
Sudah satu minggu berlalu dan Axnes masih tetap dipaksa tinggal di rumah mertuanya oleh kedua mertuanya.
Raymond dan Vivian bahkan meminta pengawal hingga belasan orang pada Sion untuk menjaga kediaman mereka.
Selama satu minggu ini Raiyan berusaha untuk menemui istri dan putranya namun selalu dihentikan oleh para pengawal atas perintah Raymond dan Vivian.
Bukan tanpa alasan, mereka ingin putra sulung mereka benar-benar merenungi kesalahannya dan mau memperbaiki diri.
Seminggu in Axnes dijaga dengan sangat baik oleh Raymond dan Vivian. Bahkan sudah dua kali Vivian memanggil tim Spa langganan nya untuk memberikan pelayanan padanya dan menantunya dirumah.
Axnes sangat bersyukur karena memiliki mertua yang sangat menyayangi dirinya dan sangat memperhatikan dirinya.
"Sayang, apa rencana mu hari ini bersama Axnes?" Tanya Raymond.
Mereka sedang menikmati sarapan pagi. Sedangkan Yanes sedang disuap makanannya oleh seorang pelayan.
Ayvin dan Harley tidak ikut sarapan bersama karena Ayvin dipaksa kakeknya untuk menemani dirinya berjalan santai pagi ini.
"Rencananya aku ingin membawa menantu dan cucuku berbelanja." Jawab Vivian semangat.
"Sebaiknya kau dan Axnes saja yang pergi. Biar aku yang menjaga Yanes." Usul Raymond.
"Kau yakin?" Tanya Vivian memastikan.
"Yakin sayang." Jawab Raymond tersenyum manis mengelus pipi istrinya.
Walau usia mereka sudah tidak muda lagi, namun keharmonisan dan keromantisan mereka tidak berkurang sedikitpun.
"Aku jadi merindukan Papa dan Mama ku." Gumam Axnes melihat keharmonisan mertuanya dan didengar oleh Vivian.
"Em..bagaimana akhir bulan ini kita liburan ke Jepang?" Usul Vivian memberi kode pada Raymond.
"Aku setuju sayang. Lagipula sudah lama kita tidak kesana. Pertama dan terakhir kesana adalah saat pernikahan Rai." Raymond menyetujui usul istrinya.
"Bagaimana denganmu Axnes?" Tanya Vivian menggenggam tangan menantunya.
"Aku terserah Papa dan Mama saja." Jawab Axnes tersenyum.
"Baiklah. Keputusan sudah bulat, kita akan ke Jepang akhir bulan ini. Aku akan mengatur semuanya." Ucap Raymond.
"Pa, Ma, apa Raiyan akan ikut?" Tanya Axnes ragu.
Bagaimanapun Raiyan tetap suaminya dan satu minggu meninggalkan Raiyan walau jarak yang tidak jauh tetap saja membuatnya khawatir pada Raiyan.
"Tergantung. Jika anak nakal tidak tahu diri itu sadar cepat dan cepat berubah maka kita akan membawanya. Jika tidak ya biarkan saja dia." Ucap Raymond kesal.
Axnes hanya menunduk sedih.
"Ayolah sayang, kau harus bisa tegas jika suamimu semena-mena terhadap mu." Bujuk Vivian pada menantunya.
Axnes hanya tersenyum lirih.
"Apa Rai akan berubah atau malah akan semakin semena-mena padaku nantinya?" Batin Axnes.
"Sudah sudah, kita lanjutkan sarapan kita dan setelah itu bersiaplah. Kita akan menikmati waktu berdua nanti." Titah Vivian lembut.
Mereka pun melanjutkan sarapan mereka dalam hening.
Sebenarnya selama satu minggu ini Axnes selalu khawatir pada Raiyan. Memikirkan apa Raiyan sudah makan? apa dia bisa menyiapkan pakaian yang cocok untuk bekerja? dan banyak hal lain, mengingat selama ini yang mengurus semuanya adalah Axnes.
Selesai sarapan Vivian dan Axnes naik ke kamar masing-masing untuk bersiap sedangkan Raymond langsung bermain bersama cucu tercinta.
__ADS_1
Selesai bersiap Vivian dan Axnes turun kebawah.
"Wah lihatlah, kalian masih tampak seumuran." Ucap Raymond menggoda istrinya dan langsung memeluk posesif pinggang istrinya.
"Haha kau ini. Ya sudah, aku dan menantu ku pergi dulu." Pamit Vivian pada Raymond.
"Sayang, Mama dan nenek keluar sebentar. Kau bermainlah bersama kakek mu. Jangan nakal." Titah Axnes lembut pada putranya yang disambut tawa cekikikan.
Vivian pun menggandeng tangan menantunya dan pergi meninggalkan rumah mereka.
"Kita para pria dirumah saja. Biarkan para wanita memanjakan diri mereka. Kelak kau juga harus menjadi pria yang memanjakan wanitamu. Mengerti?" Tanya Raymond pada cucunya dan lagi lagi Yanes tertawa cekikikan.
••••••••••
Vivian membawa Axnes ke salah satu pusat perbelanjaan, lebih tepatnya tempat dimana ia pertama kali bertemu Raymond.
"Ma, kenapa Mama senyum dari tadi?" Tanya Axnes penasaran.
"Tidak. Mama hanya mengenang masa muda Mama. Tempat ini adalah tempat pertama kali Mama bertemu dengan Papa Raymond." Jawab Vivian.
Axnes mengangguk mengerti.
Mereka pun berjalan menelusuri setiap lorong pusat perbelanjaan itu dan memasuki beberapa toko untuk memanjakan mata mereka dan membeli sesuatu yang menurut mereka penting.
Meskipun harta suaminya berlimpah, namun Vivian tetap sama. Ia tidak suka menghamburkan uang untuk hal yang tidak terlalu penting.
Mereka berhenti di sebuah toko yang menjual banyak sekali mainan serta perlengkapan untuk bayi dan anak-anak.
Vivian langsung menarik Axnes untuk masuk ke dalam toko tersebut.
Matanya berbinar melihat begitu banyak mainan dan perlengkapan untuk bayi dan anak-anak.
Vivian mengambil banyak sekali barang yang menurutnya penting dan bisa membantu pertumbuhan serta perkembangan cucu tercinta.
"Sudah, kau menurut saja. Ini semua akan sangat bermanfaat untuk Yanes." Ucap Vivian.
"Tapi ini sangat banyak. Dan Yanes tidak akan mampu memainkan semuanya." Ucap Axnes berusaha membujuk mertuanya.
"Kau tahu apa tentang bayi? Diusia mereka seperti Yanes saat ini, mereka sedang aktif mengenal seseorang didekat mereka dan juga hal hal baru. Mereka akan cepat bosan dengan hanya satu mainan lalu pasti akan mencari mainan yang baru. Mama kan tidak menyuruhmu memberikan semuanya sekaligus untuk dia mainkan." Ucap Vivian pura pura marah.
Axnes akhirnya menyerah dan menurut pada mertuanya.
Selesai mereka berbelanja, Vivian segera membayar belanjaan mereka dikasir. Vivian dari tadi tidak mengijinkan Axnes mengeluarkan sepeserpun.
Selesai membayar mereka pun keluar dari toko tersebut.
"Ya ampun, sudah sore rupanya." Ucap Vivian kaget saat melihat pada jam tangannya.
"Axnes, Mama lapar. Apa kau juga?" Tanya Vivian penuh sayang.
Axnes mengangguk pelan.
"Ya sudah, kita cari makan dulu dibawah dan pulang setelah makan." Ajak Vivian.
Axnes pun menurut.
Mereka turun ke lantai dasar pusat perbelanjaan itu lalu mencari restoran yang tidak terlalu ramai namun berkualitas.
Akhirnya mereka mendapat satu restoran seafood.
Mereka masuk dan duduk di salah satu tempat kosong.
__ADS_1
Salah satu pelayan menghampiri mereka dan menanyakan pesanan mereka.
Selesai memesan, sang pelayan pun pergi dengan membawa pesanan mereka.
Vivian dan Axnes menunggu sambil bercerita banyak hal hingga akhirnya seseorang menghentikan obrolan mereka.
"Bibi Vivian, Axnes." Sapa suara seorang pria.
Mereka menoleh.
"Vynshen." Ucap Vivian senang.
Vivian pun berdiri dan memeluk sahabat putra sulungnya itu.
"Duduklah." Titah Vivian dan Vynshen menurut lalu duduk disamping Axnes.
"Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Vynshen sopan.
"Menikmati hidup." Jawab Vivian semangat membuat Vynshen terkekeh.
"Bagaimana kabar Raiyan dan Yanes? Aku sudah lama sekali tidak berkumpul dengannya. Selalunya hanya kami bertiga sekarang." Tanya Vynshen pada Axnes.
"Mereka baik." Axnes menjawab seadanya.
"Kau sudah makan? Pesan lah sesuatu!" Vivian bertanya dan bertitah lembut.
Vynshen menurut dan memesan sesuatu yang ingin ia makan.
Menunggu agak lama hingga pesanan mereka datang bersamaan.
Mereka pun menikmati makanan mereka dengan serius.
Selesai makan, Vivian hendak membayar namun Vynshen mencegah.
Mereka sedikit berdebat hingga akhirnya Vivian mengalah.
Vynshen pun membayar semua tagihan makanan mereka.
Selesai membayar Vynshen kembali ke tempat mereka tadi.
"Bibi, Axnes, ini sudah malam. Biar aku saja yang mengantar kalian." Ucap Vynshen menawarkan tumpangan.
Vivian menerima dengan senang hati dan Axnes hanya menurut.
Vynshen berjalan duluan membantu kedua wanita itu menenteng kantong belanjaan mereka yang mungkin berjumlah belasan.
Setelah masuk kedalam mobil, Vynshen pun melajukan mobilnya meninggalkan pusat perbelanjaan itu.
Mereka berbincang kecil sepanjang perjalanan hingga tak terasa mereka akhirnya sampai dirumah Vivian.
Vivian dan Axnes langsung turun tanpa menunggu Vynshen membukakan pintu mobilnya.
Vynshen turun lalu menurunkan barang belanjaan mereka.
"Brengsek." Teriak Raiyan dan langsung menghajar Vynshen.
"Berani sekali kau mencoba mendekati istri ku?" Tuduh Raiyan penuh amarah.
"Kau yang tidak menghargai nya." Ucap Vynshen asal padahal ia bahkan tidak tahu jika Raiyan dan Axnes sedang ada masalah.
"Rai, cukup." Teriak Axnes saat Raiyan hendak menghajar Vynshen kembali.
__ADS_1
...~ To Be Continue ~...