
"Honey, kau tahu aku sangat sangat bahagia memiliki mu." Ucap Raymond. Mereka kini sedang menikmati pemandangan malam ditepi bukit. Raymond yang mengajak Vivian kesana. Tempat itu dulu nya adalah tempat favorit keluarga nya jika sedang berlibur. Vivian sedang bersandar di dada bidang Raymond dan Raymond merangkul mesra dirinya.
"Apa yang membuat mu bahagia?" tanya Vivian polos.
"Kau." Raymond menjawab singkat. Vivian kemudian merubah posisinya menjadi berhadapan dengan Raymond. Ia menatap kekasih nya dengan sedikit bingung.
"Mengapa bisa aku?" tanya nya bingung sambil menunjuk dirinya.
"Karena kau adalah wanita pertama dan satu-satunya yang berhasil menaklukkan hati ku." Ucap Raymond tersenyum.
"Aku?" tanya Vivian lagi. Sedang Raymond hanya mengangguk.
"Bagaimana dengan perempuan yang kau sebut "Gadisku" itu?" tanya Vivian sambil memainkan jari telunjuk dan tengah nya turun naik.
"Kapan?" tanya Raymond bingung.
"Waktu itu. Sewaktu kau sedang menyiksa orang-orang itu." Vivian mencoba mengingatkan Raymond.
Raymond terdiam seolah sedang mencoba mengingat.
"Ah, itu." Ucap Raymond menepuk jidat nya.
"Itu kau honey. Memang kau pikir itu siapa?" tanya Raymond tersenyum gemas.
"Aku? tapi saat itu kita bahkan baru saling mengenal tapi mengapa kau bisa mengklaim diriku adalah milik mu?" tanya Vivian heran
"Karena aku sudah jatuh cinta padamu bahkan sejak pertemuan pertama kita dipusat perbelanjaan waktu itu." Raymond menjawab dengan mode serius.
Vivian tidak menyangka bahwa ternyata Raymond benar-benar seserius itu.
"Honey maafkan aku karena dulu pernah menyakiti dan menyiksa mu." Raymond mengatakan penyesalan nya lalu menunduk.
"Tidak apa-apa sayang. Semua itu sudah berlalu." Ucap Vivian menenangkan diri nya.
"Aku hanya tidak ingin ditinggal oleh orang yang aku sayangi lagi." Timpal Raymond.
"Maukah kau berbagi dengan ku?" tanya Vivian lalu meraih tangan Raymond dalam genggaman nya. Raymond mengangkat kepalanya lalu menatap dalam mata Vivian yang penuh ketulusan.
__ADS_1
"Dua belas tahun yang lalu." Ucap Raymond memulai ceritanya masa lalu nya.
Flashback On
"Ibu jangan pergi aku mohon." Pinta Raymond yang saat itu baru berusia enam belas tahun sambil terisak.
"Lepaskan aku. Kau dan Ayah mu sama saja. Sama-sama tidak berguna." Ucap Ibunya sambil berteriak dan berusaha melepas pelukan Raymond. Raymond memeluk pinggang Ibu nya dengan sangat kuat berusaha agar ibunya tidak pergi.
"Ibu aku mohon jangan tinggalkan aku dan Ayah." Raymond kembali memohon pada Ibunya.
"Lepaskan. Jika Ayah my tidak bisa mengembalikan kejayaan nya seperti semula jangan harap aku akan kembali pada kalian." Jawab Ibunya dengan ketus dan dengan sekuat tenaga melepaskan pelukan Raymond.
Kini mereka sudah ada didepan rumah tempat yang mereka tempati dua belas tahun lalu. Terlihat sudah ada sebuah mobil mewah yang menunggu ibunya dan didalam nya ada seorang pria yang cukup berusia. Pria itu lalu turun dan menghampiri mereka.
"Ada apa sayang? Apa yang mengganggu mu?" tanya pria itu lalu mengecup bibir Ibu nya Raymond. Raymond terbelalak tidak percaya melihat perbuatan Ibunya. Bagaimana pun ia adalah laki-laki remaja yang sudah mulai mengerti hal itu.
"Ibu siapa pria itu?" tanya Raymond mengepalkan kuat kedua tangannya.
"Dia adalah pria yang bisa memberiku apapun yang aku inginkan. Benarkan sayang?" ucap Ibu Raymond lalu kini ia yang mengecup bibir pria itu.
"Hahaha tentu saja. Aku bukanlah si miskin Harley Lu." Ucap pria itu sambil tertawa lalu merangkul pinggang Ibu Raymond dengan gerakan sensual.
"Sampai mati pun aku tidak akan ikut dengan mu. Dan Ibu kau akan menyesal karena sudah memilih untuk meninggalkan Ayah dan aku." Ucap Raymond meluapkan amarahnya lalu berbalik meninggalkan mereka. Sedangkan Ibunya dan pria itu hanya tertawa terbahak dan pergi meninggalkan rumah itu.
Prang prang
Terdengar suara kaca pecah didalam kamar Raymond. Terlihat tangannya sudah mengeluarkan darah dan ada beberapa serpihan kaca yang tertancap di kulit jarinya.
"Ibu kau manusia paling hina dalam hidupku saat ini. Kau mengkhianati Ayah dan lebih memilih laki-laki tua itu karena dia berharta. Aku akan pastikan kau menyesal." Ucap Raymond dengan mata memerah karena amarah sambil menyeringai menatap dirinya dibalik cermin yang sudah retak karena ulah nya.
Flashback Off
"Lalu dimana Ibu mu sekarang?" tanya Vivian sambil mengusap pundak Raymond.
"Setahun setelah kepergian nya aku pun bergabung dengan dunia hitam ku saat ini. Perlahan aku mencoba mencari tahu keberadaan nya. Namun lima tahun setelah nya aku baru berhasil menemukan informasi tentang nya." Ucap Raymond lalu menghela nafas kasar.
"Dan apa yang terjadi?" tanya Vivian.
__ADS_1
"Setelah dia pergi dengan pria itu, ternyata pria itu menjadikan dia sebagai wanita penghibur dan menjualnya kepada pria-pria tua hidung belang dengan harga fantastis. Ibuku tidak tahan hidup seperti itu dan ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya setelah tiga tahun tersiksa." Raymond menjelaskan dengan suara yang terdengar pilu.
"Bagaimana dengan pria itu?" Vivian kembali bertanya. Namun kali ini wajah Raymond tampak menakutkan dan ia menyeringai mendengar pertanyaan Vivian.
"Tentu saja sudah dialam baka. Kau tahu aku menghabisi nya dengan sangat kejam." Ucap Raymond tersenyum. Namun senyum yang ditampilkan nya sangat menakutkan. Vivian tidak lanjut bertanya bukan karena ia takut tapi ia tahu Raymond akan melanjutkan perkataannya dengan sendirinya.
"Aku membakar kelaminnya. Lalu aku membiarkan dia kesakitan selama tiga hari dan setelah itu aku melempar nya kepada singa peliharaan ku." Ucap Raymond menyeringai.
"Singa? Benarkah? Apa kau benar-benar memelihara singa Ray?" tanya Vivian antusias saat mendengar kata singa. Raymond tersenyum mendengar nya. Gadis nya ini benar-benar berbeda pikirnya.
"Hem..apa kau ingin melihatnya?" tanya Raymond. Nada bicara nya sudah seperti awal tadi terdengar biasa saja. Vivian mengangguk semangat. Raymond tertawa kecil melihat semangat yang ditunjukkan Vivian.
"Apa kau tidak takut?" tanya Raymond memeluk gemas Vivian.
"Tidak. Daripada singa aku lebih takut pada mu." Ucap Vivian iseng. Raymond lalu memegang dagu Vivian dengan satu tangan nya karena satu tangannya lagi masih merangkul Vivian. Ia langsung mencium bibir mungil Vivian membuat Vivian terbelalak dan dengan cepat mendorong Raymond pergi.
"Haha apa kau takut diriku yang seperti itu?" tanya Raymond sambil berjalan mendekati Vivian. Vivian berusaha mundur. Ia hanya takut jika Raymond kelepasan walaupun Raymond sudah bersumpah tidak akan melakukan itu sebelum waktunya. Vivian terus mundur hingga akhirnya punggungnya mentok menyentuh sebuah pohon yang cukup besar.
Raymond mendekati nya dan tersenyum penuh kemenangan. Ia kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Vivian secara perlahan membuat Vivian otomatis menutup matanya. Raymond tersenyum Melina kepolosan kekasihnya.
"Nanti aku akan membawa mu melihat singa peliharaan ku jika ada waktu luang." Bisik Raymond tepat ditelinga Vivian. Ia meniup telinga Vivian sekilas lalu beranjak meninggalkan Vivian. Vivian yang merasa tidak ada lagi pergerakan dari Raymond pun segera membuka matanya dan melihat Raymond yang berjalan meninggalkan nya.
"Raymond Lu kau keterlaluan. Kau berniat meninggalkan ku disaat aku sudah memutuskan untuk tetap disisimu." Teriak Vivian kesal sambil berlari mengejar Raymond dengan langkah kecilnya. Sedangkan Raymond masih terus berjalan sambil melambaikan tangan nya. Ia senang sudah bisa mengerjai gadis nya.
#Raymond Lu
**********
Terima kasih untuk para reader yang selalu setia dengan "Mr. Mafia or Mr. Psychopath?"
Terus berikan dukungan kalian dengan cara meninggalkan jejak di kolom komentar berupa kritik atau saran dan masukan yang membangun, serta like nya setiap kali kalian selesai membaca satu part.
Serta vote "Mr. Mafia or Mr. Psychopath?" dan tinggal rating 5, 4, 3.
Follow IG ku @zml1104_
__ADS_1
^^^Salam Semangat.^^^