
~ Mampir juga di karya ku yang judul nya "Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)" atau kalian bisa langsung klik di bio aku aja yah. Tinggalkan jejak setelah hadir.~
...~ Happy Reading ~...
.
.
.
.
Bukkk
Axnes jatuh pingsan saat ia dan Vynshen hendak berbalik kembali ke arah belakang panggung.
Raiyan yang melihat itu entah mendapat dorongan dari mana, tiba tiba langsung berlari ke atas panggung menerobos keramaian dan sigap menggendong Axnes keluar dari ruangan itu lalu segera membawa nya ke rumah sakit menggunakan mobilnya.
"Dokter tolong segera tangani." Ucap Raiyan pada dokter yang sudah ia hubungi terlebih dulu saat dalam perjalanan.
Dua perawat pun segera mendorong Axnes menuju ruang penanganan setelah Raiyan meletakkan Axnes di atas brankar.
Raiyan mengikuti pergerakan Dokter dan dua perawat itu.
Setelah masuk ke dalam ruangan, dokter segera memeriksa keadaan Axnes.
Raiyan menunggu di luar sambil mondar mandir tidak jelas. Khawatir, tapi kenapa? Axnes bahkan hanya orang asing.
Tidak lama dokter pun keluar dari ruang penanganan itu.
"Bagaimana dokter?" Tanya Raiyan cemas.
"Kau keluarga nya?" Dokter itu memastikan.
"Aku..aku teman nya." Raiyan menjawab ragu.
"Nona tersebut tidak ada masalah yang besar. Hanya saja gula darah nya terlalu rendah, itu yang menyebabkan nya pingsan tadi." Ucap Dokter tersebut.
"Baik dokter. Terima kasih." Ucap Raiyan.
Setelah kepergian dokter tersebut, Raiyan pun pergi sebentar dari rumah sakit itu.
Namun tak lama kemudian ia kembali dan langsung masuk ke dalam ruangan Axnes.
Ia duduk di kursi yang ada sambil menunggu Axnes sadar.
"Eng." Axnes melenguh kecil.
Perlahan ia membuka mata nya dan menelisik keadaan sekitarnya.
"Kau sudah sadar?" Tanya Raiyan dengan tatapan dingin.
"Kau siapa?" Tanya Axnes tersentak dan langsung terduduk.
"Dokter bilang gula darah mu terlalu rendah. Ini ambillah." Ucap Raiyan sambil menyerahkan sekotak permen coklat pada Axnes.
"Aku tidak bisa memakan itu." Ucap Axnes menolak.
"Itu sama saja bunuh diri." Ucap Raiyan dingin lalu mengambil satu biji permen tersebut.
Ia menekan pipi Axnes di antara telunjuk dan jempol nya hingga mulut Axnes terbuka.
Ia langsung memasukkan permen tersebut ke dalam mulut Axnes dan menutup kembali mulut Axnes agar ia tidak mengeluarkan kembali permen nya.
"Kau ini. Aku bisa kehilangan pekerjaan ku jika aku tidak diet." Axnes mengomeli Raiyan.
"Itu urusan mu. Lagi pula satu permen tidak membuat berat badan mu bertambah satu ton." Ucap Raiyan mengejek.
"Diet bukan berarti kau tidak mengkonsumsi gula atau sesuatu yang mengandung gula sama sekali. Yang harus kau jaga adalah pola nya." Ucap Raiyan seolah dirinya adalah dokter gizi.
"Kau pikir hanya kau saja yang perlu diet. Semua orang juga perlu agar tetap sehat. Tapi bukan berarti harus menyiksa diri seperti mu." Raiyan mengomeli Axnes habis habisan.
__ADS_1
Axnes hanya bisa terbengong mendapat omelan dari Raiyan.
"Dokter bilang kau tidak perlu menginap. Tunggu sampai air infus mu habis, aku akan mengantar mu pulang." Ucap Raiyan dingin lalu melangkah dan duduk di sofa tak jauh dari ranjang tempat Axnes.
"Aku bisa pulang sendiri. Aku pinjam ponsel mu untuk menghubungi manajer ku." Pinta Axnes ketus.
"Itu bukan pulang sendiri namanya. Kau masih tetap meminta bantuan dan jemputan. Aku sudah terlanjur repot, jadi sekalian saja." Ucap Raiyan sambil memejamkan matanya dan menengadahkan kepalanya bersandar pada sandaran sofa.
"Hah." Axnes menghela nafas kasar.
#####
"Hei bung, siapa nama perempuan yang menjadi partner mu tadi?" Tanya Vion penasaran pada Vynshen.
"Peduli apa kalian?" Jawab Vynshen ketus.
Entahlah, tapi Vynshen sedang merasa kesal karena Raiyan membawa Axnes begitu saja walaupun ia tahu Raiyan berniat menolong Axnes.
"Hei, aku hanya ingin tahu. Hanya nama nya saja." Pinta Vion lagi.
"Benar kawan, hanya nama saja." Dero menimpali.
"Axnes." Ucap Vynshen singkat.
"Waw..nama yang keren." Ucap Vion dan Dero bersamaan sambil mengangguk kan kepala mereka.
Hening sejenak.
"Tunggu, siapa nama nya tadi?" Vion memastikan.
"Axnes Vion, Axnes." Ucap Vynshen kesal.
"Sial. Kau takin itu namanya?" Tanya Vion seperti orang bodoh.
Vynshen hanya mengangguk.
"Darimana asalnya?" Vion kembali bertanya.
"Sial sial sial." Vion merutuk kesal.
Ia segera meraih ponselnya untuk menghubungi Raiyan, bukan untuk memberitahu Raiyan tapi berharap bisa memancing Raiyan untuk pergi dan meninggalkan Axnes sendiri.
Satu Panggilan
Dua Panggilan
Tiga , empat, lima, hingga sepuluh panggilan tidak dijawab.
"Astaga..angkat Rai, sekali saja." Pinta Vion.
Bagaimanapun para sahabatnya pasti tidak ingin melihat Raiyan melakukan pembalasan dendam nya, apalagi sampai harus menyakiti orang tidak berdosa.
"Ada apa?" Vynshen menghentikan Vion yang dari tadi mondar mandir gelisah sambil terus menelpon Raiyan.
"Itu target sasaran Raiyan, Vyn. Anak Max Jiang. Kau pasti tidak percaya, tapi aku yakin itu adalah Axnes Jiang." Ucap Vion panik tidak berhenti berusaha terus menghubungi Raiyan.
Vion memang sudah mendengar tentang Axnes dari Raiyan karena bagaimanapun Vion terlibat dalam pencarian informasi tentang Max.
Mereka bertiga panik bersama dan berusaha menghubungi Raiyan secara bergantian. Berharap salah satu akan diangkat oleh Raiyan, namun nyatanya nihil.
"Sebaiknya aku susul kerumah sakit." Ucap Vion.
"Kau tahu dimana?" Tanya Vynshen.
"Aku bisa menebak nya. Hanya ada satu rumah sakit didekat sini. Raiyan pasti kesana." Ucap Vion yakin.
"Ayo cepat. Semoga saja tidak terlambat." Ucap Dero.
Jika seperti ini Dero dan Vion tampak sangat dewasa dan serius menjalani hidup mereka.
Segera mereka pun keluar dari gedung tersebut dan melajukan mobil untuk kerumah sakit terdekat disana.
__ADS_1
#####
"Ayo. Air infus mu sudah habis." Ucap Raiyan.
Raiyan mendekat hendak membuka jarum infus ditangan Axnes.
"Hei, kau mau apa?" Axnes menghentikan pergerakan Raiyan.
"Diam. Aku tidak akan melukai mu." Ucap Raiyan geram.
Axnes sangat keras kepala dan suka membantah.
Raiyan melepaskan jarum infus tersebut dengan hati hati.
Setelah itu ia menutup luka bekas tusukan jarum ditangan Axnes dengan kapas yang tersimpan di atas nakas samping ranjang Axnes.
"Sudah. Ayo." Raiyan membantu Axnes untuk berdiri dan turun dari ranjang.
"Pelan pelan." Ucap Raiyan saat hampir saja Axnes terjatuh.
Jika seperti ini Raiyan tampak seperti suami siaga yang sedang merawat istrinya yang sedang sakit. Manis sekali.
Perlahan Raiyan menuntun Axnes keluar dari ruangan tersebut, dan perlahan melangkah keluar dari rumah sakit.
"Kau tunggu di sini sebentar." Ucap Raiyan mendudukan Axnes di kursi tunggu depan rumah sakit.
Kemudian ia berlari ke tempat parkir untuk mengambil mobilnya. Setelah itu ia kembali keluar dari mobil nya untuk membantu Axnes masuk.
"Dimana tempat tinggal mu?" Tanya Raiyan saat mereka sudah dimobil dan Raiyan melaju pelan.
"Aku menginap di hotel ... " Ucap Axnes menyebut nama hotel tempat dirinya menginap.
"Kau bukan asli orang sini?" Tanya Raiyan penasaran.
"Aku dari Jepang." Ucap Axnes
Deg
Jantung Raiyan langsung berdegup tak karuan.
"Siapa namamu?" Tanya Raiyan. Ada sedikit harapan bahwa gadis di samping nya bukanlah orang yang diincar nya.
"Axnes Jiang."
Sial nya Axnes menyebut nama nya dengan lengkap.
"Ternyata kau orangnya." Batin Raiyan penuh kemenangan.
Ia pun tidak lagi bicara. Otak nya sedang menyusun rencana licik, ia tidak sadar sahabatnya mengikuti nya dari belakang.
Malam ini dia tetap mengantarkan Axnes kembali ke tempat dengan selamat, tapi tidak tahu jika ada kesempatan lain.
Sahabatnya menghela nafas lega saat melihat ia bahkan membantu Axnes turun dari mobil dengan perlahan dan penuh hati hati.
...~ **To Be Continue ~...
- Ini Axnes Jiang, cocok**?
- Ini Ayvin. Kayaknya dari kemarin nggak ada aku kasih imajinasi visual Ayvin.
******
**Like dan komentar jangan lupa.
Makasih.
Selamat hari minggu**.
__ADS_1