
"Max ... " Vanessa memanggil Max dengan suara yang sangat lembut.
Mau tidak mau Max menghentikan langkahnya dan berbalik. Vanessa tersenyum sangat manis padanya.
"Ada apa?" Max bertanya penasaran.
"Apa kau tidak merindukan ku?" Vanessa bertanya dengan lantang dan tersenyum manis.
Deg
"Apa yang dia katakan?" Max membatin.
"Apa kau tidak merindukan ku Tuan gila?" Vanessa kembali bertanya dan memanggil Max dengan sebutan khas nya.
"Jangan bercanda Vanessa. Aku tidak akan dibodohi oleh mu. Kau main main dengan ku karena tadi aku seperti mengenal mu saat di Club." Ucap Max berusaha menyangkal kenyataan kalau Vanessa didepan nya saat ini.
"Ya sudah jika kau tidak percaya. Aku tidak masalah. Tapi jangan menyesali itu Tuan gila." Vanessa mengancam Max.
Vanessa berbalik dan hendak masuk ke kamar. Namun secepat kilat Max berlari menarik tangan Vanessa hingga Vanessa berbalik dan masuk kedalam pelukan nya.
"Aku merindukan mu. Sangat sangat merindukan mu." Max berucap dengan nada sendu.
Vanessa membalas pelukan Max dan mengusap punggung lebarnya dengan lembut.
"Aku juga merindukan mu Max." Vanessa membalas perkataan Max.
"Ini benar benar dirimu?" Max melepaskan pelukan nya dan memutar mutar badan Vanessa seolah memastikan sesuatu.
"Hei hentikan. Ini benar benar aku." Ucap Vanessa dengan nada dibuat kesal.
"Jangan tinggalkan aku lagi Vanessa. Aku mohon." Ucap Max kembali memeluk erat Vanessa. Vanessa tidak menjawab, ia hanya mengusap lembut punggung Max.
"Aku rasanya ingin mati tanpa diri mu Vanessa." Max berucap membuat Vanessa terkekeh.
"Apa sekarang kau sedang mengakui kekalahan mu?" tanya Vanessa.
"Kau menang. Kau menang sayang. Kau berhasil membuat ku memohon kepada mu." Ucap Max semakin mempererat pelukan nya. Rasa takut akan kehilangan yang teramat besar ada didalam diri Max.
Vanessa kemudian melepaskan pelukan nya membuat Max juga ikut melepaskan pelukan nya.
"Ayo, kemari lah." Vanessa menarik tangan Max ikut bersamanya masuk kedalam kamar.
"Duduklah." Titah Vanessa menyuruh Max untuk duduk di atas ranjang.
Setelah Max duduk, ia malah memilih duduk di atas pangkuan Max.
"Aku sangat sangat merindukan mu Max." Ucap nya. Kemudian ia langsung menerkam bibir Max dengan lembut.
Vanessa tetaplah Vanessa yang selalu menggoda Max duluan. Max pun membalas ciuman Vanessa tak kalah panas. Tidak lama, tapi cukup untuk membangkitkan gairah mereka. Max dengan cepat menghentikan ciuman panas mereka. Tidak ingin terbuai suasana.
"Ada apa sayang? Kenapa berhenti?" tanya Vanessa kebingungan.
__ADS_1
"Tidak sekarang sayang. Kita punya banyak waktu. Aku juga tidak ingin menyakiti mu." Ucap Max menatap lekat mata Vanessa. Vanessa tersenyum mendengar jawaban Max. Ia tidak menyangka Max bukan lagi Max yang dulu, yang tidak akan membiarkan wanita yang menggoda nya lolos begitu saja.
"Baiklah kalau begitu. Apa kau mau tidur bersama ku?" Vanessa bertanya dengan frontal.
"Baiklah jika itu mau mu." Ucap Max.
Ia kemudian memutar badan nya dengan posisi Vanessa masih diatas pangkuan nya. Kemudian ia membaringkan Vanessa dengan perlahan, lalu ia pun ikut berbaring disamping Vanessa.
Ia mengusap lembut pipi Vanessa menggunakan punggung telapak tangan nya dan menatap lekat wajah yang teramat sangat ia rindukan itu.
"Sayang, siapa pria yang tadi bersama mu? Kenapa selera mu buruk sekali?" tanya Max dengan nada mengejek dan berpikir pria tadi adalah kekasih Vanessa.
"Dia hanya salah satu anak buah ku." Vanessa menjawab seadanya sambil terus menatap wajah pria yang juga sangat ia rindukan itu.
"Anak buah mu?" Max bertanya heran.
"Lain kali saja aku akan menceritakan itu." Ucap Vanessa.
"Lalu kenapa kau di Club itu?" Max kembali bertanya penasaran.
"Aku ... "
Flashback On
"Hah, bosan sekali hari ini. Apa tidak ada kegiatan lain selain menunggu pasien?" Vanessa menggerutu bosan.
Tok tok tok
Terdengar pintu ruang kerja nya diketok dari luar.
"Bos." Seorang pria yang ternyata adalah anak buah nya memanggil nya.
"Big? Ada apa kau kesini? Tidak biasanya." Vanessa bertanya heran. Nama anak buah nya adalah Big, sesuai dengan perawakan nya yang tinggi besar hanya saja tidak tampan.
"Aku membawa berita penting untuk mu bos." Ucap Big duduk di depan Vanessa.
"Apa?" tanya Vanessa singkat.
"Pria mu akan datang ke Club teman ku nanti malam bersama adik nya dan beberapa klien nya." Ucap Big.
"Darimana kau tahu?" tanya Vanessa bingung.
"Tadi aku membantu teman ku mengurus reservasi untuk para tamu malam ini di Club nya, dan pria mu itu menelpon untuk reservasi juga." Big menjelaskan.
"Ah ya ampun. Aku sangat merindukan nya." Ucap Vanessa bersemangat.
"Jadi kau akan pergi kesana bos?" Big bertanya.
"Tentu saja." Ucap Vanessa bangkit dari duduk nya dan hendak berjalan keluar.
"Bos, kau tidak bisa pergi dengan penampilan seperti itu. Sebaiknya kau menyamar sedikit." Ucap Big memberi saran.
__ADS_1
"Benar juga." Vanessa membatin.
"Ini sudah aku siapkan semua yang kau perlukan. Aku tahu kau pasti ingin menemui nya." Ucap Big sambil mengangkat satu paper bag ditangan nya.
Dengan langkah cepat Vanessa menyambar paper bag itu dan melihat isi nya. Ia sangat geram melihat isi didalam nya. Ia tidak keberatan jika harus mengenakan dress sexy, tapi rambut palsu berwarna baby pink itu membuat Vanessa jengkel.
"Kau ingin aki memakai ini?" Vanessa bertanya ketus sambil mengangkat rambut palsu itu.
"Itu hanya pemanis bos. Segeralah ganti pakaian mu dan bersiap. Waktu kita tidak banyak." Ucap Big malah memberi perintah.
Vanessa pun akhirnya menuruti dan menuju ke ruang ganti yang ada di ruangan nya. Segera ia pun mengganti pakaian dan mengenakan rambut palsu tadi. Selesai, ia pun keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana?" tanya Vanessa kesal.
"Aneh bos. Tapi hanya ini cara agar kau tidak langsung ketahuan." Ucap Big menahan tawa melihat penampilan menor Vanessa.
"Ya sudah. Kau ikut dengan ku dan ikuti setiap pergerakan ku." Vanessa memberi perintah pada Big dan dibalas anggukan dari Big.
Segera mereka pun keluar dari ruangan menuju ke mobil masing masing lalu melaju menuju ke Club yang dimaksud. Tak lama mereka pun sampai, segera mereka pun memasuki Club itu.
Vanessa dapat langsung melihat Max dan Rex sedang berbincang serius dengan beberapa orang asing. Big menepuk pundak Vanessa membuat lamunan nya buyar. Kemudian Big menunjuk tempat duduk yang sudah ia siapkan untuk Vanessa dan menuntun Vanessa kesana.
Akhirnya mereka pun duduk. Vanessa tidak meminum minuman keras. Ia hanya terus memperhatikan pergerakan Max, sampai saat Max berjalan menuju toilet. Saat ia melihat Max keluar dari toilet dengan cepat ia menggandeng mesra lengan Big. Tak disangka, Max melihat nya dan mendekati nya.
Tentu saja ia tidak langsung mengakui dirinya, hingga akhirnya membuat Max pergi meninggalkan nya. Saat melihat Max hendak memapah Rex untuk pergi dengan cepat ia dan Big keluar dari Club itu. Ia memerintahkan Big untuk membuat ban mobil Max kempes sementara ia berganti pakaian.
Setelah selesai, ia pun segera masuk kedalam mobilnya dan menunggu waktu berlalu sambil melihat Max yang duduk di tepi jalan dari jauh. Setelah dirasa sudah cukup lama, ia pun memutuskan untuk mendekati Max dan menawarkan bantuan.
Flashback Off
"Jadi kau yang membuat mobil ku kempes?" tanya Max mencubit gemas hidung Vanessa.
"Mau bagaimana lagi. Aku hanya tidak ingin melihat mu pergi begitu saja." Ucap Vanessa memelas.
"Maafkan aku." Lanjutnya lagi.
"Baiklah, aku memaafkan mu. Sekarang tidur lah. Kau pasti sudah sangat lelah." Ucap Max mengelus lembut kepala Vanessa membuat Vanessa merasa sangat nyaman.
Pelan tapi pasti akhirnya mereka pun terlelap dengan posisi saling memeluk satu sama lain.
Misi Babang Max mau lewat
*******
Vanessa sudah kembali. Babang Max udah gak boleh sedih lagi.
Mampir yuk di novel ku yang judulnya " IF LOVE "
Tinggalkan jejak komentar, like, vote, dan favorit cerita ku yah.
__ADS_1
Jika berkenan maka tinggalkan sedikit hadiah untuk ku juga.
Yuk, luangkan sedikit waktu kita berdoa untuk saudara saudari kita yang mengalami musibah banjir dan longsor di Kabupaten Lembata, Flores Timur, NTT. Semoga diberikan ketabahan dan kekuatan untuk melewati nya. Amin.