Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
Extra Chapter ROL 4 - Lumpuh


__ADS_3

"Dokter, bagaimana dengan kondisi istriku?" Tanya Raiyan panik saat melihat seorang dokter keluar dari ruang UGD.


Hah


Dokter tersebut menghela nafas kasar.


Tampak seperti ia enggan sekali untuk menjawab pertanyaan dari Raiyan.


"Dokter katakan! Bagaimana kondisi istriku?" Tanya Raiyan dengan nada meninggi.


"Nyoya Axnes tidak mengalami luka luar yang serius. Tapi tulang belakang nya terbentur dengan cukup kuat hingga mengalami keretakan." Jawab dokter tersebut dengan suara parau.


"Apa itu akan berefek fatal dokter?" Kini Vivian yang bertanya.


"Karena keretakan yang dialami oleh Nyonya Axnes cukup parah, maka sudah bisa dipastikan Nyonya Axnes mengalami kelumpuhan." Jelas dokter tersebut merasa tidak nyaman.


Raiyan luruh terduduk dilantai.


"Lalu, apa ada kemungkinan untuk sembuh dokter?" Tanya Vivian lagi.


Dokter tersebut menghela nafas kasar lagi.


"Kemungkinan untuk sembuh sangat kecil. Jika pun sembuh, kemungkinan besar Nyonya Axnes tidak bisa berjalan dengan normal seperti sebelum kecelakaan." Jelas dokter tersebut.


"Ray, Axnes. Kenapa harus Axnes yang mengalami ini?" Tanya Vivian terisak memeluk Raymond.


"Bersabarlah. Semua pasti akan ada jalan keluar nya." Ujar Raymond menenangkan Vivian.


"Tidak bisa. Kau tidak bisa begini dokter. Bagaimanapun caranya kau harus menyembuhkan istriku! Berapa pun biayanya akan aku bayar." Titah Raiyan yang tiba-tiba bangkit dari posisinya dan mencengkram kerah jas dokter tersebut.


Raymond segera menarik Raiyan menjauh.


"Tenanglah Tuan Raiyan. Aku hanya mengatakan yang sejujurnya tentang apa yang sudah aku dapatkan dari hasil pemeriksaan ku. Aku tidak bisa bertindak mendahului yang Maha Kuasa." Ucap dokter tersebut sedikit kesal dengan tingkah Raiyan.


"Semoga saja ada keajaiban dan Nyonya Axnes bisa pulih kembali secara total. Aku permisi." Ucap dokter tersebut lalu melangkah pergi meninggalkan ketiga orang itu.


Raiyan kembali terduduk lemas dilantai.


Air matanya mengalir seketika namun ia menangis tanpa suara.


"Apa gunanya kau menangis? Seharusnya kau bisa sadar sebelum kejadian ini terjadi." Ucap Raymond geram.


"Kau tahu Rai, aku sangat menyesal melahirkan putra seperti mu. Kau bahkan lebih brengsek dari Papanya Axnes. Aku akhirnya paham, semua ini hanya akal-akalan mu agar dapat menikah dengan Axnes. Kau menipu semua orang dengan kepalsuan mu. Setelah berhasil kau perlahan melanjutkan aksi balas dendam mu. Kau puas sekarang?" Vivian memarahi Raiyan habis habisan.


"Aku sungguh-sungguh mencintai Axnes, Ma." Ujar Raiyan tetap mencoba meyakinkan orang tuanya.

__ADS_1


"Jika kau mencintai nya, kau tidak akan pernah menyakiti nya melewati batas kewajaran." Kini Raymond yang bersuara.


Raiyan kini terdiam.


"Sekarang keadaan sudah begini. Bagaimana cara mu memperbaiki semuanya? Jika kau sudah tidak mencintai nya, seharusnya kau mengembalikan dia secara baik baik pada orang tuanya. Bukan menyiksanya seperti ini." Raymond juga memarahi Raiyan habis habisan.


Raiyan tidak bisa menjawab apapun lagi.


"Sungguh aku kecewa padamu Rai. Tidak ada satupun didikan ku yang melekat dalam diri dan otak mu selain darahku yang mengalir dalam tubuhmu." Ujar Raymond penuh amarah.


Raiyan benar benar hanya diam dan menunduk. Ia bahkan menangis tanpa suara sambil memeluk kedua lututnya menyesali akibat fatak dari semua perbuatannya.


Tak lama, dua perawat memindahkan Axnes kedalam ruang inap.


Raymond dan Vivian segera mengikuti perawat tersebut meninggalkan Raiyan yang entah sadar atau tidak kalau istrinya sudah dibawa keluar dari ruang UGD.


Raiyan menengadahkan kepalanya dan baru tersadar kalau orang tuanya sudah tidak di dekatnya.


Ia segera bangkit dan mencari mereka.


Akhirnya Raiyan mendengar isakan dari dalam salah satu kamar inap. Raiyan mencoba mengintip dan ternyata Axnes yang sedang menangis dipeluk oleh Vivian.


Raiyan membuka pintu ruangan itu perlahan dan melangkah dengan perlahan masuk kedalam ruang inap Axnes.


"Sayang." Panggil Raiyan dengan suara lirih.


"Sayang maafkan aku." Pinta Raiyan kembali melangkah.


"Pergi! Aku tidak butuh dirimu. Kau penjahat. Kau pasti sedang tertawa dalam hati karena sudah berhasil menyiksaku. Dendam mu terbalaskan." Teriak Axnes, bahkan Axnes tidak ingin menyebut nama Raiyan.


"Tidak. Aku memang bersalah. Tapi aku tidak pernah berpikir untuk balas dendam padamu lagi." Ucap Raiyan mencoba membujuk istrinya.


"Pergi! Aku bilang pergi! Jangan pernah datang menemuiku lagi!" Titah Axnes menangis meraung.


"Aku lumpuh. Aku cacat dan sekarang kau bebas. Kau bebas melakukan apapun. Semua terserah kau. Pergi dan tidak perlu mendatangiku. Aku tidak butuh sandiwara mu lagi." Ucap Axnes lagi.


Vivian setia memeluk Axnes walaupun Axnes dalam posisi baring.


"Maafkan aku. Sungguh aku yang bersalah." Pinta Raiyan masih mencoba membujuk Axnes.


"PERGI!" Axnes kembali berteriak histeris.


"Sebaiknya kau pergi Rai. Saat ini buka waktu yang tepat untuk mu berada disini." Titah Raymond.


"Tapi dia istriku Pa. Aku yang bersalah atas semua yang terjadi hari ini." Ucap Raiyan berusaha bertahan.

__ADS_1


"Pergilah dulu. Biarkan Axnes tenang dulu. Jika kau terus memaksa yang ada kau malah akan membuatnya semakin tertekan." Ucap Raymond membujuk putra nya.


"Tapi Pa ... "


"Pergilah Rai." Kini Vivian yang bersuara.


Raiyan akhirnya menyerah dan keluar dari ruangan itu, namun ia tidak pergi.


Ia bersandar pada dinding ruangan itu.


"Tenangkan dirimu sayang. Semua akan baik baik saja." Ucap Vivian menenangkan menantunya.


"Aku cacat Ma. Aku sudah tidak berguna lagi." Ucap Axnes frustasi.


"Sstt..jangan berbicara seperti itu. Berguna atau tidaknya dirimu tidak dilihat dari lengkapnya kondisi fisik mu." Ujar Vivian lagi.


"Aku minta untuk merahasiakan ini sementara waktu dari Papa dan Mama ku. Aku tidak ingin Papa mu terbawa emosi dan menyakiti Rai." Pinta Axnes.


"Kau sungguh wanita yang kuat dan luar biasa sayang. Bahkan disaat keadaanmu sudah seperti ini akibat keegoisan suamimu pun, kau masih mengkhawatirkan dirinya." Ujar Vivian.


Axnes tidak bersuara. Bagaimanapun Raiyan adalah suaminya, pria yang ia cintai, Ayah dari putranya.


"Bagaimana keadaan Yanes, Ma?" Tanya Axnes teringat putranya.


"Jangan khawatirkan itu. Yanes aman bersama Dream." Jelas Vivian.


Vivian menitipkan Yanes pada Dream sebelum mereka datang ke rumah sakit tadi.


Diluar ruangan, Raiyan kembali menangis tanpa suara mendengar semua percakapan istri dan Mama nya.


"Maafkan aku Axnes. Aku bersalah. Aku berdosa padamu. Aku yang sudah terlalu berlaku egois." Batin Raiyan.


Ia bahkan memukul dadanya sendiri dengan tangannya.


"Maafkan aku." Batin Raiyan kembali.


...~ To Be Continue ~...


######


Kenapa jadi sedih gini sih ceritanya?


Btw..


Mampir di cerita baru ku yang judulnya "TWINS (Belenggu Gangster Kejam)" Yuk... Jangan lupa tinggalkan jejak.

__ADS_1


Makasih.


__ADS_2