Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
Menghukum


__ADS_3

Note : Chapter ini mengandung adegan kekerasan yah, jadi harap bijak dalam membaca.


"Ayah, maaf aku baru datang melihat mu." Ucap Vivian dengan nada sendu sambil terisak kecil.


"Ayah, aku janji aku akan hidup lebih baik walau sekarang ayah sudah tidak bersama ku lagi. Jagai aku dari sana Ayah." Vivian melanjutkan perkataannya seolah-olah sedang berbicara dengan Ayah nya sambil memeluk batu nisan Ayah nya.


"Vi, jangan bersedih lagi." Ucap Raymond yang kemudian ikut berjongkok sambil mengusap bahu Vivian.


"Ayah, apa Ayah tahu aku diselamatkan oleh seorang pria yang baik hati. Ia yang selalu menjaga ku belakangan ini Ayah." Timpal Vivian tanpa mempedulikan Raymond. Raymond hanya bisa pasrah. Beberapa waktu bersama Vivian sedikit banyak ia mulai mengenali sifat dan wataknya.


"Vi ayo kita pulang." Ajak Raymond saat ia melihat awan sudah mulai mendung dan dibalas anggukan oleh Vivian. Saat hendak beranjak Vivian merasa ada sesuatu yang kurang. Yah makam Max tidak tampak ada disitu padahal hampir semua bawahan ayahnya yang terkorban ada makamnya bahkan Sarah juga.


"Ray mengapa tidak ada makam Max?" tanya Vivian. Raymond yang mendengar nama Max disebut lagi-lagi membuatnya mengepalkan tangan nya kuat. Namun ia mencoba memendam amarah nya agar tidak menyakiti Vivian.


"Orang-orang ku tidak menemukan jasad nya di mansion itu. Jadi mereka dan aku berasumsi bahwa mungkin saja ia masih hidup dan berhasil melarikan diri." Ucap Raymond memberi penjelasan dan dibalas anggukan dari Vivian. Dalam hati tentu saja ia berharap asumsi Raymond benar.


"Ray, apa boleh kau mengantar ku kembali ke mansion ku sebentar?" tanya Vivian meminta.


"Untuk apa?" Raymond balik bertanya dengan nada yang sedikit meninggi. Ia hanya takut Vivian berbuat nekat atau memilih meninggalkan nya.


"Aku ingin mengambil beberapa barang ku yang mungkin masih bisa ku temukan disana." Jawab Vivian.


"Baiklah. Aku akan menemanimu."


Dan mereka pun beranjak meninggalkan pemakaman itu menuju ke mansion Jordan. Raymond melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia tidak membawa serta Jiro karena hanya ingin berdua dengan Vivian. Tak lama kemudian mereka pun sampai ketempat tujuan mereka karena memang Raymond sengaja memakamkan Jordan dan orang-orang nya tidak jauh dari mansionnya.

__ADS_1


Vivian langsung turun dari mobil dan berjalan langkah demi langkah menuju mansion nya. Saat ia membuka pintu besar itu dan menapakkan kakinya kedalam ia masih bisa melihat ada sisa-sisa bercak darah dilantai, bahkan di dinding dan sudut-sudut mansion itu. Air mata nya mulai menetes saat kejadian malam itu kembali menyerang ingatannya. Ia terus berjalan dan berjalan seolah-olah sedang merekam semua hal yang pernah terjadi di mansion itu untuk ia simpan dalam ingatannya. Raymond hanya setia mengikuti nya dari belakang.


Lalu Vivian sampai didepan kamarnya. Ia terdiam sejenak memandangi pintu kamar nya yang juga terdapat bercak darah, entah lah itu darah siapa. Ia kemudian membuka perlahan pintu itu lalu masuk kedalam kamar nya melihat sekelilingnya. Raymond tidak ikut masuk ia hanya menunggu diluar san memberi waktu Vivian untuk sendiri. Kamar Vivian masih sama seperti terakhir kali saat ia pergi dari sana, dengan laptop yang masih tergeletak diranjang namun sudah tidak menyala. Ia kemudian duduk di ujung ranjang nya sambil tersenyum perih.


Lalu ia berjalan mendekati nakas nya dan membuka laci nakasnya. Diraihnya dua lembar foto yang selama ini ia simpan. Satu lembar adalah foto ayahnya, dan satu lembar nya lagi adalah foto ia dan Max. Raymond yang melihat itu langsung menghampiri Vivian dan mencegah ia untuk memasukkan foto ia dan Max kedalam tas nya.


"Aku mohon Ray." Pinta Vivian dengan nada memelas dan menatap sendu Raymond. Membuat Raymond tidak tega akhirnya mengijinkan Vivian untuk membawa foto itu. Raymond berpikir akan melenyapkan foto itu saat Vivian sudah benar-benar menjadi miliknya nanti.


"Terima kasih." Ucap Vivian saat Raymond mengijinkan ia membawa foto itu.


Setelah cukup lama akhirnya Vivian mengajak Raymond meninggalkan mansion itu. Raymond tentu saja menyetujui nya karena ia tidak ingin melihat gadis nya bersedih terlalu lama. Saat hendak memasuki mobilnya ia mendapat panggilan dari Jiro.


"Ada apa?" Ucap Raymond tanpa basa basi


"Tuan kami sudah menemukan sebagian orang-orang yang melakukan penyerangan di mansion Jordan dan sekarang mereka sudah kami bawa ke markas besar tuan." Ucap Jiro dalam panggilannya itu.


Raymond pun langsung melajukan mobilnya menuju markas besar nya, ia sengaja tidak mengantar Vivian pulang terlebih dahulu agar Vivian bisa melihat bagaimana ia menghukum orang-orang itu. Orang-orang yang sudah merenggut kebahagiaan gadisnya. Kurang lebih hampir satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai di markas besar nya. Raymond langsung menggenggam tangan Vivian dan membawanya ikut serta masuk kedalam markasnya setelah mereka keluar dari mobil.


"Tuan." Ucap Jiro dan para bawahannya serentak saat melihat kedatangan Raymond. Raymond melepaskan genggaman tangan nya dari Vivian lalu berjalan menghampiri orang-orang yang sudah lemah dan terikat.


"Jadi kalian para tikus-tikus kecil yang sudah merenggut kebahagiaan gadisku." Ujar Raymond dengan amarah membuat suasana seketika terasa mencekam.


"Jiro." Raymond sedikit berteriak memanggil Jiro. Jiro yang mengerti apa mau Tuan nya itu pun langsung berjalan meraih pisau kecil kesayangan Tuan nya dan memberikannya pada Raymond lalu berdiri kembali disamping Vivian. Vivian masih bingung apa yang sedang terjadi.


"Akkhhh" salah satu tahanan nya berteriak saat Raymond memotong telinganya dengan pisau kesayangan nya itu. Vivian terkejut melihat itu, ia tidak takut karena dia memang pecinta film thriller dan ia pernah melihat Max dan ayahnya melakukan hal serupa hanya saja ia tidak ingin ikut campur.

__ADS_1


"Jadi begini rasanya ketika melihat langsung aksi-aksi yang sering aku tonton di film-film." Batin Vivian.


"Kau merasakan sakit? Hahaha sakit mu itu tidak seberapa dengan yang kalian berikan kepada gadisku." Ujar Raymond dengan tawa menggelegar.


"Siapa gadis nya Ray, apa ia sudah punya kekasih?" batin Vivian saat mendengar Raymond dua kali menyebutkan kata gadis ku.


"Akkhhhh" terdengar teriakan dari tahanan yang lainnya, kali ini Raymond memotong pergelangan tangan tahanannya itu membuat darah segar seketika mengalir deras. Dan kali ini sukses membuat Vivian merasa ngeri sehingga ia mencengkeram kuat lengan Jiro membuat yang dicengkeram menahan sakitnya.


"Ampun tuan. Aku minta maaf." Ujar tahanan lain ketika melihat Raymond berdiri menghampirinya.


Tentu saja Raymond tidak mendengarkannya, ia terus berjalan mendekati nya langkahnya pelan tapi pasti.


Dan "Jleb" Raymond menusukkan pisaunya kesalah satu mata orang yang memohon ampun tadi. Dan sukses membuat orang itu berteriak kesakitan. Sedang Vivian memejam matanya erat-erat dan mencengkeram lebih kuat lengan Jiro, tentu saja Jiro tidak berani menolak atau ia akan berhadapan dengan Tuannya nanti.


Setelah dirasa cukup bermain-main nya, Raymond pun mengambil sapu tangan dari sakunya dan membersihkan sisa darah tangannya dan membuang sembarang sapu tangan nya itu. Ia lalu berjalan kearah Vivian yang masih memejamkan matanya, melihat itu membuat Raymond tersenyum kecil.


"Ayo kita pergi." Ajak Raymond pada Vivian dan meraih tangan Vivian dalam genggaman nya. Vivian hanya mengikuti nya dengan mata yang masih terpejam. Akhirnya Jiro bernafas lega walaupun lengan nya sudah mulai memar.


"Bereskan semuanya dan cari sisanya." Ucap Raymond menghentikan langkahnya saat akan keluar.


"Baik Tuan." Ucap para bawahannya serentak.


^^^~Sekian dulu yah.^^^


^^^Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar dan juga like nya.^^^

__ADS_1


^^^Jangan lupa tekan tombol favorit juga jika readers menyukai cerita ku~^^^


...*Terima Kasih*...


__ADS_2