Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
Balas Dendam


__ADS_3

Note : Part ini mengandung unsur kekerasan. Harap bijak memilih bacaan!!!


"Louise kau?" tanya Vivian saat melihat pria yang melepas topeng itu adalah pria yang ia kenal sebagai Louise selama ini.


"Aku Max Vi, bukan Louise." Ucap Max meraih tangan Vivian kedalam genggaman nya. Namun Vivian menepis nya kasar.


"Kau bohong. Dari awal kau tidak pernah mengakui dirimu adalah Max, bahkan saat aku menanyakan itu berulang kali." Ucap Vivian dengan suara tinggi.


"Aku benar benar Max. Aku melakukan semua itu ada alasan nya." Ucap Max memelas dan tetap berusaha meraih kembali tangan Vivian namun tetap ditepis kasar oleh Vivian.


"Max? Alasan? Apa alasannya adalah agar kau bisa mendekati dia dan tidur dengan nya?" tanya Vivian marah sambil menunjuk kearah Joyce yang masih terikat tanpa busana.


"Tidak Vi. Aku mendekati nya, meniduri nya hanya agar aku bisa membalaskan dendam mu." Ucap Max berusaha menjelaskan.


"Dendam? Haha kau lucu Louise. Aku tidak punya dendam pada siapapun bahkan aku tidak membenci siapapun." Ucap Vivian. Ia benar benar murka mendengar setiap perkataan Max.


"Kau punya dan harus punya Vi." Ucap Max. Saat Vivian ingin berbicara tiba tiba layar yang ada didepan nya kembali berubah menampilkan Joyce yang bergelut manja diatas pangkuan Ayahnya seperti video yang diputar oleh Max sebelum nya. Namun kali ini terdengar ada percakapan di antar kedua orang itu.


"Ayah, kapan Ayah akan menghancurkan kebahagiaan Vivian?. Aku sudah tidak sabar." Tanya Joyce.


"Sebentar lagi sayang. Untuk saat ini puaskan Ayah mu dulu." Ucap Ayah Joyce sambil meremas dada putrinya. Lalu mereka pun melanjutkan kegiatan panas mereka menjadi lebih ekstrim. Sungguh tidak ada yang tahu bagaimana awal nya sehingga Ayah dan anak yang sedarah ini bisa melakukan hubungan terlarang seperti itu.


Vivian terbelalak tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia tidak menyangka kalau Joyce dan Ayahnya adalah dalang dibalik peristiwa penyerangan itu.


"Kenapa kau lakukan itu Joyce?" tanya Vivian mulai terisak.


"Karena aku tidak suka melihat kebahagiaan mu. Kau begitu disayangi oleh orang yang status nya hanya Ayah angkat mu Sedangkan aku malah dijadikan budak nafsu oleh Ayah kandung ku sendiri." Ucap Joyce berteriak. Ia mulai menangis meraung mengetahui pria yang ia cintai selama ini hanya mendekati nya untuk balas dendam demi perempuan lain.


"Tapi tidak begitu caranya Joyce. Kau mengorbankan nyawa orang yang tidak berdosa hanya karena kedengkian mu." Ucap Vivian. Kenyataan yang ia terima saat ini benar benar menyakitkan. Orang yang dulu ia anggap sahabatnya satu satunya ternyata adalah orang yang merusak kebahagiaan nya.


"Vi, jangan menangis. Jangan menangis aku akan menghukum nya untuk mu." Ucap Max menghapus air mata Vivian. Ia mulai terlihat seperti psikopat sekarang.


Vivian tidak menjawab dan terus terisak. Max kemudian melangkah menuju nakas didekat ranjang. Ia membuka laci nakas itu dan mencari sesuatu. Lalu ia meraih sebuah cambuk dan membawanya keluar.

__ADS_1


Ssatt


Ia langsung mencambuk tubuh polos Joyce. Membuat Joyce berteriak kesakitan. Namun ia tidak peduli. Ia terus melanjutkan aksi gila nya hingga tampak tubuh polos Joyce perlahan berubah menjadi warna merah karena darah yang keluar.


Vivian terdiam mematung. Ia tidak menyangka Max yang ia kenal lembut selama ini ternyata adalah pria yang sangat menakutkan. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Max melihat Vivian masih menangis.


"Sstt sstt jangan menangis sayang. Jangan menangis. Kau belum terima karena hukuman yang kuberikan padanya masih terlalu ringan? Baiklah baiklah aku akan menambah hukumannya." Ucap Max sambil menghapus air mata Vivian. Ia melangkah tergesa gesa menuju nakas tadi untuk mencari alat lain untuk digunakan.


Pilihannya jatuh pada sebuah pisau tajam berukuran sedang. Ia membawa pisau itu dan menyayat tubuh Joyce.


"Sakit Louise. Aku mohon jangan siksa aku seperti ini. Aku minta maaf." Ucap Joyce dengan suara lemah.


"Maaf? Hahaha apa kau memaafkan nya sayang?" tanya Max menatap Vivian. Bibir Vivian membeku tidak sanggup berkata kata.


"Lihat Vi tidak ingin memaafkan mu." Ucap Max lalu menancapkan kasar pisau itu diperut Joyce.


"Tidak. Hentikan itu Max." Teriak Vivian saat melihat Max menusuk perut Joyce. Vivian jatuh terduduk dilantai kamar itu.


"Tidak sayang. Kau tidak perlu merasa kasihan padanya." Ucap Max lalu mencabut pisau itu dan menusuk nya ketempat lain, ia mengulang itu berkali kali.


"Sstt sstt jangan menangis sayang. Baik baik aku akan menyelesaikan nya." Ucap Max sambil menempelkan telunjuknya ke bibir nya. Ia kemudian kembali mendekati nakas dan meraih sebuah pistol.


Seketika ia langsung menembakkan pistol itu ke kepala Joyce, membuat Joyce meregang nyawa seketika. Vivian yang tidak sanggup melihat semua itu pun akhirnya jatuh pingsan.


"Sayang kau kenapa? Kau suka dengan hadiah yang aku berikan pada mu kan?" tanya Max sambil tertawa. Ia benar benar seperti orang kesetanan.


Ia kemudian mengangkat tubuh Vivian dan keluar meninggalkan kamar itu. Saat sudah di depan pintu utama ia berpapasan dengan James.


"Bereskan semuanya. Jangan ada yang tersisa." Ucap Max memberi perintah pada James.


"Baik Tuan." James mengangguk dan berlalu untuk menyelesaikan perintah dari Tuan nya.


Max kemudian membaringkan Vivian di kursi bagian belakang mobil nya dan lalu melaju pergi. Bahkan ia tidak peduli dengan dirinya yang tidak memakai baju atasan. Ia membawa Joyce ke apartemen nya. Setelah sampai ia kemudian membaringkan tubuh lemah Vivian diranjang nya dan ia melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Vivian perlahan mulai membuka matanya. Ia kemudian melihat sekeliling dan kaget saat melihat dimana ia berada saat ini. Ia kemudian dengan sigap langsung berlari menuju pintu kamar dan ingin keluar. Namun ternyata pintu itu sudah di kunci oleh Max. Vivian berusaha mencari celah untuk kabur namun sayang ia tidak menemukan nya.


Setelah Max selesai, ia pun keluar dari kamar mandi. Saat ia melihat Vivian berdiri di dekat pintu dan tidak menyadari kedatangan nya, ia pun mendekat dan memeluk nya dari belakang.


"Aku merindukan mu Vi, sangat." Ucap Max menghirup dalam aroma tubuh Vivian. Vivian terperanjat kaget mendapatkan pelukan dari Max.


"Max apa yang kau lakukan? Aku harus pulang." Ucap Vivian dengan nada setenang mungkin padahal ia sedang menahan ketakutan nya. Max yang sekarang bukan lagi Max yang ia kenal dulu.


"Untuk apa kau pulang sayang? Ini rumah kita." Jawab Max mulai mengecup leher Vivian. Vivian yang merasakan pergerakan tidak wajar pun segera melepas dirinya dari Max.


"Max, aku harus pulang. Besok adalah hari pernikahan ku dengan Ray." Ucap Vivian sambil menjauh dari Max. Max menyeringai lalu melangkah mendekati Vivian walau Vivian terus menjauh.


"Kau tidak akan menikah dengan siapapun sayang. Aku sudah bilang pada mu bukan?" Ucap Max tanpa menghentikan langkahnya. Aura seram semakin terpancar dari dirinya.


"Kalaupun kau menikah, itu hanya boleh dengan ku." Lanjutnya dan tiba tiba ia berhasil mencekal satu tangan Vivian.


"Aku mohon Max jangan seperti ini." Ucap Vivian mulai terisak.


"Menangislah sepuas mu sekarang sayang. Setelah ini aku janji kau tidak aka menangis lagi." Ucap Max lalu melangkah keluar kemudian ia menutup pintu dengan sangat kuat dan menguncinya dari luar.


"Ray, kau dimana?" gumam Vivian terisak.


Visual James ( Tangan kanan Max)



********


**Sekian dulu.


Jangan bosan tungguin update nya yah. Terus berikan dukungan kalian dengan tinggalkan komentar berupa kritik atau saran yang membangun dan juga like nya setiap selesai membaca satu part.


Favorit, Vote, dan rate bintang 5, 4, 3 nya yah.

__ADS_1


Jika berkenan mampir juga di karya ku yang judul nya "If Love". Langsung klik bio ku aja biar gak bingung.


Terima kasih**.


__ADS_2