Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
Dua Pilihan.


__ADS_3

"Ada apa? Aku sudah bilang untuk tidak mengganggu ku." Ucap Vanessa saat mendapat panggilan telepon yang dia kira adalah Max.


"Bos, ini aku." Ujar si penelpon yang ternyata adalah salah satu anak buah nya. Vanessa menjauhkan sejenak ponselnya dan melihat ternyata nama anak buah nya yang tertera sebagai pemanggil.


"Ada apa? Jika tidak penting sebaiknya jangan mengganggu." Ucap Vanessa santai namun ketus.


"Ini tentang pria mu itu bos. Dia sekarang bahkan sudah menyekap wanita itu." Anak buah Vanessa menyampaikan laporan nya.


"Ya ampun pria gila itu. Aku harus bagaimana lagi untuk membuatnya sadar." Gerutu Vanessa membuat anak buah nya terkekeh.


"Ya sudah, sementara aku memikirkan cara sebaiknya kau terus awasi dia. Laporkan jika ada yang mencurigakan." Titah Vanessa pada anak buah nya itu.


"Baik bos." Jawab anak buah nya. Panggilan pun berakhir.


"Lihat saja. Jangan panggil aku Vanessa jika aku tidak bisa membuatnya sadar dan bertekuk lutut pada ku. Sebaiknya aku temui Rex terlebih dulu untuk memeriksa keadaan nya." Gerutu Vanessa. Ia pun bergegas keluar dari ruang kerja nya untuk menuju ke mobilnya.


Ditengah jalan ia berhenti karena berpapasan dengan Shen.


"Shen, berikan aku kontak teman mu yang bermarga Lu itu." Pinta Vanessa sambil menyodorkan telapak tangan seolah sedang meminta sesuatu.


"Raymond? Untuk apa?" tanya Shen penasaran.


"Cepat lah atau semua akan terlambat nanti." Ucap Vanessa tegas, wajahnya serius tanpa ada kesan bercanda sedikit pun. Shen belum mengetahui kalau Vivian disekap lagi oleh Max.


"Ini, kau simpan saja sendiri." Shen memberikan ponsel nya yang menampilkan kontak Raymond pada layar nya.


"Terima kasih." Ucap Vanessa mengembalikan ponsel milik Shen setelah ia selesai menyimpan kontak Raymond. Ia pun bergegas melanjutkan langkahnya.


"Hei, kau mau kemana?" Shen berteriak bertanya pada Vanessa namun tidak ada jawaban.


"Perempuan aneh." Batin Shen.


Segera Vanessa melajukan mobilnya menuju ke rumah Max yang ia tempati bersama Rex, dimana tempat itu juga ia gunakan untuk menyekap Rex. Sesampainya disana ia pun langsung masuk tanpa menunggu.


"Rex, bagaimana keadaan mu?" tanya Vanessa yang sudah berdiri didepan Rex. Rex sedang duduk di atas ranjang nya sambil membaca sebuah buku.


"Hai Vanes, aku sudah lebih baik." Jawab Rex tersenyum. Rex tidak berbohong, tampak dari wajahnya yang sudah lebih segar dan tubuhnya yang tidak terdapat bekas luka baru lagi.

__ADS_1


"Apa kakak gila mu itu masih menyiksa mu?" tanya Vanessa sambil memeriksa keadaan Rex.


"Dia gila, tapi kau mencintai nya." Ucap Rex terkekeh mengejek Vanessa.


"Kau ini." Vanessa geram dan mencubit lengan Rex hingga merah.


"Auww sakit Vanes. Kau ini perempuan tapi sifat mu sangat kasar." Rex kembali mengejek teman nya itu.


"Aku serius bertanya." Ketus Vanessa.


"Sejak kau datang hari itu dan dia berpapasan dengan mu. Dia sudah tidak menyiksa ku lagi." Rex menjelaskan serius.


"Apa dia sering pulang kesini?" tanya Vanessa lagi.


"Tidak. Dia sangat jarang pulang. Hanya kadang James saja yang datang mengantar obat atau makanan pada ku." Rex kembali menjelaskan. Vanessa hanya mengangguk.


"Ada apa Vanes, apa kau mengetahui sesuatu?" tanya Rex bimbang.


"Tidak." Ucap Vanessa singkat dan berbohong.


"Habiskan resep obat mu yang terakhir, setelah itu kau tidak perlu meminum obat lagi." Ucap Vanessa, lalu ia berbalik dan hendak pergi. Namun Rex menghentikan langkahnya.


"Aku mencintai nya. Lebih dari apapun. Sekalipun dia tidak mencintai ku, aku akan tetap mencintai nya. Aku tidak akan memaksa nya." Vanessa menjawab dari hati. Ia berdiri membelakangi Rex.


"Apa yang membuat mu begitu mencintai nya?" tanya Rex penasaran. Ia baru kali ini melihat seorang perempuan yang begitu mencintai kakaknya dengan tulus. Bahkan dulu mendiang Joyce saja tidak seperti itu.


"Aku tidak bisa menjawab ini. Aku hanya tahu aku mencintai nya. Aku hanya ingin membawanya keluar dari kegelapan yang ia bangun sendiri." Vanessa kembali berucap.


"Baiklah Vanes. Jika kau membutuhkan bantuan ku segera beritahu aku. Kita adalah orang yang sama sama ingin ia keluar dari jerat kegelapan." Ucap Rex semangat.


"Aku tidak butuh bantuan mu lemah." Ucap Vanessa, ia kini membalikkan badan nya menghadap Rex dan tersenyum mengejek. Mereka memang sudah akrab satu sama lain.


"Aku tidak lemah. Aku hanya ingin membantu nya agar sadar meski itu harus mengorbankan nyawa ku. Dia adalah kakak ku, harta satu satunya yang paling berarti dalam hidupku. Selain dia aku tidak punya siapapun lagi." Ucap Rex menunduk. Ia mengungkapkan semua isi hatinya.


"Baiklah, aku harus pergi sekarang." Ucap Vanessa lalu melangkah keluar. Lagi lagi didepan pintu ia berpapasan dengan Max yang sedari tadi mendengar semua pembicaraan mereka.


Max menatap nya dengan tatapan yang sulit diartikan. Bukan tatapan tajam atau membunuh yang sering ia tunjukkan selama ini. Vanessa tidak ingin pusing. Ia harus bisa membawa Max kembali bagaimana pun caranya. Segera ia melangkah namun tangannya ditahan oleh Max. Max menarik nya untuk mundur sehingga mereka berdiri berhadapan.

__ADS_1


"Aku merindukan mu Vanessa." Ucap Max terdengar sendu.


Vanessa tidak ingin menjawab walau dalam hati ia terlebih lebih merindukan Max. Max ingin memeluknya, namun dengan segera ia mundur menghindari pelukan Max.


"Cukup Max. Aku muak dengan semua ini. Lepaskan semua obsesi mu dan kau akan memiliki ku seutuh nya. Atau kau hidup dengan obsesi mu selama nya dan aku tidak akan pernah mengenal mu lagi." Ucap Vanessa. Ia tidak ingin lagi mendekati Max dengan cara lembut. Ia harus kuat dan tegas sekarang.


"Tapi Vanessa aku hanya ... " Ucap Max kembali mencoba mendekati Vanessa, namun Vanessa lagi lagi menghindar dan memotong pembicaraan nya.


"Kau hanya perlu memilih. Ingin memiliki ku dan cinta ku atau obsesi gila mu itu." Ucap Vanessa mengacungkan jari telunjuk nya didepan wajah Max. Ia pun segera berlalu meninggalkan Max.


Max terjongkok memegang kepalanya dengan kedua tangan nya dibelakang leher nya. Ia tidak tahu harus memilih yang mana. Rex yang melihat itu semua hanya bisa menggeleng dan menghela nafas kasar.


#####


"Tuan, Tuan besar Harley sudah kembali." Ucap Sion yang tadi berpapasan dengan Harley diluar mansion. Ia kini sedang memapah Harley yang lemah itu.


"Ayah." Ucap Raymond berlari dan meraih Harley dalam pelukan nya.


"Ayah, kau tidak apa apa?" tanya Raymond cemas sambil memeriksa tubuh Ayahnya. takut jika ada yang terluka.


"Ayah baik baik saja nak. Jangan cemas." Ucap Harley. Raymond kemudian memapah Ayahnya untuk duduk di sofa.


"Ray, selamatkan istri mu. Dia tidak bersalah dalam hal ini. Max yang sudah mengatur semua dan menjebak nya. Kau tahu dia pergi menemui Max karena ingin menyelamatkan Ayah, tapi justru dia dijebak oleh Max hingga pingsan. Max kemudian meniduri nya secara paksa dan mengancam Vivian agar seolah ia juga menginginkan nya." Ucap Harley memberi tahu kebenaran pada putranya. Harley mengetahui itu semua dari James. James memang tidak bisa berbuat banyak untuk membantu mereka, tapi setidak nya dia tidak menutupi kebenaran yang sebenarnya.


Raymond hanya terdiam mendengar perkataan Ayahnya. Hati nya sejenak hancur mendengar cerita tentang istrinya. Hanya untuk membantu nya menyelamatkan Ayah nya ia rela menemui Max dan akhirnya malah menderita ditangan Max.


"Apa yang harus aku lakukan?" Batin Raymond dalam hati.


"Istri mu tidak seperti Ibu mu Ray. Istri mu wanita yang baik. Jangan sampai kau menyesal karena kesalah pahaman ini." Harley kembali menasehati putranya.


******


Makasih buat kalian yang selalu memberikan dukungan dan komentar positif yang membangun.


Jangan bosan bosan yah.


Tinggalkan jejak komentar, like, vote, dan favorit cerita ku bagi yang suka aja. Yang gak suka aku gak memaksa.

__ADS_1


Semangat terus dan selalu jaga kesehatan kalian yah.


__ADS_2