
Diluar perkiraan Raiyan, ternyata butuh waktu hampir dua bulan hingga persiapan pernikahan nya dan Axnes.
Dan hari ini tibalah hari yang sangat ditunggu oleh Raiyan dan Axnes begitu juga dengan kedua belah pihak keluarga mereka.
Tak lupa sahabat Raymond beserta keluarga kecil mereka juga turut hadir ke Jepang untuk memeriahkan pernikahan Raiyan dan Axnes.
Mereka memutuskan untuk menggunakan Hotel bintang lima milik Rex sebagai tempat upacara pernikahan mereka sekaligus untuk pesta dimalam hari nya.
# Di kamar Axnes.
Axnes tampak anggun dalam balutan busana pengantin nya.
Ia masih duduk di kursi meja rias nya sambil menatap bayangan nya didalam cermin.
Senyum manis nya tak pernah lepas dari wajah nya walau ia sangat gugup.
"Sayang." Max dan Vanessa menyapa putri mereka bersamaan.
Axnes menoleh ke arah sumber suara dan tersenyum manis.
"Papa, Mama." Sapa Axnes pada orang tua nya.
"Mama bahagia kau sebentar lagi akan menjadi seorang istri sayang." Ucap Vanessa terharu memeluk pundak putri nya.
Axnes mengusap lembut tangan Vanessa yang melingkar sempurna di pundak nya.
"Papa juga bahagia untuk mu sayang." Ucap Max menepuk pelan puncak kepala putri nya.
Axnes tersenyum dan meraih tangan Max kedalam genggaman nya.
"Terima kasih Pa, Ma. Kalian sudah menjadi orang tua yang baik untuk ku dan mendidik ku dengan baik." Ucap Axnes penuh haru.
Max dan Vanessa tersenyum.
Putri kecil mereka sebentar lagi akan menjadi istri seseorang.
Rasa haru bercampur bahagia melingkupi hati mereka.
"Sayang, ingatlah. Jadilah istri yang menghormati suami mu. Tapi dalam beberapa hal kau harus bisa membuat suami mu tunduk pada mu." Ucap Vanessa memberi nasehat pada putrinya.
Max mendelik tajam pada istrinya.
"Bagaimana kau bisa mengajarkan putri mu menjadi seperti mu sayang?" Tanya Max.
"Memang kenapa? Apa yang ku katakan memang benar. Pria tidak harus selalu mengepalai wanita, dalam beberapa hal, wanita juga bisa menjadi kepala." Ucap Vanessa tegas.
Max memilih diam saja dan membiarkan istrinya menang. Melawan Vanessa tidak sanggup Max lakukan.
"Sudah sudah. Ayo kita harus segera turun." Ucap Vanessa.
Ia segera membantu putrinya untuk bersiap agar bisa segera turun menuju altar pernikahan.
# Di Kamar Raiyan
"Oh ya Tuhan, ternyata rasanya akan menikah itu seperti ini ya?" Tanya Raiyan pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Raiyan tampak sangat gugup, sesekali ia mengesap keringat yang ada didahi nya dan juga ditelapak tangan nya.
"Kenapa akan menikah rasanya sangat gugup dari saat pertama kali aku melakukan itu dengan Emily?" Tanya Raiyan lagi.
Ia sedikit berjalan mondar mandir tak tentu arah berharap dapat mengurangi sedikit rasa gugup nya.
Namun yang ia dapat justru rasa gugup yang semakin bertambah.
Fiwittt
Seseorang bersiul dari ambang pintu kamar nya.
Raiyan menoleh, dan tampaklah tiga sahabat baik nya sedang senyum cengengesan menatapnya.
Mereka bertiga berjalan masuk mendekati nya.
"Kakak Rai, kau yang paling tua disini. Kau juga menerima takdir mu menikah mendahului kami." Ucap Dero merangkul sahabatnya.
Raiyan tersenyum kaku.
"Santai lah Rai. Kau akan menikah, bukan akan berperang." Ucap Vynshen dingin sambil memperbaiki dasi kupu kupu milik Raiyan.
"Kau lupa bung? Nanti malam dia akan berperang." Ucap Vion merangkul Vynshen.
Dero dan Vion tertawa mesum, Vynshen hanya tersenyum kecil.
"Kalian sahabat macam apa hah? Aku sangat gugup, tapi kalian malah bercanda." Ucap Raiyan mengomeli ketiga sahabatnya itu.
"Apa kau juga segugup ini saat pertama kali melakukan itu dengan Emily?" Tanya Vynshen dingin.
"Jadi untuk apa kau segugup ini untuk hari baik mu?" Vynshen kembali bertanya dingin.
Raiyan terdiam menatap Vynshen yang menatap nya datar namun sangat menusuk.
"Sudahlah sudah. Ayo kita turun saja. Paman Ray dan bibi Vivi sudah menunggu di bawah." Ucap Vion menengahi kedua sahabatnya yang seperti akan berkelahi itu.
"Benar. Dero yang tampan ini sudah siap mendampingi mu kakak Rai." Ucap Dero dan menuntun Raiyan keluar dari kamar itu diikuti Vion dan Vynshen dari belakang.
Mereka berempat pun melangkah turun ke bawah menggunakan lift.
Setelah sampai, mereka segera berjalan menuju altar pernikahan sesuai arahan pembawa acara.
Raiyan melangkah dengan gagah dan percaya diri walau gugup, diikuti ketiga sahabatnya dari belakang.
Vivian tampak sangat terharu melihat putranya yang tampak berbeda hari ini, Raymond memeluk istrinya.
Ayvin duduk berdampingan dengan kakek nya, Harley yang sudah berumur namun masih bugar.
Setibanya keempat orang itu didepan altar, sang pembawa acara pun mengarahkan pengantin perempuan untuk masuk menuju altar pernikahan.
"Wah, cantik sekali."
"Iya. Cantik sekali."
Begitulah beberapa bisikan terdengar saat Axnes melangkah masuk kedalam ruangan itu didampingi Max dan Vanessa.
__ADS_1
Axnes kini sudah berhadapan dengan Raiyan di depan altar pernikahan.
Max yang berada di samping Axnes pun meraih tangan putrinya dan menyerahkan nya pada Raiyan.
"Rai, mulai hari ini aku menyerahkan putri ku untuk kau jaga dan kau cintai. Jika satu saat kau tidak menginginkannya lagi, jangan kau sakiti. Kau bisa mengembalikan nya pada ku secara baik baik seperti saat kau meminta nya dariku." Ucap Max menahan haru nya sebagai seorang Ayah.
"Papa tenang saja. Aku akan mencintai Axnes dengan seluruh jiwa dan raga ku. Jika aku menyakitinya aku sudah tahu akibatnya. Dia sendiri yang akan menghukum ku." Ucap Raiyan percaya diri.
Max dan Vanessa pun mundur dan turun kebawah panggung altar pernikahan dan duduk bergabung bersama Raymond dan Vivian.
Pembawa acara memberikan sedikit petuah pada kedua mempelai dan para lajang yang ada di belakang Raiyan.
Setelah itu, pembawa acara pun mempersilahkan kedua mempelai untuk mengucapkan janji suci pernikahan.
"Aku Raiyan Lu, mengambil engkau Axnes Jiang untuk menjadi istri dan wanita ku satu satunya. Tak peduli dalam keadaan sehat dan sakit, kaya dan miskin, suka dan duka. Aku berjanji akan selalu mendampingi mu hingga akhir hayat kita. Aku mencintai mu Axnes." Ucap Raiyan sambil memasangkan cincin pada jari manis Axnes.
"Aku Axnes Jiang, menerima engkau Raiyan Lu untuk menjadi suami dan lelaki ku satu satunya. Tak peduli dalam keadaan sehat dan sakit, kaya dan miskin, suka dan duka. Aku berjanji akan selalu mendampingi mu hingga akhir hayat kita. Aku juga mencintai mu Raiyan." Ucap Axnes sambil memasangkan cincin pada jari manis Raiyan.
Dan mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri.
"Wooo." Ketiga sahabat Raiyan bersorak gembira dan langsung berhambur memeluk Raiyan dan melompat bahagia.
Max dan Vanessa, Raymond dan Vivian, tak lupa Ayvin dan Harley ikut naik keatas panggung altar pernikahan untuk memberi mereka selamat.
"Selamat sayang." Ucap Max dan Vanessa bersamaan memeluk erat putrinya dan Raiyan.
"Selamat kalian akhirnya resmi menikah." Ucap Raymond dan Vivian bersamaan tak lupa memeluk erat Raiyan dan Axnes.
"Selamat kakak Axnes dan kak Rai. Selamat bergabung di dalam keluarga kami." Ucap Ayvin sopan.
Ia setia menuntun kakek nya.
"Selamat anak nakal. Kau kini adalah suami orang. Jangan nakal lagi. Jadilah suami yang baik seperti Papa mu." Ucap Harley.
Harley sangat tidak menyangka dirinya bahkan masih bisa menyaksikan cucu sulung nya menikah.
"Terima kasih semuanya. Terima kasih kakek." Ucap Raiyan dan Axnes bersamaan.
Diatas panggung altar pernikahan menjadi sangat meriah.
"Sepertinya aku terlambat."
Mereka semua berbalik melihat arah sumber suara.
"Emily?"
...~ **To Be Continue ~...
******
Maaf rada lama up, diriku bingung mau nulis apa.
Max sama Rai udh baikan soalnya.
Setelah satu konflik ini selesai, maka kisah Raiyan dan Axnes bakal tamat.
__ADS_1
Like dan komentar jangan lupa. Makasih**.