Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
ROL 44 - Kecelakaan??


__ADS_3

Raymond, Jiro, Shen, dan Sion sedang berkumpul di sebuah cafe milik Dero yang baru saja launching.


Mereka berempat berkumpul untuk melepas penat sekaligus bercerita tentang kehidupan rumah tangga mereka dan hal hal yang bisa mereka bagikan bersama.


"Ini Pa dan para paman, minuman nya." Ucap Dero menata satu persatu cangkir berisi minuman berbeda dihadapan keempat orang tua itu sesuai pesanan mereka.


"Pergi sana." Jiro mengusir putranya saat melihat Dero hendak duduk dan bergabung dengan mereka.


Dero pergi dengan memonyongkan bibir nya.


"Ray, bagaimana kabar Raiyan? Apa dia masih belum pulang?" Tanya Shen penasaran.


Raymond menggeleng.


"Dia tidak ingin pulang. Dia selalu bertukar pesan dengan Ayvin dan Mama nya tapi tidak pernah mengingat ku." Ucap Raymond lemah dan bersandar pada sandaran kursi miliknya.


"Lagi pula kau juga tega sekali Tuan Ray, putra mu sendiri kau tidak percaya." Ucap Sion tersenyum jahil.


Raymond hanya menatap tajam padanya.


"Aku tidak tahu lagi bagaimana harus membujuk nya pulang." Ucap Raymond memijat pangkal hidung nya.


"Apa kau sudah tahu kalau menantu mu, Axnes sedang hamil?" Tanya Shen.


Raymond mengangguk pelan.


"Istri ku sudah cerita. Bahkan Raiyan bercerita panjang tentang masa ngidam yang sedang dialami Axnes. Istri ku sangat antusias dan ingin pergi menemani menantu nya besok." Ucap Raymond lemah merasa tak dianggap oleh putranya.


Ketiga sahabatnya mengulum senyum.


"Bagaimana jika aku memberi mu sebuah ide cemerlang?" Usul Shen menjentikkan jari nya.


Sion seketika menggeleng kepalanya pada Raymond. Sion teringat bagaimana dulu Shen memberinya ide konyol melamar Vio dengan menayangkan video diri nya yang sedang mengungkapkan perasaan.


Walaupun itu berhasil, tapi tetap saja malu jika diingat kembali.


"Ide apa?" Tanya Raymond penuh harap.


"Sini aku bisikkan." Ucap Shen meminta Raymond mendekat pada nya.


Raymond menurut dan Shen langsung membisikkan sesuatu pada nya.


··········


"Apa kau yakin?" Tanya Raymond ragu setelah mendengar ide dari Shen.


"Coba saja. Tidak ada salahnya mencoba." Ucap Shen penuh percaya diri dengan ide yang ia berikan.


"Aku sarankan sebaiknya kau tidak mencobanya atau kau akan menyesal sendiri Ray." Ucap Sion menghasut tanpa tahu apa ide yang Shen berikan pada Raymond.


"Tidak ada salahnya mencoba Ray. Gagal dan sukses urusan belakang." Ucap Jiro membujuk Raymond.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan mencoba." Ucap Raymond pasrah.


Sion hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Tuan sekaligus sahabatnya itu pasrah dan memilih mengikuti ide yang pasti konyol dari Shen.


"Aku harap kau tidak menyesal Ray." Ucap Sion mencengkeram lembut pundak Raymond, memberi dukungan.


Ketiganya melanjutkan obrolan mereka, mulai dari urusan pekerjaan hingga urusan keluarga. Membahas hal hal yang wajar untuk mereka bahas.


Mereka bukan seperti pria kebanyakan yang jika sudah duduk bersama, maka akan sibuk membahas urusan ranjang karena bagi mereka itu adalah hal pribadi yang tidak perlu diumbar.


#######


Sementara para Ayah tengah berkumpul untuk melepas penat, maka Raiyan sedang menghadapi tingkah istrinya yang cukup membuat kepalanya pusing.


Axnes tadi meminta nya untuk memasak mie pedas, namun setelah jadi Axnes malah menuduh Raiyan sengaja memasakkan sesuatu yang pedas untuk nya padahal ia meminta sesuatu yang manis.


Hal itu membuat Axnes menjadi nangis tersedu.


"Astaga sayang, jangan menangis lagi. Aku akan membuatkan yang baru untuk mu." Ucap Raiyan membujuk istrinya.


"Kau bersalah. Tapi kau bahkan tidak meminta maaf pada ku." Ucap Axnes tersedu.


"Salah darimana sayang? Jelas jelas kau yang meminta mie pedas tadi." Gerutu Raiyan didalam hati.


"Lihatlah, kau bahkan memaki diriku dalam hati." Ucap Axnes seolah tahu apa yang sedang Raiyan pikirkan.


"Aku minta maaf sayang. Aku yang salah." Ucap Raiyan menahan emosi nya yang serasa akan meluap sebentar lagi.


"Berlutut lah dan minta maaf dengan tulus." Pinta Axnes semangat.


Harga diri Raiyan sudah tidak berharga sama sekali jika sudah berhadapan dengan istrinya yang sedang mengidam.


"Lihatlah, bahkan permintaan maaf saja sulit terucap dari mulut mu." Tuduh Axnes memalingkan wajahnya.


"Bukankah tadi aku mengucapkan permintaan maaf. Apa aku salah tadi? Ah, aku ingin mati saja." Gerutu Raiyan didalam hati lagi.


Hiks Hiks


Axnes semakin terisak.


"Jika tahu begini sebaiknya aku tidak menikah dengan mu. Pasti masih banyak pria diluar sana yang tulus mencintai ku." Ucap Axnes sengaja.


Raiyan hanya mengelus dada mendengar tuduhan istri nya yang seolah mengatakan bahwa ia tidak tulus mencintai nya.


Raiyan langsung berlutut di depan Axnes.


"Istriku tersayang, maafkan lah aku yang tidak tahu diri ini. Maafkan aku yang selalu membuat mu bersedih. Aku tahu aku bersalah, tapi jangan marah lagi. Aku mohon, aku tidak bisa hidup tanpa senyuman dari mu." Pinta Raiyan merendahkan diri nya sebagai seorang pria hanya demi istrinya.


"Haha. Kau lucu Rai." Axnes malah tertawa geli melihat tingkah suaminya.


"Apa apaan? Dia tertawa? Menertawai ku?" Tanya Raiyan geram dalam hati.

__ADS_1


Setelah Raiyan meminta maaf dan berlutut, Axnes langsung dengan lahap menyantap mie pedas yang sudah Raiyan buat tadi tanpa banyak komplain.


Ia bahkan menyantap mie pedas tersebut seolah itu bukanlah mie pedas, padahal menurut Raiyan rasa mie tersebut sangat pedas.


"Aku kenyang." Ucap Axnes setelah menghabiskan makanan nya.


"Ingin minum apa?" Tanya Raiyan lembut.


Axnes menggeleng.


"Aku bisa sendiri. Aku tidak ingin kau salah mengambil lagi." Ucap Axnes masih seolah menyalahkan Raiyan.


Raiyan hanya bisa mendengus kesal dan mengelus dada sambil membereskan sisa piring kotor bekas makanan Axnes tadi.


Saat sedang sibuk mencuci piring, ia mendengar ponselnya berbunyi.


"Rai, Papa Raymond menelpon." Ucap Axnes melangkah mendekat sambil membawa ponselnya yang masih berbunyi.


Raiyan sejenak berpikir untuk menjawab atau tidak panggilan dari Ayahnya.


Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengeringkan tangan nya dan memilih menjawab panggilan tersebut.


"Ada apa?" Tanya Raiyan dingin.


"Rai, pulanglah kerumah." Pinta Raymond yang sepertinya sambil menyetir.


"Tidak akan." Ucap Raiyan dingin nan datar.


"Papa tahu kau masih marah pada Papa. Papa tidak memaksa mu, tapi pikirkan tentang istri mu. Dia sedang hamil muda dan butuh seseorang untuk menemani nya. Jika kalian pulang ke rumah, ada Mama mu yang jelas mengerti akan hal itu. Juga ada Dream." Ucap Raymond berusaha membujuk putranya.


"Tidak perlu. Aku sendiri bisa menemani istri ku. Lagipula jika aku butuh bantuan, aku bisa meminta Mama untuk datang kesini. Tidak perlu kami yang pulang." Ucap Raiyan datar hendak mematikan panggilannya.


"Rai.." Tiba tiba Raymond menjerit dari balik panggilannya dan terdengar suara decitan ban mobil yang beradu dengan aspal jalanan.


"Pa, apa yang terjadi? Papa katakan sesuatu.." Pinta Raiyan panik.


Tidak ada jawaban dari Raymond selain suara decitan ban mobil.


"Pa, Papa.." Raiyan terus memanggil Ayahnya membuat Axnes yang mendengar suara panik suaminya pun segera mendekat.


Kyatttt


BRAKKK


Terdengar suara mobil yang mengerem mendadak dan bunyi dua benda besar saling menghantam.


"PAPA." Teriak Raiyan histeris.


...~ To Be Continue ~...


#####

__ADS_1


Maaf lama up..soalnya mikir keras mau lanjut gimana


Like dan komentar jangan lupa..saran dan kritik dipersilahkan.


__ADS_2