
"Sion kau periksa apartemen Louise, pastikan anak anak mu bekerja dengan benar dan dia sudah menjadi bangkai." Ucap Raymond melalui sambungan telepon.
"Baik Tuan." Jawab Sion dari seberang sana.
Raymond pun mengakhiri panggilan nya. Ditatap nya wajah cantik Vivian yang masih terlelap.
"Kau pasti sangat ketakutan sayang." Gumam Raymond mengelus kepala Vivian.
"Euhh." Vivian melenguh kecil dan perlahan ia membuka mata indah nya.
"Selamat pagi Honey." Raymond mengucapkan pada Vivian sambil tersenyum manis. Vivian masih mengucek mata nya dan mengerjap beberapa kali hingga akhirnya ia benar benar dapat melihat jelas.
"Ray? Benarkah? Kau membawa ku pulang?" tanya Vivian semangat dan langsung terduduk dari posisi baring nya.
"Hem, kau sudah dirumah sayang." Ucap Raymond tersenyum.
"Terima kasih Ray." Ucap Vivian memeluk erat Raymond.
"Sama sama sayang. Maaf aku terlambat." Ucap Raymond sendu dan membalas pelukan Vivian.
"Sayang aku lapar." Ucap Vivian tiba tiba membuat Raymond tertawa kecil.
"Ayo makan. Tadi aku sudah meminta Dream untuk membuatkan makanan baru untuk kita." Ucap Raymond melepas pelukan nya dan turun dari ranjang, berjalan kearah nakas disamping Vivian.
"Aaaa makanlah." Ucap Raymond memberi sendok berisi makanan pada Vivian. Vivian menyambut nya dengan riang.
"Aku makan sendiri saja. Kau juga makan lah." Ucap Vivian mencoba merebut piring berisi makanan itu, namun Raymond menahan nya.
"Aku akan makan nanti." Ucap Raymond meneruskan suapan nya pada Vivian.
Mereka meneruskan kegiatan mereka sambil sesekali bercanda kecil. Tampak nya Vivian sangat cepat pulih jika bersama Raymond.
Di apartemen Max, terlihat Sion sangat frustasi karena anak buah nya gagal menghabisi Max. Saat ia sampai, ia hanya mendapati tubuh ketiga anak buah nya dengan darah yang menggenang dibawah tubuh mereka. Bahkan salah satu dari mereka kakinya terpotong.
"Ternyata dia lebih kuat dari yang ku duga." Batin Sion memperhatikan keadaan apartemen yang sudah berantakan itu. Ia benar benar tidak menyangka kalau Max masih bisa melarikan diri dalam keadaan terluka dan bahkan berhasil menghabisi anak buah nya dengan kejam.
"Tuan, dia berhasil lari dan anak buah ku tumbang " Ucap nya melalui sambungan telepon. Ia memutuskan untuk melaporkan pada Raymond apa yang terjadi.
"Cari sampai dapat. Tempatkan anak buah mu dimana pun. Jangan beri ia celah untuk kabur." Raymond memberi perintah dari telepon.
"Baik Tuan." Ucap Sion lalu mematikan panggilan nya.
"Kau benar benar benalu dalam keluarga Tuan Ray." Batin Sion sambil menyuruh anak buah nya yang ikut bersamanya untuk membawa ketiga jenazah itu agar dimakamkan dengan layak. Setelah nya ia pun segera pergi.
__ADS_1
"Ray, ada apa?" tanya Vivian saat melihat Raymond marah ketika berbicara ditelpon tadi.
"Dia kabur sayang." Ucap Raymond pelan dan segera melangkah kesamping Vivian. Ia tidak ingin membuat Vivian takut.
"Aku takut Ray." Ucap Vivian lalu memeluk posesif pinggang Raymond karena posisi Raymond yang berdiri dan ia duduk.
"Aku disini sayang. Jangan takut." Ucap Raymond mengelus pundak Vivian dan mengecup puncak kepala nya. Sungguh ia tidak ingin jika sampai kekasihnya mengalami trauma berlebihan. Itu bisa berbahaya untuk mental Vivian nanti nya, karena selalu merasa ketakutan.
Disisi lain disebuah rumah, tampak seorang pria sedang kesakitan saat orang kepercayaan nya mencoba mengeluarkan peluru yang bersarang dipundak nya.
"Akkhhh"
Ia berteriak kesakitan. Walaupun ia seorang pria tapi ia tetap merasakan sakit. Ia adalah Max. Max berhasil menyelamatkan dirinya saat James tiba tepat waktu untuk membantu nya.
"Sudah tuan." Ucap James lalu beranjak pergi meninggalkan Max.
Max menggeram menahan amarah. Matanya memerah, Rahang menggertak keras, tangan nya mengepal hingga urat urat hijau ditangan nya dapat terlihat dengan mudah.
"Ini belum selesai Raymond Lu." Ucap Max dengan nada terdengar menakutkan.
"Jika aku tidak bisa mendapatkan apa yang menjadi milik ku sejak awal, maka kau juga tidak boleh memiliki nya." Lanjut nya. Ia kemudian berdiri dan menghempas semua barang yang didekat nya dengan kuat.
Bahkan ia seolah tidak merasakan sakit pada luka nya. Tampak luka nya mulai mengeluarkan darah segar akibat perbuatan nya sendiri. Namun hal itu benar benar tidak membuatnya merasa sakit. Max benar benar psikopat, bahkan untuk tubuhnya sendiri saja ia tidak merasakan sakit.
"Ray, bagaimana jika ia kembali?" tanya Vivian dengan ekspresi khawatir.
"Sayang aku akan menjaga mu. Saat ini aku benar benar tidak akan meninggalkan mu lagi walau hanya sebentar." Ujar Raymond meyakinkan Vivian. Vivian hanya mengangguk. Mereka masih berada didalam kamar. Vivian enggan keluar dari kamar nya, dan Raymond mencoba mengerti itu. Ia dengan setia menemani kekasihnya, bahkan tidak pernah melepaskan pelukan nya.
Ia tahu, saat ini yang Vivian butuhkan adalah kehadiran seseorang yang bisa membuatnya merasa aman. Ia pun mencoba menjadi seseorang itu.
"Sayang, apa kau siap melanjutkan pernikahan kita?" tanya Raymond ragu.
"Apa, apa kau masih mau dengan ku?" tanya Vivian dengan suara lemah. Sungguh ia takut Raymond tidak menginginkan nya lagi setelah apa yang Max perbuat dengan tubuhnya.
"Sayang, aku mencintai mu karena kau adalah diri mu. Apapun yang terjadi tidak akan merubah perasaan ku, selama itu bukan atas keinginan mu." Jawab Raymond tegas.
"Tapi aku ... " Vivian tidak bisa melanjutkan perkataannya.
Raymond kemudian melepaskan pelukan nya. Ia membawa Vivian berhadapan dengan nya. Ditatap nya dalam mata yang sedang terluka itu.
"Sayang aku berjanji untuk menjaga mu bukan? Maka aku akan menepati janji ku, sekalipun kau sudah tidak menginginkan ku lagi." Ucap Raymond serius. Vivian mulai tersenyum kecil. Raymond sangat senang melihat nya.
Refleks ia mencium bibir mungil Vivian yang sedang tersenyum itu dengan lembut. Saat ia hendak melepas nya, tiba tiba Vivian membalas nya. Mereka bercumbu mesra. Raymond membaringkan tubuh Vivian perlahan tanpa melepas tautan bibir mereka.
__ADS_1
Raymond menaiki tubuh Vivian dan menahan kedua tangan Vivian diatas kepalanya dengan satu tangan nya. Ia terus mencumbu Vivian dengan lembut dan Vivian pun tidak menolak nya malah membalas nya. Kini Raymond mulai menjelajahi leher putih Vivian membuat Vivian menggeliat.
"Ray ... " Ucap Vivian dengan suara serak nya.
Raymond segera menghentikan kegiatan nya sebelum ia semakin terbawa perasaan. Ia tersenyum melihat kekasihnya tidak menolak dirinya. Tapi tetap saja ia akan manepati janjinya untuk tidak menyentuh Vivian lebih jauh sebelum mereka menikah.
Vivian menyembunyikan wajahnya yang merona malu di dada Raymond karena Raymond masih menindih nya. Raymond tersenyum melihat kelakuan lucu gadis nya itu. Ia ingin sekali rasanya menerkam Vivian sekarang, tapi tidak ia bukan laki laki yang tidak menepati janji. Ia bukan pria brengsek yang memanfaatkan keadaan.
Kemudian ia membaringkan tubuhnya disamping Vivian. Mereka sama sama menghadap langit langit kamar mereka.
"Sayang bagaimana jika pernikahan kita diadakan seminggu lagi?" tanya Raymond ragu. Ia hanya takut Vivian belum siap.
"Seminggu? Apa tidak terlalu lama? Padahal jika bisa aku ingin lebih cepat. Aku takut dia akan kembali dan menyakiti ku." Gumam Vivian, tentu saja Raymond dapat mendengar nya, tapi ia tidak ingin menanggapi. Ia bukan laki laki yang suka mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Hem, baiklah Ray. Aku setuju." Ucap Vivian. Raymond kemudian berbaring menyamping menghadap Vivian. Ia ingin menjahili Vivian.
"Sayang atau jangan jangan kau ingin kita segera menikah agar kita bisa ... " Ucap Raymond tersenyum jahil sambil menaik turunkan kedua alis nya.
"Apa yang kau pikirkan Ray?" tanya Vivian gugup.
Raymond langsung menggelitik perut kekasihnya itu dan membuat Vivian tertawa terbahak bahak.
"Sayang aku mohon hentikan hahaha aku geli." Ucap Vivian sambil tertawa.
"Aku tidak mendengar nya." Ucap Raymond terus menggelitiki Vivian.
"Hahaha sayang aku mohon hentikan hahaha." Ucap Vivian lagi. Dan akhirnya Raymond pun berhenti. Vivian bernafas dengan susah payah karena tertawa tadi.
"Berjanji lah kau akan selalu bahagia bersama ku sayang." Ucap Raymond lalu mengecup dalam kening Vivian.
Vivian mengangguk "Aku berjanji Ray."
*******
Terima kasih untuk para readers yang baik hati dan selalu mendukung ku.
Jangan bosan untuk terus tinggalkan dukungan kalian baik itu kritik ataupun saran di kolom komentar.
Tinggalkan like nya juga setiap kali kalian selesai membaca satu part.
Favorit, Vote, dan Rate bintang 5, 4, 3 nya juga ya.
Sayang kalian.
__ADS_1