
Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat. Sudah satu bulan berlalu sejak kepergian Max ke Jepang. Max benar benar menepati janjinya untuk hidup lebih baik.
Ia membuka cabang bisnis baru nya di Jepang dibantu oleh adiknya. Hubungan nya dengan Rex pun sudah membaik bahkan jauh lebih baik dari dulu.
Kini ia dan Rex sedang berada di sebuah Club malam. Bukan, bukan untuk bersenang senang. Mereka datang ke Club malam itu pun karena terpaksa. Demi menarik investor agar bekerja sama atau mau menanamkan modal untuk beberapa perusahaan nya.
Ia dan Rex sama sama sudah tidak pernah lagi menjajal dunia malam seperti itu. Bahkan untuk menenggak alkohol saja sudah tidak pernah mereka lakukan kecuali atas permintaan klien. Mereka benar benar berubah. Bukan lagi yang dulu.
Bahkan mereka merasa sangat tidak nyaman berlama lama ditempat seperti itu. Seperti saat ini. Max dan Rex sama sama merasa gelisah karena sudah diikat hampir tiga jam oleh calon investor mereka di sebuah Club malam.
Mereka sibuk bertukar pesan melalui ponsel karena tidak mungkin mengatakan nya didepan calon investor mereka.
**Rex : Kapan ini akan berakhir ?
Max : Entahlah, aku merasa sangat mual sekarang.
Rex : Jika tidak memungkinkan, kita lepas saja kak. Aku sudah tidak sanggup bertahan lebih lama lagi. Perut ku seperti mau pecah gara gara minuman yang mereka berikan.
Max : Aku juga. Sial aku harus ke toilet. Aku benar benar tidak tahan. Kau tangani dulu**.
Segera Max berjalan tergesa gesa menuju ke toilet untuk mengeluarkan semua isi perutnya akibat perbuatan dari para calon investor nya yang memaksa mereka minum dengan sangat banyak.
Padahal Max dulu adalah peminum yang handal. Tapi tidak dengan Max yang sekarang.
"Sial. Ingin rasanya aku mencongkel keluar mata mereka dan memotong jari jari mereka hingga buntung." Batin Max geram. Percayalah, Max hanya berkata seperti itu tapi dia tidak akan pernah melakukan hal seperti itu lagi.
Ia terduduk lemas di lantai toilet setelah mengeluarkan semua isi perutnya. Sejenak ia memejam. Ingatan nya tentang Vanessa saat bersama di Club malam kembali berputar di otak nya. Satu hal yang tidak pernah berubah, yaitu Vanessa dalam hidupnya.
"Hah, sudah lah. Jika harus se-menderita ini demi uang yang tidak seberapa, lebih baik aku lepaskan saja. Aku benar benar tidak sanggup lagi. Aku juga kasihan pada Rex." Ucap nya lagi.
Segera ia pun bangkit dari duduk nya, lalu menuju ke wastafle diluar untuk mencuci wajahnya dan membasahi sedikit rambutnya. Setelah itu ia keluar dan memutuskan untuk kembali ketempat nya dan akan mengakhiri pertemuan mereka.
"Vanessa?" Batin Max ditengah langkahnya. Dia berhenti saat melihat seorang perempuan yang berpenampilan sedikit menor, dengan dress sexy dan memakai rambut palsu berwarna baby pink sedang begelayut manja dilengan seorang pria yang tidak tampan sama sekali.
Entah dorongan dari mana ia memutuskan untuk melangkah mendekati perempuan dan pria itu.
"Vanessa ... " Tanpa sadar nama itu terucap dari bibir nya dengan nada yang keras seperti memanggil perempuan itu.
Perempuan dan pria itu sama sama menoleh kearah Max.
"Sayang kau mengenal nya?" tanya Pria itu pada perempuan itu.
"Tidak." Si perempuan menjawab singkat.
"Apa dia kekasih simpanan mu?" Pria itu bertanya lagi.
"Mana mungkin aku punya kekasih setampan itu. Hidupku sudah berakhir karena menjadi kekasih dari pria jelek seperti mu." Ucap si perempuan dengan nada mengejek, lalu mereka tertawa bersama.
"Vanessa, kau benar Vanessa?" Max bertanya penuh harap.
__ADS_1
"Aku memang Vanessa Tuan. Tapi aku tidak mengenal mu." Jawab perempuan yang juga bernama Vanessa itu.
"Hah, apa yang ku pikirkan. Tidak mungkin dia Vanessa ku." Batin Max didalam hati.
Setelah itu Max memutuskan untuk pergi dari sana dan menuju ketempat Rex dengan pikiran berkecamuk. Ia sangat berharap perempuan tadi benar benar adalah Vanessa nya.
"Rex, lebih baik kita pulang saja. Kita akhiri semua ini. Aku tidak sanggup lagi." Ucap nya pada Rex sambil memapah Rex yang mulai mabuk.
"Ya ampun. Masa kakak mau menyerah begitu saja? Berjuanglah sedikit lagi." Ucap Rex entah meracau tentang apa.
"Tidak ada artinya jika kita harus menderita seperti ini hanya untuk uang yang tidak seberapa itu." Ucap Max berusaha membawa adiknya keluar dari tempat laknat itu.
"Haha Vanessa tidak mati kak. Dia masih hidup." Rex meracau tidak jelas.
Deg
Jantung Max berpacu cepat mendengar perkataan Rex. Hanya Rex dan dokter yang menangani Vanessa yang tahu keadaan saat itu.
"Apa yang kau bicarakan Rex?" tanya Max mencoba menetralkan pikiran nya.
"Haha Vanessa masih hidup. Ya ampun itu tidak mungkin. Bagaimana mungkin?" Rex kembali meracau.
"Sepertinya dia mabuk berat." Batin Max lalu memasukkan Rex kedalam mobil.
Saat ia hendak melangkah kearah kursi pengemudi, ia tak sengaja melihat ban mobilnya yang ternyata kempes.
"Sial sekali aku malam ini." Ucap Max geram. Akhirnya ia kembali memapah Rex keluar dari mobilnya dan berniat mencari taxi didepan Club itu.
"Astaga, hari apa ini? Kenapa hari ini aku ditimpa kesialan?" Gerutu Max duduk ditepi jalan dan menundukkan kepalanya, sedangkan Rex ia biarkan tetidur dijalanan aspal itu sambil berharap ada orang baik yang mau menolong mereka.
"Tuan, apa kau membutuhkan bantuan?" suara seorang perempuan terdengar bertepatan dengan suara mobil berhenti. Max mendongak mendapati seorang perempuan tersenyum manis padanya didalam mobil.
"Vanessa?" Gerutu Max.
"Ya aku. Vanessa yang tadi kau datangi didalam Club." Ucap Vanessa sambil menunjuk kearah Club. Penampilan nya sudah tidak se-menor tadi. Ia terlihat berkali kali lipat lebih cantik tanpa rambut palsu dan make up tebal.
"Aku sebenarnya ingin pulang, tapi ban mobil ku kempes. Didekat sini juga tidak ada bengkel. Aku mencoba menunggu taxi tapi tidak ada satupun yang lewat." Max menjelaskan penderitaan nya saat ini.
"Naiklah ke mobil ku. Biar aku saja yang mengantar kalian. Daerah ini memang tidak mungkin untuk mendapatkan taxi dimalam hari karena sudah diblok oleh pemilik club ini untuk melancarkan bisnis mereka." Vanessa menawarkan tumpangan sekaligus menjelaskan keadaan sekitar pada Max.
"Baiklah. Maaf merepotkan mu." Ucap Max lalu memapah Rex yang sudah tertidur kedalam mobil Vanessa.
"Apa sebaiknya aku saja yang menyetir?" tanya Max tidak enak.
"Tidak masalah Tuan. Santai saja dengan ku. Dimana tempat tinggal mu?" tanya Vanessa.
"Aku tinggal di district ... " jawab Max seadanya.
"Baiklah. Aku akan mengantar kalian dengan selamat. Apa itu teman mu?" tanya Vanessa sambil menunjuk kearah Rex dan mulai melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Dia adik ku." Max menjawab seadanya tapi matanya tidak pernah lepas menatap Vanessa. Vanessa pun seperti tidak keberatan ditatap oleh Max padahal ia menyadari Max menatap nya terus.
"Apa yang kalian lakukan di Club ini?" Vanessa bertanya penasaran.
"Kami tadi bertemu dengan calon investor yang katanya ingin menanamkan modal pada perusahaan ku. Tapi setelah bertemu, mereka malah terus memaksa kami untuk minum. Melelahkan." Max menjelaskan dan menghela nafas kasar.
"Jika lelah kenapa tidak berhenti atau setidaknya istirahat dulu Max." Ucap Vanessa. Max tertegun mendengar namanya disebut.
"Benarkan nama mu itu Max? Aku pernah melihat mu di salah satu acara televisi." Vanessa menjelaskan perkataannya.
"Ah, o iya." Jawab Max salah tingkah.
Kemudian tidak ada lagi percakapan diantara mereka namun Max tidak pernah membuang pandangan nya dari Vanessa.
"Sudah sampai." Ucap Vanessa yang berhenti tepat didepan district tempat tinggal Max.
"Rumah mu yang mana?" tanya Vanessa penasaran.
"Yang itu." Max menunjuk sebuah rumah berpagar yang tak jauh dari mereka.
"Apakah boleh aku menginap di rumah mu? Ini sudah sangat malam untuk aku pulang ketempat ku karena jarak nya cukup jauh." Vanessa bertanya dan menjelaskan keadaan nya.
"Bo boleh. Lagipula aku hanya tinggal berdua dengan adik ku." Max menjawab dengan sedikit gugup.
Vanessa kemudian menjalankan pelan mobilnya menuju ke rumah Max. Pagar nya terbuka otomatis dan Vanessa pun masuk.
Max segera turun dari mobil dan memapah Rex untuk masuk kedalam rumah dan membawanya ke kamar. Setelah membuka sepatu dan menyelimuti Rex, Max segera keluar dari kamar Rex.
"Rumah mu indah sekali Tuan." Ucap Vanessa memuji rumah Jack.
Deg
Kalimat itu juga di ucapkan oleh Vanessa nya saat dulu pertama kali berkunjung. Bedanya Vanessa nya waktu itu mengatakan hal itu pada Rex.
"Aku akan mengantar mu ke kamar tamu." Ucap Max berusaha untuk tenang.
Mereka pun berjalan ke kamar tamu dengan Max berjalan didepan Vanessa.
"Ini kamar tamu nya. Istirahat lah dengan baik. Maaf sudah merepotkan mu." Ucap Max lalu hendak pergi.
"Max ... "
**********
Makasih semua sudah selalu mendukung aku.
Mampir juga di karya ku yang judul nya " IF LOVE "
Jangan lupa tinggalkan jejak komentar, like, vote, dan favorit cerita ku yah.
__ADS_1
Salam sayang dan selalu jaga kesehatan kalian.
Yuk, kita luangkan sedikit waktu berdoa untuk para saudara saudari kita yang mengalami musibah banjir dan tanah longsor di Kabupaten Lembata, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Semoga saudara saudari kita disana diberikan ketabahan dan kekuatan untuk melewati cobaan ini. Amin.