
Sudah satu bulan sejak pertengkaran hebat Axnes dan Raiyan yang akhirnya membuat Raiyan mengakui kesalahannya dan membuat Axnes meminta untuk diceraikan.
Axnes sudah diijinkan pulang dari rumah sakit namun tetap hanya bisa duduk diatas kursi roda tanpa bisa berjalan seperti semula.
Axnes dibawa pulang oleh Vivian dan Raymond ke rumah mereka dan mereka membawa satu perawat khusus untuk memantau kondisi Axnes dan membantu Axnes untuk melatih otot pinggul hingga kakinya.
Mereka tetap tidak menyerah berjuang untuk kesembuhan Axnes walaupun dokter mengatakan kemungkinannya kecil.
Raiyan juga tidak menyerah berjuang untuk meminta maaf dari istrinya walaupun selalu berakhir dengan kata cerai yang keluat dari mulut Axnes.
Axnes tentu saja sangat kecewa dengan perbuatan suaminya yang bukan hanya mengecewakan tapi juga seolah merendahkan dirinya sebagai seorang wanita.
Raiyan kali ini merasa sudah kehilangan akal untuk membujuk Axnes, hingga akhirnya ia mengajak kedua sahabatnya Vion dan Dero untuk berkumpul di sebuah bar.
Vynshen tidak diajak karena salah paham nya hari itu belum diselesaikan.
"Rai, sudahlah! Ayo kita pulang." Ajak Vion yang jengah melihat sahabatnya sudah sangat mabuk namun masih nekat menenggak minuman keras didepan mereka.
Vion dan Dero bahkan hanya meminum satu gelas dan sisa waktu mereka dihabiskan untuk mendengar setiap ocehan dari mulut Raiyan.
"Berikan aku solusi untuk mendapatkan kepercayaan istriku kembali! Kalian tahu, aku tidak bisa hidup tanpanya." Ucap Raiyan sudah mabuk parah.
"Astaga, mulutku sakit sekali jika harus mengulangi kalimat yang sama." Gerutu Dero kesal.
"Sudah aku katakan Rai, kau harus menghentikan kerjasama mu dengan wanita itu. Setelah itu barulah mungkin Axnes akan mulai kembali percaya padamu." Ujar Dero kesal dan menekan setiap katanya.
"Aku bisa rugi besar jika begitu." Ucap Raiyan menolak usul dari Dero.
"Sebentar." Ucap Dero menggerakkan ponselnya pertanda ada panggilan masuk.
Dero segera menepi dan menjawab panggilan tersebut.
Kurang lebih lima belas menit akhirnya Dero kembali bergabung dengan kedua sahabatnya.
"Aku butuh solusi." Pinta Raiyan lagi dan tak berhenti menenggak minuman keras di depannya.
"Aku rasa ingin sekali memecahkan kepalanya jika dia bukan sahabatku. Dengan begitu masalah nya akan selesai begitu saja dan masalah kita juga selesai." Gerutu Vion pada Dero.
__ADS_1
"Aku juga ingin sekali mencabut keluar lidahnya agar ia tidak perlu berbicara lagi." Dero menimpali.
"Hei, jangan bergosip!" Teriak Raiyan kesal.
"Terserah kau saja Rai. Apapun yang ingin kau katakan, terserah kau saja." Ucap Dero mendengus kesal.
Pasalnya dari tadi mereka memberikan solusi ini dan itu pada Raiyan, namun ada saja alasan Raiyan untuk menolak solusi yang mereka berikan.
"Kenapa kalian jadi sahabat tidak berguna sekali?" Maki Raiyan menunjuk kedua sahabatnya.
Vion tersulut emosi dan langsung mencengkram kerah baju Raiyan dan menarik Raiyan turun dari tempat duduknya.
BUGH
Satu tonjokan melayang pada wajah Raiyan diberikan Vion.
"Kau menyebut kami tidak berguna? Lalu apa guna mu sebagai suami selain menyakiti hati wanita yang begitu mencintaimu?" Tanya Vion geram sedangkan pengunjung Bar tersebut sudah berhamburan keluar menghindari perkelahian itu.
Raiyan tidak membalas perlakuan Vion sama sekali.
"Apa kau mencintai istriku?" Tanya Raiyan menuduh.
BUGH
"Aku tidak perlu sampai harus mencintai istri sahabat ku untuk menghargai seorang wanita. Selama ini aku memang tidak pernah serius menjalin hubungan dengan seseorang. Itu karena kami memang suka sama suka. Tapi jika aku menemukan wanita yang tepat dan memutuskan menikah, maka aku sudah siap hidup dengan satu wanita hingga akhir hayat ku. Menikah itu konsekuensi, bodoh. Kau harus bisa meninggalkan semua kenyamanan dan kenikmatan masa lajang mu untuk menghargai seorang wanita yang kau sebut istri. Menikah itu bukan hanya untuk membuat keturunan. Tapi banyak hal yang bermakna yang bisa kau ambil selama kau menjalani pernikahan itu dengan benar." Ucap Vion panjang lebar.
"Apa kau sudah menikah? Sehingga kau menceramahi ku seolah kau lebih tahu tentang pernikahan dibanding diriku?" Tanya Raiyan mendorong Vion.
Vion menjambak kasar rambutnya sendiri. Rasanya ingin gila bicara dengan orang yang tidak waras saat ini.
"Ak memang belum menikah. Tapi orang tuaku, orang tuamu, dan bahkan orang tua kita semua menjadi bukti hidup dari semua ucapanku tadi." Ucap Vion geram.
"Intinya adalah kau harus mau mencabut akar dari masalah mu saat ini. Jika kau bisa memutuskan untuk tidak terlibat lagi dalam kelompok mafia Ayahmu untuk menjaga keluarga kecilmu dari bahaya, lalu kenapa kau tidak ingin hanya sekedar memutuskan kerjasama dengan wanita yang kau tahu persis menjadi akar dari masalah rumah tangga mu? Kau memikirkan kerugian? Sekarang aku tanya padamu, lebih berharga mana? Istrimu dan keluarga kecilmu atau kerjasama itu?" Tanya Vynshen yang baru saja datang karena mendapatkan informasi saat ia menghubungi Dero tadi
Raiyan mematung mendengarkan perkataan Vynshen.
"Sadarlah Rai! Masalah rumah tangga mu sudah terlalu serius. Hanya ada dua jalan didepanmu. Bercerai dengan Axnes dan kau hancur karena penyesalan nantinya atau kau cabut akar dari semua masalah mu dan kau kembali berjuang untuk mendapatkan kepercayaan istrimu lagi. Kau pikir kenapa Axnes sangat sulit memaafkan mu? Karena kau sama sekali tidak mengerti apa mau nya. Kau lebih memilih bisnis dan harta yang jelas bisa kau cari lagi dilain waktu dibandingkan dengan wanita yang mencintaimu yang jika sudah pergi maka selamanya ia tidak akan pernah berbalik arah lagi." Ucap Vynshen lagi.
__ADS_1
"Sekarang semua terserah dirimu Rai. Kau ingin terus berjuang untuk mempertahankan rumah tangga mu atau kau tetap mempertahankan bisnis mu dan siap-siap untuk kehancuran rumah tangga mu. Pilih saja!" Ucap Vynshen santai dan kembali keluar dari Bar itu meninggalkan ketiga sahabatnya.
"Ka urus saja. Rumahmu kan bersebelahan dengan rumahnya." Ucap Vion pada Dero dan segera keluar untuk menyusul Vynshen.
"Hei, bisa tidak berlaku adil. Aku juga sudah muak dengan tingkahnya. Apa tidak bisa salah satu dari kalian yang mengurusnya? Kenapa selalu aku? Hei..hei.." Teriak Dero geram.
Mau tidak mau, Dero akhirnya memapah Raiyan untuk masuk kedalam mobilnya karena tadi pun ia memang datang bersama Raiyan.
Dero melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kesal, bete, bosan semuanya bercampur satu didalam hatinya.
"Axnes, aku mohon jangan katakan itu!" Pinta Raiyan meracau tidak jelas.
"Aku ingin cerai Rai! Aku sudah temukan pria yang lebih hebat dari mu!" Ucap Dero menirukan suara wanita. Dero terkekeh sendiri.
"Jangan Axnes! Aku mohon. Aku janji aku akan memutus kerjasama ku dengan mereka. Tapi aku mohon jangan meminta bercerai dari ku!" Pinta Raiyan lagi.
Mereka telah sampai dirumah mereka.
Dero memapah Raiyan turun dari mobilnya dan membawa Raiyan masuk kedalam kamarnya dan Axnes. Raiyan dan Axnes tetap tidur sekamar karena paksaan dari Raiyan.
Dero membuka pintu kamar secara perlahan, namun rupanya Axnes masih sadar dan duduk bersandar di atas ranjangnya.
Axnes terperanjat saat melihat seseorang membuka pintu kamarnya.
"Axnes, kau sudah sembuh?" Tanya Dero berbinar saat melihat Axnes sudah bisa berdiri tegap tanpa bantuan alat penopang.
"Aku sudah sembuh dari satu minggu lalu." Jawab Axnes dingin.
"Syukurlah. Dia sudah mabuk parah." Ucap Dero meletakan Raiyan diatas sofa kamarnya.
"Kau tenang saja. Aku tidak akan memberitahu siapapun tentang ini." Ucap Dero hendak keluar dari kamar sahabatnya namun ia mengurungkan niatnya sejenak.
"Axnes, berpikir lah lagi dengan jernih tentang perceraian yang kau inginkan. Aku tidak membela siapapun dalam hal ini, tapi pikirkan putra kalian yang masih sangat kecil itu. Dia membutuhkan kalian, membutuhkan keluarga yang lengkap. Raiyan memang bersalah tapi bukan berarti dia juga tidak bisa berubah. Dan aku minta maaf karena sudah lancang masuk kedalam kamar kalian tanpa ijin." Ucap Dero langsung kembali melangkahkan kakinya meninggalkan kamar sahabatnya.
Sepeninggal Dero, Axnes menatap suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Haruskah aku percaya padamu dan memaafkan mu?" Batin Axnes sedih.
__ADS_1
...~ TO BE CONTINUE ~...