Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
ROL 41 - Sebenarnya


__ADS_3

"Rai, bangun. Jangan membuat ku takut." Pinta Axnes menggenggam erat tangan Raiyan.


Raiyan masih tertidur setelah pingsan tadi.


Dokter yang memeriksa nya sudah pergi setelah menyatakan kondisi Raiyan tidak parah.


Semua anggota keluarga berkumpul di dalam kamar Axnes.


Walaupun sedang marah, tetapi Raymond dan Max tetap saja ikut cemas melihat kondisi Raiyan.


"Axnes, tenanglah sayang. Rai pasti baik baik saja. Bukankah dokter sudah mengatakan nya tadi?" Ucap Vivian menenangkan menantu nya.


"Aku takut Ma. Aku takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada Rai." Ucap Axnes terisak.


"Tidak akan sayang. Raiyan sudah dinyatakan baik baik saja oleh dokter. Raiyan juga pria yang kuat." Ucap Vivian lagi merangkul pundak menantunya.


"Axnes..Axnes..jangan pergi..aku tidak berbohong pada mu." Ucap Raiyan meracau dalam tidur nya.


"Rai, aku disini. Aku tidak pergi." Ucap Axnes mengelap keringat di kening Raiyan.


Sepertinya Raiyan sedang bermimpi buruk.


"Aku mohon Axnes, jangan pergi..jangan..AXNES." Raiyan tiba tiba terbangun dari tidurnya dengan nafas tak beraturan.


Keringat nya juga mengucur deras di kening nya.


"Rai, aku disini. Aku tidak pergi." Ucap Axnes memeluk suami nya.


"Jangan pergi sayang. Aku tidak berbohong pada mu. Aku tidak menyentuh nya..semua itu tidak seperti yang terlihat." Pinta Raiyan lemah dan memeluk erat istrinya.


"Aku percaya pada mu Rai." Ucap Axnes mengusap lembut punggung suaminya.


"Tapi orang tua kita tidak percaya lagi pada ku." Ucap Raiyan penuh kekecewaan.


Max dan Raymond merasa iba mendengar perkataan Raiyan, namun sebagai pria logika mereka bekerja dan membuat mereka ragu untuk mempercayai Raiyan, bayangkan saja pria yang sedang dalam kendali obat perangsang dan disuguhkan dengan wanita setengah telanjang di depan nya. Apa mungkin Raiyan bisa menolak nya?


Terlebih lagi video yang mereka terima terpotong sampai saat Emily palsu menarik Raiyan hingga jatuh menindih nya di sofa dan juga suara dari video tersebut diredam.


Walau kenyataan Raiyan memang menolak nya.


"Tunjukkan bukti lain yang menyatakan kau memang tidak melakukan hal itu!" Titah Max dengan suara lantang.


"Kau ingin menghakimi ku sekarang bahkan atas hal yang tidak ku lakukan sama sekali?" Tanya Raiyan geram pada Max sambil melepaskan pelukan nya dari Axnes.


Max terdiam.


Prok prok prok


Raiyan menepuk tangannya sambil turun dari ranjang dan berjalan pelan menghampiri Max.


"Aku mungkin tidak mempunyai bukti untuk membela diri ku. Tapi aku tidak akan menyakiti wanita yang aku cintai hanya karena nafsu birahi ku." Ucap Raiyan menekan kuat dada Max dengan telunjuknya hingga Max sedikit mundur kebelakang.


"Aku bukan kau yang dengan tega menyakiti wanita yang kau katakan kau cinta pada nya, tapi malah menyakitinya hanya karena nafsu birahi mu." Ucap Raiyan lagi.

__ADS_1


Max tetap terdiam, ia kini menatap sedikit kearah Vivian yang menundukkan kepalanya.


"Rai, cukup. Jangan mengubah topik pembicaraan untuk membela diri mu." Tegas Raymond pada putranya.


"Wow, Pa. Apa sekarang Papa membela pria busuk ini daripada mempercayai putra Papa sendiri?" Tanya Raiyan kesal.


Raymond terdiam.


"Jangan pernah lupa Pa, bagaimana dia merendahkan martabat dan harga diri Mama ku." Tegas Raiyan geram pada Ayahnya.


"Kakak, sudah lah. Apa kakak tidak kasihan melihat Mama menangis?" Ucap Ayvin yang kini sedang memeluk Vivian.


Raiyan berbalik dan menatap adik beserta Ibunya.


"Ayvin, apa kau percaya pada kakak mu ini?" Tanya Raiyan lembut pada adik nya.


"Aku percaya kakak tidak mungkin melakukan itu." Ucap Ayvin penuh keyakinan.


"Sayang, apa kau juga percaya pada ku?" Tanya Raiyan kini pada istrinya.


Axnes mengangguk.


"Aku percaya pada mu Rai. Aku percaya." Ucap Axnes yakin dan turun dari ranjang nya dan melangkah perlahan mendekati Raiyan.


"Aku percaya pada mu." Ucap Axnes lagi menangkup wajah suaminya.


Raiyan tersenyum.


"Apa kau takut jika hanya aku mengajak mu pergi dan kita tinggalkan semua yang ada di sini? Kita hidup berdua, saling menjaga, mencintai, dan mempercayai satu sama lain." Tanya Raiyan menggenggam erat tangan Axnes.


"Aku tidak takut Rai. Aku mencintai mu dan aku yakin kau tidak mungkin melakukan hal yang menyakiti ku." Ucap Axnes yakin.


"Baiklah, kita pergi dari sini. Aku tidak bisa hidup bersama orang orang yang tidak percaya pada ku." Ucap Raiyan meraih tangan Axnes kedalam genggaman nya dan berjalan menghampiri Ayvin dan Vivian.


"Ayvin, kau jaga Mama baik baik. Jangan biarkan para pria itu menyakiti Mama. Jika itu terjadi, kau masih bisa tetap menghubungi kakak." Titah Raiyan pada adiknya.


Ayvin mengangguk.


"Ma, maafkan Raiyan. Aku tidak tahu Mama percaya atau tidak pada ku. Tapi aku tidak bisa mengakui hal yang tidak ku lakukan. Aku harus pergi." Ucap Raiyan memeluk erat Mamanya.


Vivian terisak tapi tidak mampu bersuara.


"Mama Vanessa, aku minta ijin untuk membawa Axnes bersama ku. Dalam hidup ku saat ini, jika keluarga ku tidak percaya pada ku, maka dengan Axnes percaya pada ku itu sudah cukup." Ucap Raiyan menghampiri Vanessa setelah melepaskan pelukan nya dari Vivian.


"Maafkan aku harus memisahkan Mama dengan Axnes." Ucap Raiyan lagi dan mengijinkan istrinya memeluk Vanessa.


Axnes memeluk erat Vanessa.


"Maafkan Axnes harus pergi Ma, tapi aku percaya pada Raiyan. Aku harus berada di sisi Raiyan apapun yang terjadi." Ucap Axnes sedikit terisak.


Cukup lama berpelukan hingga akhirnya mereka melepaskan pelukan mereka.


Tanpa berbicara sepatah kata pun pada Raymond dan Max, Raiyan menggenggam tangan Axnes dan melangkah meninggalkan kamar bahkan rumah itu.

__ADS_1


Ia menuntun Axnes masuk kedalam mobil nya, kemudian ia juga masuk dan melajukan mobil nya entah akan kemana.


"Rai, kita akan kemana?" Tanya Axnes lembut.


"Aku tidak tahu sayang. Tapi aku hanya ingin menenangkan diri ku saat ini." Ucap Raiyan pilu.


"Aku ada untuk mu Rai." Ucap Axnes mengusap lengan suaminya.


Raiyan tersenyum.


"Terima kasih sayang." Ucap Raiyan.


Ia pun terus melajukan mobilnya tanpa arah dan tujuan yang pasti.


···············


Sepeninggal Raiyan dan Axnes, semua anggota keluarga berkutat dengan pikiran masing masing.


Ada yang terisak, ada juga yang mencoba memecahkan masalah yang terjadi dengan logika.


"Arghh. Kenapa semuanya jadi kacau begini?" Erang Max frustasi.


"Maaf menganggu, tapi bisakah aku bertemu dengan Raiyan?" Tanya Ren sopan.


Ia baru tiba di rumah Max bersama Alina setelah membantu Raiyan menyelesaikan masalah Emily palsu.


"Dia sudah pergi." Jawab Raymond ketus.


"Ah, sayang sekali. Padahal aku hanya ingin memberitahukan pada nya bahwa wanita itu sudah ditangkap oleh polisi dengan tuduhan penipuan, pencemaran nama baik, dan prostitusi." Ucap Ren menyayangkan.


"Apa yang kau katakan?" Tanya Raymond geram.


Ren tersenyum.


"Wanita yang mengaku sebagai Emily itu adalah wanita club malam yang disewa oleh Ayah Emily. Wajahnya sengaja dirubah oleh Tuan Huang untuk mengelabui Raiyan, tujuan Tuan Huang hanya satu, ingin menghancurkan Raiyan karena kematian Emily." Ucap Ren menjelaskan.


Raymond dan Max seketika merasa lemas di tempat.


Bagaimana ia dengan tega sudah tidak percaya pada Raiyan dan lebih memilih percaya pada bukti yang tidak benar.


"Kalau begitu kami permisi saja paman, bibi. Jika Raiyan sudah kembali, cukup sampaikan apa yang sudah aku sampaikan tadi. Dan satu lagi, Tuan Huang juga sudah ditangkap atas kasus penyelundupan narkoba dan prostitusi. Jadi tidak ada lagi yang akan mengganggu kehidupan Raiyan lagi." Ucap Ren optimis lalu mundur dan melangkah pergi dari rumah Max bersama Alina.


"Oh Tuhan. Kenapa aku jahat sekali?" Gumam Raymond mengacak rambut nya kasar.


...~ To Be Continue ~...


######


Maaf baru bisa Up sekarang.


Beberapa hari lalu bahkan hari ini dan seminggu ke depan aku akan banyak kesibukan, jadi mohon bersabar untuk menunggu up ku yah.


Makasih yang masih setia.

__ADS_1


__ADS_2