
Note : 21+
...Bijak dalam membaca....
"Sayang ... " Max menegur Vanessa agar tidak terus bergerak.
"Apa?" tanya Vanessa bingung, belum menyadari kesalahan nya.
"Jangan terus bergerak. Kau bisa dalam bahaya nanti." Ucap Max sedikit meninggikan suara nya karena dentuman musik yang sangat memekakan telinga.
Vanessa belum sepenuh nya mengerti apa maksud Max. Max benar benar mulai bergairah karena ulah kekasihnya. Tangannya mulai menjalar menelusuri paha Vanessa yang terekspos sempurna.
"Sial." Batin Vanessa baru menyadari perkataan Max.
Ia ingin turun dari pangkuan Max, namun terlambat. Max terlebih dulu menahan tengkuk leher nya dan menerkam bibir nya. Max melakukan nya dengan lembut.
"Em, Max." Ucap Vanessa berusaha melepaskan dirinya, namun sia sia. Max semakin memperdalam ciuman nya pada Vanessa membuat Vanessa akhirnya pasrah dan membalas nya.
Max menghentikan aksinya, ia memilih membawa Vanessa pergi dari Club itu dan kembali kerumah nya. Secepat kilat ia melajukan mobilnya.
Setelah sampai, dengan cepat ia menggendong Vanessa turun dari mobil nya sambil terus melahap bibir Vanessa. Ia berjalan dengan cepat memasuki kamar nya dan mengunci pintu kamar nya.
Ia membaringkan Vanessa di atas ranjang.
"Max, tidak." Ucap Vanessa menyilangkan tangannya didepan dadanya yang belahan nya juga terekspos sempurna.
Max tidak menjawab dan memandangi nya dengan tatapan lapar. Seketika Max melepaskan kemeja yang ia kenakan hingga ia bertelanjang dada. Vanessa tidak lari ataupun menghindar.
Max mulai bergerak perlahan dan naik keatas Vanessa.
Ia menempelkan kening nya pada Vanessa dan berkata "Sayang, aku menginginkan mu." sebelum akhirnya kembali melahap bibir Vanessa. Tangannya menjelajah ke seluruh bagian tubuh Vanessa.
__ADS_1
Bibirnya mulai turun ke leher dan belahan dada Vanessa membuat Vanessa menggeliat.
"Max, aku juga menginginkan mu." Ucap Vanessa. Max tersenyum dan terus melanjutkan aksinya hingga turun kebawah Vanessa. Ia kemudian melepaskan dress dan pakaian dalam Vanessa kemudian celana miliknya.
"Maafkan aku sayang. Tapi aku tidak mampu menahan nya lagi." Ucap Max menatap wajah kekasihnya yang sudah sayu. Vanessa mengangguk.
Akhirnya Max pun menyatukan miliknya pada Vanessa.
Tapi ia merasa kesulitan untuk menembus nya, dan ia melihat wajah Vanessa seperti menahan sakit. Ingin berhenti tapi sudah setengah jalan. Akhirnya Max menembus nya dengan perlahan dan mulai menghentakan nya lembut.
Pikiran nya berputar bingung dengan apa yang ia alami saat ini. Harus nya ia sudah tidak kesulitan menembus milik Vanessa karena mereka sudah pernah melakukan nya, pikir nya.
Ia terus menghentak miliknya lembut hingga semakin cepat dan cepat membuat Vanessa mendesah hebat. Berkali kali mereka mengulangi nya, hingga akhirnya mereka lelah dan terlelap.
Tidak, hanya Vanessa yang terlelap. Max masih tersadar. Pikiran nya berkelana kemana mana. Tangannya setia memeluk erat tubuh polos Vanessa yang hanya ditutupi selimut.
"Mengapa kau berbohong pada ku?" Ucap Max memandangi wajah damai kekasih nya.
"Lalu kenapa kau menyerahkan dirimu pada ku sekarang jika dari awal kau hanya membohongi ku." Ucap Max lagi.
"Apa kau sungguh mencintai ku? Jangan membuat ku bingung seperti ini Vanessa." Ucap Max lagi.
Ia benar benar tidak bisa tidur hingga pagi. Dan sepanjang malam ia beberapa kali mendengar Vanessa mengatakan cinta padanya dan terus memeluk nya.
Pagi menjelang, ia akhirnya memutuskan untuk membersihkan dirinya. Vanessa masih tertidur. Didalam kamar mandi pun, pikiran nya tak tentu arah. Ia segera menyelesaikan ritual mandi nya, lalu keluar dan berpakaian.
Setelah selesai, ia hendak pergi meninggalkan Vanessa, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Vanessa.
"Kau mau kemana Max? Ini masih pagi." Vanessa bertanya sambil menguap kecil.
Max hanya diam ditempat, tak menjawab atau pun berbalik. Tiba tiba Vanessa mengingat pergulatan panas mereka semalam.
__ADS_1
"Max, aku bisa menjelaskan nya." Ucap Vanessa gelagapan menyadari kebodohan nya yang menyerahkan dirinya tanpa menjelaskan pada Max terlebih dulu.
"Kau membohongi ku Vanessa. Kau membuat ku luluh pada mu, bertekuk lutut memohon pada mu. Tapi nyatanya selama ini kau hanya berbohong pada ku." Ucap Max. Suara nya terdengar pilu.
"Tidak Max, aku bisa menjelaskan nya, Ini tidak seperti yang kau pikirkan." Ucap Vanessa. Ia ingin bangkit dari tempat tidur namun malu karena tidak berpakaian.
"Untuk apa semua yang kau lakukan ini jika pada akhirnya semua hanya kebohongan Vanessa? Aku sudah mencintai mu. Aku sudah melakukan semua yang kau inginkan. Tapi kenyataan semua itu hanya mimpi dan angan ku." Ucap Max mengepalkan tangannya kuat. Ia tidak berbalik menatap Vanessa.
Vanessa gelagapan merutuki dirinya sendiri. Mau tidak mau ia meraih handuk Max yang tadi Max letakkan di ujung ranjang nya dan memakaikan pada tubuhnya. Ia turun dari ranjang dan mendekati Max.
"Max aku mohon, dengarkan aku dulu. Ini tidak seperti yang kau pikirkan." Ucap Vanessa berdiri tepat dibelakang Max. Jika perempuan lain mungkin sudah menangis untuk meminta kesempatan untuk menjelaskan pada kekasihnya, tidak dengan Vanessa. Bagi nya hanya kekerasan nya yang dapat melembutkan sisi keras Max.
"Tidak ada yang perlu kau jelaskan. Sudah cukup. Jika kau mengandung anak ku nanti, aku akan bertanggung jawab. Tapi aku tidak bisa bersama mu lagi." Ujar Max.
Mata Vanessa terbelalak tidak percaya mendengar perkataan Max. Bukan tentang tanggung jawab, tapi tentang anak.
"Jadi dia sudah melepaskan kontrasepsi nya?" Batin Vanessa tidak percaya.
Max hendak melangkah namun perkataan Vanessa mencegah kepergian nya.
"Baiklah Max jika itu mau mu. Tapi jangan pernah kau menyesal untuk kedua kali nya. Karena aku tidak akan memberi mu kesempatan lagi. Anak? Jika aku mengandung anak mu, aku sanggup membesarkan dan merawat nya tanpa mu. Pergilah dan cari wanita diluar sana yanh sanggup menjadi pembohong untuk membawa mu keluar dari kegelapan. Cari wanita manapun yang sanggup menghadapi kegilaan mu, dan dengan suka rela hampir kehilangan nyawanya hanya untuk membawa mu kembali pada terang kehidupan. Aku memang pembohong Max. Pembohong yang terlalu mencintai mu. Pembohong bodoh yang bahkan dengan suka rela menyerahkan dirinya untuk mu, tapi pada akhirnya akan ditinggalkan. Pergi Max, pergi sejauh yang kau mau. Cari wanita sebanyak yang kau mau. Bunuh orang semampu yang kau bisa. Aku tidak akan mencegah nu lagi. Tapi ingat jangan pernah menyesal dan mengingat ku lagi. Aku sudah terlalu bodoh karena terlalu mencintai pria tidak tahu berterima kasih seperti mu. Harus nya kau bersyukur aku rela menahan diri dan memberikan yang terbaik untuk mu, sedangkan kau entah sudah bekas siapa saja." Maki Vanessa panjang lebar.
Ia memutuskan untuk memungut satu persatu pakaian nya yang berserakan dilantai dan keluar dari kamar Max. Ia membanting pintu kamar dengan sangat kuat. Bukan Vanessa namanya jika menghadapi sesuatu dengan tangisan. Max hanya diam terpaku ditempat nya setelah mendengar setiap perkataan Vanessa.
Tak lama terdengar bunyi mobil Vanessa meninggalkan rumah nya. Max tersadar dan hendak mengejar nya namun terlambat. Vanessa pergi lagi.
******
Aelah, babang Max udah dikasih enak enak yang terbaik malah Vanessa nya digituin.
Jangan lu nyesel nangis nangis bombay lagi lu.
__ADS_1
Terus berikan support kalian dengan tinggalkan komentar, like, vote, dan favorit cerita nya yah.
Salam sayang dan selalu jaga kesehatan.