Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
Terjadi lagi.


__ADS_3

Note : Chapter masih mengandung adegan dewasa. Harap bijak dalam membaca.


Raymond dan Vivian kini tampak sedang berjalan santai disebuah taman dikota Paris tempat mereka berbulan madu.


Vivian menggandeng erat lengan Raymond. Baru kali ini Raymond merasa Vivian berlaku posesif pada nya. Ia tidak menolak dan malah sangat senang.


Tidak menyangka saat sudah menikah Vivian malah bisa selengket itu dengan nya.


"Sayang, aku bahagia sekali." Ucap Raymond mencubit kecil hidung istrinya.


"Aku juga suami ku." Ucap Vivian polos. Raymond tentu saja kegirangan mendengar nya.


"Apa tadi sayang?" tanya Raymond sengaja sambil tersenyum lebar.


"Aku juga." Ucap Vivian tanpa menyebutkan kata yang membuat suaminya kegirangan itu.


"Bukan kata terakhir tadi." Raymond kembali mengungkit.


"Suami ku?" ucap Vivian ragu. Sebenarnya ia juga mengucapkan asal tadi.


"Sekali lagi." Pinta Raymond. Kini ia menghadap kearah istrinya dengan berjalan mundur.


"Suami ku, suami ku, su ... " Belum sempat ia menyelesaikan perkataannya, bibir nya langsung diterkam suaminya.


"Em Ray ... " Ucap Vivian berusaha mendorong suaminya menjauh. Raymond menuruti pergerakan istrinya.


"Istri ku." Ucap Raymond berbisik di telinga Vivian.


Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka. Mereka benar benar sangat bahagia. Berbeda dengan Max yang sedang mengamuk di rumahnya. Ia kini tinggal di daerah yang sedikit terpencil untuk menghindari kejaran bawahan Raymond yang memburu nya.


"Vivian, Raymond Lu." Teriak Max dengan suara menggelegar.


"Aku akan pastikan kalian membayar rasa sakit hatiku. Akan ku pastikan kalian berlutut dan memohon kepada ku. Kalian pikir kalian sudah menang? Aku tidak akan membiarkan kalian begitu saja." Ucap Max penuh kebencian dan amarah.


"Tunggu. Tunggu saja hari baik nya. Akan ku pastikan hidup kalian hancur sehancur hancurnya. Terutama kau Vivian. Hahaha." Max benar benar seperti orang kesetanan. Ia tidak bisa lagi membedakan realita dan hasrat nya. Bukan, ia bukan lagi Max yang dulu, Max yang selalu menjaga dan melindungi Vivian.


Kini yang ada di hati nya hanya dendam dan amarah karena penolakan Vivian terhadap nya.


"Kak, sadar lah." Ucap Rex dengan suara lemah ketika ia baru keluar dari kamar nya saat mendengar suara gaduh Max. Hari itu seorang pria baik hati membawanya ke rumah sakit untuk diobati. Setelah ia sembuh dan keluar dari rumah sakit, Max mengurung nya dan menjadikan nya alat pelampiasan amarah.

__ADS_1


"Diam kau. Dasar tidak tahu diuntung. Aku memungut mu dan menjamin kelangsungan hidup mu. Tapi kau bukannya mendukung ku, malah memilih menjadi pengkhianat." Ucap Max kasar tanpa peduli kalau Rex adalah adik kandung nya.


"Aku hanya tidak ingin kakak menyesal dengan perbuatan kakak nanti nya. Uhuk." Ucap Rex sedikit terbatuk. Tubuhnya lemah akibat perbuatan Max padanya. Tapi ia selalu berusaha bertahan. Ia punya tekad jika nanti kakak nya menyakiti Vivian, ia harus bisa membantu Vivian.


Bukan karena ia punya perasaan lebih pada Vivian. Tetapi karena Vivian baik dan mau memaafkan nya disaat ia sudah menyakiti nya dan hampir saja membunuh laki laki yang ia cintai.


"Menyesal? Apa kau tahu apa itu menyesal? Aku tidak akan pernah menyesal sampai aku mendapatkan apa yang aku mau." Ucap Max. Ia benar benar sangat menakutkan. Ia kemudian mengambil sebuah kayu balok yang ada didekat nya.


Bukk Bukk


Ia memukuli Rex berulang kali. Rex tersungkur dengan mulut mengeluarkan darah. Jika dibilang Rex bodoh, ia memang bodoh karena tidak melawan siksaan dari kakaknya padahal ia sangat hebat dalam hal bertarung. Ia lakukan itu hanya berharap kakaknya bisa sadar. Tapi bahkan ia sekarang hampir mati pun, Max bukan nya sadar malah terus dikuasai amarah.


"James bawa dia pergi." Ucap Max memberi perintah pada James. James hanya bisa menurut walau sebenarnya dalam hati nya ia sangat kasihan pada Rex.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Max saat melihat James hendak memapah Rex.


"Aku akan membawa Rex kembali ke kamar nya Tuan." Ucap James menunduk.


"Seret dia." Titah Max dengan kejam. Bahkan ia memperlakukan adik kandungnya seperti seekor binatang.


"Maafkan aku Rex." Ucap James berbisik di telinga Rex sebelum ia melakukan perintah Max. Rex hanya tersenyum namun senyumnya sangat tulus. Segera James pun menyeret Rex kembali ke kamar nya.


Saat sudah di kamar nya, ia dengan cepat memapah Rex naik ke atas ranjang nya. Dengan segera ia membuka nakas yang ada di kamar Rex kemudian meraih obat penghilang sakit untuk ia berikan pada Rex.


"Maaf Rex hanya ini yang bisa aku berikan." Ucap James merasa bersalah.


"Tidak a apa." Ucap Rex lagi lagi tersenyum tulus. Rex bukan lagi Rex yang penuh amarah. James kemudian melangkah meninggalkan Rex sendiri.


Rex menangis menahan sakit nya. Walaupun ia seorang pria tapi ia juga manusia yang butuh sandaran. Kakaknya satu satunya yang ia punya, tapi kini memperlakukan dirinya seperti binatang. Tragis, tapi ia tidak ingin menyerah sekarang. Ia harus bertahan dan mencoba menghentikan kegilaan Max.


Ia harus bisa melindungi Vivian walau kecil kemungkinan nya.


"Ayah, Ibu ... " Ucap Rex terisak. Bahkan untuk meringkukan badan nya pun ia tidak mampu karena perbuatan Max tadi.


Di negara yang berbeda, tampak Raymond dan Vivian sudah kembali kerumah mereka. Raymond kini sedang berada di kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan Vivian yang sudah lebih dulu mandi pun menunggu suaminya diruang makan untuk makan malam bersama.


Setelah selesai, Raymond langsung keluar dari kamar nya dan menuju ke ruang makan. Raymond tersenyum melihat beberapa hidangan yang sudah dimasak istrinya.


"Sayang aku sangat beruntung memiliki mu." Ucap Raymond tersenyum lebar.

__ADS_1


"Makan saja. Jangan banyak bicara." Ujar Vivian sengaja ketus, ia tahu kalau soal memasak suaminya sangat tidak bisa diharapkan. Raymond hanya terkekeh.


Mereka pun menyantap makanan mereka dengan sesekali bercanda kecil. Selesai makan, Vivian pun membawa piring piring kotor menuju wastafel untuk dicuci.


Saat sedang serius mencuci piring, tangan Raymond memegang tangannya dari belakang mengikuti pergerakan tangannya yang sedang menggosok sabun pada piring kotor itu. Bibir Raymond mulai menjelajahi leher putih istrinya membuat istrinya sedikit menggeliat.


"Ray, nanti saja." Ucap Vivian yang mengerti pergerakan suami nya. Raymond yang mendengar usul istrinya pun tersenyum dan berdiri disamping istrinya untuk membantu pekerjaan nya agar cepat selesai.


"Kau kembali saja dulu kekamar, nanti aku menyusul." Ucap Vivian saat mereka sudah menyelesaikan pekerjaan nya


"Tapi sayang ... " Raymond protes.


"Ssttt, aku akan memberi mu sedikit kejutan." Ucap Vivian mengedipkan genit matanya.


"Baiklah." Ucap Raymond lesu lalu melangkah ke kamar nya.


Vivian kemudian meraih sehelai lingerie yang sangat sexy yang sempat ia bawa kebawah setelah selesai mandi dan ia sembunyikan. Saat menunggu Raymond dimeja makan pun ia sempat membaca kiat kiat untuk menyenangkan hati suami di internet. Ia pun segera mengganti pakaian nya dengan lingerie tadi.


"Apa tidak berlebihan?" tanya nya pada dirinya sendiri saat melihat bayangan nya yang sangat sangat sexy dicermin. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskan nya.


Segera ia berjalan menuju kamar nya. Dibuka nya pintu kamar nya dengan perlahan. Raymond yang mendengar itu segera duduk tegap. Ia terbelalak tak percaya melihat istrinya yang sangat terbuka.


Vivian mendekati suaminya dan duduk di atas pangkuan suaminya. Ia mulai agresif mencium bibir suaminya tanpa diminta. Raymond tersenyum melihat istrinya bisa agresif memulai duluan. Ia pun tanpa ragu membalas perbuatan istrinya.


Vivian mengalungkan tangannya di leher Raymond, sedangkan tangan Raymond bergerak aktif menjelajahi tubuh istrinya. Raymond ingin memimpin, ia lalu membaringkan tubuh istrinya, dan mulai membuka pakaiannya istrinya. Ia kaget karena istrinya bahkan tidak memakai pakaian dalam.


Dengan segera ia mencumbu setiap inci bagian tubuh istrinya tanpa terlewatkan sedikitpun. Setelah dirasa istrinya siap, ia pun langsung menyatukan dirinya dengan istrinya. Terjadilah pertempuran panas mereka. Tidak hanya sekali tapi berkali kali seperti yang Raymond harapkan. Sesekali Raymond membiarkan istrinya yang agresif memimpin.


Hingga akhirnya mereka rebah. Dan Vivian terlelap kelelahan sambil memeluk tubuh suaminya. Sedangkan Raymond masih menikmati tubuh polos istrinya yang selalu membuat nya tidak merasa cukup.


"Ini rasanya jika sudah menikah." Batin Raymond tidak berhenti memainkan tubuh istrinya walaupun istrinya sudah terlelap.


"Terima kasih sayang." Ucap Raymond pada Vivian lalu mengecup kening istrinya dan tak lama ia pun ikut terlelap.


********


makasih semua yang selalu setia menunggu kelanjutan cerita ku.


Tanpa dukungan kalian semua nya terasa hampa. Jangan lupa untuk terus berikan dukungan kalian dikolom komentar dan juga like nya setiap kalian selesai membaca satu part.

__ADS_1


Favorit, Vote, dan Rate bintang 5, 4, 3 nya juga ya.


Sayang kalian semua.


__ADS_2