
"Eungh." Vivian melenguh pelan. Ia terbangun saat merasa ada sesuatu yang menimpa perut nya. Ia menoleh dan melihat kearah perutnya, tangan seorang pria melingkar sempurna diatas perutnya. Ketakutan mulai menyerang nya.
Tubuhnya mulai bergetar dengan keringat dingin yang mulai membasahi tubuhnya. Ia berusaha untuk bergerak dan melihat siapa yang sedang memeluk nya.
"Ray?" Batin Vivian, saat ia mendapati ternyata yang memeluk nya adalah suami nya yang sedang terlelap disamping nya.
Dengan sigap ia membalikkan badan nya menghadap suami nya. Dengan segera ia memeluk erat tubuh kekar Raymond.
"Hem?" Raymond berdehem dan tersadar saat merasakan pergerakan istrinya.
"Ada apa sayang?" tanya Raymond sedikit khawatir.
"Tidak Ray. Aku hanya ingin memeluk mu." Ucap Vivian berbohong.
"Sudah. Jangan takut lagi. Aku disini dan akan selalu ada untuk mu." Ucap Raymond mengusap punggung istrinya. Ia tahu istrinya sedang berbohong.
"Aku mencintai mu Ray." Ucap Vivian tulus. Raymond seketika langsung tersenyum lebar mendapat pengakuan romantis istrinya. Ia melonggarkan pelukan nya dan menatap dalam mata indah istrinya.
"Apa kau merindukan ku?" tanya Raymond memandang Vivian dengan pandangan menggoda.
"Tidak, aku hanya ... " Vivian tidak melanjutkan perkataannya. Ia sangat takut untuk berhubungan dengan suami nya saat ini.
"Tenang lah sayang. Aku hanya menggoda mu." Ucap Raymond mencubit gemas pipi istrinya.
"Aku menginginkan nya. Tapi aku bisa bersabar dan menunggu hingga kau siap lagi nanti. Sekarang kita tidur lagi yah. Aku masih sangat mengantuk." Ucap Raymond kembali memeluk erat istrinya dam mengecup kening istrinya.
"Ray, bagaimana jika aku selamanya tidak bisa memberi mu hal itu lagi?" tanya Vivian sendu.
"Ssttt. Kau pasti bisa. Aku akan menggoda mu hingga kau yang menuntut nya dari ku." Ucap Raymond terkekeh.
"Kau ini." Vivian memukul pelan dada suami nya.
"Aku mencintai mu Ray." Ucap Vivian lagi.
"Tidak. Aku tidak mencintai mu. Aku hanya mencintai istri ku satu satunya. Itu adalah Vivian Lu." Ucap Raymond menyertakan nama belakang nya pada nama Vivian.
Vivian hanya tersenyum manis dan membalas pelukan suami nya tak kalah erat, hingga akhirnya mereka terlelap bersama.
Mereka tidur dengan nyenyak tanpa melepaskan pelukan mereka sedikitpun.
"Ckckck, sepasang anak burung yang kasmaran masih terlelap saja." Ucap seorang pria yang tak lain adalah Harley.
"Hah?" tanya Raymond dengan suara serak khas bangun tidur sambil merenggangkan otot nya.
"Ayah?" tanya Raymond terkejut dan langsung terduduk. Dengan cepat ia menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh Vivian, padahal mereka tidak berbuat apapun dan masih berpakaian lengkap.
__ADS_1
"Apa yang lakukan bocah tengik? Kau ingin membunuh istri mu?" tanya Harley terkekeh.
Raymond sedikit bingung dan ia baru menyadari perbuatan nya tadi. Dengan cepat ia membuka selimut yang menutupi istrinya dan mendapati istrinya sedang menatap nya kesal.
"Maaf sayang, aku hanya mengingat kau istri ku dan kita tadi malam ... " Ucap Raymond terkekeh namun tidak melanjutkan perkataannya.
"Otak mu benar benar sudah rusak." Ketus Vivian pada suaminya. Harley hanya tertawa tanpa rasa bersalah karena sudah mengacaukan pagi indah putranya.
"Bagaimana keadaan mu Vi?" tanya Harley khawatir pada menantu nya.
"Aku baik baik saja Ayah." Ucap Vivian lalu bangkit untuk duduk bersama suaminya diatas ranjang.
"Vi, Ayah minta maaf karena sudah membawa benalu masuk kedalam hidup mu." Harley merasa bersalah. Jika bukan karena rasa kemanusiaan nya yang sangat besar, ia tidak mungkin menyelamatkan Max hari itu. Dan mungkin saja semua ini tidak akan terjadi.
"Tidak, ini semua bukan salah Ayah. Aku saja yang terlalu gegabah mengambil keputusan." Ucap Vivian tertunduk sedih.
"Ayah ... " Raymond mendelik tajam pada Harley agar tidak melanjutkan perkataannya.
Harley yang mengerti pun hanya mengangguk. Ia lalu memutuskan untuk berjalan dan duduk di sofa.
"Sayang, kau ingin sarapan apa?" tanya Raymond mengalihkan pembicaraan.
Vivian hanya menggeleng dan menatap Raymond sendu.
"Bagaimana jika kita makan pangsit kuah? Aku rasa itu akan membuat kita lebih segar." Usul Raymond tak menyerah. Vivian tetap tidak bergeming dan hanya menatap dalam suami nya.
Setelah Jiro masuk, Dream dan Sion juga menyusul dari belakang.
"Nona Vivian, aku sangat merindukan mu." Ucap Dream langsung memeluk Vivian tanpa memikirkan status.
"Aku juga." Ucap Vivian membalas pelukan Dream.
"Nona Vivian, segeralah sembuh. Aku tidak bisa memasak untuk Tuan Ray, jika tanpa mu." Ucap Dream memelas.
"Memang nya kenapa?" tanya Vivian penasaran.
"Sejak kau menghilang, Tuan selalu menghina makanan ku tidak seenak punya mu. Rasanya aku hampir gila." Keluh Dream yang sebenarnya itu adalah bohong. Mereka hanya ingin menghibur Vivian.
"Benar Nona. Tuan sangat keterlaluan pada calon istri ku." Timpal Jiro polos sambil mengunyah apel dimulut nya.
"Kau ini tidak sopan sekali. Atasan mu belum menyantap apapun, tapi kau sudah mengunyah duluan." Sion mengomeli Jiro dan melempar sebuah apel lain kearah nya, namun berhasil ditangkap Jiro.
Harley hanya menggeleng gemas melihat kelakuan anak buah putranya. Ia juga bersyukur setidaknya putra dan menantu nya masih dikelilingi oleh orang orang baik.
"Tuan Harley, ka ingin ini?" tanya Jiro melempar sebuah jeruk kepada Harley dam tentu saja berhasil ditangkap.
__ADS_1
"Kau mulai tidak sopan pada Ayah ku." Raymond mengomeli Jiro sambil meninju pelan perut Jiro. Jiro hanya terkekeh.
Harley tidak mempermasalahkan itu, karena baginya baik Jiro, Dream, Sion, ataupun Shen sudah ia anggap seperti anak anak nya. Ia menyayangi para bawahan Raymond dengan tulus, walau terkadang sedikit gesrek.
"Nona, makanlah ini. Aku buatkan khusus untuk mu." Ucap Dream menyerahkan semangkuk sup kepada Vivian.
"Terima kasih." Ucap Vivian tersenyum.
Wajah Vivian sudah tidak semurung tadi. Perlahan Vivian menyendok sup nya dan menyantap nya. Dalam hati ia bersyukur karena apa yang ditakutkan nya tentang suaminya tidak terjadi.
"Ini enak sekali Dream." Vivian memuji masakan Dream.
"Hah, Nona Vivian bilang enak. Tapi ketika aku membuat nya untuk Tuan Raymond, dia selalu menghina nya. Padahal resep nya sama saja." Keluh Dream memelas.
Semua tertawa kecil bersamaan. Raymond kemudian menyendok sup ditangan Vivian dan menyantap nya.
"Ehm..ini sangat enak Dream. Aku baru tahu kau bisa masak seenak ini." Ucap Raymond sengaja.
"Tuan Ray ... " Dream sedikit membentak. Semua nya serentak tertawa lagi.
Mereka semua berbicara saat ini benar benar tidak ada batasan, membuat mereka terlihat seperti sesama saudara yang sedang berkumpul. Semua mereka lakukan semata mata hanya untuk membantu Vivian keluar dari trauma nya.
"Wah wah, ada yang ingin bersenang senang tanpa ku rupanya." Ucap Shen, si raja gesrek diantara mereka (Shen, Jiro, Sion).
"Kau tidak penting." Ucap Jiro sambil memandang remeh sahabatnya.
"Baiklah aku tidak penting. Tapi jika kau sakit atau sedang bertaruh nyawa untuk hidup, jangan mencari ku." Ucap Shen ketus. Jiro hanya komat kamit seolah sedang meniru Shen berbicara.
"Vi, kau sudah tidak apa apa?" tanya Shen lembut.
"Hem. Terima kasih dokter." Vivian mengangguk.
"Itu bukan apa apa." Timpal Shen menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Syukurlah." Batin Shen saat melihat Vivian sudah bisa tertawa kecil mendengar candaan mereka.
Mereka meneruskan pembicaraan mereka sambil sesekali bercanda ria. Sangat menghibur dan terlihat bahagia.
*******
Babang Max cuti dulu.
Makasih buat kalian yang selalu mendukung aku dan menunggu update nya. Semoga gak bosan bosan ya.
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan komentar, like, vote, dan favorit cerita nya.
__ADS_1
Mampir juga di karya ku yang judul nya " IF LOVE " yuk.
Salam sayang dan selalu jaga kesehatan kalian yah.