Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
Selesai


__ADS_3

Hah


Shen menghela nafas kasar. Setelah ia selesai memeriksa keadaan Raymond.


"Selesai" ucapnya lirih. Ia lalu membuka sarung tangan dan masker yang ia gunakan tidak lupa dengan penutup kepala nya. Lalu ia membuang semua itu kedalam tong sampah. Walaupun hanya memeriksa tapi para dokter di rumah sakit itu terutama Shen juga para perawat nya selalu memastikan badan mereka steril saat akan melakukan kontak dengan pasien.


Ia lalu melangkah keluar menghampiri keluarga Raymond. Wajahnya sendu, tatapan nya pilu.


"Katakan Shen apa yang sudah terjadi pada Tuan Ray?" ucap Sion mencengkeram kerah baju Shen. Tidak ada lagi bahasa formal. Yang ada hanya amarah sekaligus ketakutan.


"Katakan Shen katakan" lanjut Jiro yang juga ikut menyerang Shen. Dengan sigap ia mendorong tubuh Sion dan Jiro untuk menjauh dari nya.


"Menyingkirlah. Apa kalian pikir dengan berbuat kasar seperti ini kalian bisa menyelamatkan Ray?" ucap Shen dengan nada mengintimidasi.


"Apa maksudmu Shen?" kini Harley yang buka suara. Harley melepas tangannya yang sedari tadi memeluk calon menantu nya.


"Ray saat ini sudah melewati masa kritis nya paman. Jika malam ini atau besok ia bisa sadar maka keadaan nya bisa membaik lebih cepat dari perkiraan" ucap Shen menjelaskan. Harley dan yang lain menghela nafas lega.


"Apa aku bisa melihatnya sekarang?" tanya Vivian yang kini mulai membuka suara.


"Kau bisa melihatnya setelah ia dipindahkan ke ruang perawatan" ucap Shen tersenyum pada Vivian.


"Baiklah" jawab Vivian pelan.

__ADS_1


"Shen maafkan kami" ucap Sion dan Jiro bergantian.


"Enyah lah" jawab Shen dengan nada kesal lalu beranjak pergi tanpa menatap mereka. Shen tidak marah kepada kedua sahabatnya itu hanya saja ia tidak suka melihat mereka terlalu gegabah dan emosian. Sion dan Jiro yang diperlakukan seperti itu hanya bisa menunduk bersalah.


"Paman, Ray sudah baik-baik saja" ucap Vivian menghampiri Harley.


"Iya nak. Ray pasti baik-baik saja" ucap Harley meyakinkan Vivian. Pasalnya dari tadi Vivian hanya menangis dan bersedih. Ia yakin Vivian pasti sangat mengkhawatirkan Raymond bukan karena merasa bersalah tetapi karena ia mencintai Raymond.


"Sion dimana makanan yang aku pesankan pada kalian?" tanya Harley tegas. Sion yang baru mengingat kalau kantong makanan yang ia bawa tidak sengaja jatuh saat ia mendengar kondisi Raymond yang menurun pun langsung menepuk jidatnya. Ia cepat-cepat menghampiri kantong-kantong yang masih tergeletak rapi di lantai. Ia segera memeriksa isinya.


"Ah syukur lah" ucapnya saat melihat ternyata isi kantong nya masih baik-baik saja. Ia lalu membawa makanan itu dan memberikan nya pada Harley kemudian Vivian lalu Max dan Rex. Vivian hanya menatap kosong makanan yang ada di tangan nya.


"Makanlah nak" ucap Harley kepada Vivian agar memakan makanan nya. Vivian hanya menggeleng lalu ia memandang kearah pintu ruang operasi.


"Makanlah. Jangan sampai ketika Ray bangun nanti dia tidak bisa melihat mu karena kau jatuh sakit" ucap Harley lagi. Vivian mendengar kalimat yang diucapkan oleh Harley pun mengangguk dan mulai memakan makanan nya. Harley tersenyum begitupun Max. Ia lega melihat gadis nya itu mau makan walaupun tidak banyak.


"Ray, maafkan aku" ucap Vivian lalu meraih tangan Raymond dalam genggaman nya dan duduk di kursi yang ada disamping ranjang Raymond.


"Bangunlah Ray aku mohon. Bukankah kau sudah berjanji tidak akan membuat ku bersedih lagi" lanjutnya lagi.


"Aku takut Ray. Aku takut kau akan pergi meninggalkan ku sendiri lagi. Jangan lakukan itu aku mohon hiks" Vivian kembali terisak.


Max mengepalkan tangannya kuat mendengar setiap perkataan Vivian. Ia lalu berbalik dan pergi meninggalkan mereka yang ada di ruangan itu. Jiro menatap heran melihat kepergian nya.

__ADS_1


"Apa dia menyukai Nona Vivian?" batin Jiro dalam hati.


"Tenang lah nak. Berikan Ray waktu untuk beristirahat" ucap Harley menepuk pelan pundak Vivian. Vivian hanya mengangguk tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan nya dari wajah pucat Raymond. Ia sangat merindukan perlakuan manis yang selalu Raymond berikan padanya. Sifat manja Raymond, tawa canda Raymond semua itu terekam jelas dalam ingatannya.


"Aku merindukan mu Ray. Bangunlah" gumam nya dengan suara pelan sehingga tidak ada yang mendengar nya. Ia kemudian mencium telapak tangan Raymond dan terus menggenggam nya seolah sedang menyalurkan kekuatan untuk Raymond. Harley kemudian memilih keluar dari ruangan itu diikuti Sion dan Jiro. Sedangkan Rex lebih memilih meninggalkan rumah sakit. Ia masih sangat merasa bersalah dan akan terus merasa bersalah sampai ia bisa mendapatkan maaf dari Raymond dan juga Vivian.


Kini hanya ada Vivian dan Raymond didalam ruangan itu. Vivian menatap lekat wajah pucat laki-laki yang selalu memanjakan nya itu. Laki-laki yang selalu memeluk nya, menghujani nya dengan kasih sayang. Laki-laki yang selalu mengatakan cinta pada nya. Ia menangis terisak namun berusaha ia tahan. Ia tidak ingin Raymond mendengar suara tangisnya.


"Ray, jangan hukum aku dengan cara seperti ini. Aku janji aku tidak akan dekat dengan Louise lagi. Kau boleh menghukum ku dengan cara apapun tapi tidak seperti ini Ray" ucap Vivian terisak mengingat kalimat terakhir yang ia ucapkan pada Raymond dan mengingat ia selalu dekat saat mengikuti kegiatan kampusnya kemarin.


"Maafkan aku Ray. Maafkan aku sudah mengingkari janji ku. Aku mohon jangan seperti ini" Vivian tidak berhenti berbicara sambil terisak seolah ia benar-benar sedang berbicara tatap muka dengan Raymond. Ia lalu menciumi bibir pucat Raymond.


"Kau lihat aku sekarang berani menantang mu Ray. Aku berani mencium mu duluan. Apa kau tidak ingin membalas nya?" ucap Vivian seolah sedang menantang Raymond. Tiba-tiba air mata menetes di sudut mata Raymond membuat Vivian tersenyum.


"Aku tahu kau bisa mendengar ku. Kau hanya pura-pura tidur untuk menghukum ku benarkan?" Vivian benar-benar tidak ingin menghentikan pembicaraan nya. Ia selalu berbicara tanpa henti pada Raymond seakan Raymond benar-benar menanggapi nya.


"Kau tahu Ray, Ayah mu bahkan memeluk ku erat bahkan lebih erat dari pelukan nya untuk mu. Apa kau tidak cemburu?" Vivian selalu mencari cara agar mendapatkan respon dari Raymond. Dan ia kembali melihat air mata Raymond lagi-lagi menetes dari sudut mata nya. Ia tidak berhenti berceloteh pada Raymond. Diluar Ruangan tampak Harley, Jiro san Sion sedang pergi. Hanya ada Max yang menahan cemburu dan sakit hati saat mendengar setiap perkataan Vivian pada Raymond dan melihat setiap perlakuan nya pada Raymond.


"Tuhan apa aku benar-benar sudah terlambat? Apa aku benar-benar harus menyerah sekarang? Apa benar-benar sudah tidak ada lagi kesempatan untuk ku?" batin Max didalam hati.


****************


Terima kasih selalu ku ucapkan untuk para reader yang masih setia dengan Mr. Mafia or Mr. Psychopath?.

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu tinggalkan komentar yang membangun baik itu berupa kritik atau saran. Serta selalu tinggalkan like setiap kalian selesai membaca satu part.


Follow IG ku @zml1104_ untuk mendapatkan spoiler chapter selanjutnya.


__ADS_2