Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
Hamil?


__ADS_3

Pagi menjelang, terlihat Vivian sedang bergerak gelisah dalam tidur nya. Ia merasa sangat tidak nyaman. Tiba tiba ia terbangun dan langsung berlari ke kamar mandi.


Huek huek


Ia termuntah. Namun tidak ada yang keluar selain cairan bening. Raymond terbangun saat mendengar suara istrinya. Segera ia berlari kearah kamar mandi untuk membantu Vivian. Raymond menepuk pelan punggung Vivian berharap bisa sedikit membantu istrinya.


Setelah selesai, Vivian akhirnya terduduk lemas di lantai. Wajahnya menjadi sangat pucat. Segera Raymond menggendong tubuh lemah Vivian keluar dari kamar mandi dan membaringkan nya diatas ranjang.


"Sayang kau tidak apa apa?" Raymond bertanya khawatir, pasalnya ini pertama kalinya melihat Vivian seperti itu.


"Tidak." Vivian menjawab sambil menggeleng kepalanya lemah.


"Baiklah, kau istirahat saja. Aku akan menyuruh Shen untuk datang dan memeriksa mu." Ucap Raymond lalu beranjak meraih ponselnya untuk menghubungi Shen.


Tidak lama menunggu, Shen akhirnya pun datang.


Tok tok tok


Shen mengetok pintu kamar Raymond.


"Masuklah." Raymond memberi ijin.


Segera Shen pun masuk kedalam.


"Ya ampun Ray, kenapa rumah mu ini susah sekali untuk ku temukan?" Shen mengeluh. Raymond dan Vivian memang memutuskan untuk tinggal di rumah hasil desain Vivian, rumah impian Vivian.


"Kau saja yang payah." Elak Raymond.


"Apa saja keluhan Vivian?" tanya Shen pada Raymond pasalnya Vivian sudah kembali tertidur tadi.


"Entahlah. Aku hanya tahu tadi tiba tiba dia terbangun dan langsung berlari ke kamar mandi lalu muntah. Tidak memuntahkan apapun selain cairan bening." Ucap Raymond menjelaskan keadaan istrinya.


"Hais. Itu kau tidak perlu sampai memanggil ku. Oh astaga. Aku bukan ahli di bidang itu." Shen mengomel tak jelas membuat Raymond mengernyit bingung. Lalu ia menghentikan memeriksa Vivian.


"Jika keadaan Vivian adalah seperti yang kau sebutkan tadi, makan paling tepat adalah kau menemui dokter spesialis kandungan." Ucap Shen lalu memberikan Raymond selembar kartu nama pada Raymond.


Raymond terperangah merasa tidak percaya apa yang dikatakan oleh Shen.


"Kau yakin?" tanya Raymond ragu.

__ADS_1


"Aku ini dokter, walaupun bukan dokter segala jenis penyakit, tapi diagnosa ku selalu tepat. Tidak perlu diragukan." Shen berkata dengan bangga lalu bangkit berdiri dan berjalan keluar meninggalkan mereka.


Raymond kemudian segera menghampiri istrinya diatas ranjang, pasalnya dari tadi dia berdiri didekat pintu. Lalu ia memutuskan untuk berlutut di tepi ranjang nya. Satu tangannya menggenggam erat tangan istrinya dan satunya lagi mengelus pelan puncak kepala istrinya.


Perasaan nya bercampur aduk antara bahagia, kaget, takut menjadi satu. Rasanya tidak percaya saja bahwa pada akhirnya dan sebentar lagi dia akan menjadi seorang Ayah. Perasaan calon Ayah pada umum nya


"Ray ... " Vivian membuka matanya perlahan dan memanggil nama nya dengan suara serak.


"Iya sayang. Aku disini." Raymond menjawab istrinya. Raymond tersenyum saat istrinya memandang kearah nya.


"Ada apa? Aku sakit apa?" tanya Vivian bingung melihat suaminya yang justru tersenyum manis.


"Aku bahagia sayang. Aku sangat bahagia. Bahkan kebahagiaan ku saat ini berkali kali lipat." Ucap Raymond bahagia namun ia tidak tahu harus mengekspresikan bagaimana kebahagiaan nya.


Ingin sekali menggendong Vivian dan berputar putar tapi ia takut jika akan melukai Vivian dan jabang bayi nya.


"Apa maksud mu bahagia?" tanya Vivian sambil tersenyum heran. Ia kemudian berusaha bangkit dari posisinya dibantu Raymond dan duduk bersandar dikepala ranjang.


"Kita akan menjadi orang tua sayang." Ucap Raymond bahagia sambil duduk di samping Vivian dan mengelus perut rata Vivian.


Deg


Seketika ekspresi wajah Vivian berubah. Ia menjadi terlihat sedih, dan takut.


"Apa yang kau lakukan. Kau bisa membunuh bayi kita." Ucap Raymond sedikit membentak.


"Ini pasti bukan bayi kita. Aku tidak mau bayi ini." Ucap Vivian terisak. Ia takut, takut bayi didalam rahim nya bukan milik Raymond melainkan Max.


"Sttt jangan berkata seperti itu. Percaya pada ku. Ini milik ku." Ucap Raymond lembut lalu membawa Vivian kedalam pelukan. Vivian semakin menangis mendengar perkataan suaminya.


"Aku tidak mau Ray. Aku tidak mau." Kalimat itu yang terus terucap dari bibir Vivian.


"Vivian cukup." Raymond mulai kesal hingga dia sedikit membentak Vivian yang masih dalam pelukan nya.


"Aku percaya pada mu dan itu sudah cukup. Jika kau ingin membuktikan nya, kita akan buktikan nanti. Tapi bagi ku, itu sama sekali tidak penting. Yang terpenting adalah janin ini tumbuh didalam rahim mu. Dan sekalipun terburuk nya dia bukan milik ku, aku tidak masalah. Aku akan menerima nya seperti milik ku sendiri dan mencintai nya sepenuh hati. Satu hal lagi, aku tidak akan membiarkan dia menjadi seperti Ayahnya jika memang nanti dia benar benar bukan darah daging ku." Ucap Raymond tegas.


Benar, Raymond benar benar tidak mempermasalahkan itu sama sekali. Baginya yang terpenting adalah Ibunya, dan ia cinta serta percaya pada Vivian. Ia tidak masalah jika pun terburuk nya ketakutan Vivian menjadi nyata.


"Sudah yah. Jangan bersedih lagi. Jika kau bersedih bayi kita akan juga merasa sedih. Kau tidak mau kan nanti wajah nya terlahir mirip dengan Sion atau Shen yang lajang mengenaskan." Ucap Raymond berusaha menghibur istrinya dan sukses membuat Vivian tersenyum kecil.

__ADS_1


"Kau ini." Ucap Vivian sambil memukul ringan dada bidang nya.


"Sungguh sayang, aku tidak mempermasalahkan apapun. Jadi jangan lagi berpikir yang bukan bukan." Ucap Raymond mempererat pelukan nya. Vivian hanya diam dan mengangguk pelan.


"Ayo, sekarang kita mandi, setelah itu kita sarapan. Dan setelah itu lagi kita berangkat ke rumah sakit untuk memeriksa ulang. Aku tidak ingin jika si lajang mengenaskan Shen membohongi ku dan memberi harapan palsu pada ku." Ucap Raymond.


Ia lalu dengan sigap menggendong Vivian ke kamar mandi. Mereka pun segera mandi, setelah selesai mereka pun berpakaian dan turun menuju ke ruang makan untuk sarapan. Ditengah langkah mereka, mereka berpapasan dengan Dream yang tersenyum lebar menyambut mereka. Mereka memang sengaja membawa Dream untuk tinggal bersama mereka dirumah baru.


"Wah wah, calon Ayah semakin terlihat tampan dan calon ibu semakin terlihat cantik." Ucap Dream bersemangat.


"Terima kasih." Raymond berucap semangat. Vivian hanya tersenyum tersipu.


"Nanti biarkan aku yang memberi nama pada anak kalian yah Tuan, Nona Vivian." Pinta Dream bersemangat.


"Nama apa? Dero? Jiem? itu semua tidak keren." Raymond bercanda meremehkan Dream.


"Tuan, tidak mungkin aku memberi nama anak mu menggunakan gabungan nama ku dan Jiro." Ucap Dream seolah mengomeli Tuan nya.


"Ya Sudah. Mulai sekarang kau harus menjaga dan menemani istri kesayangan ku ini dua puluh empat jam. Selalu pastikan makanan yang dimakan nya adalah makanan yang sehat dan bergizi." Raymond memberi perintah dengan tegas.


"Baik Tuan." Ucap Dream membungkuk lalu menaruh tangannya dikening seperti memberi hormat.


"Sekarang mana sarapan kami?" tanya Raymond.


"Diruang makan Tuan." Dream menjawab dan mempersilahkan Raymond dan Vivian menuju ke ruang makan.


"Cepat minta Jiro payah untuk segera menikahi mu. Jangan enak enak dulu sampai lupa untuk menikah." Ujar Raymond mengejek Dream. Padahal selama menjalin hubungan dengan Jiro, Jiro tidak pernah sekalipun menyentuh Dream melewati batas. Jiro itu polos.


"Tuan ... " Dream merengek mendapat ejekan dari Raymond, sedangkan yang mengejek hanya tertawa.


Setelah diruang makan, Raymond dan Vivian segera sarapan sebelum nanti berangkat ke rumah sakit untuk memeriksa ulang kehamilan Vivian.


*******


Jangan bosan nungguin update nya yah.


Makasih dan selalu tinggalkan jejak komentar entah itu kritik, saran, masukan, kehaluan kalian asal semuanya sopan, positif dan gak ngegas.


Like, vote, dan favorit nya jangan lupa.

__ADS_1


Mampir juga di Novel ku satunya yang berjudul " IF LOVE " tinggalkan jejak juga.


Selalu jaga kesehatan kalian yah.


__ADS_2