
"Ray kapan aku bisa kembali kuliah? Ini sudah lebih dari satu minggu, aku pasti sudah ketinggalan banyak" rengek Vivian sambil menggoyang kecil lengan Raymond saat mereka sedang berada diruang utama mansion Raymond. Raymond tidak menanggapi rengekan Vivian dan tetap sibuk mengerjakan pekerjaan yang ada di laptop nya. Sejak Vivian tidak masuk kuliah, ia pun menghabiskan waktu dan melakukan semua pekerjaan nya dirumah. Hanya yang sangat penting saja yang akan ia tangani sendiri, bahkan kadang masih diwakilkan Jiro.
"Ray, aku bertanya padamu" rengekan Vivian terdengar kembali.
"Diamlah" hanya itu jawaban Raymond tanpa berpaling sedikit pun dari layar laptop nya.
Muncul sebuah ide jahil dari Vivian, ia kemudian merebut laptop Raymond dan meletakkan nya di meja membuat Raymond mulai kesal. Lalu ia menangkup wajah Raymond dengan kedua telapak tangan mungil nya sehingga pandangan mereka bertemu. Raymond seketika langsung merasakan debaran jantung nya yang sangat kencang begitupun Vivian, tapi Vivian tidak ambil pusing.
"Dengarkan aku Ray, aku Vivian Xu bertanya kepada mu Raymond Lu kapan aku bisa kembali kuliah?" tanya Vivian serius masih menangkup wajah Raymond dengan kedua telapak tangan nya.
"Jika nanti hasil pemeriksaan Shen menyatakan kau sudah baik-baik saja, maka kau bisa masuk besok" ucap Raymond dengan mulut sedikit lonjong karena kedua pipinya dihimpit oleh telapak tangan Vivian. Sejak Raymond mencambuk Vivian hari itu, hampir setiap hari ia memanggil dokter Shen ke mansion nya untuk memeriksa keadaan Vivian.
"Benarkah?" tanya Vivian antusias dan hanya dibalas anggukan dari Raymond sambil mengedip beberapa kali.
"Hahaha" Vivian tiba-tiba
"Kau tampan sekali seperti itu Ray" lanjut Vivian setelah melepaskan tangannya dari wajah Raymond.
"Aku lebih tampan begini atau yang tadi?" tanya Raymond saat ia menarik tangan Vivian untuk berhadapan dengan nya dan kini jarak wajah mereka sangat dekat, bahkan mereka bisa mendengar deru nafas masing masing.
"Ka..kau selalu tampan" jawab Vivian gelagapan dan salah tingkah berusaha untuk lepas dari cekalan tangan Raymond namun tidak berhasil. Raymond semakin sengaja mendekatkan wajah nya secara pelan pelan membuat Vivian menelan kasar liurnya. Seketika ia langsung memejamkan matanya tidak ingin melihat apa yang akan dilakukan Raymond. Raymond yang melihat Vivian sudah memejamkan matanya hanya bisa tersenyum lalu beranjak pergi membawa laptopnya.
Setelah dirasa tidak ada pergerakan apapun dari Raymond, Vivian kemudian membuka matanya. Ia merasa sangat malu saat mendapati Raymond sudah tidak disampingnya lagi.
"Dasar brengsek, dia pasti akan berpikir bahwa aku sangat menginginkan nya" gerutu Vivian.
"Hai nona Vivian, apa kabar mu hari ini?" sapa dokter Shen yang baru saja memasuki pintu utama mansion itu.
__ADS_1
"Hai, aku baik dokter" jawab Vivian saat sudah menoleh dan melihat kedatangan Shen. Dokter Shen kemudian duduk di samping Vivian namun agak jauh, tentu saja ia harus jaga jarak ia masih sayang nyawa.
"Dream tolong panggil kan Raymond kemari, kau tahu kan aku tidak akan bisa memeriksa nyonya tanpa tuan" pinta Shen sengaja menekan kata Nyonya dan Tuan, membuat Vivian memutar malas kedua mata indahnya. Dream langsung beranjak naik keatas untuk memanggil tuan nya.
Disisi lain disebuah Cafe tampak sepasang kekasih sedang berkencan. Mereka adalah Louise dan Joyce, mereka sedang berada di Cafe dekat Universitas mereka.
"Baby, dimana teman mu itu? Sudah seminggu lebih aku tidak melihatnya" tanya Louise pada Joyce dan membuat Joyce mendengus kesal.
"Aku tidak tahu, aku juga tidak bisa menghubungi ponselnya. Sudah lah, untuk apa kau ingin tahu tentang nya? Sangat tidak penting" jawab Joyce kesal.
"Ho apa kekasih ku yang cantik dan manis ini sedang cemburu hem?" tanya Louise mencubit gemas pipi Joyce dan berhasil membuat Joyce mengembangkan senyumnya.
"Tentu saja aku cemburu. Kau itu kekasihku sekarang jadi aku tidak ingin kau bertanya tentang perempuan lain" ucap Joyce dengan nada dibuat kesal setengah manja.
"Baiklah baiklah" ucap Louise sambil mengacak pelan rambut Joyce.
"Bagaimana Shen, apakah keadaannya masih buruk?" tanya Raymond berharap jika Shen berada dipihaknya.
"Jangan bercanda" ucap Raymond tegas.
"Baiklah baiklah, nona Vivian sudah baik-baik saja" Jawab Shen sambil mengelus dadanya yang sedikit sakit.
"Kau juga aneh, yang luka kaki nya tapi kenapa kau menyuruh ku untuk memeriksa seluruh tubuh nya. Cukup kau minta resep obat saja dengan ku" lanjut Shen sambil mengemasi barang barang nya.
"Aku hanya tidak ingin dia kenapa kenapa" Ucap Raymond sedikit menunduk.
"Kau tidak ingin dia kenapa kenapa, tapi kau malah melukai nya seperti itu" ucap Shen seketika membuat hati Raymond merasa bersalah.
__ADS_1
"Dream tolong antarkan dokter Shen keluar. Terima kasih dokter sudah mau direpotkan" pinta Vivian pada Dream dan mengucapkan terima kasih. Ia berusaha untuk memisahkan Shen dan Raymond saat melihat perubahan ekspresi Raymond yang menjadi sendu.
"Ray" panggil Vivian memegangi salah satu lengan Raymond saat sudah duduk di samping Raymond. Raymond tidak menjawab dan masih menunduk kan kepalanya. Tak terasa air mata nya mulai menetes. Vivian yang melihat itu lalu membawa Raymond kedalam pelukan nya.
"Tenanglah Ray, aku disini" ucap Vivian sambil mengusap punggung kekar Raymond.
"Apa aku salah jika aku tidak ingin ditinggal oleh orang yang aku sayang? Apa aku salah jika mencoba mempertahankan orang yang aku sayang agar tetap disisi ku? Apa aku salah jika aku ingin terus bersamanya?" tanya Raymond dengan suara sendunya masih dalam keadaan menunduk sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Kau tidak salah Ray. Kau tidak salah. Kau berhak untuk dicintai dan disayangi" ucap Vivian mengeratkan pelukannya seolah sedang menyalurkan kekuatan kepada Raymond membuat Raymond membalas pelukan nya.
"Maka cintai aku Vi. Jangan memandang laki laki lain" pinta Raymond dengan suara terluka.
"Aku tidak bisa berjanji Ray. Aku takut akan menyakiti mu. Aku tidak ingin itu terjadi" balas Vivian dengan selembut mungkin. Perasaan nya tidak tenang takut kalau Raymond tidak terima akan jawaban nya dan menjadi emosi. Namun ia salah karena Raymond hanya membalasnya dengan deheman dan semakin mengeratkan pelukan nya.
"Ray, apa kau ingin berbagi sedikit saja beban mu kepada ku?" tanya Vivian saat dirasa Raymond sudah agak tenang.
"Aku.." Raymond menghentikan perkataan nya dan melepaskan pelukan nya.
"Aku belum siap" ucap nya melanjutkan perkataannya.
"Baiklah. Kalau begitu kau harus memasak untuk ku" ucap Vivian dengan semangat berusaha mengalihkan pembicaraan untuk menghibur Raymond.
"Ayolah Honey, kau tahu aku tidak bisa masak" ucap Raymond memelas berusaha menolak permintaan Vivian.
"Tidak tidak. Itu hukuman mu karena kau sudah bersedih" ujar Vivian lalu menarik tangan Raymond menuju dapur. Mau tidak mau Raymond memasak untuk Vivian dan tetap dibantu Vivian. Mereka memasak sambil sesekali melemparkan candaan. Setelah selesai, mereka pun duduk di ruang makan dengan masakan mereka yang sudah tertata rapi di atas meja makan. Vivian mulai mencicipi satu persatu makanan itu sementara Raymond harap harap cemas.
"Ini cukup bagus untuk koki pemula" ucap Vivian tersenyum manis. Raymond akhirnya menghembuskan nafas panjang nya yang sudah ia tahan dari tadi. Mereka pun melanjutkan acara makan makan sambil bersenda gurau.
__ADS_1
^^^~Terima kasih untuk para reader yang masih setia dengan cerita ku. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak di kolom komentar baik itu kritik, atau saran. Jangan lupa juga like nya~^^^
~Serta jangan lupa untuk menekan favorit agar kalian mendapatkan pemberitahuan update nya~