
"Sayang, makan ini." Raymond menyodorkan sesendok bubur kacang merah untuk Vivian.
"Tidak mau sayang. Aku tidak ingin makan." Ucap Vivian merengek.
Mau kau mau apa?" Raymond kebingungan.
Entah kenapa sejak istrinya hamil, tingkah istrinya menjadi berubah ubah tak menentu, Raymond kewalahan menghadapi nya.
"Aku ingin pisau dan daging." Ucap Vivian berbinar menatap suaminya.
"Apa? Lagi?" tanya Raymond terperangah tidak percaya.
Ya, sudah beberapa kali Vivian meminta pisau dan daging pada Raymond dan berakhir dengan Vivian mencincang semua daging itu hingga halus.
"Aku mohon Ray." Ucap Vivian memelas, mata nya sudah berkaca kaca. Kalau sudah begini, Raymond hanya bisa menuruti agar istrinya tidak menangis.
"Baiklah baiklah. Aku akan memberikan pisau dan daging pada mu nanti. Sekarang makan ini dulu." Ucap Raymond kembali menyodorkan bubur kacang merah pada Vivian. Vivian langsung menerkam nya dan mengunyah dengan semangat.
"Ada apa dengan istri ku? Kenapa dia mengidam hal yang begitu mengerikan untuk seorang wanita?" Batin Raymond tak percaya dengan apa yang ia alami.
Dengan semangat Vivian mengunyah setiap sendok bubur kacang merah yang Raymond suapkan kepadanya. Raymond hanya bisa menggeleng dan membatin heran.
#####
"Kak, dimana Vanessa? Aku tidak melihat nya sejak kemarin." Rex bertanya pada Max.
"Tidak tahu." Ucap Max seadanya.
"Kalian bertengkar?" tanya Rex lagi dan hanya mendapat tatapan tajam dari Max.
"Waw, aku pikir kalian tidak akan pernah bertengkar. Tapi nyatanya kalian bisa bertengkar juga." Ucap Rex kegirangan. Max semakin tajam menatap adiknya.
"Apa kau mendapati dirinya sudah tidak tersegel?" tanya Rex yang niat nya hanya bercanda. Ia tahu Vanessa bukan wanita seperti itu. Vanessa juga sudah pernah menceritakan rencana nya pada Rex saat ia mendekati Max.
"Justru sebaliknya." Max menanggapi serius.
"Bukankah itu bagus kak? Itu artinya dia perempuan baik yang mampu menjaga dirinya dengan lingkungan hidup nya yang bebas." Ucap Rex.
"Dia membohongi ku. Dari awal dia membohongi ku." Ucap Max menahan geram.
"Dia tidak berbohong kak. Dia tulus dan sungguh mencintai mu. Bahkan sebelum dia memutuskan untuk masuk kedalam hidup mu, ia selalu memuji dan mengagungkan dirimu seperti dewa didepan ku. Aku jijik setiap kali mendengar nya. Tapi mau bagaimana lagi, kami bersahabat dan kami pasti akan selalu berbagi cerita. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk masuk kedalam hidup mu dan mendekati mu malam itu, aku sempat mencegah nya. Tapi dia bilang hanya itu cara agar kau bisa tahu ada seseorang yang begitu mencintai mu. Dia hanya ingin mencintai mu, itu saja kak." Ucap Rex menjelaskan panjang lebar.
Max tertegun mendengar penjelasan adik nya.
"Hah, kau memang payah. Seharusnya kau bersyukur dicintai oleh perempuan baik seperti nya, yang rela melakukan apapun untuk mu. Bahkan menyerahkan dirinya disaat ia sendiri tidak tahu apakah akan berakhir hidup dengan mu atau tidak. Tapi kau? Kau tidak pernah dewasa menanggapi masalah. Terlalu labil dan selalu menyalahkan orang lain." Ucap Rex lagi lalu melangkah pergi meninggalkan kakaknya yang masih mematung mendengar setiap, perkataan nya.
__ADS_1
Setelah diluar rumah, Rex memutuskan untuk mencoba menghubungi Vanessa. Vanessa mengangkat panggilan nya.
"Kau dimana?" tanya Rex singkat.
"Tentu saja sedang bekerja. Kau pikir aku pengangguran." Vanessa menjawab dengan ketus membuat Rex terkekeh. Begitulah persahabatan mereka.
"Sudah, tidak perlu menangis. Jangan menangisi pria yang tidak menghargai pengorbanan mu." Ucap Rex sengaja meninggikan suara nya pada kalimat terakhir berharap Max mendengar nya dan memang Max sedang mendengar nya dibalik pintu.
"Bodoh. Aku tidak akan pernah menangisi seorang pria. Dia yang akan menangisi ku nanti nya." Ucap Vanessa lantang. Bagi Vanessa, pantang untuk dirinya menangis apalagi menangis untuk seorang pria.
Vanessa benar benar tangguh, bukan seperti wanita pada umum nya.
"Hahaha, baiklah jika kau sudah menemukan pria yang lebih baik. Aku bahagia untuk mu Vanes." Ucap Rex sengaja saat ia tidak sengaja menangkap sekelibat bayangan kakaknya di belakang nya. Tangan Max mengepal kuat.
"Kau ini mabuk yah sampai mengoceh tidak jelas begini?" tanya Vanessa bingung dar balik panggilan.
Belum sempat Rex menjawab, Max sudah sigap merebut ponselnya.
"Jangan pernah berpikir untuk lari dari ku Vanessa. Kau sudah masuk dalam hidupku maka jangan berpikir kau akan lepas bahkan dengan kematian sekalipun." Ucap Max dengan nada datar.
Brak
Ia melempar dengan kuat ponsel Rex hingga pecah tak berbentuk diatas lantai teras nya. Ia lalu pergi meninggalkan Rex yang menatap pilu ponselnya tanpa berkata apapun.
"Max sialan. Kau tunggu saja nanti. Aku akan menghabiskan seluruh harta mu untuk membeli ponsel ponsel baru bahkan dengan toko toko nya dan pabrik pabrik nya juga." Ucap Rex memaki kakaknya yang sudah menghilang entah kemana.
#####
"Baiklah Enrique, Ini resep obat mu yah. Pastikan kau meminum nya dengan teratur." Ucap Vanessa tersenyum manis pada pasien pria yang baru saja selesai berkonsultasi. Pria mudah itu menatap nya dengan tatapan kagum.
"Dokter Vanessa, bisakah kita berteman? Maksud ku lebih dari sekedar Dokter dan pasien." Enrique bertanya gugup.
"Haha kau lucu sekali Enrique." Ucap Vanessa tertawa kecil, membuat Enrique semakin merasa gugup dan menggaruk belakang kepalanya.
"Tentu saja kita bisa berteman. Hanya berteman tentu tidak masalah." Vanessa melanjutkan perkataannya.
"Jika lebih dari teman?" tanya Enrique ragu.
Vanessa mengerti maksud pertanyaan Enrique.
"Aku sudah mempunyai kekasih En. Dan kami akan segera menikah." Ucap Vanessa tersenyum dan kalimat terakhir bohong. Menikah apa nya? Dia dan Max saja saat ini sedang perang dingin, bahkan tidak tahu apakah nanti hubungan mereka akan tetap berlanjut atau berakhir ditengah jalan tanpa kata perpisahan.
Enrique hanya mengangguk mengerti.
"Mari, aku akan mengantar mu kedepan." Ucap Vanessa beranjak dari tempat duduk nya.
__ADS_1
"Didepan pintu saja Sa." Ucap Enrique juga ikut berdiri.
"Baiklah. Mari." Ucap Vanessa. Mereka pun berjalan beriringan keluar dari ruangan Vanessa.
"Hati hati. Jangan lupa minum obat mu dengan teratur." Ucap Vanessa lagi lagi tersenyum manis membuat seseorang yang sedang melihat mereka mengepalkan tangannya kuat. Max sedang menyaksikan adegan romantis Vanessa dan Enrique. Niat nya ia ingin datang meminta maaf dan membujuk Vanessa.
"Terima kasih sa." Ucap Enrique merentangkan tangan nya. Vanessa akhirnya membalas dan memeluk singkat Enrique. Max semakin geram.
Ia memutuskan untuk menunggu hingga Enrique melewati nya dibanding menyerang langsung. Tangannya sudah memegang pisau kecil yang ia dapatkan dari laci mobilnya.
"Tidak akan ada pria lain dihidup mu selain aku Vanessa." Ucap Max menyeringai.
Ia melihat Enrique berjalan perlahan kearah nya masih sambil tersenyum. Saat Enrique melewati nya dengan cepat ia menahan pergerakan Enrique dan menodongkan pisau ditangan nya pada perut Enrique.
Enrique langsung ketakutan karena dia memang penakut. Max tersenyum puas melihat raut ketakutan dari wajah nya.
"Jangan pernah mendekati wanita ku, atau hidup mu akan ku akhiri dengan pisau ini." Ucap Max mengancam.
Ia kemudian meninggalkan Enrique yang masih mematung dan bergetar ketakutan. Tujuannya sekarang adalah Vanessa.
Tok tok tok
Max mengetok pintu ruangan Vanessa. Vanessa merasa heran dan menerka siapa yang datang karena Enrique adalah pasien terakhir nya hari ini. Ia memutuskan untuk membuka pintu perlahan.
"Max." Gumam nya. Dengan cepat ia ingin menutup kembali pintu nya, bukan karena takut, tapi ia sedang kesal. Namun Max berhasil menahan nya dengan tangannya.
"Aku hanya ingin bicara dengan mu." Ucap Max tenang.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan. Aku begitu tidak berharga dimata mu. Tidak ada artinya. Jadi tidak ada yang perlu dibicarakan lagi." Ucap Vanessa lantang.
"Vanessa, aku ... "
"Pergi Max. Aku tidak ingin melihat mu lagi." Ucap Vanessa lantang menghentikan perkataan Max sebelum nya.
"Tidak ada cara lain lagi." Batin Max.
********
Makasih buat dukungan kalian yang masih setia.
Yuk, selalu tinggalkan komentar, like, vote. dan favorit cerita nya agar aku lebih semangat lagi up nya.
Mampir juga di " IF LOVE " ya
Selalu jaga kesehatan kalian.
__ADS_1