Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
Harley menghilang.


__ADS_3

"Jangan coba coba untuk pergi dari ku." Suara berat terdengar yang menandakan penodong adalah seorang pria.


"Si siapa kau?" tanya Vanessa sedikit takut. Ia tidak sempat melawan karena pria itu bergerak tanpa suara, dan sangat cepat. Saat itu Vanessa juga sedang tidak bersemangat sehingga ia tidak terlalu fokus dengan keadaan sekitar nya.


Pria itu tidak menjawab, ia malah menempelkan hidungnya pada leher Vanessa. Vanessa merasa geli dan merinding karena nafas memburu dari pria itu. Pria itu semakin menghimpit Vanessa hingga tubuh nya benar benar menempel pada mobil nya dan kesusahan bergerak.


Pria itu kemudian mulai menggigit kecil telinga Vanessa dan mencumbu leher Vanessa. Pistol yang ditangan nya masih setia ia tempelkan pada pinggang ramping Vanessa.


"Sial." Gerutu Vanessa dalam hati ketika mendapat perlakuan yang memancing gairah seperti itu. Ingin melawan, tapi ia tidak bisa bergerak sedikit pun.


Tanpa aba2 pria itu menyeret Vanessa dan mendorong nya masuk ke bagian belakang mobil nya. Dengan cepat pria itu menindih Vanessa dan mencumbunya.


"Max?" Pekik Vanessa saat melihat pelaku itu ternyata Max. Max hanya menyeringai tanpa menghentikan aksinya.


"Max hentikan." Pinta Vanessa meronta.


"Diamlah. Atau aku bisa berbuat lebih dari ini." Ucap Max ditengah aksinya.


Vanessa akhirnya mengalah. Ia merelakan Max mencumbu nya. Entah kenapa ia seperti tidak bisa menolak permintaan Max pada nya. Max terus melanjutkan aksi nya dengan lembut. Sesekali Vanessa menjambak rambut Max karena sensasi yang diberikan.


"Sudah." Ucap Max sambil membetulkan posisi nya dan ia merapikan pakaian Vanessa. Ia benar benar tidak berbuat lebih dari sekedar mencumbu Vanessa. Ia sangat ingin, tapi entahlah ia juga merasa tidak bisa melakukan apa yang biasa ia lakukan pada wanita lain. Mungkin dia akan melakukannya jika mendapat persetujuan dari Vanessa.


Setelah selesai merapikan pakaian Vanessa, ia meraih Vanessa kedalam pelukan nya. Ia memeluk Vanessa sangat erat seolah sedang menyalurkan kehangatan. Dan entah mendapat dorongan dari mana, Vanessa pun membalas pelukan nya tak kalah erat.


"Max, aku mencintai mu. Aku ingin cinta mu." Ucap Vanessa terdengar tulus di telinga Max. Vanessa kemudian mengangkat kepalanya dan menatap dalam mata Max. Tanpa aba aba ia mengecup bibir Max penuh cinta. Setelah melepas nya, ia kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang Max.


Max kembali bingung dengan hati nya. Ia ingin memiliki Vanessa, tapi obsesi nya terhadap Vivian juga sangat besar. Ia benar benar tidak tahu harus berbuat apa.


"Vanessa, mengapa kau bisa mencintai ku?" tanya Max lembut sambil mengelus rambut Vanessa.


"Entahlah. Aku hanya mencintai mu dan itu tulus." Jawab Vanessa pada nya dan lagi lagi terdengar tulus di telinga nya.

__ADS_1


Max tidak lanjut bertanya lagi. Ia sedang bermain dengan pikiran nya yang tidak menentu. Ia sadar Vanessa mulai membawa pengaruh positif untuknya, setidaknya sejak malam itu ia belum lagi mencari wanita lain untuk ia nikmati sampai saat ini. Kehausan akan darah nya juga mulai memudar.


Tapi apa Vanessa benar benar tulus? Atau ada niat tersembunyi dari Vanessa? Itulah yang tidak ia inginkan, Max takut saat ia mencintai, dirinya juga akan kecewa bersamaan.


"Vanessa ... " Max kembali memanggil Vanessa. Tidak mendapatkan jawaban akhirnya ia menengok Vanessa. Ternyata Vanessa sudah terlelap dalam pelukan nya, membuat senyum kecil terbit di bibir nya.


"Jadilah milik ku Vanessa." Batin nya dan mengecup lembut bibir Vanessa.


Setelah itu ia akhirnya memutuskan untuk membaringkan Vanessa dengan sangat hati hati di kursi mobil Vanessa. Dan ia yang menyetir. Max membawa Vanesaa kembali ke rumah nya, rumah yang memang ia sediakan hanya untuk dirinya dan Vanessa.


Dikota yang sama, tampak sepasang suami istri yang baru saja keluar dari bandara. Raymond dan Vivian baru saja pulang dari kegiatan bulan madu mereka. Mereka pulang kembali ke kota mereka tanpa memberitahu siapapun. Untuk kejutan kata Vivian.


Mereka pun akhirnya memutuskan untuk menggunakan jasa taxi untuk kembali ke mansion mereka. Sepanjang perjalanan senyum tidak pernah luntur dari bibir kedua nya. Tak lama kemudian mereka akhirnya sampai di mansion.


Tapi mereka merasa aneh melihat keadaan mansion yang tidak seperti biasanya. Terlihat Sion seperti sedang memerintah sesuatu kepada beberapa bawahannya yang sedang berkumpul.


Disisi lain tampak Jiro sedang sibuk dengan sebuah laptop ditangan nya. Ada juga Ryan, tangan kanan Ayahnya yang terlihat gelisah dan bolak balik seperti menelpon seseorang.


"Astaga bagaimana aku menyampaikan pada Tuan muda?" Batin Ryan dalam hati.


"Ada apa kalian berkumpul di sini?" tanya Raymond yang susah didepan mereka. Raymond masih tersenyum ramah walau ada kecurigaan di pikiran ya.


Diam, hening, tidak ada yang memberikan jawaban. Raymond semakin curiga, entah apa yang sudah terjadi. Pandangan nya beralih menatap Ryan yang tidak biasanya berkumpul dengan anak buah nya.


"Ryan ada apa? Apa ini semua rencana pak tua untuk menyambut ku?" tanya Raymond berusaha santai. Ia tidak tahu apa yang sudah terjadi, tapi dia yakin pasti sudah terjadi sesuatu.


Deg


Mendengar kata pak tua, Ryan tahu yang dimaksud Raymond adalah Ayahnya, Harley Lu. Ryan semakin tidak tenang dan salah tingkah. Ia tidak tahu harus menjelaskan seperti apa pada Raymond.


"Ryan, ada apa? Dimana Ayah ku?" tanya Raymond mengulang pertanyaan nya. Namun kali ini terdengar cukup seram.

__ADS_1


"Itu Tuan, Tuan Harley ... " Ryan takut untuk melanjutkan perkataannya.


"RYAN" Raymond kini berteriak. Kesabarannya sudah habis.


"Tuan besar Harley menghilang Tuan." Sion dengan cepat menjawab, daripada mereka harus menerima bogeman mentah dari Raymond.


"Apa yang kau katakan?" tanya Raymond bingung.


"Tuan Harley menghilang. Awal nya Tuan Harley dari rumah besar ingin mengunjungi anda kemari, tapi saat ditengah jalan Tuan Harley meminta turun dan menuju kesebuah restoran yang cukup ramai. Saya ingin menemani beliau, tapi ia tidak mengijinkan karena daerah itu sedikit susah mendapatkan tempat parkir, jadi ia menyuruh saya untuk menunggu di mobil. Tapi berjam jam saya menunggu Tuan Harley tidak muncul muncul, hingga akhirnya saya memutuskan untuk masuk ke restoran itu mencari Tuan Harley karena saya pikir mungkin Tuan Harley sedang makan. Tapi saat saya masuk saya tidak menemukan Tuan Harley dan saya mencari keseluruh bagian di restoran itu namun tetap tidak menemukan Tuan Harley." Ryan menjelaskan panjang lebar walau jantung nya seperti mau copot.


"Sialan." Raymond mendaratkan bogeman mentah pada wajah Ryan. Ryan hanya bisa meringis menahan sakit. Mana mungkin dia melawan Tuan muda nya sementara dia tahu sifat Tuan muda nya.


"Aku tidak mau tahu. Bagaimana pun caranya kalian harus bisa menemukan Ayahku, jika tidak maka nyawa kalian sebagai ganti nya." Perintah Raymond terdengar menakutkan.


"Ray ... " Vivian memanggil suaminya dan mendekat kemudian menggenggam lengan kekar suaminya.


"Ayah ku. Ayah ku menghilang sayang." Ucap Raymond terdengar sendu lalu memeluk istrinya.


"Tenang lah dulu. Ayah pasti akan baik baik saja." Vivian menenangkan suaminya sambil menepuk pelan pundak Raymond.


"Selamat datang pak tua."


*\*


Maaf kalo udah bagian part nya Max selalu ada adegan mesum. Karena Max memang terkenal sebagai hidung belang yang selalu gonta ganti pasangan seperti yang aku jelaskan di salah satu part di awal cerita.


Makasih ya buat kalian yang selalu setia dan mendukung aku. Jangan bosan2.


Tinggalkan komentar, like, vote, dan favorit cerita nya ya.


Mampir juga di karya ku yang judul nya "IF LOVE" yuk

__ADS_1


Sayang kalian.


__ADS_2