
Hari demi hari telah dilalui oleh Vivian, hubungan nya dengan Max pun mulai terjalin lebih dari sekedar pengawal dan nona muda. Namun didepan Jordan mereka tetap bersikap seperti biasanya. Mereka tidak menjalin hubungan asmara, hanya saja hubungan saling nyaman. Dan Raymond? Raymond selalu menghabiskan waktu nya untuk menguntit Vivian, mafia-mafia bucin mungkin. Ia selalu berusaha untuk menggapai Vivian namun sayang setiap kali selalu digagalkan oleh kehadiran Max.
Dan hari ini sampailah pada hari kelulusan Vivian. Vivian lulus dengan nilai terbaik dan tentu saja itu akan menjadi hal yang sangat membanggakan untuk Jordan Li selaku ayahnya. Namun tanpa Vivian ketahui bahwa hari ini juga adalah hari berdukanya. Raymond dan para anak buahnya bersiap untuk menyerang ayahnya buntut dari permasalahan anak buah Jordan yang menyerang Raymond tempo hari.
"Ayah..Ayah." Vivian memanggil-manggil ayahnya dengan suara yang terdengar sangat bahagia.
"Dimana Ayah?" batin nya saat tidak mendapat jawaban atau pun melihat keberadaan ayahnya.
"Hei, dimana ayahku?" tanya nya pada Max tiba-tiba saat ia melihat Max baru keluar dari arah ruang belakang yang membuat Max sedikit terperanjak.
"Kau ini membuat ku kaget saja." Ucap Max seraya mencubit pipi Vivian gemas.
"Dimana ayah ku?" tanya Vivian lagi sambil menepis tangan Max yang mencubit pipinya.
"Ada diruang kerjanya." Jawab Max sambil menunjuk ruang kerja Jordan.
"Terima kasih." Ucap Vivian mencium sekilas pipi Max dan berlalu meninggalkannya, membuat Max mematung sejenak. Bagaimana tidak itu adalah perlakuan romantis yang pertama kali Vivian lakukan kepadanya. Ia tidak tahu apa tujuan Vivian tapi hal itu sukses membuatnya tersipu malu. Vivian yang baru menyadari perbuatannya itu pun menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang mendapati Max yang masih berdiri ditempat nya tadi sambil memegangi pipinya.
"Ah ya ampun, kau bodoh sekali Vi. Bagaimana kau akan menatap nya nanti." Gumam Vivian merutuki kecerobohan nya itu. Ia lantas memutuskan berlari kecil menuju ruang kerja ayahnya agar cepat sampai.
"Ayah boleh aku masuk?" tanya nya saat sudah didepan pintu.
"Masuklah." Terdengar suara ayahnya memberi ijin kepadanya.
Iapun membuka pintu dan masuk kedalam ruang kerja Ayahnya. Dengan semangat ia langsung menghambur memeluk Ayahnya yang sedang berdiri menghadap jendela yang memperlihatkan keindahan taman belakang mansion itu sambil membaca sebuah dokumen. Ia memeluk Ayahnya dengan erat seakan itu adalah kali terakhir ia bisa memeluk Ayahnya.
"Hei ada apa putri Ayah?" tanya Jordan dengan satu tangan mengusap lembut rambut belakang Vivian dan satu tangan yang masih memegang dokumen .
"Ayah coba tebak. Aku bawa kabar bahagia apa untuk Ayah?" ucap Vivian semangat setelah melepaskan pelukannya.
"Hem..apa? tanya Jordan penasaran sambil menyernyitkan dahi nya.
__ADS_1
"Taraa....lihatlah Ayah aku lulus dengan nilai terbaik." Vivian memperlihatkan surat kelulusan nya pada Ayahnya.
"Wooww..kau hebat sekali putri kecil ku." Ucap Jordan memuji putri nya dan membawa putrinya itu kedalam pelukan nya. Kali ini Jordan yang memeluk erat putrinya seolah itu adalah pelukan terakhir mereka.
"Jadi apa kau sudah memutuskan akan melanjutkan kuliah dimana?" tanya Jordan tak kalah antusias dari putrinya setelah melepas pelukannya.
"Hem..belum ayah, tapi aku sudah tahu jurusan apa yang ingin ku ambil." Ucap Vivian sambil menggelengkan kepalanya sekilas.
"Apa?" tanya Jordan singkat dengan nada lebih serius dari yang tadi, maklum ini berkaitan dengan masa depan putrinya.
"Arsitek. Aku ingin mendesain dan membangun rumah yang nyaman untuk ditempati orang-orang." Jawab Vivian sangat bersemangat.
"Baiklah. Segera tentukan Universitas mana yang ingin kau pilih agar Ayah dapat mengurusnya untuk mu." Ucap Jordan sambil mengacak lembut puncak kepala Vivian.
"Terima kasih Ayah." Ucap Vivian lalu mencium sekilas pipi Ayahnya dan keluar meninggalkan ruangan Ayah nya. (Vivian mengecup pipi Ayah nya dengan sedikit menginjitkan kaki nya sama halnya dengan Max tadi karena mereka sama-sama lebih tinggi dari Vivian).
Tujuan Vivian sekarang tentu saja adalah Max, orang yang belakangan ini memberi warna tersendiri dalam hidupnya. Ia terus berjalan mencari Max disetiap sudut mansion itu. Namun sangat sulit menemukan keberadaan Max. Akhirnya ia menyerah dan memutuskan untuk mengirim pesan singkat pada Max.
"Max kau dimana?" begitulah isi pesan yang ia kirimkan pada Max. Sambil menunggu pesan nya dibalas ia pun beranjak ke dapur untuk meraih segelas air dan meminum nya hingga tandas.
Bunyi ponsel Vivian tandap ada pesan yang masuk, ia lalu membuka pesan itu dan benar saja itu adalah balasan dari Max.
"Di taman belakang. Kemarilah." Isi balasan pesan dari Max. Dan Vivian pun langsung berjalan menuju taman belakang.
"Wah wah, sejak kapan Tuan pengawal ku tertarik dengan bunga-bunga indah ini." Ucap Vivian dengan nada mengejek saat ia sampai ditaman belakangan dan melihat Max berdiri membelakanginya sambil memandangi bunga-bunga indah ditaman itu sambil berjalan dan berdiri di samping Max.
"Sejak kau hadir dalam hati ku." Ucap Max serius tanpa mengalihkan pandangan nya. Vivian terdiam mendengar penuturan Max, jantungnya bahkan berdetak sepuluh kali lebih cepat dari biasanya.
"Ada apa kau mencari ku?" tanya Max yang masih setia memandangi bunga-bunga dihadapannya.
"Hem, apa kau tahu....TIDAK." Belum selesai Vivian berkata-kata, Max sudah memotongnya. Entahlah tapi Vivian merasa saat ini Max sedikit berbeda dari biasanya.
__ADS_1
"Max aku lulus dengan nilai terbaik dan.." Lagi-lagi Max memotong pembicaraan Vivian bahkan kali ini dengan pelukan mendadak membuat Vivian menjatuhkan surat kelulusan nya yang ingin ia tunjukkan pada Max tadi.
"Selamat untuk mu." Ucap Max masih dalam posisi memeluk Vivian dan menenggelamkan wajah nya di leher Vivian membuat Vivian merasa sedikit geli karena hembusan nafas nya.
"Ada apa?" tanya Vivian yang merasa sedikit aneh dengan sikap Max.
"Kau akan dewasa sebentar lagi dan pasti akan semakin jauh dari ku." Ujar Max dengan nada sendu dan masih dengan posisi seperti tadi.
"Max, aku tidak akan kemana-mana." Vivian berusaha memberi ketenangan kepada Max sambil mengusap-usap punggung kekar Max dan hanya dibalas deheman pelan oleh Max.
Jordan yang melihat kedekatan putrinya dengan Max hanya tersenyum penuh arti. Ia tidak marah karena ia yakin bahwa Max dapat menjaga dan melindungi putrinya. Tak terasa malam sudah menjelang dan kini Vivian sudah berada dikamarnya dan berkutat dengan laptop nya untuk mencari Universitas yang terbaik yang ingin ia datangi. Namun disela-sela kegiatannya ia mendengar suara tembakan dan juga keributan dari luar kamarnya. Ia yang belum tahu apa yang sedang terjadi pun mencoba untuk keluar dan melihat apa yang terjadi.
"AYAH" Vivian berteriak saat melihat Ayahnya sudah terkapar bersimbah darah. Saat hendak berlari menghampiri Ayahnya ia merasa tangannya ditarik oleh seseorang dan ternyata itu adalah Max. Max berusaha membawa nya lari dari tempat itu lewat pintu rahasia yang selama ini hanya Jordan, Sarah dan ia yang mengetahuinya
"Vi, dengarkan aku, kau harus pergi dari tempat ini. Selamatkan diri mu, jangan sekalipun kau menoleh kebelakang tak peduli apapun yang kau dengar. Tutup telinga mu dan lari dengan sekuat tenaga." Ucap Max panjang lebar sambil memegang erat pundak Vivian yang bergetar karena menangis.
"Tapi Ayah dan kau?" Vivian berusaha berkata-kata disela-sela isak tangisnya.
"Jangan hiraukan aku, aku akan baik-baik saja. Aku berjanji aku akan menjemput mu nanti." Ucap Max membawa Vivian dalam pelukannya dan memeluk Vivian erat seakan sedang menyalurkan sisa-sisa kekuatannya pada Vivian.
"Sekarang larilah dan pergi sejauh mungkin." Max melanjutkan kata-katanya setelah melepas pelukannya dan mencium dalam kening Vivian.
"Aku menyayangimu Vi." Ucap Max dan ia pun mendorong Vivian untuk keluar dari pintu itu dan menutup kembali pintu itu.
Akhirnya Vivian hanya bisa berlari dari sana dengan berderai air mata, ia berlari tanpa henti bahkan kakinya sekarang mulai terluka karena tadi ia tidak sempat mengenakan alas kaki. Ia terus berlari sekuat tenaga tanpa menoleh kebelakang sesuai apa yang dikatakan Max kepada nya. Namun tiba-tiba terlihat sebuah mobil hitam yang berhenti tepat didepannya.
"Nona masuk lah. Aku akan membawa mu pergi dari sini. Aku bukan musuhmu jangan takut." Ucap pria yang duduk dikursi belakang mobil itu. Tanpa berpikir panjang Vivian akhirnya masuk kedalam mobil itu dan mobil itu pun melaju meninggalkan tempat itu.
Baru saja tadi pagi Vivian merasa sangat bahagia namun sekarang ia merasakan kesedihan yang sangat luar biasa. Dunianya seakan runtuh seketika.
^^^~Sekian dulu yah.^^^
__ADS_1
^^^Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar dan juga like nya~^^^
...*Terima Kasih*...