
Sudah satu minggu Axnes dirawat dirumah sakit. Vivian dan Raymond merawatnya seperti putri mereka sendiri.
Selama satu minggu juga Raiyan tak pernah absen datang kerumah sakit hanya untuk memohon maaf dari Axnes namun selalu berakhir dengan Axnes mengusirnya.
Raiyan tidak pernah menyerah.
Ia tahu, ia sadar dirinya lah yang bersalah dalam hal ini bahkan semuanya adalah salahnya.
Axnes merasa marah namun bukan juga membenci suaminya. Hanya saja ia lelah dengan semua tingkah suaminya yang sudah sangat membuatnya kecewa hingga akibat terfatal adalah dirinya terbaring tak berdaya dirumah sakit dengan kondisi lumpuh.
Namun Axnes masih bersyukur karena ia hanya lumpuh setengah badan hingga ia masih bisa menggendong putranya.
Seperti saat ini, Axnes tengah menggendong Yanes diatas pangkuannya, walaupun Axnes hanya duduk diatas ranjangnya dengan kaki lurus.
"Sayang, kau semakin hari semakin gemuk saja. Nenek dan kakek pasti mengurusmu dengan baik." Ucap Axnes mengelus wajah gembul Yanes.
Yanes yang sudah sangat aktif, malah sangat anteng berada dalam gendongan Axnes, mungkin ia sudah bisa merasakan rindu saat Ibunya jarang berada didekatnya.
"Kakeknya selalu memberinya makan banyak padahal terkadang Yanes sudah menolak, tapi masih saja Papa mu menyuapi nya terus." Timpal Vivian berkelakar.
"Aku ingin cucuku sehat." Ujar Raymond membela diri.
"Sehat itu tidak harus gemuk." Vivian malah berdebat dengan Raymond.
"Lihatlah kakek nenek mu, sudah tidak muda tapi mereka masih sangat Harmonis. Kelak jika kau dewasa dan berkeluarga, kau juga harus seperti mereka." Ucap Axnes ceria namun tidak bisa menutupi kesedihan nya.
"Sayang, percayalah semuanya akan membaik seiring berjalannya waktu." Ucap Vivian menghampiri Axnes dan memeluk menantunya.
Vivian dan Raymond benar-benar sudah seperti orang tua asli untuknya.
"Iya, Ma." Jawab Axnes seadanya.
Ia bahkan tidak tahu lagi apa yang bisa ia lakukan untuk memperbaiki rumah tangga nya dengan Raiyan. Ia juga ragu apakah masih ada jalan untuk memperbaiki dan mempertahankan rumah tangga mereka.
"Axnes, kau istirahat saja. Biar Mama yang menggendong Yanes." Ucap Vivian mengambil alih Yanes dari Axnes.
"Em..aku belum terlalu lelah." Ucap Axnes.
__ADS_1
"Ya sudah, kau berbaring saja. Dokter bilang kau belum boleh terlalu banyak duduk." Titah Vivian lalu memberikan Yanes pada Raymond dan ia hendak membantu Axnes berbaring.
Namun kedatangan Raiyan membuat kegiatan mereka tertunda, akhirnya Axnes tetap diijinkan duduk.
"Sayang, aku mohon berikan aku satu kesempatan lagi. Aku janji akan memperbaiki semuanya." Pinta Raiyan mengatupkan kedua tangannya.
"Bagaimana caramu memperbaiki semuanya? Bagaimana Rai?" Tanya Axnes dengan suara pilu.
Raiyan terdiam mendengar pertanyaan Axnes.
"Aku sudah lumpuh. Aku sudah cacat. Dan kau bilang kau akan memperbaiki semuanya? Bagaimana cara nya Rai? Bagaimana?" Tanya Axnes dengan suara meninggi.
Raiyan kembali terdiam. Air mata Axnes mulai menetes membasahi kedua pipinya.
"Andai saja aku tidak bodoh dan mencintaimu, maka aku tidak akan pernah merasakan sakit seperti hari ini. Aku bahkan dengan mudahnya menerima ajakanmu untuk menjalin hubungan lalu menerima ajakanmu untuk menikah. Dan dengan bodohnya juga aku tidak melawan saat kau merenggut kehormatan ku. Dan sekarang yang aku dapat hanya rasa sakit. Rasa sakit secara fisik juga hati dan mental. Kau menang Rai. Dendammu terbalaskan." Ucap Axnes histeris.
"Tidak. Sungguh aku tidak pernah berpikir untuk membalaskan dendam apapun pada mu. Aku mencintaimu." Ucap Raiyan dengan suara terbata.
"Kau bohong Rai. Semua yang kau katakan dan lakukan sampai detik ini semuanya adalah sandiwara mu untuk mendapatkan kepercayaan ku dan juga keluarga ku." Teriak Axnes lagi.
Raymond memilih keluar karena ia sedang menggendong Yanes, dan Vivian hanya merangkul Axnes tanpa ikut dalam pembicaraan keduanya.
"Aku tidak pernah bersandiwara. Aku tulus mencintaimu." Ucap Raiyan frustasi.
"Jika kau mencintaiku, kenapa kau lakukan semua hal yang menyakitiku? Kenapa kau mengabaikan ku? Kenapa kau juga bahkan mengabaikan putra mu?" Tanya Axnes tak kalah frustasi.
"Aku ... " Raiyan tampak ragu untuk mengatakannya.
"Katakan Rai!" Teriak Axnes.
"Aku tergoda dengan rekan kerja ku. Aku tergoda dengan kemolekan tubuhnya dan kecantikan nya." Jawab Raiyan menunduk.
Sebulan setelah Yanes lahir, Raiyan memang sempat menandatangani proyek dengan salah satu perusahaan IT baru. CEO perusahaan tersebut adalah seorang wanita cantik bertubuh sexy. Sejak berkenalan, ia mulai menjauh dari Axnes dan perlahan mulai berubah. Walaupun begitu, ia tidak pernah sampai melakukan hubungan terlarang dengan wanita itu.
Akhirnya Raiyan menyadari kesalahan ada pada dirinya beberapa hari setelah Axnes kecelakaan.
"Lihatlah! Kau hebat Rai. Kau memang penjerat. Kau memang pria yang tidak pernah tahu caranya bersyukur. Apa aku setelah melahirkan aku menjadi seburuk itu dimatamu sampai kau harus mencari kenikmatan diluar? Kau bahkan tidur dengan wanita lain." Tuduh Axnes geram.
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak pernah meniduri nya atau siapapun. Sungguh. Aku hanya berkencan dengan nya, itu saja." Jelas Raiyan, namun Axnes sudah tidak percaya.
Vivian hanya menahan geram dan air matanya, ia tidak menyangka bahwa putra sulungnya akan menjadi pria yang mengecewakan seperti itu.
"Lepaskan aku Rai. Ceraikan aku! Ceraikan aku dan kau bisa bebas bersama wanita manapun yang kau inginkan." Pinta Axnes frustasi.
Ia benar-benar tidak menyangka suaminya, pria yang sangat ia cintai bisa melakukan hal seperti itu.
Axnes akan menerima jika kesalahan memang ada padanya, tapi siapa sangka jika masalah utamanya ada dalam diri Raiyan sendiri.
"Tidak. Aku tidak akan pernah menceraikan mu. Tidak akan pernah. Sampai matipun aku tidak akan pernah menceraikan mu." Ucap Raiyan frustasi.
"Ceraikan aku Rai!" Teriak Axnes lagi.
Vivian berusaha sekuat tenaga menenangkan Axnes dan Axnes menangis sesenggukan, memeluk erat pinggangnya.
"Tidak. Aku tidak akan pernah menceraikan mu!" Ucap Raiyan dan langsung keluar dari ruangan Axnes.
"Stt..sudah sayang. Jangan menangis lagi. Tenangkan diri mu. Jangan seperti ini. Semua bisa dibicarakan baik-baik." Ucap Vivian.
"Rai berkhianat Ma. Dia berkhianat." Ucap Axnes pilu.
Siapapun yang mendengar tangis Axnes sekarang pasti akan merasakan sakit hati yang dirasakan oleh Axnes.
"Sudah. Sekarang tenangkan dulu dirimu. Nanti kita pikirkan jalan keluar terbaik. Perpisahan belum tentu yang terbaik, ingatlah putra kalian masih kecil dan membutuhkan kehadiran kalian. Dia membutuhkan orang tuanya yang lengkap." Bujuk Vivian pada Axnes.
Bukan bermaksud membela Raiyan, tapi apa yang dikatakan Vivian memang benar adanya.
"Sekarang kau istirahat dulu. Setelah tenang,baru kita bicarakan semuanya." Titah Vivian membantu Axnes berbaring.
"Istirahatlah. Mama disini. Jangan menangis lagi." Ucap Vivian lalu duduk disamping kepala Axnes dan setia mengelus kepala Axnes hingga perlahan Axnes mulai tenang dan terlelap.
"Maafkan Raiyan yang hanya memberikan rasa sakit untuk mu. Percayalah, semua hanya sementara. Memang tidak ada kebahagiaan yang kekal, tapi rasa sakit dan kesedihan juga tidak ada yang kekal." Batin Vivian.
...~ TO BE CONTINUE ~...
#####
__ADS_1
aku dari kemaren2 dilema banget mikirin part ini 🙈🙈🙈
semoga nggak ada yang ngamuk setelah baca ini part yah..😁😁