yang mengancam akan memakan nya.
Dengan sengaja Max menarik selimut Vanessa dengan kuat. Ia lalu memposisikan tubuh Vanessa hingga terlentang. Vanessa benar benar tidur seperti babi dalam pikirannya.
Lalu ia mencium gemas wajah Vanessa tanpa ada yang terlewatkan. Kemudian ciuman nya berhenti saat matanya menatap bibir mungil Vanessa. Bibir yang menyerang nya duluan malam itu. Ia pun segera menyatukan bibir mereka dan mulai mencium Vanessa lembut.
"Sial." Batin Vanessa membelalakan matanya merasakan pergerakan Max di bibir nya, saat kesadaran nya tiba tiba terkumpul. Dengan sekuat tenaga ia menendang perut Max menggunakan lutut nya, membuat Max terpelanting disamping nya.
"Maafkan aku Max. Tapi tidak untuk sekarang." Ucap Vanessa melihat wajah Max yang kebingungan.
Max benar benar tidak marah sama sekali padanya. Ia pun kemudian bangkit dari posisinya dan turun dari ranjang.
"Kau berpikir terlalu jauh sayang." Ucap Max mengacak rambut Vanessa yang memang sudah sedikit berantakan.
"Aku tunggu kau untuk sarapan bersama. Dilemari ada pakaian yang sudah ku belikan untuk mu." Max tersenyum manis pada Vanessa membuat jantung Vanessa tidak karuan. Max pun berlalu dan turun menuju ruang makan.
"Apa apaan dia? Dia tidak marah sama sekali? Apa yang sudah merasuki pikiran nya?" batin Vanessa bertubi tubi melihat tingkah Max Segera ia pun berlari kecil ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Setelah selesai ia pun turun dan bergabung dengan Max diruang makan.
"Kau cantik sekali." Max memuji Vanessa saat melihat penampilan nya yang cukup sexy. Vanessa hanya tersenyum.
"Tapi aku tidak menyukai nya." Ucap Max dengan raut wajah tidak ramah. Ia kemudian berjalan naik ke kamar nya dan meraih pakaian yang lebih tertutup untuk Vanessa.
"Pakai ini." Ucap Max melemparkan sehelai dress yang ia pilih tadi diatas paha Vanessa.
__ADS_1
"No. Aku suka pakaian ku yang sekarang." Ucap Vanessa lalu melempar kembali dress itu pada Max. Vanessa memang lebih suka mengenakan pakaian yang terbuka. Bukan berarti ia adalah wanita murahan seperti yang selalu Max pakai untuk memuaskan hasrat nya. Ia hanya nyaman saja berpakaian terbuka.
"Pakai." Ucap Max dengan nada mulai seram. Vanessa tetaplah Vanessa yang tidak mungkin akan takut pada siapapun. Vanessa tidak menghiraukan nya dan malah sibuk memakan sarapannya.
Max mulai emosi, dengan sigap ia menggendong Vanessa menuju sofa ruang tamu nya dan membaringkan Vanessa. Vanessa ingin bangkit dan pergi, namun Max dengan sekuat tenaga menahan nya. Max sengaja merobek paksa dress sexy yang ia kenakan sekarang, tanpa berniat lebih.
"Pakai ini." Ucap Max kembali melempar dress yang ia bawa tadi. Lalu berjalan kembali ke meja makan dan menikmati sarapannya.
"Pria gila." Teriak Vanessa frustasi. Untuk pertama kalinya ia kalah pada seorang pria. Mau tidak mau ia pun memakai dress yang diberikan Max tadi.
Perutnya masih keroncongan, sehingga mau tidak mau ia juga kembali bergabung dengan Max dimeja makan. Kedua nya sarapan dengan hening. Masing masing dengan pikiran masing masing. Hingga akhirnya Max memulai pembicaraan.
"Jadilah wanita ku." Ucap Max tanpa memandang kearah Vanessa.
Phuuu
Vanessa menyemburkan minuman dari mulut nya.
"Apa dia sedang menyatakan perasaan nya?" Batin Vanessa dalam hati sambil menatap Max yang tidak menatapnya.
"Tidak." Jawab Vanessa tegas membuat Max akhirnya memandang nya dengan tatapan tajam. Aura gelap mulai terpancar dari dirinya namun tidak mampu membuat keberanian Vanessa menciut.
"Tidak Tuan gila." Ucap Vanessa lalu berlari meninggalkan Max. Max tidak mengejarnya dan malah tersenyum kecil.
"Kau milikku Vanessa." Ucap Max.
"Vivian, apa kabar mu? Aku merindukan mu." Batin Max yang tiba tiba mengingat Vivian.
Dia mulai bimbang dengan perasaannya. Disatu sisi ia mulai tertarik pada Vanessa, tapi di sisi lain ego nya untuk memiliki Vivian sangat besar. Hingga akhirnya masih sisi ego nya yang menang.
Ia kemudian meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Lakukan rencana ku sekarang." Ucap Max dengan nada menakutkan, lalu segera ia pun menutup panggilan nya tanpa menunggu jawaban dari bawahannya.
"Vivian, kau tidak akan pernah lepas dari ku sekalipun kau memohon." Ujar Max menyeringai. Tampak sangat menakutkan.
Vanessa yang sedang mengendarai mobil nya pun tiba tiba menerima panggilan dari salah satu anak buah nya.
__ADS_1
"Bos, dia sudah mulai bergerak." Ucap bawahan nya dari balik telepon.
"Awasi saja terus. Jika ada yang mencurigakan atau dia bertindak diluar batas, segera beritahu aku." Titah Vanessa, dan langsung menutup panggilan nya.
Sekedar informasi, Vanessa tergabung dalam satu jaringan gelap yang didirikan oleh mendiang Ayahnya. Dan kini ia yang memimpin kelompok nya dengan kedok nya sebagai dokter. Ia benar benar seorang dokter, tapi ia menjadi dokter hanya untuk menutupi kedok aslinya.
" Max Jiang." Batin Vanessa mencengkeram kuat setir mobilnya. Ia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah sakit tempat ia bekerja.
Di negara lain, terlihat Vivian sedang mengemas barang barang mereka kedalam koper. Sedangkan Raymond memeluk istrinya dari belakang dan terus berusaha menggoda istrinya. Raymond benar benar menjadi maniak setelah menikah dengan Vivian. Tapi hanya pada Vivian, istrinya, wanita nya.
"Sayang, apa kau yakin besok kita pulang?" tanya Raymond memelas berusaha meraih gundukan istrinya tapi tangan nya selalu ditepis oleh Vivian.
"Waktu liburan kita sudah selesai. Pekerjaan mu sudah pasti banyak dan menumpuk." Ucap Vivian terus mengemas barang barang nya walau ia kesulitan bergerak karena perbuatan Raymond.
"Sayang, apa boleh aku meminta nya lagi?" tanya Raymond menggesek miliknya pada Vivian.
"Tidak. Kali ini aku menolak keras." Ucap Vivian tegas lalu melapas kasar tangan suaminya.
Wajar jika Vivian menolak tegas kali ini. Bayangkan saja, hampir setiap waktu Raymond selalu menginginkan dirinya. Hingga waktu bulan madu mereka sembilan puluh persen habis untuk berperang panas.
Raymond hanya memelas dan merebahkan tubuhnya kasar diatas kasur. Vivian tidak peduli. Jika ia ingin istirahat dengan aman, maka ia harus bisa tegas.
Tak terasa hari sudah mulai malam. Vanessa yang sudah selesai bekerja segera keluar dari ruang kerjanya. Namun kali ini ia tidak mengganti pakaian.
Ia berjalan dengan sedikit lesuh menuju mobilnya. Setelah sampai dan saat hendak membuka pintu mobil nya. Ia merasa seseorang menodongkan senjata tepat dipinggang nya.
"Jangan coba coba untuk pergi dari ku."
************
Makasih makasih buat kalian yang selalu setia dan mendukung aku.
Semua tidak berarti tanpa dukungan kalian.
Selalu tinggalkan komentar, like, Favorit, dan Vote kalian buat aku yah.
Dan juga jgn lupa berikan bintang 5, 4, 3 untuk "Mr. Mafia or Mr. Psychopath?"
__ADS_1
Lop you all.