
"Louise kita akan kemana?" tanya Joyce disela-sela mengemasi barang-barang nya.
"Aku tidak tahu. Tapi yang pasti aku akan pergi dari kota ini." Ucap Max penuh penekanan.
"Apa kau pergi karena Vivian?" tanya Joyce. Hal itu langsung saja membuat Max menggeram. Ia kemudian menghampiri Joyce dan mencekik leher Joyce. Joyce meronta meminta untuk lepas sambil memukul tangan nya Max, namun Max tak bergeming.
Ia malah membawa Joyce dan melempar nya ke atas ranjang dalam keadaan masih mencekik membuat tubuh mungil Joyce yang dilempar oleh Max terpantul kuat dari ranjang.
Ia menindih Joyce. Satu tangan nya menjambak rambut Joyce dan satunya lagi dia gunakan untuk mencengkeram dagu mulus Joyce. Joyce mulai meneteskan air mata. Ia takut Max akan mengasari nya lagi seperti kemarin pasalnya ia sampai sekarang masih merasakan sakit pada bagian miliknya. Max mulai ******* kasar bibirnya. Joyce memejam kuat menahan ketakutan nya. Max lalu melepaskan ciuman nya begitu juga dengan tangan-tangan nya lalu melangkah pergi.
"Jangan pernah kau sebut namanya yang indah itu dengan mulut hina mu." Ucap Max saat ia menghentikan langkahnya. Setelah mengatakan itu ia langsung pergi dari sana meninggalkan Joyce yang masih sakit baik fisik maupun hati nya.
"Kau beruntung Vi. Louise begitu mencintai mu walaupun dia belum lama mengenal mu. Kau beruntung bahkan dia menyebut nama mu dengan suara nya yang terdengar indah. Membuat siapapun yang mendengar nya tahu kalau dia sangat mencintai mu." gerutu Joyce setelah kepergian Max.
"Apa salah ku Louise. Apa kau tidak bisa sedikit saja memandang ku?" tanya Joyce seakan berbicara pada Max. Max yang memperhatikan itu dari layar monitor yang terhubung dengan CCTV dikamar nya itu pun hanya tersenyum sinis.
Bagi Max tubuh Joyce benar-benar membuatnya mabuk setiap kali ia menyentuh nya. Dan menyiksa Joyce memberi kebahagiaan tersendiri bagi nya. Dia membenci Joyce yang sudah menghancurkan kebahagiaan gadis yang ia cintai dua tahun lalu. Dia benar-benar ingin membuat Joyce tersiksa dan memohon untuk kematian. Tapi satu hal yang tidak ia sadari adalah sejak dia meniduri Joyce, ia bahkan tidak pernah lagi mencari wanita lain diluar sana.
Bukan, bukan karena dia mencintai Joyce. Tapi karena Joyce benar-benar dapat membuatnya puas berkali-kali bahkan selalu Joyce yang memohon lebih dari nya.
"Vi, bagaimana keadaan mu sekarang?. Pasti kau sedang bahagia karena dia sudah siuman." Ucap Max menahan sesak. Kali ini ia benar benar kalah dengan perasaan nya. Ia tidak ingin merusak kebahagiaan gadis yang ia cintai. Memilih pergi adalah satu-satu nya hal yang bisa ia lakukan saat ini.
Untuk apa ia membawa Joyce? Bukankah dia membenci Joyce?
Dia hanya membutuhkan Joyce. Membutuhkan Joyce untuk menyalurkan hasrat birahi nya. Membutuhkan Joyce sebagai tempat pelampiasan amarah nya. Jika kalian berpikir Max kejam itu sangat benar. Ia kejam pada orang yang sudah merusak kebahagiaan gadis yang ia cintai.
"James tolong kau siapkan semua nya. Aku ingin agar secepat nya bisa berangkat." Ucap Max memberi perintah pada orang kepercayaan nya.
"Baik Tuan." Ucap James menyanggupi permintaan Tuan nya.
"Aku akan kerumah sakit untuk menengok nya yang terakhir kali. Suruh Rex menunggu ku di mobil." Ucap Max lalu melangkah pergi. Sejak bertemu Rex hari itu ia menyuruh Rex untuk tinggal di rumah yang ditempati Vivian. Kalian tahu Rex sama kejam nya dengan Max. Ketika Max tidak ditempat maka Rex lah yang akan menjadikan Joyce tempat untuk menyalurkan hasrat birahi nya. Max tentu saja mengetahui nya, tapi ia tidak marah karena ia merasa adiknya sudah membantunya untuk menyiksa Joyce.
Ia memasuki mobil dan duduk di kursi kemudi. Rex sudah duduk disamping nya sambil menonton video yang tidak senonoh. Max yang melihat itu hanya tersenyum sinis adik nya itu benar-benar lebih parah dari nya bahkan hasrat nya lebih besar dari nya. Bersyukur dia bisa mengontrol diri saat ia menahan Vivian waktu itu.
__ADS_1
"Apa wanita peliharaan ku itu masih belum bisa memuaskan mu?" tanya Max dan mulai melajukan mobilnya.
"Hahaha dia sangat enak kak. Bahkan berkali-kali aku menghantam nya aku tetap tidak merasa bosan." Ucap Rex tertawa. Dia tidak heran kalau kakak nya mengetahui perbuatan nya. Tidak ada yang bisa lolos dari pemantauan Max.
"Bermain lah dengan aman. Jangan sampai kau menggali kuburan mu sendiri." Ucap Max memperingati adiknya. Max selalu bermain aman karena tanpa diketahui ia memang memasang kontrasepsi sehingga ketika ia bermain ia tidak akan membuat wanita itu hamil.
"Tenang saja kak." Ucap Rex menyudahi tontonan nya lalu menyimpan ponsel nya kedalam saku nya.
"Bagaimana dengan Vivian? Kau benar-benar tidak menyentuh nya kan?" tanya Max memastikan.
"Tidak. Aku hampir menyakiti nya tapi beruntung jiwa binatang ku masih bisa ku kendalikan saat itu." Ucap Rex dengan nada menyesal. Kakak adik itu memang sama-sama brengsek tapi mereka tidak akan merusak perempuan baik-baik.
Tak terasa mereka akhirnya tiba di rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya dengan benar, Max dan Rex pun melangkah masuk. Tak jarang para perawat atau pengunjung yang melihat mereka memberikan tatapan yang memuja. Dua bersaudara ini memang sangat tampan walau terdapat bekas luka di wajah Max. Aura yang dipancarkan mereka sangat bertolak belakang. Jika Max dengan aura hitam mengintimidasi maka Rex memancarkan aura yang manis dan sejuk.
"Tok tok tok" Max mengetuk pintu ruang inap Raymond. Ya tak lama setelah Raymond sadar dan dokter memastikan keadaannya baik-baik saja ia pun langsung dipindahkan ke ruang inap. Max mengetok pintu hanya sebuah formalitas karena ia takut mengganggu atau melihat adegan yang tidak diinginkan jika ia masuk tiba-tiba.
"Masuklah." Terdengar suara Vivian menjawab dari dalam. Ia pun segera masuk bersama Rex. Rex sudah tahu tentang cerita nya dan Vivian.
"Apa kabar?" tanya Max kepada Vivian tanpa mempedulikan Raymond.
"Aku baik." Ucap Vivian.
"Vi, apa aku boleh berbicara sebentar dengan Tuan Lu?" tanya Max meminta ijin pada Vivian. Vivian mengangguk lalu ia pun melangkah keluar diikuti oleh Rex. Tinggallah Raymond dan Max diruangan itu. Max kemudian duduk di kursi yang diduduki Vivian tadi.
"Bagaimana keadaan mu?" tanya Max membuka pembicaraan.
"Seperti yang kau lihat. Aku belum mati." Ucap Raymond ketus. Max hanya tertawa kecil.
"Aku akan pergi." Ucap Max singkat.
"Tiba-tiba begini?" tanya Raymond tak kalah singkat.
"Jaga lah dia dengan baik. Jangan sampai kau membuat air matanya menetes walau itu hanya setetes. Jika itu sampai terjadi jangan salahkan aku jika aku kembali dan merebutnya dari mu. Dan ingat dia perempuan baik-baik jadi jangan kau perlakukan dia seperti jalang (maksudnya jangan menyentuh Vivian sebelum menikah)." Ucap Max memberi peringatan.
__ADS_1
"Aku tahu Louise. Aku lebih tidak ingin melihatnya terluka." Ucap Raymond kesal seakan dia dianggap sebagai pria yang tak bisa diandalkan. Mereka kembali meneruskan pembicaraan.
Diluar ruangan Rex dan Vivian juga tengah berbincang.
"Vi, maafkan atas tindakan ku beberapa hari lalu. Aku hanya marah pada Louise dan dibutakan oleh rasa sakit hati ku." Ucap Rex sambil menunduk.
"Tidak apa-apa Rex. Aku sudah memaafkan mu." Ujar Vivian tulus.
"Tapi aku juga hampir membunuh laki-laki yang kau cintai." Timpal Rex.
"Bukankah sekarang Ray sudah baik-baik saja. Maka berhenti lah merasa bersalah." Vivian mencoba menenangkan Rex. Ia tahu bagaimana perasaan Rex saat ini maka ia tidak ingin Rex menyimpan rasa bersalah.
"Terima kasih Vi." Ucap Rex lalu mengulurkan tangan nya untuk berjabat dengan Vivian dan Vivian pun menyambut nya dengan senang hati. Tak lama lalu Max keluar dari ruangan itu.
"Aku pergi Vi." Ucap Max singkat lalu memeluk Vivian. Ia tidak peduli jika Raymond akan marah saat melihat nya, toh ini yang terakhir ia bisa memeluk gadis yang ia cintai itu.
"Hati-hati. Tetaplah mengabari ku." Ucap Vivian tulus dan membalas pelukan Max.
"Aku akan mencoba." Max mengeratkan pelukan nya.
***************
***Terima kasih selalu ku ucapkan untuk para reader yang selalu setia menunggu kelanjutan dari "Mr. Mafia or Mr. Psychopath?"
Yah, Max akan pergi sebentar lagi .
Jangan lupa tinggalkan komentar berupa kritik atau saran yang membangun dan juga like nya setiap kali kalian selesai membaca satu part.
Vote cerita ku dan jika berkenan tinggalkan sedikit tip untuk ku.
Follow IG ku @zml1104_
Tetap semangat***.
__ADS_1