
Extra Part Terakhir
"Rai sayang, kita makan dulu nak." Vivian
Raiyan kini sudah berusia lima tahun dan sangat aktif.
"Hati hati sayang, kau bisa kelelahan jika mengejarnya terus. Jaga adik Raiyan dengan baik." Ucap Raymond yang sedang menyaksikan kesibukan istrinya.
Vivian juga tengah mengandung anak keduanya. Dan sudah memasuki usia empat bulan. Kehamilan keduanya tidak menakutkan, tidak ngidam yang aneh aneh.
"Hah, aku berharap setelah ini aku tidak perlu melahirkan anak lagi." Keluh Vivian, tapi sebenarnya dia tidak masalah hanya saja saat ini sedikit kelelahan.
"Sini, biar aku saja yang menyuapi nya. Kau istirahat saja." Ucap Raymond mengambil nasi Raiyan dari tangannya.
"Rai, ayo sini makan dengan papa." Ucap Raymond mencoba membujuk putra tampan nya itu.
Tidak berhasil, Raiyan malah kini berlari menghampiri Dream yang sedang menyuapi Dero, putranya san Jiro.
"Dero, ayo main." Raiyan sekarang mencoba menggoda Dero agar ikut main dengannya.
Dero hanya kecil satu tahun dari nya.
"Tidak. Aku harus habiskan makan dulu." Ucap Dero khas suara anak kecil.
"Payah." Ucap Raiyan lalu menampar pipi Dero.
Dero tidak menangis karena sudah terbiasa. Raiyan seperti nya sangat suka bermain kekerasan.
"Astaga Raiyan, Papa sudah sering bilang tidak boleh seperti itu. Minta maaf pada Dero." Ucap Raymond mengomeli putranya.
"Haha Dero Payah seperti Paman Jiro." Ucap Raiyan menjadi mengejek Dero. Dero hanya menatap kosong pada Raiyan dan terus menerima suapan dari Dream. Dream tidak marah, karena toh Raiyan hanya anak kecil.
"Raiyan." Raymond membentak putranya agar meminta maaf, sedangkan di sofa Vivian duduk menengadah kan wajah nya menatap langit langit rumah nya sambil meratapi tingkah putranya.
"Maaf Dero." Ucap Raiyan saat Papanya sudah membentak kesal pada nya.
Sungguh anak ini.
"Ayo makan sekarang." Ucap Raymond tegas.
"Pisau. Aku mau pisau." Pinta Raiyan pada Raymond.
"No. Tidak ada lagi pisau." Kini Vivian yang berbicara tegas dengan nada sedikit membentak.
Putranya memang baru berusia lima tahun, aktif nya luar biasa, tapi yang aneh adalah Raiyan selalu meminta pisau sebagai imbalan agar ia mau melakukan sesuatu.
Bahkan pernah sekali saat Raymond terlelap di sofa, entah dari mana ia mendapatkan pisau lipat kecil, lalu ia menggores lengan Raymond menggunakan pisau itu. Sungguh menakutkan.
Bahkan Raymond pernah terpaksa membawa nya ke psikiater, tapi hasil pemeriksaan nya semua normal.
__ADS_1
"Jika kau terus meminta pisau, maka jangan salahkan Mama jika Mama tidak menyayangi mu lagi." Ucap Vivian mengancam. Raiyan sangat manja pada nya, jadi Raiyan akan dengan mudah takut pada ancaman Vivian.
"Maaf Mama." Ucap Raiyan. Ia segera berlari ke arah Vivian dan naik ke pangkuan Vivian lalu mengecup pipi Vivian dengan penuh sayang.
"Baik. Mama memaafkan mu. Sekarang makan." Titah Vivian dan Raymond menyodorkan sendok berisi makanan pada Raiyan dan langsung diterkam kasar.
Setelah selesai makan, Raiyan pasti akan berusaha mendapatkan pisau yang ia inginkan dari mana pun.
"Hai semuanya." Sapa seorang anak laki laki kecil dari pintu masuk.
Ia adalah Vion anak dari Sion dan Vio. Sion memaksa nama putranya harus gabungan dari nama mereka, akhirnya tercetus lah nama Vion.
Vion tampak seperti Ayahnya, tampan dan percaya diri. Calon calon playboy dimasa depan sepertinya.
Raiyan aktif, lebih suka action daripada hanya berbicara.
Dero adalah tipe yang sabar seperti Jiro, Ayahnya. Dero tidak banyak bicara.
"Hai, aku juga datang." Vynshen menyapa sambil berjalan masuk. Siapa lagi kalau bukan putra dari Shen dan Ivy.
Kelakuan nya persis seperti Ayahnya. Tidak mengontrol perkataan.
"Vion, Vynshen kalian datang dengan siapa?" Tanya Vivian pada kedua bocah yang sudah bergabung dengan Dero yang sudah selesai makan.
Dero, Vion, dan Vynshen sama sama kecil satu tahun dari Raiyan. Mereka bertiga hanya beda bulan.
"Tentu saja dengan kami." Ucap keempat orang yang sedang berjalan masuk.
Raymond pasrah menuruti keinginan putranya dan menyuapi nya dengan cepat.
Setelah selesai, Raiyan segera berlari dan bergabung dengan ketiga teman nya.
"Tuan muda Raiyan, kau mau bermain bersama kami?" Vion bertanya. Vion memang selalu memanggil Raiyan dengan sebutan Tuan muda, karena ajaran Ayah dan Ibunya.
"Jangan memanggil ku Tuan muda atau aku akan memotong lidah kalian." Bahkan Raiyan kecil sudah bisa mengancam seperti itu. Menakutkan.
"Haha. Kau mengancam kami? Itu tidak seru." Kini Vynshen yang bersuara.
Plakk
Vynshen mendapatkan tamparan dari Raiyan, bukannya marah, Vynshen malah tertawa terbahak bahak diikuti Vion dan Dero. Benar benar anak anak kecil yang diluar akal.
"Aku tidak mau tahu. Panggil aku Raiyan saja atau nanti besar aku akan merebut kekasih kalian." Astaga dari mana Raiyan kecil kini tahu tentang kekasih.
"Raiyan, tidak boleh mempunyai kekasih." Ucap Vivian menegaskan.
"Baik, Ma." Raiyan menjawab pasrah. Saat ini Raiyan memang terlihat menurut pada Vivian, tapi entahlah jika sudah dewasa.
"Andai saja Vanessa tidak jauh, pasti dia bisa bergabung dengan kita. Aku jadi merindukan nya." Ucap Vivian saat mereka sedang sibuk didapur.
__ADS_1
"Kau merindukan siapa sayang?" Tanya Raymond memeluk istrinya dari belakang sambil mengelus perut istrinya.
"Vanessa." Vivian menjawab singkat.
"Vanessa atau suami nya?" Raymond bertanya jahil.
"Suami nya sebenarnya." Ucap Vivian ketus dan melepaskan kesal pelukan Raymond.
Raymond terkekeh.
"Astaga Raiyan." Ucap Vivian histeris.
Tidak sengaja ia melihat Raiyan sedang menggoreskan sebuah besi kecil dengan ujung runcing pada tangan Vyon, entah Raiyan dapatkan dari mana barang itu.
Bukan menangis, ke empat anak kecil itu malah tertawa dan minta bergantian.
"Mama lucu kan?" Raiyan bertanya sambil menunjukkan hasil goresan nya, sedangkan orang tua yang lain terperangah mematung di tempat tidak percaya dengan kelakuan aneh dari anak anak mereka.
"Cukup Raiyan. Buang benda mengerikan itu atau Mama tidak akan pernah menyayangi mu pagi." Vivian kembali mengancam putranya. Rasanya ingin habis kesabaran menghadapi putranya. Bahkan sekarang ketiga teman kecil putranya juga menjadikan rasa sakit dan darah sebagai lelucon, di usia mereka yang masih sangat belia.
"Teman teman, nanti kalau sudah besar kita bentuk geng ya. Kita main main sama perempuan." Vion kini bersuara. Benar benar anak Sion. Sion mendengar dari jauh hanya bisa tersenyum bodoh.
"Tidak boleh main main perempuan. Tidak sopan." Ucap Dero. Dero anak baik dan polos kan? Semoga saja.
"Haha kalian tidak akan bisa bermain dengan perempuan. Pasti tidak kuat." Kini giliran Vynshen.
"Vynshen." Ivy membentak putranya.
"Hehe maaf Mama." Ucap Vynshen cengengesan.
"Aku harap anak kedua ku tidak aneh seperti mereka berempat. Entah darimana mereka mempelajari semua itu." Ucap Vivian mengeluh.
Para Ibu ibu sedang berkutat di dapur, dan para Ayah sedang bermain kartu di ruang keluarga. Para anak anak sibuk merencanakan masa depan dan geng mereka. Semoga saja keanehan mereka hanya waktu sekarang saja dan tidak akan terulangi atau bahkan ketika sudah dewasa.
Kalau kalian bertanya dimana Jiro? Jiro sedang pergi ke luar kota ditugaskan Raymond mewakili perusahaan nya untuk rapat proyek penting.
...~ END ~...
Aku akhiri EXTRA PART sampai di sini yah.
Komen , like , dan favorit cerita nya.
Berikan masukan kalian tentang apapun itu, jika ada kekurangan jangan ragu untuk menyampaikan dengan sopan. Saya adalah author pemula amatiran jadi akan sangat membutuhkan masukan dari kalian terutama yang sudah senior dan profesional.
Terima kasih untuk yang setia mengikuti kisah Vivian Raymond dari awal.
Terima kasih yang selalu setia memberikan dukungan kalian lewat komentar, kalian yang terbaik.
Semoga nanti di season 2 aku bisa lebih baik lagi merangkai cerita tentang anak anak mereka.
__ADS_1
Semangat puasa nya hari ini bagi yang berpuasa. Semoga lancar sampai berbuka nanti.