Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
ROL 33 - Kejahilan Raiyan


__ADS_3

"Aku ingin menikah dengan Axnes." Ucap Raiyan tanpa basa basi menatap tajam dan serius pada Max.


Max terkejut mendengar keinginan Raiyan, Rex juga tak kalah terkejut.


"Apa kau yakin?" Tanya Max memastikan.


"Em." Raiyan menjawab cuek.


Dia memang memutuskan untuk tidak membenci Max, tapi tetap saja melihat Max yang saat ini bak malaikat membuat hati nya dongkol.


"Rai, aku tidak ingin kau mengambil keputusan terburu buru. Kalian masih sangat muda." Ucap Max berusaha menasehati.


"Apa kau takut aku akan menikahi Axnes untuk balas dendam atas apa yang sudah kau lakukan pada Mama ku?" Tanya Raiyan dengan penuh keberanian.


Rex akhirnya memilih menjauh.


"Apa sampai hari ini kalian masih membenci ku?" Tanya Max sendu, menunduk.


Seringai tipis tersungging di bibir Raiyan.


"Aku tidak tahu mereka. Tapi aku iya. Aku sangat sangat membenci mu. Sayang nya aku malah sangat mencintai putri mu." Ucap Raiyan menekan setiap katanya.


Max tidak bersuara.


"Aku kemari bukan untuk meminta restu dari mu, aku kemari hanya untuk memberi tahu tujuan ku saja." Ucap Raiyan lagi.


"Rai, jika kau membenci ku, kau bisa balaskan semuanya pada ku. Tapi jangan sakiti putri ku. Dia satu satunya harta ku yang paling berharga setelah istriku." Ucap Max dengan suara getir.


Bagaimana bisa dia membiarkan putrinya menanggung akibat dari perbuatan nya dua puluh lebih tahun yang lalu.


Walau sebenarnya ia sudah salah paham pada Raiyan, Raiyan pun membiarkan nya. Rasanya sangat senang mengerjai orang tua didepan nya.


"Apa yang bisa aku lakukan pada pria tua seperti mu? Tapi pada putri mu aku bisa melakukan apapun. Bahkan dengan senang hati aku akan mengembalikan nya pada kalian tapi setelah aku puas menikmati nya." Ucap Raiyan penuh kesengajaan.


Ah, Raiyan rasanya ingin tertawa sekarang.


Ia lalu menangkap kekasihnya berjalan mendekat dari arah dapur bersama calon Ibu mertuanya.


"Aku mohon Rai. Jangan sakiti putri ku. Aku tidak akan sanggup melihat itu semua." Pinta Max memelas.


Sedangkan Raiyan tersenyum sinis sambil mengusap bibirnya dengan telunjuknya saat melihat Axnes mendelik tajam padanya. Ia bahkan mengedipkan sebelah matanya pada Axnes.


"Bagaimana bisa pria jahat ini mengerjai Papa ku?" Batin Axnes.


"Apa yang bisa kau banggakan dari putri mu ini selain wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang molek?" Tanya Raiyan ketus.


Bukk


Axnes duduk di samping nya dan memukul kuat dadanya.

__ADS_1


"Aww..sakit sayang." Ucap Raiyan lembut merangkul pundak kekasih nya lalu mengecup kening nya.


Suara Raiyan terdengar sangat berbeda saat ia bicara dengan Axnes dan Max.


"Minumlah Rai." Titah Vanessa menyerahkan secangkir teh pada Raiyan.


"Terima kasih bibi." Ucap Raiyan juga lembut pada Vanessa.


"Axnes, akhiri hubungan dengan nya. Papa tidak ingin kau disakiti. Papa akan menanggung segala hukuman dari dosa Papa." Ucap Max yang sama sekali tidak sadar jika Raiyan sedang mengerjai nya.


Sedangkan Vanessa saja sudah bisa menebak jika Raiyan sedang mengerjai suaminya.


"Percuma saja kau menyuruh putri mu meninggalkan ku. Dia bahkan sekarang sedang mengandung bayi ku." Ucap Raiyan.


"Aku tidak em..." Raiyan membekap mulut Axnes saat ia ingin membela diri.


Vanessa hanya tersenyum melihat tingkah tiga manusia itu.


Max akhirnya mengangkat kepalanya menatapnya kecewa pada putrinya.


"Kenapa kau sebodoh itu Axnes?" Tanya Max kecewa.


Ia tidak menyangka putri yang selama ini ia jaga dengan baik telah di rusak oleh putra dari wanita yang sudah ia sakiti. Bahkan putrinya harus menanggung akibat dari perbuatan nya.


"Sudahlah Paman. Kau hanya perlu menyetujui saja pernikahan kami. Selebihnya adalah urusan kami." Ucap Raiyan santai namun nada nya terdengar mengancam.


Axnes yang masih dibekap mulutnya hanya menggeleng, Max saja tidak tahu apa maksud nya.


"Itu urusan ku. Tergantung lagi bagaimana putri mu bisa melayani ku." Ucap Raiyan tertawa puas didalam hati nya.


Ia kemudian melepaskan telapak tangannya yang menutup mulut Axnes.


"Kau ini.." Axnes mencubit kesal dada kekasihnya, bahkan mencubit nya dengan sangat kuat.


"Akh aw...sakit sayang." Raiyan mengerang kesakitan.


"Kenapa kau jahat sekali mengerjai Papa ku seperti itu?" Tanya Axnes kesal berusaha menjewer telinga Raiyan namun Raiyan terus menghindar.


Vanessa tersenyum melihat kebahagiaan putrinya, sedangkan Max melongo tidak percaya mengetahui fakta bahwa dirinya hanya dikerjai oleh calon menantu nya.


"Axnes, jadi kau tidak hamil?" Tanya Max menuntut kepastian.


"Tidak Pa." Jawab Axnes singkat masih terus bercanda dengan Raiyan.


"Tapi kami sudah melakukan nya." Jawab Raiyan jujur.


"APA??" Tanya kedua orang itu kompak.


Mereka akhirnya menghentikan candaan mereka.

__ADS_1


Axnes menunduk bersalah, sedangkan Raiyan tanpa malu memeluk kekasihnya sesekali mengecup pipi dan telinga kekasihnya.


"Kenapa begitu berani Axnes?" Tanya Max kesal.


"Aku yang memaksanya. Jika ingin marah, maka marah pada ku. Axnes tidak bersalah." Ucap Raiyan tegas membela kekasihnya.


"Bagaimana jika dia meninggalkan mu hah? Apalagi jika kau sampai hamil darinya?" Tanya Max lagi sedikit membentak sambil bangkit dari duduk nya.


"Hei pak tua, rendahkan suara mu. Kau harusnya bersyukur mendapat putri seperti Axnes yang rela mengorbankan dirinya untuk menebus kesalahan mu." Ucap Raiyan.


Max terduduk lemas.


"Sudahlah Max, mereka punya cara mereka sendiri untuk saling mencintai. Apa kau lupa, kau juga mengambil mahkota ku sebelum kita menikah." Ucap Vanessa santai.


"PAPA!" Axnes bersuara tinggi pada Ayahnya.


"Cih, sendiri saja begitu tapi ingin menghakimi orang." Ucap Raiyan meremehkan.


Max hanya diam, tidak tahu harus bereaksi seperti apa.


"Apa kau benar benar mencintai Axnes, Rai?" Tanya Vanessa serius.


"Iya bibi." Jawab Raiyan sopan.


Max mengepal kuat tangan nya. Kesal Raiyan mengerjai nya.


"Ya sudah. Jika kalian benar benar serius, kita akan bicarakan hari baik kalian nanti. Sekarang kalian istirahat saja dulu. Nanti Mama akan memanggil kalian jika waktu makan malam tiba." Titah Vanessa lembut.


"Terima kasih, Ma." Ucap Raiyan tanpa rasa malu.


Ia pun bangkit dari duduk nya menggenggam tangan Axnes agar mengikutinya.


"Dimana kamar mu sayang. Aku ingin itu sekarang." Ucap Raiyan sengaja mengeraskan suara nya.


"Hentikan itu." Teriak Max kesal.


"Ah kau sungguh nikmat sayang." Ucap Raiyan masih sengaja mengeraskan suara nya.


"Arghhh." Teriak Max mengerang frustasi.


"Bisa bisanya putra Raymond dan Vivian bentukan nya seperti itu, apa benih ku dulu sempat menempel di otak nya?" Gerutu Max.


"Kau pikirkan saja." Ucap Vanessa ketus lalu pergi meninggalkan suami nya.


...~ **To Be Continue ~...


******


Senang aku bisa ngerjain Max..haha

__ADS_1


Like dan komentar jangan lupa yah. Makasih**.


__ADS_2