
"Honey..honey." Raymond memanggil-manggil Vivian dengan sebutan Honey saat ia baru saja pulang dari perusahaan nya. Saat dirasa belum mendapat jawaban ia pun meninggikan volume suara nya.
"Honey, dimana kau? Aku sudah pulang, lihat aku membawa sesuatu untuk mu."
Namun lagi-lagi tidak ada jawaban, dan langkah Raymond terhenti saat ia melihat Vivian duduk di meja makan sedang menyantap salad buahnya sambil membaca majalah.
"Hei, kau disini?" tanya Raymond kesal.
"Aku dari tadi memang disini." Jawab Vivian santai tanpa mengalihkan pandangan nya dari majalah yang ia baca.
"Lalu mengapa kau tidak menjawab saat aku memanggil mu?" tanya Raymond lagi.
"Aku kira kau memanggil Hani." Ucap Vivian sambil menunjuk salah satu pelayan yang bernama Hani setelah ia menutup majalah nya dan menatap Raymond. Hal itu tentu saja membuat Hani salah tingkah dan bergumam "Mana mungkin tuan Raymond memanggil ku dengan suara selembut itu" dengan suara yang hanya dapat didengar dirinya sendiri.
"Kau ini, aku memanggil Honey dan bukan Hani." Ucap Raymond menekan kata Honey dan Hani sambil mengacak pelan rambut Vivian dari belakang. Lalu ia memutuskan untuk duduk berhadapan dengan Vivian.
"Sama saja. Lagi pula namaku Vivian bukan honey. Kau biasa juga memanggil ku dengan namaku" Celoteh Vivian.
"Tidak, mulai hari ini aku akan memanggil mu Honey saja." Ujar Raymond.
"Tidak mau." Vivian menolak dan memanyunkan bibirnya dan hal itu sukses membuat Raymond ingin sekali melahap bibir mungil itu. Namun dengan cepat ia menggelengkan kepala nya untuk menepis pikiran kotornya.
"Ini untuk mu." Ucap Raymond sambil menyerahkan ponsel yang Jiro beli tadi.
"Ponsel? untuk apa kau memberi ku ponsel?" tanya Vivian polos.
"Agar kau bisa menghubungi ku saat kau merindukan ku haha." Jawab Raymond diiringi tawa.
"Aku? Merindukan mu?" tanya Vivian sambil menunjuk dirinya sendiri. "Itu tidak mungkin" timpalnya sambil menggerakkan jarinya ke kanan dan ke kiri.
"Sekarang memang tidak mungkin tapi suatu saat nanti kau yang akan memohon untuk bertemu dengan ku haha." Ujar Raymond lagi-lagi disertai tawa membuat para pelayan yang sedang bekerja merasa ngeri seakan Tuan nya sedang sakit jiwa.
"Terlalu percaya diri." Gerutu Vivian.
__ADS_1
"Sisakan makanan mu itu untuk ku, jangan menghabiskan nya sendiri atau kau akan menjadi beruang (maksudnya gemuk kali yah)." Titah Raymond sambil melangkah meninggalkan Vivian.
"Aku akan membuatkan yang baru untuk mu." Ujar Vivian yang masih bisa didengar oleh Raymond namun ia tidak menjawab karena ia sudah punya rencana licik jika Vivian benar-benar membuatkan makanan yang baru untuknya. Ia pun memutuskan untuk mandi dan membersihkan dirinya.
Setelah selesai dengan kegiatan bersih-bersih nya, ia pun segera memakai pakaian santai nya dan segera beranjak ke ruang makan.
Saat sampai diruang makan ia melihat Vivian yang benar-benar sedang membuatkan salad buah yang baru untuknya. Ia membiarkan Vivian menyelesaikan pekerjaannya sambil duduk dikursi dimeja makan nya. Saat selesai Vivian segera menghampiri Raymond dengan membawa salad buah buatan nya tadi. Ia merasa aneh saat melihat Raymond tersenyum licik kearahnya.
"Duduklah." Titah Raymond saat Vivian sudah berada disamping nya dan menyimpan salad buah nya dimeja dihadapannya.
"Tidak, aku akan kekamar saja." Ujar Vivian hendak pergi namun pergelangan tangan nya dicekal oleh Vivian dan ia ditarik oleh Raymond sehingga akhirnya ia malah duduk diatas pangkuan Raymond.
"Ini akibatnya jika kau melawan." Bisik Raymond ditelinga Vivian, hingga membuat Vivian dapat merasakan deru nafas nya.
"Makanlah." Titah Raymond sambil melirik salad buah yang dibawa Vivian dan Vivian secara bergantian.
"Aku sudah makan tadi." Ujar Vivian merasa malu karena ia masih duduk diatas pangkuan Raymond dan ditahan oleh Raymond.
"Kau ini tidak waras. Untuk apa memakan makanan sisa ku?" celoteh Vivian masih menatap mata Raymond membuat Raymond mulai memajukan wajahnya hendak menerkam bibir mungil itu namun aksinya digagalkan oleh kehadiran Jiro.
"Ada apa?" tanya Raymond dengan posisi Vivian masih duduk di pangkuannya karena memang ia menahannya membuat Vivian menyembunyikan wajahnya di bahu kekar Raymond. Sangat memalukan itulah yang ada dibenak Vivian saat ini.
"Maaf mengganggu Tuan (tentu saja kau mengganggu nya Jiro), aku ingin menyampaikan pesan bahwa Tuan besar Harley ingin bertemu dengan mu." Ucap Jiro menyampaikan pesan nya.
"Kau atur saja waktunya." Titah Raymond.
"Baik tuan." Ucap Jiro tersenyum melihat wajah kesal Raymond. Lalu ia pun pergi meninggalkan Raymond dan Vivian.
"Sekarang makanlah atau aku yang akan memakan mu" Titah Raymond kepada Vivian yang masih membenamkan wajahnya dibahunya. Mendengar ia akan dimakan tentu saja Vivian takut dan segera ia pun memakan beberapa sendok salad buah tadi. Setelah dirasa cukup ia pun menyerahkan kembali pada Raymond.
"Suapi aku." Ucap Raymond memberi perintah.
"Kau ini seperti anak kecil saja." Gerutu Vivian.
__ADS_1
"Apa? Kau ingin membuat anak? Ayo." ucap Raymond sengaja mengerjai gadisnya.
"Dasar Gila. Ini makanlah." Ujar Vivian lalu menyuapi Raymond dengan kasar
"Lakukan dengan lembut Honey kau bisa membuatku kesakitan." Ucap Raymond dengan senyum jahil sambil mengunyah makanan nya. Vivian malas menanggapi perkataannya dan hanya terus menyuapinya hingga salad nya habis tak tersisa.
Disisi lain disebuah Rumah Sakit terlihat seorang laki-laki tampan dengan bekas luka sayat dipipi kirinya baru saja membuka mata dan tersadar dari komanya. Ia mencoba untuk bangun dari baringnya dengan susah payah. Setelah berhasil ia pun celingukan memperhatikan sekelilingnya.
"Rumah Sakit." Gumamnya.
"Siapa yang membawa ku kesini?" lanjutnya lagi.
Tak lama kemudian bunyi handle pintu dibuka pertanda ada orang yang tengah memasuki ruangannya.
"Kau sudah sadar anak muda?" tanya lelaki paruh baya itu saat melihat pria dihadapannya tengah duduk di atas ranjangnya.
"Apa tuan yang menyelamatkan ku?" tanya pria itu.
"Benar. Aku Harley Lu. Siapa nama mu?" tanya Harley pada pria itu.
"Aku..." pria itu menghentikan kata-kata nya "Aku Louise" kemudian ia melanjutkan perkataannya dengan menyebutkan nama nya.
"Makanlah ini terlebih dahulu Louise." Ucap Harley sambil memberikan semangkuk bubur kepada nya. Entah kenapa hari ini saat akan berkunjung kerumah sakit Harley meminta pelayan nya untuk membuatkan nya bubur, mungkin secara tidak langsung ia mempunyai firasat kalau Louise akan sadar hari ini.
"Terima kasih tuan." Ucap Louise saat ia menerima bubur dari Harley dan dibalas anggukan dari Harley sambil mempersilahkan Louise menyantap buburnya.
"Bagaimana tuan bisa menyelamatkan diri ku?" tanya Louise memecah keheningan.
^^^~Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar dan juga like nya yah.^^^
^^^Jangan lupa juga untuk menekan tombol favorit jika readers menyukai cerita ku.~^^^
...*Terima Kasih*...
__ADS_1