
"Berikan aku minuman lagi." Ucap Max berteriak pada bartender didepan nya.
Max kini sedang berada di sebuah Bar. Setelah tadi Rex mengusir nya dari rumah sakit. Ia melajukan mobilnya tanpa arah hingga akhirnya berhenti didepan sebuah Bar.
Ia menenggak sudah hampir sepuluh botol minuman keras tapi masih belum mampu membuatnya tumbang.
"Tuan, tapi kau sudah meminum sangat banyak." Ucap bartender tersebut.
"Berikan aku minuman lagi. Apa kau kira aku tidak mampu membayar nya? Bahkan untuk membeli Bar ini atau sepuluh Bar yang lain pun aku mampu." Ketus Max tak tentu arah. Ia melemparkan segepok uang cash kehadapan bartender itu.
"Ambil saja itu. Jika kau merasa tidak cukup, aku akan memberikan lagi nanti. Sekarang berikan aku minuman lagi." Ucap Max memerintah.
Bartender itu tidak punya pilihan. Ia kasihan melihat kondisi Max yang sudah tak tentu arah, namun ia juga tidak mungkin mengecewakan pelanggan nya. Akhirnya ia memberikan Max beberapa botol minuman lagi.
Max terus menenggak minuman keras itu botol demi botol seperti meminum air putih.
#####
"Tuan Ray." Sapa Jiro yang baru sampai ke rumah sakit dan memasuki ruang inap Vivian. Raymond hanya berdehem.
"Bagaimana keadaan Nona Vivian?" tanya Jiro ragu. Ia takut salah pertanyaan tapi ia juga khawatir pada istri atasan nya itu.
"Seperti yang kau lihat." Jawab Raymond sekenanya.
"Tuan apa kau butuh sesuatu?" tanya Jiro lagi. Dia hanya berusaha untuk ada mendampingi atasan nya saat atasan nya sedang down seperti ini.
"Tidak." Ucap Raymond singkat. Kedua nya hening.
Jiro akhirnya memutuskan untuk melangkah keluar dari ruangan itu, namun langkahnya terhenti mendengar perkataan Raymond.
"Temukan bajingan itu untukku. Beritahu aku tempat ia berada saat ini." Titah Raymond dengan nada menakutkan.
"Baik Tuan." Jawab Jiro menyanggupi. Ia kemudian keluar untuk menelpon beberapa anak buah Raymond yang lain agar membantu nya menemukan keberadaan Max saat ini.
#####
Rex masih setia menunggu para dokter yang menangani Vanessa. Ia hanya berharap Vanessa baik baik saja. Vanessa adalah teman baik nya satu satunya.
"Semoga kau menyesali semua akibat perbuatan mu Max. Kau benar benar tidak punya hati lagi. Semoga kau mendapatkan karma mu." Batin Rex geram.
Ia sudah tidak peduli lagi bahkan Max adalah kakak nya sendiri. Ia sangat kecewa pada Max.
Lampu khusus diatas ruang pintu operasi telah padam, pertanda operasi telah selesai. Satu persatu dokter dan perawat yang menangani Vanessa telah meninggalkan ruangan operasi. Hingga tersisa sang dokter utama yang menangani Vanessa. Ia berjalan perlahan mendekati Rex.
"Dokter, bagaimana keadaan Vanessa?" tanya Rex khawatir.
"Apa kau keluarga nya? atau kekasihnya?" tanya dokter itu memastikan.
__ADS_1
"Bukan kedua duanya dokter. Vanessa sudah tidak punya keluarga atau pun sanak saudara. Aku hanya teman dekat nya." Ucap Rex menjelaskan.
"Jadi saat ini kau yang menerima tanggung jawab untuk semua kondisi Nona Vanessa?" tanya dokter itu serius. Rex sebenarnya tidak terlalu mengerti apa maksud dokter tersebut, tapi ia tetap mengangguk.
"Jadi, bagaimana keadaan Vanessa dokter?" tanya Rex menuntut jawaban.
Huftt
Dokter itu menghela nafas kasar.
"Nona Vanessa perempuan yang tangguh. Bahkan saat ini ia sudah berhasil melewati masa kritis nya. Namun walau begitu, kami belum bisa memastikan kondisi nya sudah seratus persen baik baik saja. Karena bisa saja Nona Vanessa mengalami syok pasca operasi." Ucap dokter tersebut menjelaskan.
"Vanessa ... " Batin Rex.
"Apa aku bisa melihat nya sekarang dokter?" tanya Rex bimbang.
"Kau bisa melihat nya saat perawat sudah memindahkan nya keruang perawatan. Sekarang aku pamit. Jika terjadi sesuatu yang darurat nanti, segera panggil aku." Ujar dokter itu dan ia pun berlalu dari sana.
Setelah kepergian dokter itu, Rex terduduk lemas di kursi tunggu didepan ruangan operasi. Ia tidak percaya bahwa kemungkinan kematian sahabat nya itu sangat besar.
"Vanes kau harus bertahan. Kau belum berhasil mengembalikan Max." Gerutu Rex seolah berbicara pada Vanessa.
Tak lama menunggu, terlihat dua perawat keluar dari ruangan operasi sambil mendorong tubuh lemah Vanessa diatas brankar. Rex pun dengan setia mengikuti dari belakang. Setelah sampai di ruangan perawatan dan kedua perawat itu menata brankar Vanessa dengan rapi, mereka pun pamit pergi. Tersisa Rex seorang.
Rec memutuskan untuk duduk di samping ranjang Vanessa. Ia memperhatikan dalam wajah pucat sahabat nya itu. Rasa iba yang sangat besar menyelimuti hatinya.
"Maafkan aku Vanes, aku tidak bisa membantu apalagi melindungi mu." Ucap Rex penuh penyesalan seolah dialah yang bersalah dalam hal ini.
"Apa kau mau membantu ku?" tanya Vanessa kembali dengan suara lemah.
"Yang kau katakan akan aku usahakan Vanes." Ucap Rex menyanggupi keinginan Vanessa.
"Aku ingin ... " Vanessa menjelaskan dan meminta tolong pada Rex.
...
"Apa kau yakin?" tanya Rex mengernyitkan kening nya mendengar permintaan Vanessa.
"He em." Jawab Vanessa mengangguk.
Belum sempat Rex menjawab nya, tiba tiba detak jantung Vanessa melemah. Terlihat dari layar monitor yang menampilkan detak jantung Vanessa. Segera ia memencet tombol darurat yang ada didinding atas ranjang Vanessa untuk memanggil dokter.
Tidak lama menunggu sang dokter tadi langsung datang dan memeriksa keadaan Vanessa.
"Tuan, sebaiknya kau keluar dulu agar kami bisa dengan mudah menangani Nona Vanessa." Ucap dokter tadi. Rex menuruti dan berjalan keluar dari ruangan itu dengan perasaan tidak tenang.
Cukup lama menunggu, hingga akhirnya dokter tadi dan para perawat pun keluar dari ruangan itu dengan ekspresi yang susah ditebak.
__ADS_1
"Dokter, bagaimana keadaan Vanessa?" tanya Rex khawatir.
Huftt
Sang dokter lagi lagi menghela nafas kasar.
"Maaf Tuan, tapi kami gagal menyelamatkan Nona Vanessa." Ucap sang dokter pilu.
"Tidak, tidak mungkin. Vanessa tidak mungkin pergi dengan cara seperti itu." Ucap Rex terduduk lemas di lantai.
"Tenangkan dirimu Tuan. Tuhan lebih menyayangi Nona Vanessa." Ucap dokter itu menepuk pundak Rex. Setelah itu ia pun berlalu meninggalkan Rex.
Rex mematung dan terisak menangisi kepergian sahabatnya.
#####
"Tuan, Max saat ini sedang berada di Bar ... " Ucap Jiro memberitahukan keberadaan Max pada Raymond.
"Kau jaga Vivian disini. Pastikan tidak ada hal buruk terjadi padanya." Titah Raymond.
Tanpa menunggu, ia pun segera keluar menuju ke tempat mobilnya terparkir. Dengan segera ia melajukan mobilnya menuju ke Bar tempat Max berada.
Saat sampai, ia sedikit kesusahan mencari keberadaan Max karena sangat ramai. Tapi ia tidak putus asa. Dan akhirnya ia menemukan Max. Dengan sigap ia menghampiri Max dan memukul Max dengan membabi buta.
Para pengunjung Bar itu berteriak histeris dan ketakutan. Beberapa orang menghampiri mereka untuk mencoba melerai mereka.
"Jangan mendekat jika kalian masih sayang pada nyawa kalian. Pergi dan keluar dari sini. Urusan ku dengan bajingan ini, bukan dengan kalian." Ucap Raymond mengeluarkan pistol yang terselip dipinggang nya dan mengacungkan nya pada beberapa orang yang mendekat kepadanya.
Mendengar ancaman Raymond, mereka langsung berlari berhamburan meninggalkan Bar itu, kecuali sang Bartender. Raymond terus memukul Max tanpa peduli keadaan nya yang sudah babak belur. Bahkan ia beberapa kali menghantam punggung, perut dan kepala belakang Max dengan pistol yang ada di tangan nya. Max tidak melawan, ia merasa itu pantas untuk ia dapatkan.
"Tuan Raymond, ponselnya berdering dari tadi. Seperti nya penting." Ucap Bartender yang memang mengenal Raymond itu setengah berteriak karena suara musik yang kencang dan belum sempat dimatikan.
Raymond mendengar nya, tapi ia tidak peduli. Hingga akhirnya Bartender itu memutuskan untuk mematikan musik yang masih menyala. Ia kemudian menggeser ikon hijau pada ponsel Max untuk mengangkat panggilan itu dan mendekatkan ponsel itu pada pengeras suara di dekat nya.
"Max, Vanessa sudah tiada. Vanessa meninggal Max." Ucap si penelpon yang ternyata adalah Rex dengan suara terisak.
Mendengar itu, mau tidak mau Raymond menghentikan aksinya. Ia kemudian memutuskan untuk pergi tapi sebelum pergi, Raymond kembali menendang perut Max dengan sangat kuat hingga Max terpelanting jauh kesudut ruangan. Lalu ia pun berlalu dari sana.
"Vanessa ... . Tidak mungkin. Vanessa ku tidak mungkin pergi. Tidak mungkin. Hahaha." Ucap Max memukuli dirinya sendiri dengan tawa menggelegar. Namun tawanya adalah tawa luka, tawa kesakitan karena ditinggal oleh perempuan yang mencintainya.
Ia terus memukuli dirinya tanpa henti.
******
Makasih buat dukungan kalian semua. Semua itu sangat sangat berarti untuk ku.
Selalu tinggalkan komentar, like, vote, dan favorit cerita ku yah. Mampir juga dan ramaikan karya ku yang judulnya "IF LOVE" yuk.
__ADS_1
Salam sayang dan selalu jaga kesehatan yah.
Oh ya, diatas ada sedikit bagian yang aku skip, itu akan aku tampilkan dibeberapa episode selanjutnya, so jangan bosan nungguin update nya yah.