
"Baby ada apa?" tanya Louise pura pura, saat ia sudah berdiri dibelakang Joyce.
"Baby hiks" ucap Joyce terisak lalu menghambur kedalam pelukan Louise saat ia menyadari Louise dibelakang nya.
"Hei ada apa?" tanya Louise kembali, ia sedang tertawa didalam hati melihat wajah perempuan yang dibencinya menjadi sangat menyedihkan.
"Aku aku tidak tahu tapi video itu hiks hiks" Joyce kembali terisak seolah tak mampu melanjutkan perkataannya.
"Video apa?" tanya Louise dengan sengaja. Joyce tidak berani menjawab lalu ia memberikan ponsel nya pada Louise agar Louise melihat nya sendiri. Dan ia masih memeluk erat tubuh Louise.
"Apa apaan ini?" tanya Louise lalu mendorong kasar tubuh Joyce untuk menjauh dari nya.
"Baby aku minta maaf. Itu itu sudah berlalu lama. Aku mohon maaf kan aku" pinta Joyce memelas berusaha meyakinkan Louise.
"Aku pikir aku adalah orang pertama bagimu, tapi rupanya kau sudah bekas" ucap Louise kasar seolah ia sedang dibohongi.
"Aku mohon baby, jangan berkata seperti itu. Maafkan aku. Aku akan lakukan apapun agar kau mau memaafkan ku" ucap Joyce memohon.
"Kau akan lakukan apapun?" tanya Louise menekan setiap kata nya dan dibalas anggukan oleh Joyce.
"Kalau begitu buka baju mu, maka aku akan memaafkan mu" ucap Louise dengan nada kejam nya.
"Apa?" tanya Joyce tidak percaya.
"Buka baju mu dan perlihatkan isinya pada ku" ucap Louise kembali. Joyce tak bergeming, saat melihat Joyce diam tanpa pergerakan Louise pun sengaja berbalik dan hendak melangkah pergi. Namun saat ia hendak melangkah tangan nya dicekal oleh Joyce. ia kemudian berbalik memperhatikan Joyce. Joyce lalu melakukan apa yang diinginkan Louise, banyak mahasiswa mahasiswi menatap tidak percaya akan apa yang mereka lihat.
__ADS_1
Setelah Joyce melepaskan bajunya dan hanya menyisakan pakaian dalam terlihat badan mulusnya yang dipenuhi bekas merah ulah Louise tadi malam. Kemudian ia terisak sambil menunduk, tanpa berkata apapun Louise langsung pergi meninggalkan nya. Vivian yang juga menyaksikan kejadian itu hanya bisa merasa iba pada Joyce, tapi ia tidak ingin ikut campur terlalu dalam. Ia pun kemudian beranjak meninggalkan tempat ia berdiri tadi. Ia berjalan menuju taman di kampus itu lalu duduk di salah satu kursi kosong disana.
Ia kemudian menengadah kan wajah nya menghadap langit sambil memejamkan matanya merasakan angin yang sepoi sepoi. Louise kemudian melangkah mendekati nya dan duduk di samping nya. Louise kemudian memasangkan earset kesalah satu telinga Vivian. Vivian kaget saat merasa ada yang menyentuh nya. Ketika ia membuka mata dan menoleh, mata nya langsung berpapasan dengan mata tajam milik Louise. Lalu terdengar lagu kesukaan nya dan Max dulu melalui earset yang melekat di telinga nya sekarang.
"Jangan dekati aku" ucap Vivian lalu mencabut earset itu dari telinganya dan membuangnya kasar kearah Louise.
"Apa kau membenci ku Vi?" tanya Louise sendu. Seketika Vivian merasa hatinya panas saat mendengar Louise menyebut namanya. Bukan marah tapi rasa rindu yang terpendam.
"Katakan siapa kau? Kau pasti bukan Max kan?" tanya Vivian memastikan. Louise hanya menggeleng.
"Aku sudah tahu kau tidak mungkin adalah Max. Lagipula Max tidak akan mungkin menjalin hubungan dengan Joyce" gerutu Vivian sendu.
"Apa kau tidak ingin tahu alasan ku mendekati nya?" tanya Louise berharap Vivian tertarik untuk mendengar nya.
"Andai kau tahu alasan ku Vi, apa kau masih akan membenci ku?" batin Louise seolah bertanya pada Vivian.
Saat sudah di mansion, Vivian dan Raymond sedang duduk santai di ruang utama. Vivian ingin menonton film kartun dan akhirnya Raymond mengikuti keinginannya. Raymond tertawa terus saat ada adegan lucu yang ada di film itu, sedangkan Vivian hanya melamun bermain dengan pikiran nya.
"Hei honey ada apa?" tanya Raymond merangkul pundak vivian.
"Tidak, aku hanya memikirkan sesuatu" ucap Vivian.
"Apa kau memikirkan tentang pernyataan perasaanku?" tanya Raymond asal masih sambil memandangi televisi.
"Apa itu masih berlaku Ray?" tanya Vivian sendu
__ADS_1
"Tentu saja, selama kau yang menginginkan maka itu akan tetap berlaku" ucap Raymond yang kini meraih tangan Vivian ke dalam genggaman tapi matanya masih tetap fokus menonton. Vivian memperhatikan intens wajah damai Raymond saat bersama nya. Ia lalu teringat akan nasehat Jordan yang menyuruh untuk lebih memilih laki laki yang mencintai nya daripada yang ia cintai.
"Aku bersedia Ray" ucap Vivian manis ditelinga Raymond.
"Apa?" tanya Raymond santai karena ia sangat fokus menonton, padahal tadi ia menentang habis habisan saat Vivian ingin menonton kartun. Sekarang justru dia yang lebih fokus.
"Aku bersedia menjadi kekasih mu" ucap Vivian memperjelas kata katanya. Namun lagi lagi Raymond yang tidak fokus hanya menjawab Oh saja pada Vivian. Vivian yang merasa kesal lantas mematikan televisi dan beranjak meninggalkan Raymond. Raymond yang masih belum terlalu fokus hanya melongok melihat apa yang dilakukan Vivian.
"Nyonya Lu tunggu" teriak Raymond membuat langkah Vivian terhenti saat ia mencoba mengingat setiap pembicaraan mereka.
"Apa kau serius?" tanya Raymond antusias saat ia sudah berdiri berhadapan dengan Vivian yang sudah hampir mencapai tangga.
"Apa?" tanya Vivian sengaja karena ia dibuat kesal tadi.
"Ah aku tidak peduli. Kau tadi sudah bilang bersedia untuk menjadi kekasih ku. Terima kasih Vi, terima kasih" ucap Raymond lalu membawa Vivian kedalam pelukan nya sambil mengecup beberapa kali puncak kepala nya. Vivian hanya tersenyum mendapatkan perlakuan manis dari Raymond. Ia merasa hati nya sangat hangat, dan ia hanya berharap tidak akan melakukan sesuatu yang akan membuat Raymond kecewa.
"Kita harus mengambil gambar pertama kita sebagai kekasih Vi" ujar Raymond sambil mengeluarkan ponsel nya dari saku. Saat ponsel sudah dalam genggaman nya ia kemudian membuka fitur kamera lalu mengarahkan layar ponselnya berhadapan dengan mereka. Kemudian ia merangkul mesra Vivian dan tersenyum lebar, sedangkan Vivian sengaja memasang wajah jutek. Raymond benar benar sangat bahagia dan berharap ini adalah awal untuk ia bisa memiliki Vivian seutuh nya.
Disisi lain disebuah hotel, terlihat sepasang kekasih yang baru saja menyelesaikan kegiatan panasnya. Mereka adalah Louise dan Joyce. Louise kini sedang duduk dibalkon tanpa mengenakan pakaian atas nya sambil menghisap rokok nya. Sedangkan Joyce sedang meringkuk di dalam selimut sambil terisak karena tadi Louise bermain dengan sangat kasar. Padahal ia berharap Louise adalah satu satunya orang yang bisa menjadi sandaran nya, tetapi justru Louise memperlakukan nya lebih parah. Menyakiti hati dan fisik nya. Tapi Joyce tak punya pilihan selain bertahan disisi Louise. Ia tidak tahu sampai kapan ia akan bertahan namun ia harus bertahan disisi Louise, ia benar benar sudah jatuh hati pada Louise.
..._Terima kasih untuk para reader yang masih setia dengan cerita ku_...
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar bisa berupa kritik atau saran yang membangun yah, juga jangan lupa untuk memberikan like kalian setiap kali selesai membaca satu part.
Dannnn ingat untuk menekan favorit agar kalian bisa mendapatkan pemberitahuan update nya.
__ADS_1