
"Honey aku pulang." Raymond memanggil Vivian saat ia baru memasuki mansion nya.
"Honey kau dimana?" Raymond mengulang panggilan nya saat dirasa tidak mendapat jawaban.
Namun lagi lagi tidak ada jawaban. Ia memutuskan untuk langsung ke kamar nya, namun dikamar pun ia tidak menemukan Vivian. Ia kemudian mencoba mencari ke ruangan lain dan disetiap sudut rumah namun tidak ada hasilnya.
"Dream dimana Vivian?" tanya Raymond saat ia berpapasan dengan Dream.
"Nona Vivian sejak pagi belum pulang Tuan." Ucap mengatakan yang sebenarnya.
"Kau yang benar saja?" tanya Raymond tidak percaya. Pasalnya ia tahu betul kekasihnya bukan tipe perempuan yang suka keluyuran tidak jelas. Apalagi besok adalah hari pernikahan mereka.
"Benar Tuan." Ucap Dream sedikit ketakutan.
"Tapi mobil nya ada di tempat parkir." Ujar Raymond seolah tidak menerima jawaban Dream.
"Mobil nona Vivian tadi siang diantar oleh orang bengkel Tuan." Dream kembali menjelaskan. Raymond lalu memberi kode kepada Dream agar ia pergi.
Ia kemudian meraih ponselnya dan ia sangat kaget melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dari Vivian. Ia mulai khawatir dan berpikir yang tidak tidak. Ia mencoba menghubungi ponsel Vivian namun sayang ponsel Vivian berada di luar jangkauan. Ia mencoba berkali kali namun hasilnya tetap sama.
"Tuan apa yang terjadi pada Nona Vivian?" tanya Jiro saat ia baru sampai di mansion Raymond.
"Ada apa kau bertanya seperti itu?" tanya Raymond kembali.
"Nona Vivian menghubungi ku sebanyak sepuluh kali. Tapi barusan aku mencoba menghubungi nya kembali tapi tidak bisa terhubung." Ucap Jiro menjelaskan.
"Sial." Gerutu Raymond melempar ponselnya.
"Jiro kau segera lacak posisi Vivian. Minta bantuan Sion jika kau mengalami kesulitan." Titah Raymond.
"James, pastikan tidak ada cela untuk mereka menemukan Vivian." Ucap Max saat ia sedang bersama James di ruang rahasia nya.
"Baik Tuan." Ucap James menyanggupi perintah Max.
"Dan pastikan hari baik ku tidak ada yang merusak nya." Ucap Max kembali.
"Baik Tuan." James mengangguk.
__ADS_1
"Vi, aku sudah tidak sabar untuk memiliki mu." Ucap Max menyeringai dan mengusap bibir nya dengan jempol nya.
Max benar benar sudah gila. Ia bahkan sekarang merencanakan hal yang akan menyakiti Vivian. Padahal dulu dia menyuruh Raymond untuk tidak melakukan itu sebelum mereka menikah.
"Coba kita lihat gadis kecil ku ini sedang apa?" Gumam Max saat ia sudah berada di kamar tempat ia menahan Vivian.
Vivian ternyata tertidur dengan posisi meringkuk di dekat kepala ranjang. Terlihat kening nya berkerut tanda ia sedang khawatir dan takut.
"Apa yang kau takutkan sayang? Bukankah dulu kau selalu nyaman dalam pelukan ku?" Ucap Max seolah bertanya pada Vivian sambil mengusap lembut bibir mungil Vivian.
"Ray." Vivian mengigau nama Raymond.
Max mengepalkan tangannya kuat. Seketika ia langsung menarik tangan Vivian dengan kuat hingga Vivian kaget dan terbangun. Ia kemudian menarik paksa Vivian dan mencelupkan wajah Vivian ke air yang terdapat di wastafle.
"Sadarlah kau sekarang sedang bersama ku, tidak ada laki laki brengsek itu." Ucap Max dengan nada tinggi dan kasar.
"Max apa yang kau lakukan?" tanya Vivian dengan suara terbata menahan sesak karena perbuatan Max tadi.
"Jangan pernah kau sebut nama laki laki lain didepan ku." Ucap Max dengan suara menggelegar. Ia lalu menarik kasar tangan Vivian lalu menghempaskan tubuh Vivian ke atas ranjang.
Max kemudian keluar dan menutup pintu dengan sangat kuat meninggalkan Vivian yang sedang menangis.
"James perketat penjagaan, jangan sampai ada penyusup yang menyelinap kesini." Ucap Max dengan suara menggelegar. Lalu ia langsung pergi meninggalkan James.
Ia kini menuju ke club malam untuk memuaskan hasrat birahi nya dan juga mencari mangsa untuk memuaskan hasrat nya yang haus akan darah.
"Bagaimana Jiro? Apa kau sudah menemukan lokasi Vivian?" tanya Raymond dengan hati tidak tenang. Ia sangat merasa bersalah karena sudah mengabaikan dering ponsel nya tadi.
"Maaf Tuan tapi seperti nya ponsel nona Vivian sudah di sabotase seseorang. Lokasi terakhir nona Vivian hanya menetap di cafe yang tadi pagi ia kunjungi." Ucap Jiro.
"Benar Tuan. Bahkan aku juga tidak mampu melacaknya." Ucap Sion menimpali.
"Sialan. Siapa yang berani menyentuh orang ku?" Teriak Raymond lalu meninju dinding yang didekat nya.
"Vi, kau harus menunggu ku. Jangan sampai dirimu disakiti." Batin Raymond menjambak kasar rambutnya.
Ditempat lain terlihat Max yang baru saja menyelesaikan ritual nya. Ia kemudian mengemudikan mobil nya untuk kembali ke apartemen nya. Saat sudah di apartemen nya, ia pun langsung masuk kedalam kamar tempat ia menahan Vivian.
__ADS_1
Ia melihat Vivian sedang terlelap. Kemudian ia langsung naik keatas tubuh Vivian dan menindih nya. Vivian yang merasakan sesuatu berat diatas tubuhnya pun langsung membuka matanya. Matanya langsung tertuju pada mata tajam milik Max.
Seketika Max langsung menciumi bibirnya lalu turun ke lehernya. Max merekam aksinya itu dengan satu tangan nya. Setelah dirasa cukup ia pun berdiri dan melangkah pergi tanpa peduli kepada Vivian yang sedang ketakutan.
Ia sengaja mengirim hasil rekaman video tadi kepada Raymond. Disisi lain Raymond yang menerima video itu melalui email nya tidak dapat menahan amarah. Ia melempar beberapa vas antik diruangan itu. Beberapa pengawal nya juga terkena imbas dari amarah nya.
"Aku tidak peduli kau siapa. Tapi aku akan pastikan kau menemui ajal mu saat aku sudah menemukan mu." Ucap Raymond dengan ekspresi yang sangat menakutkan.
"Kak, kenapa kau lakukan ini?" tanya Rex yang baru saja mendatangi apartemen kakak nya.
"Bukan urusan mu." Ucap Max ketus.
"Kau menyakiti Vivian." Ucap Rex dengan suara tinggi.
"Diam lah. Memang apa peduli mu?" tanya Max tersenyum sinis menatap adiknya.
"Vivian gadis yang baik kak. Dia tidak bersalah." Ucap Rex mencoba membujuk kakak nya.
"Karena itu aku mencintainya dan ingin memiliki nya dengan caraku." Ucap Max dengan suara menakutkan.
"Kau salah kak. Jika kau mencintai nya harusnya kau membuat dia bahagia. Mengijinkan ia bahagia walau bukan bersama mu." Ucap Rex.
"Pergilah. Jangan ikut campur urusan ku." Max mengusir adiknya kasar.
Mau tidak mau Rex pun pergi meninggalkan kakak nya.
"Aku harus cari cara untuk menolong Vivian." Batin Rex sambil melangkah pergi.
**********
Semoga Rex bisa menemukan cara untuk menolong Vivian yah.
Terima kasih untuk kalian yang masih setia dan selalu menunggu kelanjutan cerita ku.
Terus berikan dukungan kalian dengan cara meninggalkan komentar berupa kritik atau saran yang membangun dan juga like nya setiap kalian selesai membaca satu part.
Favorit, Vote, dan rate bintang 5, 4, 3 untuk karya ku yah.
__ADS_1
Mampir juga di karya ku yang judul nya "If Love". Langsung klik bio ku aja biar gak bingung.
Salam Semangat.