Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
ROL 6 - Harga yang harus dibayar.


__ADS_3

Pagi ini tidak seperti biasanya. Teman teman kuliah Emily yang biasanya menatap kagum dan menyapa ramah pada nya, pagi ini tampak mencibir nya.


Tidak sedikit dari mereka yang menatap nya dengan tatapan jijik, namun ada beberapa mahasiswa laki laki yang bersikap kurang ajar dengan memainkan jari mereka sebagai suatu simbol.


"Ada apa dengan mereka?" Emily bertanya dalam hati.


Ia terus berjalan menelusuri lorong kampus nya dengan perasaan tidak nyaman, hingga akhirnya ia sampai di depan papan pengumuman.


"I ini tidak mungkin." Emily menolak kenyataan bahwa foto foto panasnya tadi malam sedang terpajang indah di papan pengumuman.


Lutut nya terasa lemas, air mata nya mengalir deras. Cibiran mulai terdengar nyata, tidak lagi berbisik.


"Aku tidak menyangka selama ini begitu kelakuan nya."


"Bagaimana bisa seorang Raiyan menjalin hubungan dengan wanita seperti itu?"


"Aku jadi kasihan pada Raiyan."


"Tidak disangka. Wajahnya cantik, tapi kelakuan nya sangat rendah."


"Imej manis nya selama ini sudah tidak berarti."


Begitulah para mahasiswa mahasiswi membicarakan dirinya.


Malu sudah pasti.


Segera Emily berusaha melepaskan semua foto foto panasnya yang tertempel di papan pengumuman. Tidak ada yang membantu nya.


"Tidak perlu dilepas. Kau lepaskan yang itu pun percuma, kami punya banyak yang lain bahkan video nya juga ada." Ucap salah satu mahasiswa sambil menggoyangkan ponselnya kearah Emily.


"Hapus semua nya sekarang juga." Emily mendekati mahasiswa tersebut dan berusaha merebut ponsel nya.


Saat Emily bergerak berusaha merebut ponsel nya, mahasiswa tersebut malah berbuat cabul dengan sengaja meremas dada Emily diiringi tawa terbahak bahak dari mahasiswa lain yang menyaksikan adegan itu.


"Sialan." Emily menendang area pribadi mahasiswa itu dengan sangat kuat. Mahasiswa itu mengerang kesakitan.


"Aku peringatkan pada kalian, jika kalian tidak menghapus semuanya dari ponsel kalian, aku pasti akan membuat kalian tahu akibatnya." Emily mengancam sambil menunjuk satu persatu dari mereka.


Bukan takut, mereka malah terus menertawakan Emily.


"Aku tidak menyangka ketika kau tidak berpakaian, kau lebih menggoda." Salah satu mahasiswa lain menjawab nya dengan kalimat tidak sopan.


Emily segera berlari dari kerumunan orang orang itu. Tujuan nya adalah Raiyan. Niat nya ingin meminta bantuan dari Raiyan.


"Rai.." Ia memanggil Raiyan saat dirinya sudah sampai di ruangan berkumpul milik Raiyan dan ketiga sahabatnya.


Universitas ini adalah Universities yang didirikan kakek nya dulu, jadi dia berhak meminta fasilitas lebih.


Emily kaget tidak percaya saat melihat Raiyan duduk sedang merangkul wanita lain. Mereka tampak sangat bahagia.


"Em, ada apa?" Vion berpura pura bertanya sambil merangkul pundak Emily.

__ADS_1


"Lepaskan tangan mu dari ku. Hanya Raiyan yang boleh menyentuh ku." Ucap nya sok setia. Dia mengira Raiyan masih belum tahu perbuatan nya.


Padahal yang menyebarkan semua foto dan video nya adalah Raiyan dibantu Vion.


"Cih, menjijikkan." Vynshen berdecih lalu keluar dari ruangan itu, tidak ingin melihat drama yang tidak penting.


"Rai, aku mohon bantu aku." Pinta Emily.


Raiyan hanya diam saja tidak menggubris perkataan Emily. Dero dan Vion hanya tertawa sinis saling memandang.


"Rai, aku mohon bantu aku. Bantu aku untuk mencari siapa yang sudah menyebarkan hal tidak benar tentang ku." Pinta Emily lagi.


"Aku." Raiyan meraih ponselnya lalu melemparkan kedepan Emily agar ia melihat sendiri video dan foto foto asli yang sudah ia ambil semalam.


"Tidak. Kau tidak mungkin melakukan ini Rai. Kau membela dan melindungi ku selama ini." Emily menolak kenyataan bahwa Raiyan lah yang sudah merusak nama baik nya.


"Itu tidak seberapa Emily. Kau harus tahu aku bisa melakukan lebih dari itu." Ucap Raiyan sambil tersenyum sinis.


"Kenapa kau lakukan ini Rai?" Emily bertanya tidak percaya.


Raiyan tidak menjawab dan hanya tersenyum sinis dan menatap Emily dengan tatapan membunuh. Emily menangis.


"Wow, drama. Kau sangat pandai berakting Em." Vion mengejek Emily.


Emily menggeleng kuat.


"Kau tidak berakting atau kau tidak puas tadi malam?" Raiyan yang kini bersuara.


"Apa aku ketinggalan sesuatu?" Dero berpura pura bodoh, padahal ia tahu semuanya dari Vion dan berulang kali menonton rekaman di ponsel Raiyan.


"Aku mohon Rai. Aku tidak sadar saat itu." Emily kembali membela diri.


Dia memang mabuk, tapi ia bukan tipe orang yang kehilangan kesadaran dengan mudah saat mabuk. Dan Raiyan pun tahu itu.


"Tidak sadar? Tidak sadar tapi kau menikmati nya?" Raiyan berkata dengan suara sedikit meninggi.


"Aku hanya marah pada mu Rai." Emily akhirnya tidak ingin menyangkal perbuatan nya namun tetap membela diri.


"Marah? Untuk apa?" Raiyan bertanya seolah lupa.


Emily tidak menjawab dan hanya menggeleng.


"Oh, kau marah pada ku karena kemarin menampar mu?" Ucap Raiyan dengan lantang menekan kata menampar.


Emily mengangguk.


Vion dan Dero saling menatap bingung, tidak percaya Raiyan bahkan bisa menampar Emily.


Raiyan berdiri dari duduknya dan berjalan hingga behenti tepat didepan Emily.


"Kau jelas tahu kenapa aku menampar mu. Kau yang menampar adik ku dulu." Raiyan menggertak dengan suara lantang membuat Emily memejamkan matanya kuat dan mencengkeram ujung dress nya.

__ADS_1


Takut. Raiyan yang selama ini memperlakukan dirinya lembut, walau terkadang marah karena pancingan nya, tetap saja tidak menakutkan seperti yang saat ini ditunjukkan.


Vion dan Dero saling menatap tidak percaya dengan perkataan Raiyan. Emily terlalu berani sampai menyakiti Ayvin.


"Adik mu menghina ku Ray." Emily berteriak histeris.


"Menghina? Yang dikatakan nya itu benar. Kau hanya penghangat ranjang ku. Lalu salah nya dimana?" Raiyan kini berucap dengan suara datar dan terdengar menakutkan.


"Aku mohon Rai." Emily menunduk dan meraih tangan Raiyan namun Raiyan menepis nya kuat.


"Ini harga yang harus kau bayar Emily. Dan ini belum seberapa." Ucap Raiyan.


"Aku minta maaf Rai." Akhirnya Emily membuang gengsi dan ego nya jauh dan memutuskan untuk minta maaf terlebih dulu.


"Seperti ini apa susahnya. Hanya mengucapkan kata maaf pada ku." Raiyan mengedikkan bahu nya acuh. Ia lalu menyenggol kuat bahu Emily dan hendak pergi.


"Aku minta maaf Rai." Emily kembali berucap membuat langkahnya terhenti.


"Tergantung apa yang bisa kau lakukan untuk mendapatkan maaf ku." Raiyan menyeringai lalu melenggang pergi tanpa menunggu perkataan Emily selanjutnya.


Dero menyusul dari belakang bersama Vion.


"Penghangat ranjang." Dero berucap sinis lalu menyenggol kuat bahu Emily diikuti Vion juga melakukan hal yang sama.


Sepeninggal tiga pria tampan itu, Emily terduduk lemas di lantai. Ia mengepalkan tangannya kuat. Menghapus air mata palsu yang sempat menetes tadi.


"Raiyan Lu aku akan pastikan kau bertekuk lutut dan memohon agar tidak ditinggal oleh ku." Emily tersenyum sinis.


"Lihat saja nanti. Bukan Emily nama ku jika tidak bisa membuat mu tunduk dibawah ku." Ia menimpali perkataannya sendiri.


~ Dero Yang



~ Raiyan Lu



~ Vion



Gimana? Cocok?


******


Aelah, Emily udah salah aja masih ngeyel.


makasih yang udah dan selalu dan masih setia.


Kalian terbaik.

__ADS_1


Selamat berpuasa hari ini. Semangat dan jangan bolong bolong ya.


__ADS_2