
NOTE : 21+
Bijak dalam membaca!!!
"Sayang kau cantik sekali." Jiro memuji istrinya.
Kini mereka sedang dikamar dan bersiap untuk pesta pernikahan nya malam ini.
"Kau ini jangan menggoda ku." Ucap Dream tersipu malu. Dream sebenarnya baru selesai mandi dan hanya mengenakan bathrobe.
Jiro yang sedari tadi duduk di atas ranjang pun berinisiatif mendekati istrinya yang sedang berdiri didepan cermin dan memeluk istrinya dari belakang.
"Wangi." Ucap Jiro mengecup leher putih istrinya.
"Sayang, nanti saja." Ucap Dream malu dan berusaha untuk lepas. Ia sebenarnya gugup.
Jiro tidak mendengar nya. Ia terus mengecup sesekali menggigit kecil leher istrinya membuat istrinya bergerak gelisah dan mencengkeram bathrobe nya menahan sesuatu.
"Lepaskan saja sayang." Ucap Jiro agar Dream tidak menahan diri.
Kemudian ia membalikkan badan Dream berhadapan dengan nya. Dengan lembut ia mengecup bibir istrinya. Semakin dalam dan dalam, menuntut untuk dibalas karena sedari tadi Dream hanya diam. Reflek Dream akhirnya membalas nya dan mengalungkan tangannya pada leher Jiro.
Sambil mencium istrinya, Jiro menuntun istrinya agar berbaring diatas ranjang. Dream menurut. Ia membaringkan Dream dengan sangat hati hati. Satu tangannya menarik tali bathrobe Dream yang terikat. Ia terkejut karena saat bathrobe Dream terbuka, ternyata Dream belum memakai dalaman.
Jiro terpancing. Ia menghentikan ciuman nya dan melepas pakaian nya. Kemudian ia kembali mencumbu tubuh istrinya dan meninggalkan jejak merah dibelahan dada Dream.
Permainan semakin panas dan semakin kebawah membuat Dream menggeliat gelisah. Ingin menolak tapi sentuhan Jiro begitu memabukkan.
"Sayang, boleh aku melakukan nya?" Tanya Jiro menghentikan sejenak kegiatan nya dan menatap istrinya yang sudah sayu. Dream mengangguk pasrah.
Perlahan Jiro menyatukan miliknya pada istrinya.
"Akh, sakit ... " Dream mengerang kecil saat Jiro berusaha menembus miliknya.
"Maaf sayang, tapi nanti tidak lagi. Bertahanlah." Ucap Jiro dengan tangannya tidak berhenti bergerak diatas tubuh istrinya.
Setelah berhasil menerobos nya, perlahan Jiro menggerakkan maju mundur miliknya.
"Apa masih sakit?" Tanya Jiro was was dan Dream menggeleng.
Jiro semakin cepat membuat Dream semakin mendesah. Terjadilah pertarungan panas yang sudah ditunggu tunggu oleh Jiro selama hidup nya. Mereka melakukan nya dengan penuh cinta. Saling melepaskan, hingga akhirnya lelah setelah beberapa kali mengulang permainan.
"Istirahat lah sejenak sayang. Masih ada waktu." Ucap Jiro sambil menyelimuti istrinya.
"Aku mencintai mu." Ucap nya lagi kemudian mengecup kening istrinya penuh cinta.
"Aku juga." Ucap Dream memeluk erat Jiro dan menyembunyikan wajah nya yang masih merona malu.
Mereka pun akhirnya terlelap setelah kelelahan bertarung.
__ADS_1
...
Tok tok tok
Terdengar seseorang mengetok pintu kamar mereka, membuat Jiro perlahan mengumpulkan kesadaran nya.
Buk buk buk
Ketokan halus menjadi gedoran kasar. Jiro mengambil celana nya dan memakai nya sembarangan lalu berjalan pelan menuju pintu.
"Hei kalian berdua sedang apa? Cukup dulu bermain nya. Pesta kalian akan segera dimulai." Ucap pria diluar pintu yang ternyata adalah Sion.
Jiro membuka sedikit pintu dan mendongakan kepalanya keluar.
"Ada apa?" Tanya nya seolah tidak mendengar perkataan Sion barusan.
"Bersiap lah segera. Pesta kalian akan segera dimulai." Ucap Sion datar dan langsung berjalan meninggalkan Jiro.
Jiro pun berbalik dan berjalan malas untuk membangunkan istrinya. Ia tersenyum melihat wajah polos istrinya dan bercak merah pada kasur.
"Sayang bangunlah, kita harus segera bersiap untuk pesta kita." Ucap Jiro lembut. Dream akhirnya terbangun.
Setelah kesadaran nya terkumpul, Jiro pun mengangkat nya menuju kamar mandi. Segera mereka pun mandi bersama.
Setelah selesai, mereka pun bersiap, mengenakan pakaian yang sudah mereka siapkan sebelum nya. Setelah dirasa semua nya siap, mereka pun akhirnya perlahan melangkah keluar dari kamar nya menuju ke sebuah gedung yang tidak jauh dari hotel itu.
Mereka memasuki gedung itu dengan langkah tegas. Terlihat tempat itu sudah penuh dengan manusia. Sebenarnya Jiro ingin seperti Raymond, menikah secara sederhana. Tapi Raymond dan Vivian melarang keras, jadi akhirnya Raymond dan Vivian yang menyiapkan segala nya untuk pernikahan mereka.
Jiro dan Dream hanya tersenyum malu sambil sesekali melambaikan tangannya pada beberapa orang yang mereka kenal dan terus melangkah. Mereka memilih bergabung dengan Raymond dan Vivian yang sedang duduk disalah satu meja bundar dengan dikelilingi beberapa kursi.
Memang bukan acara formal, jadi mereka pun dengan santai menghadapi nya.
"Ya ampun Dream." Vivian berteriak heboh saat melihat tanda merah di belahan dada Dream.
Dream tidak sadar dengan apa yang dilakukan Jiro padanya saat bermain tadi. Jadi dia pun tidak terlalu memperhatikan apa yang ada pada tubuhnya. Ia hanya bersiap seperti biasanya.
"Ada apa?" Dream bertanya heran dengan suara sedikit keras.
Musik yang keras membuat ruangan itu terasa seperti Club malam.
Vivian tidak menjawab dan hanya tersenyum jahil memandang tanda merah pada Dream.
Menyadari dirinya diperhatikan, ia berusaha menunduk untuk melihat apa yang dilihat Vivian. Samar samar ekor matanya menangkap keberadaan tanda merah itu.
"Jiro ... " Dream merengek mencubit lengan Jiro. Jiro meringis dan memasang wajah keheranan melihat istrinya.
"Apa?" Tanya nya sambil mengangkat dagu nya.
Dream menatap kesal suaminya. Jiro baru mengerti saat ia melihat ekspresi janggal dari Vivian dan Raymond yang juga tersenyum kecil.
__ADS_1
"Kau milikku sayang. Tidak perlu malu." Ucap Jiro lantang.
Ia malah merangkul mesra pinggang istrinya agar duduk lebih dekat padanya. Dream menunduk malu.
Perlahan musik yang ngebeat berubah menjadi musik mellow yang membuat hati tenang saat mendengar nya. Para lajang baik wanita ataupun pria turun dari lantai dansa, setelah tadi berjingkrak bahagia. Kini giliran para pasangan yang naik keatas lantai dansa.
Pesta yang sebenarnya sudah dimulai. Jiro menuntun istrinya perlahan menuju ke tengah tengah lantai dansa karena mereka memang yang utama malam ini.
Jiro meletakkan tangan dream satu dipundak nya dan satu dipinggang nya. Ia memegangi mesra pinggul istrinya. Perlahan mereka bergerak kekiri kekanan sesekali berputar mengikuti alunan musik.
Vivian dan Raymond sangat bahagia melihat mereka.
"Aku jadi ingin menikah lagi." Ucap Vivian polos.
"Tidak akan ku ijinkan. Coba saja kalau kau berani." Ucap Raymond mendengus kesal.
"Bukan itu maksud ku Ray. Aku ingin mengulang pernikahan kita begitu." Ucap Vivian menjelaskan.
"Haha baiklah baiklah." Ucap Raymond tertawa kaku karena sudah salah paham.
Raymond kemudian menoleh kearah Shen dan Sion yang sedang memelas melihat pengantin baru sedang berdansa romantis.
"Kasihan. Miris sekali hidup kalian." Ucap Raymond mengejek mereka.
"Diamlah Tuan. Jangan mengganggu konsentrasi ku." Ucap Sion. Ia terus memperhatikan adiknya dan Jiro.
"Kau terlambat Sion. Adik mu sudah diresmikan oleh Jiro." Ucap Vivian tersenyum jahil.
"Apa? Sialan. Berani beraninya dia menyentuh adik ku." Ucap Sion yang ternyata sudah sedikit mabuk. Ia bangkit dari duduk nya dan berjalan mendekati Jiro.
Namun dengan segera Shen menahan nya.
"Sudah sudah. Mereka itu sudah menikah. Lebih baik kita bersenang senang saja." Ucap Shen menunjuk kearah sekelompok perempuan yang sedang duduk sambil mengobrol kecil.
Mereka pun melangkah perlahan mendekati para perempuan itu.
Vivian dan Raymond hanya duduk menikmati pesta nya. Ingin berdansa, tapi Raymond tidak ingin membuat istrinya kelelahan.
Mereka pun setia mengikuti hingga acara selesai.
#Dream. Semoga cocok
Yey babang Jiro udah gak polos lagi.
Selalu tinggalkan komentar, like sebagai bentuk dukungan kalian untuk ku yah.
Jangan lupa juga favorit cerita nya dan juga share offline ataupun online keteman2 kalian.
__ADS_1
Selalu jaga kesehatan kalian yah.