
"Apakah dia sudah kembali?" tanya Raymond dengan suara sendu. Ia sangat takut mendengar kebenaran jika memang Max masih hidup dan sudah kembali.
"Siapa?" tanya Vivian dengan mulut penuh makanan dan terlihat sangat lucu, tapi kali ini tidak membuat Raymond tergoda atau merasa gemas karena kekhawatiran nya.
"Max" ujar Raymond singkat dengan suara yang sangat pelan namun masih bisa terdengar oleh Vivian. Vivian pun lantas menghentikan kegiatan makan nya lalu meneguk air minum yang sudah tersedia di depan nya.
"Apa maksudmu laki laki yang ada di Universitas tempat aku kuliah itu?" tanya Vivian, namun Raymond tidak menjawab dan malah membuang pandangannya kearah lain. Vivian pun melanjutkan perkataannya.
"Itu bukan Max. Wajahnya memang mirip tapi dia bukan Max" jelas Vivian.
"Bagaimana kau bisa yakin?" tambah Raymond masih membuang pandangannya kearah lain.
"Aku tahu saja. Jika dia Max setidaknya dia pasti langsung mengenali ku saat ia melihat ku waktu itu, dan hal lain yang membuat ku yakin bahwa dia bukan Max adalah karena dia sekarang kekasih Joyce sedangkan jika dia Max dia tidak mungkin mau menjalin hubungan dengan Joyce" jelas Vivian panjang.
"Kenapa? Apa karena?" Raymond enggan melanjutkan perkataannya namun Vivian mengerti akan pertanyaan yang ingin ia sampaikan.
"Bukan. Tapi Max sangat tidak menyukai Joyce dulu. Ia selalu berkata kepada ku jika Joyce itu terlalu manja dan munafik. Dan selalu menyuruhku untuk tidak terlalu dekat dengan nya. Aku juga tidak mengerti mengapa ia bisa punya pemikiran seperti itu" Vivian kembali menjelaskan panjang kali lebar.
"Vi" Raymond memanggil Vivian dengan nada serius lalu beranjak dari tempat duduknya berjalan kearah Vivian, kemudian ia berjongkok di depan Vivian dan meraih tangan Vivian dalam genggaman nya. Vivian menelan kasar ludahnya.
"Jadilah kekasih ku" pinta Raymond dengan penuh ketulusan sambil menatap dalam mata Vivian.
"Aku" Vivian menghentikan kata kata nya.
"Aku belum bisa Ray. Aku takut akan menyakiti mu. Beri aku waktu untuk berfikir" pinta Vivian dengan nada sendu. Ia benar benar tidak ingin membuat Raymond kecewa. Raymond adalah pria yang baik dimata nya, walaupun sudah beberapa kali menyakitinya.
"Baiklah" ucap Raymond singkat lalu ia mengecup kedua telapak tangan mungil Vivian dan bangkit berdiri lalu kembali ke tempat duduknya.
"Kita lanjutkan makan" ucap Raymond sambil tersenyum yang langsung diangguki oleh Vivian. Tanpa menunggu lagi Vivian kembali melahap makanan nya. Raymond hanya menatap nya sendu.
"Setidaknya kau akan mempertimbangkan diriku sekarang" batin Raymond yang masih menatap kelakuan lucu gadisnya itu.
__ADS_1
Disisi lain Louise dan Joyce sedang bersama di sebuah restoran. Louise sedang asyik dengan makanannya sedang Joyce menahan kesal pada kekasih nya itu. Ia cemburu saat melihat Louise memegang tangan Vivian tadi dan merasa sangat cemburu.
"Baby makanlah atau makanan mu akan menjadi dingin dan tidak enak lagi" ucap Louise tanpa menghiraukan ekspresi wajah Joyce. Baginya itu sangat tidak penting.
"Jelaskan padaku baby, kenapa kau memegang tangan Vivian tadi? Kai tahu aku sangat tidak suka melihatnya" ucap Joyce dengan nada yang dibuat memelas.
"Tadi dia hampir terjatuh jadi aku menarik nya" jelas Louise berbohong.
"Benarkah seperti itu?" tanya Joyce dengan nada mulai terdengar ceria dan hanya dibalas deheman oleh Louise.
"Baiklah aku makan" ucap Joyce semangat dan langsung menyantap makanannya.
"Dasar bodoh. Mudah sekali kau untuk ku perdaya" batin Louise menatap nyalang kekasihnya itu namun ia tidak menyadari nya.
"Baby" Louise memanggil Joyce dengan nada yang dibuat semanis mungkin membuat yang dipanggil langsung menoleh menatap nya.
"Ada apa?" tanya Joyce.
"Tentu saja aku sangat mencintaimu. Apa cara ku memperlakukan mu dengan baik masih belum cukup?" ujar Joyce lalu berbalik bertanya pada Louise.
"Kau memperlakukan ku dengan sangat baik baby. Hanya saja aku butuh bukti lebih bahwa kau benar benar mencintai ku" ucap Louise seolah sedang sedih.
"Bukti? bukti apa?" tanya Joyce polos.
"Apa kau sungguh sungguh akan membuktikan cintamu pada ku?" tanya Louise semangat.
"Tentu saja. Apa pun akan aku lakukan untuk membuktikan keseriusan cintaku padamu" ucap Joyce semangat.
"Benarkah?" tanya Louise memastikan dan dibalas anggukan semangat dan senyum manis dari Joyce.
"Terima kasih baby" Ucap Louise meraih tangan Joyce dan mencium nya beberapa kali.
__ADS_1
"Jadi apa yang harus aku lakukan untuk bisa membuktikan kepada mu?" tanya Joyce lagi.
"Nanti aku akan memberitahu mu baby. Sekarang habiskan makanan mu dan kita akan pulang. Hari sudah mulai sore dan sepertinya akan segera hujan" ucap Louise sambil memandangi awan yang tampak mendung karena memang mereka duduk di dekat dinding kaca yang langsung bisa melihat keluar ruangan. Joyce mengangguk dan melanjutkan makan nya dengan semangat sedangkan Louise menyeringai tipis seolah sedang menemukan mangsa baru.
"Ray, apa kau belum selesai?" tanya Vivian yang setelah selesai makan tadi malah tidak diijinkan pulang oleh Raymond. Ia berbaring di sofa yang ada di ruangan Raymond.
"Sebentar lagi" jawab Raymond singkat.
"Seperti nya nanti akan turun hujan" gumam Vivian, ia lalu memperhatikan Raymond yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Rambut yanng mulai sedikit berantakan, baju yang mulai lusuh namun justru membuat Raymond terlihat sangat sangat tampan. Ia menelan ludahnya dengan susah payah.
"Aku tahu aku tampan. Tidak perlu memandang ku seperti itu" ucap Raymond membuyarkan lamunan Vivian.
"Siapa yang memandangi mu. Jangan terlalu percaya diri" ucap Vivian membantah tuduhan Raymond.
"Apa perlu aku putar rekaman CCTV barusan untuk membuktikan kau memang sedang memandangiku?" tanya Raymond sengaja sambil menutup laptop nya.
"Terserah kau saja" ucap Vivian ketus lalu mengalihkan pandangan nya ke jendela.
"Ayo pulang" ajak Raymond yang sudah berdiri didepan sofa tempat Vivian berbarimg sambil mengulurkan tangan nya. Vivian langsung menyambutnya dan mereka pun berjalan keluar dari ruangan menuju Lift. Tangan mereka saling tertaut. Raymond menekan tombol yang langsung menuju parkiran tempat mobil nya berada karena tadi ia sempat menyuruh Jiro menunggu di sana.
"Jalanlah" titah Raymond saat ia dan Vivian sudah memasuki mobil san duduk di bangku belakang. Tanpa basa basi Jiro langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Jalanan tampak sangat sepi, bahkan rintik hujan sudah mulai turun. Hujan lalu berubah menjadi deras. Vivian setia memandangi deras hujan yang turun, lalu muncul ide nakal dalam benaknya.
"Jiro berhenti" pinta Vivian dan Jiro langsung menepikan mobilnya dan berhenti di tepi jalan. Vivian kemudian keluar tanpa aba aba. Ia lalu berlari ke tengah jalanan dan memutarkan tubuhnya dibawah hujan deras. Raymond dibuat hanyut dalam pesona Vivian saat memandangi nya. Ia lalu turun berniat untuk membawa Vivian kembali. Dengan membawa payung ia menghampiri Vivian.
"Vi, ayo kembali. Kau bisa sakit nanti" ucap Raymond sedikit berteriak karena suara hujan yang kuat. Bukannya mendengarkan Vivian malah merebut payung yang dibawa Raymond dan membuangnya di sembarang tempat. Ia lalu meraih kedua telapak tangan Raymond kedalam genggaman nya dengan posisi berhadapan dengannya. Kemudian iya membawa Raymond berputar di bawah hujan sambil berteriak kegirangan. Entah kenapa Raymond merasa hangat dengan perlakuan Vivian, ia akhirnya hanyut bersama Vivian dan ikut berteriak seolah sedang melepas beban nya.
"Aku juga ingin seperti itu" ucap Jiro memelas saat melihat Tuan nya dan Vivian sangat Romantis.
^^^_Terima kasih untuk para reader yang masih setia dengan cerita ku_^^^
..._Jangan lupa untuk tinggalkan jejak di kolom komentar berupa kritik dan saran tidak masalah. Jangan lupa juga berikan Like untukku disetiap part nya_...
__ADS_1
_Serta jangan lupa untuk menekan favorit agar kalian bisa mendapatkan pemberitahuan update nya_