Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
Mangsa


__ADS_3

...Note: Mengandung Adegan Dewasa dan kekerasan. Jangan ditiru!!! Harap bijak dalam membaca....


"Ray apa boleh kau mengantar ku mengunjungi makam papa dan mama ku? Sudah sangat lama sejak terakhir kali aku berkunjung ke sana" pinta Vivian sendu.


"Baiklah aku akan mengantar mu" ucap Raymond sambil menyisipkan rambut Vivian kebelakang telinganya. Setelah lelah dengan kegiatannya tadi, mereka lalu memilih duduk dibangku yang terdapat di taman itu.


"ayo, kita berangkat sekarang" ajak Raymond yang berdiri dan menggenggam tangan Vivian. Mereka memang tidak menjalin hubungan asmara tetapi Raymond selalu memperlakukan Vivian dengan romantis.


"Baiklah" timpal Vivian yang juga ikut berdiri. Lalu mereka pun melangkah meninggalkan tempat itu. Tanpa mereka ketahui ada seseorang yang sedang memotret mereka dan mengirimkan potret-potret itu kepada seseorang.


"Syukurlah jika kau baik-baik saja" ucap seseorang yang menerima potret-potret Vivian dan Raymond tadi.


Raymond melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi karena tempat yang ingin mereka kunjungi memang cukup jauh. Vivian ingat terakhir kali ia mengunjungi makam papa dan mama nya adalah sekitar sepuluh tahun lalu saat ia masih tinggal dengan ayah angkatnya sebelum Jordan Li. Dan disini lah mereka, di tempat yang terdapat banyak makam mewah. Vivian berjalan mendekati makam kedua orang tua nya diikuti Raymond dari belakang. Ia sempat membeli sebuket bunga Tulip putih kesukaan kedua orang tua nya. Saat sudah sampai di depan makam orang tua Vivian, Raymond terbelalak tidak percaya melihat nama dan foto diatas batu nisan itu.


"Ruan Xu, Esther Yang, kalian?" batin Raymond tidak percaya. Ia mengepalkan tangan nya saat ia baru menyadari sebuah fakta baru tentang Vivian.


"papa, mama maaf Vi baru datang mengunjungi kalian. Papa, mama Vi besok sudah mulai kuliah. Vi senang sekali pa, ma" celoteh Vivian seolah sedang berbicara pada Papa mama nya secara nyata.


"Vi janji akan berusaha sebaik mungkin untuk menggapai impian Vi, dan tidak akan mengecewakan Kalian, ayah Jordan dan juga Raymond. Vi janji" timpalnya, tidak air mata nya mulai menetes membasahi pipi nya.

__ADS_1


"Vi, ayo kita pulang" ajak Raymond saat ia merasa rintik-rintik hujan mulai jatuh. Vivian mengangguk dan berdiri lalu mereka pun berlari kecil menuju tempat mobil Raymond terparkir. Setelah berada didalam mobil Raymond pun melajukan mobilnya kembali dengan kecepatan agak tinggi dan lalu menurunkan sedikit kecepatan nya saat ditengah perjalanan.


"Vi, bagaimana kedua orang tua mu bisa meninggal?" tanya Raymond dengan masih fokus menyetir.


"Aku juga tidak terlalu tahu, tapi bibi ku bilang mereka tewas dalam satu kecelakaan mobil saat dari bandara karena mereka baru kembali dari luar negeri" Ucap Vivian sambil menatap keluar jendela mobil.


"Seandainya kau tahu apa yang sudah terjadi Vi, entah kau bisa menerima nya atau tidak?" batin Raymond menggenggam kuat setir kemudi nya.


Disisi lain Louise yang baru saja sampai di Club Malam yang megah itu pun duduk di sofa VIP yang sudah dipesan nya tadi. Ia meminum beberapa gelas alkohol sambil mencari korban yang cocok untuk ia mangsa. Lalu pilihannya jatuh kepada seorang wanita yang berpakaian sangat minim dan sedang menari dengan gilanya diatas lantai dansa diclub itu. Ia bahkan menjadi pusat perhatian di antara orang-orang disana.


"Berikan ini kepada nona yang sedang menari itu" ucap Louise memberikan kartu namanya kepada pelayan yang kebetulan lewat sambil menunjuk wanita yang ia maksud. Pelayan itu menerima kartu namanya itu dan segera menghampiri wanita itu dan menyerahkan kartu nama Louise kepadanya. Saat menerima kartu nama wanita itu menoleh kearah yang ditunjuk pelayan itu dan dibalas lambaian tangan dan senyum manis dari Louise. Wanita itu pun akhirnya memutuskan untuk menyudahi acara menarinya dan berjalan sedikit sempoyongan kearah Louise karena ia memang sudah mulai mabuk.


Lalu ia membawa wanita itu masuk kemobil nya dan mereka duduk dikursi belakang dan ada James di kursi kemudi karena tadi Louise memang sempat menelpon James untuk menjemput. Ia pun memerintahkan James untuk kemarkas nya, dan James langsung menuruti perintahnya. Sepanjang perjalanan Ia menciumi bibir wanita itu dengan lembut lalu berubah menjadi brutal dan lembut lagi dengan tangan nya yang mulai bermain disekitar paha mulus wanita itu. James sudah terbiasa melihat semua itu bahkan ia sudah tahu apa yang akan terjadi pada akhirnya.


Akhirnya mereka sampai di markas nya. Ia lalu mengangkat wanita itu dan berjalan sambil menciumi brutal bibir wanita itu. Kini mereka sudah berada dikamar dan Louise tidak langsung membaringkan wanita itu keranjang. Ia menindih wanita itu di dinding, menahan kedua tangan wanita itu keatas kepalanya menggunakan satu tangannya. Bibirnya masih setia menciumi bibir wanita itu lalu turun keleher bahkan pada belahan dada wanita itu.


Tangan satunya lagi mulai bergerak aktif memainkan tubuh wanita itu.


"Ahh" wanita itu mendesah merasakan kenikmatan yang diberikan Louise.

__ADS_1


"Sekarang sayang, aku sudah tidak tahan lagi" ucap wanita itu dengan mata yang sudah dipenuhi nafsu dan wajah beserta telinga yang sudah memerah.


Louise langsung membawa wanita itu keatas ranjang dan mulai melancarkan aksi panas nya setelah membuka pakaiannya dan pakaian wanita itu. Ia memompa dengan sangat cepat dan kuat.


"ahh sayang berhenti aku tidak sanggup lagi" pinta wanita itu saat ia merasa sakit tetapi nikmat pada area sensitif nya. Louise tidak mengindahkan perkataannya dan terus melanjutkan aksi nya. Desahan wanita itu menggema diseluruh ruangan, ia benar-benar gila dengan keperkasaan Louise. Lalu akhirnya wanita itu merasakan pelepasan untuk kesekian kalinya setelah Louise menyudahi aksinya.


"sayang kau tahu, kau adalah pria paling perkasa yang pernah ku temui. Bahkan sekarang aku menginginkannya lagi" ucap wanita itu padahal ia sudah terkapar diranjang itu. Louise tidak mempedulikan perkataan wanita itu. Kemudian ia berjalan meraih sehelai handuk dari dalam lemarinya dan melilitkan pada pinggang nya. Lalu kembali meraih sebilah pisau yang ia simpan dinakas nya dan menusukkan pisau itu beberapa kali ke perut wanita itu hingga darah segar mulai mengalir. Wanita itu tidak dapat melawan karena memang sudah lemas. Setelah itu ia membuat goresan seperti simbol pada lengan kiri wanita itu.


Setelahnya ia lalu menuju kamar mandi meninggalkan wanita itu yang sudah tidak berdaya. Ia kemudian membersihkan dirinya. Louise memang seperti itu, entah sejak kapan ia menjadi psychopath gila yang haus akan darah. Ia akan menghabisi setiap wanita yang sudah bersenang-senang dengannya. Caranya menghabisi terbilang sederhana, namun ia selalu memberi tanda khusus pada setiap korbannya. Setelah selesai dengan kegiatan bersih-bersih nya ia pun beranjak dan memakai pakaian nya.


"bereskan semuanya" ucap Louise memerintahkan James dan beberapa anak buah yang sudah berjaga disana.


"Baik tuan" jawab mereka serentak. Dan Louise pun pergi meninggalkan markasnya.


^^^~Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar dan juga like nya yah.^^^


^^^Jangan lupa juga untuk menekan favorit untuk mendapatkan pemberitahuan update nya~^^^


...*Terima Kasih*...

__ADS_1


__ADS_2