
Tiga bulan setelah pertemuan Max dengan Vivian dan Raymond yang berakhir damai.
Tepat hari ini Jiro akan menikahi kekasih hati nya yaitu Dream. Perempuan yang sudah menemani nya bertahun tahun. Ia melamar Dream didepan Raymond dan Vivian dua bulan lalu.
"Oh Tuhan, aku gugup sekali." Ucap Jiro menatap dirinya didepan cermin sambil bergerak pelan seperti orang berjalan ditempat.
"Hei, payah. Kau kenapa? Ingin buang air?" Tanya Shen yang baru masuk kedalam ruangan rias nya dan mendapati Jiro sedang bergerak gelisah. Sion tertawa terbahak bahak mendengar ucapan Shen pada Jiro.
"Diam kau." Ucap Jiro melempar remasan kertas tissue ke arah Shen.
"Adik kecil kita akan segera melepas keperjakaan nua." Ucap Sion tersenyum nakal menggoda Jiro.
Wajah Jiro memerah pertanda malu.
"Menjijikan. Tidak usah memasang tampang seperti itu." Ucap Shen membuat ekspresi Jiro kembali kesal.
"Kau sudah bisa langkah langkahnya?" Shen bertanya lagi. Jiro mengernyit bingung tidak mengerti pertanyaan Shen, membuat Shen dan Jiro tertawa bersamaan.
"Jadi kau benar benar belum pernah melakukan apapun dengan calon istri mu?" Tanya Sion sambil tertawa. Jiro baru mengerti maksud pertanyaan Shen.
Jiro tidak menjawab dan hanya mendengus kesal.
"Jiro jiro, terlalu polos juga tidak baik." Ucap Shen merangkul erat pundak Jiro dan meninju pelan dadanya.
Jiro hanya menggaruk kepala belakang nya dan tersenyum bodoh.
"Kau mau ku ajari caranya?" Tanya Sion berbisik pada Jiro.
"Tidak perlu. Aku tidak melakukan nya dengan Dream selama kami menjalin hubungan bukan berarti aku tidak pandai. Aku menghargai dan melindungi nya. Aku ingin seperti Tuan Ray yanh menjaga dan melindungi serta menghargai Nona Vivian." Ucap Jiro tegas membuat Shen dan Sion mati kutu.
"Lagi pula, apa kau senang melihat adik mu aku perlakukan seperti wanita gampangan?" Tanya Jiro ketus dan memandang tajam pada Sion.
Sion lagi lagi terdiam tidak mampu menjawab.
"Waw. Tampan sekali Jiro." Ucap Raymond merentangkan tangan nya dan berjalan mendekat pada Jiro diikuti Harley disamping nya.
"Terima kasih Tuan." Jiro berkata kemudian menunduk malu.
"Haha kau ini. Jangan selalu menjadi pria yang lembut. Sesekali coba untuk menjadi pria kasar seperti kakak ipar mu." Ucap Raymond yang diiringi tawa dari semua orang di ruangan itu.
#####
"Dream, kau sangat cantik." Vivian memuji penampilan Dream yang sangat berbeda dari biasanya. Ia kemudian berdiri disamping Dream dan memegang pundak Dream.
Dream baru saja selesai dirias oleh tim MUA terbaik yang Vivian panggilkan untuk nya. Kehamilan Vivian sudah memasuki bulan ketujuh. Bayi nya berjenis kelamin laki laki. Vivian juga sudah tidak mengidam aneh lagi, tepatnya sebulan setelah pertemuan nya dengan Max, ngidam aneh nya hilang total.
__ADS_1
"Terima kasih Nona Vivian. Kau juga sangat cantik." Ucap Dream mengelus perut buncit Vivian.
"Kau sudah siap untuk malam ini?" Tanya Vivian jahil.
"Ah, Nona Vivian jangan membuat ku malu." Ucap Dream menunduk malu.
"Haha tidak perlu malu Dream. Toh kau tetap akan mengalami nya kan?" Vivian berkata dengan lembut. Ia sudah menganggap Dream seperti adik sekaligus sahabatnya.
Dream tidak menjawab dan terus menunduk malu.
"Setelah menikah, aku ingin kau dan Jiro tinggal di rumah bersama ku dan Ray." Pinta Vivian.
"Tapi Nona, itu tidak baik. Kami nanti akan merepotkan kalian." Ucap Dream memandang Vivian dengan perasaan tidak enak hati.
"Ya ampun Dream. Kalian itu sudan seperti saudara kami sendiri, jadi tidak ada masalah dengan itu. Jika kalian tinggal di tempat lain, aku akan kesepian tanpa mu." Ucap Vivian memelas berusaha membujuk Dream.
"Tapi Nona ... " Ucapan nya terhenti saat mendengar suara Raymond.
"Tidak perlu tapi tapi Dream. Kami sudah memutuskan nya. Dan ini perintah." Ucap Raymond mendekati mereka dan mengecup sekilas pipi Vivian lalu perut buncit nya.
"Kami tidak akan mengganggu kegiatan pribadi kalian. Kau tenang saja." Ucap Vivian jahil sambil bersandar pada suaminya.
"Nona Vivian ... " Ucap Dream semakin menunduk.
"Aku tidak percaya, ternyata Jiro benar benar menjaga mu dan tidak menyentuh mu sebelum waktunya." Ucap Raymond sambil mengelus perut istrinya.
"Aku yakin Dream, malam nanti Jiro akan memakan mu habis habisan dan membuat mu tidak bisa berjalan atau turun dari ranjang besok pagi. Haha." Vivian terus saja menggoda dream dan Raymond ikut tertawa.
"Aku harus memasang alat kedap suara dikamar kalian Dream." Ucap Raymond tersenyum jahil.
"Kamar? Apa Tuan sudah menyiapkan kamar untuk kami?" Tanya Dream bingung.
"Bukan aku. Tapi istri ku. Dia menyiapkan nya saat kau sedang pergi dengan Jiro." Ucap Raymond menjawab jujur.
"Ah, terima kasih Nona Vivian." Ucap Dream memeluk perut Vivian membuat Raymond terperanjat dan melepaskan istrinya untuk Dream.
"Sudah sudah. Mari kita bersiap. Upacara pernikahan mu akan segera dimulai. Aku akan menjadi pengiring pengantin tercantik hari ini." Ucap Vivian semangat.
"Baiklah, aku akan kembali ke ruangan Jiro payah." Ucap Raymond mengecup pipi istrinya lalu beranjak pergi. Tentu saja dia dan yang lain nya akan mendampingi Jiro di depan altar pernikahan.
Sepeninggal Raymond, Vivian pun membantu Dream untuk memperbaiki sedikit make up nya. Setelah selesai, ia pun mengiring Dream keluar dari ruangan nya.
Mereka sebenarnya sedang berada di sebuah hotel ditepi pantai. Dan upacara pernikahan Jiro dan Dream akan diadakan di tepi pantai.
Vivian berjalan dibelakang dan memegangi ekor gaun Dream agar tidak mengganggu pergerakan nya. Ia tidak keberatan melakukan itu untuk Dream. mengingat kedekatan mereka dan Dream sudah ia anggap seperti adik nya.
__ADS_1
"Istri ku cantik sekali." Ucap Raymond saat melihat Dream dan Vivian mendekat.
"Istri ku juga sangat cantik." Jiro menimpali. Lalu Raymond mengangkat kepalan tangannya dan Jiro meninju nya pelan.
Shen dan Sion yang ikut mendampingi Jiro, hanya menatap jengah kelakuan sahabat dan atasan nya. Hati mereka sebenarnya meronta ingin menikah juga, tapi mau bagaimana jika sampai saat ini saja mereka belum menemukan wanita yang tepat.
Vivian menyerahkan Dream pada Jiro, lalu ia disambut oleh uluran tangan suaminya.
Jiro dan Dream mulai mengucapkan janji suci pernikahan. Setelah selesai, mereka pun saling bertukar cincin.
"Cium cium." Beberapa tamu undangan yang sedang duduk bersorak saat mereka selesai memasang cincin.
"Tidak perlu. Aku tahu kalian sudah sering kalau itu." Ucap Sion pelan, jadi hanya mereka yang dekat yang bisa mendengar nya.
"Tidak. Jiro belum pernah mencium bibir ku." Ucap Dream membela lelaki yang kini resmi menjadi suaminya.
"APA?" Raymond, Shen, Sion, bahkan Vivian bertanya serentak, terkejut tidak percaya. Jiro benar benar sepolos itu.
"Ya Tuhan, apa nanti malam Jiro bisa melakukan dengan benar?" kembali lagi lagi Sion yang berbicara.
"Diam kau." Ucap Dream mencubit kakak nya membuat Sion mengerang kesakitan.
Semua tertawa bersamaan.
"Jiro, kali ini saja aku akan berbicara serius. Kau tahu aku dan Dream sama sama tidak punya siapapun lagi selain diri kami. Aku menyerahkan adik ku untuk kau cintai dan kau lindungi. Jangan sampai kau membuat nya bersedih apalagi menangis, atau aku akan menghancurkan masa depan mu." Ucap Sion penuh makna lalu saat mengucap kalimat terakhir, ia menatap tajam pada adik kecil Jiro. Jiro mengangguk dan tersenyum bahagia.
"Kakak." Dream memanggil kakak nya penuh haru lalu memeluk erat kakak nya.
"Berbahagia lah Dream." Ucap Sion tulus dan memeluk erat adik nya. Baru kali ini mereka melihat kedekatan dua kakak adik itu yang benar benar tampak seperti dua kakak adik.
"Baiklah. Kita harus istirahat sejenak sekarang untuk pesta nanti malam." Ucap Jiro bersemangat. Ia kemudian menggendong istrinya dan berlari meninggalkan altar pernikahan kembali ke kamar hotel nya. Yang lain hanya tertawa dan menggeleng melihat kelakuan pengantin baru itu.
********
Jiro payah akhirnya nikah donk.
Ada yang mau part Jiro-Dream peresmian ekhem...
Ckckck
Mampir juga di karya ku yang judulnya " IF LOVE "
Tinggalkan komentar, like kalian sebagai bentuk dukungan kalian buat aku yah.
Semoga gak bosan bosan nih.
__ADS_1
Selalu jaga kesehatan kalian.