Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
ROL 4 - Waktu untuk Ayvin.


__ADS_3

"Hei, bangun vin." Raiyan membangunkan adiknya yang masih terlelap.


Padahal sesuai janji, hari ini mereka akan pergi bersenang senang. Tapi waktu sudah menunjukkan pukul tujuh, Ayvin masih terlelap.


"Kakak, jangan mengganggu." Ayvin menolak untuk dibangunkan.


"Hei, bukankah kita akan pergi bersenang senang. Ayo bangun." Raiyan berusaha untuk tetap membangunkan adiknya.


Mendengar kata bersenang senang, Ayvin seketika membelalakan matanya lalu mengerjap beberapa kali.


"Aku lupa." Ucap Ayvin segera bangkit dari tidurnya dan berlari ke kamar mandi.


"Kami menunggu mu di bawah." Raiyan sedikit berteriak, lalu turun ke bawah.


"Ayvin sudah bangun Rai?" Vivian bertanya.


Raymond, Vivian, dan Jiro sekeluarga sudah rapi dan menunggu di ruang keluarga.


"Sedang mandi, Ma. Tadi adik lupa jadwal kita hari ini." Ucap Raiyan sambil mendudukan dirinya di samping Dero yang sibuk bermain ponsel. Raiyan merebut ponsel Dero.


"Hei, kembalikan ponsel ku." Dero berusaha merebut ponsel nya kembali tapi Raiyan berusaha menghindar.


"Cantik." Batin Raiyan saat tampilan ponsel Dero menampilkan foto candid seorang gadis yang sedang tersenyum manis.


"Kembalikan." Dero berhasil merebut ponsel nya.


"Aku sudah siap. Maaf lama menunggu." Ucap Dero yang sudah berdiri didepan mereka.


"Baiklah, ayo berangkat." Raiyan berdiri dan merangkul pundak adiknya lalu berjalan keluar disusul yang lain nya.


Mereka memutuskan untuk pergi ke pantai, mengingat Ayvin yang memang suka pantai. Hari ini Raiyan dan kedua orang tua nya akan memanjakan Ayvin, mengingat selama ini mereka jarang punya waktu banyak untuk Ayvin.


Menempuh waktu hampir dua jam, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Satu persatu dari mereka segera turun dari mobil dan mengeluarkan barang yang akan mereka gunakan untuk bersantai di pantai nanti, serta beberapa cemilan kecil yang sudah Vivian dan Dream buat sebelumnya.


"Pa, Ma aku dan Ayvin akan berganti pakaian." Raiyan pamit pada kedua orang tua nya disusul Ayvin.


Dero tentu saja tidak ingin ketinggalan. Ia pun segera mengejar Raiyan dan Ayvin.


Mereka berganti pakaian, Raiyan hanya mengenakan celana pendek khas untuk pantai, begitupun Dero. Ayvin lebih memilih menambah singlet untuk atasannya.


Para perempuan baik muda maupun yang berumur, terpana saat melihat ketiganya. Mereka bertiga segera mendekati para orang tua mereka setelah berganti pakaian. Namun langkah Raiyan terhenti saat ponselnya berdering.


Ia pun berhenti untuk memeriksa siapa yang memanggil. Dan ternyata Emily. Tidak peduli, Raiyan memilih mematikan ponselnya.


"Kenapa tidak diangkat kak?" Dero bertanya penasaran.


"Tidak apa. Waktu kakak dan Papa Mama hari ini sepenuhnya untuk mu." Raiyan mengacak pelan rambut adiknya.

__ADS_1


Senyum Ayvin mengembang. Sangat jarang mereka bisa menghabiskan waktu seperti ini. Mereka pun segera berjalan dengan sedikit berlari mendekati orang tua mereka.


Raiyan meraih sebotol air mineral lalu meminumnya sedikit. Setelah itu ia mengajak adiknya untuk bermain wahana air.


Pertama mereka bermain banana boat, Dero ikut bersama mereka. Ternyata Dero ketakutan.


"Woo..pelan pelan." Dero berteriak agar Raiyan pelan pelan. Raiyan memilih mengendarai banana boat sendiri, tidak menggunakan jasa pemandu.


"Kakak lebih cepat." Ayvin meminta agar Raiyan lebih cepat dan tentu saja Raiyan menuruti.


Dero tidak henti berteriak, semakin Dero berteriak Raiyan akan semakin cepat. Hingga akhirnya Raiyan kembali berhenti di pinggir pantai.


"Kau gila Rai, hoh hoh." Dero mengomeli Raiyan dengan nafas terengah.


"Kak Dero saja yang payah." Ayvin membela kakak nya sedangkan Raiyan hanya cengengesan.


"Kakak, aku ingin main itu." Ayvin menunjuk kearah jet ski yang berjajar.


"Ayo." Raiyan merangkul pundak adiknya mendekati jet ski tersebut.


Setelah dibantu oleh pemandu, Raiyan pun mulai menjalankan jet ski tersebut dari yang awalnya pelan menjadi semakin cepat dan cepat.


Mereka berdua sama sama pemberani dan suka sesuatu yang menantang adrenalin.


"Kakak aku sangat senang." Ayvin berbicara pada kakak nya dengan sedikit berteriak.


"Kau harus senang. Hari ini khusus untuk mu, maka nikmatilah." Raiyan menjawab perkataan adiknya.


"Hah, aku sedikit lelah." Ucap Ayvin yang kini duduk disamping Ayahnya.


"Papa senang melihat kalian saling sayang seperti ini." Raymond memijat pelan pundak putra bungsu nya.


"Haha kami memang saling sayang Pa. Hanya saja tidak banyak waktu untuk saling bersama." Ucap Raiyan lalu saling meninju kepalan tangan dengan adiknya.


"Aku ingin ke toilet sebentar." Ucap Ayvin lalu berlari pergi ke toilet meninggalkan keluarga mereka yang sedang tertawa.


"Hah." Ayvin menghela nafas lega setelah menuntaskan hajat nya.


Setelah mencuci tangan nya, ia pun keluar dari toilet dan hendak kembali bergabung dengan keluarga nya. Namun diluar toilet, ia merasa tangannya di tarik seseorang.


"Hei anak kecil, dimana kakak mu." Ternyata pelaku nya adalah Emily.


"Cari saja sendiri." Ayvin berucap malas. Ayvin memang tidak terlalu suka pada Emily, ia menghargai Emily karena kakak nya saja.


"Kau berani dengan ku. Aku ini kekasih kakak mu, jadi sebaiknya kau sopan pada ku." Emily membentak Ayvin.


"Kau hanya penghangat ranjang kakak ku." Ayvin berucap tanpa takut pada Emily.

__ADS_1


Plak


Emily menampar Ayvin.


"EMILY." Raiyan berteriak memanggil nama nya dari belakang.


Raiyan mendekati Emily dengan wajah merah padam karena amarah. Raiyan tidak akan mengijinkan siapapun menyentuh keluarga, tidak ada pengecualian.


"Ada apa vin?" Raiyan bertanya pada adik nya.


"Tidak." Ayvin menjawab singkat sambil mengelus pipi nya yang sakit karena tamparan Emily.


"Rai, adik mu menghina ku." Emily merengek menuntut pembelaan.


"Itu benar vin?" Raiyan bertanya menuntut kejujuran dari adiknya.


"Aku hanya bilang kalau dia adalah penghangat ranjang kakak." Ucap Ayvin sesuai kenyataan.


Raiyan tersenyum sinis sambil mengacak rambut adiknya.


Ia kini mengubah posisi berdiri nya menjadi berhadapan dengan Emily.


Plak


Raiyan menampar pipi Emily.


"Aku peringatkan pada mu Emily. Tidak ada yang boleh menyentuh adik ku atau keluarga ku yang lainnya. Tidak kau, tidak siapapun." Ucap Raiyan dengan amarah sambil menunjuk wajah Emily.


"Tapi Rai, aku kekasih mu, dan dia menghina ku." Emily masih berusaha membela diri nya.


"Apa yang dikatakan adik ku memang benar. Kau hanya penghangat ranjang ku." Raiyan menekan setiap kata pada kalimat terakhir nya.


Air mata Emily mulai meluncur bebas dari mata nya. Ia tidak menyangka, Raiyan yang selama ini tampak lembut kepada nya, bisa berubah menjadi menakutkan hanya karena keluarga nya diganggu.


"Aku harap kau ingat ucapan ku." Ucap Raiyan lalu menarik tangan adiknya untuk berlalu dari tempat itu setelah menyenggol kuat bahu Emily.


Emily hanya bisa menangis, tidak menyangka Raiyan tidak membela nya sedikit pun.


"Kau tidak apa apa?" Raiyan bertanya pada adik nya.


"Tidak." Ayvin berucap singkat.


Mereka pun akhirnya kembali bermain dengan wahana yang berbeda dan menghabiskan waktu benar benar untuk menyenangkan Ayvin.


******


Makasih yang selalu setia memberikan dukungan lewat komentar dan like.

__ADS_1


Kalian yg terbaik.


Mampir juga di " IF LOVE "


__ADS_2