Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
Usaha Rex


__ADS_3

Hari telah berganti. Tampak Raymond terlihat sangat frustasi karena belum bisa menemukan kekasih nya calon istri nya. Ia memutuskan untuk mengundur acara pernikahan nya hingga waktu yang belum ditentukan.


Ia berjalan mondar mandir didalam ruangan nya. Tampak ruangan itu sedikit berantakan dan juga beberapa botol alkohol kosong tergeletak di lantai. Sesekali ia meninju dinding didekatnya.


Jiro dan Sion masih berusaha semampu mereka untuk melacak dan mencari keberadaan Vivian. Bahkan mereka mulai meretas CCTV jalanan dan beberapa CCTV komplek perumahan yang mereka curigai. Namun tetap saja tidak menemukan hasil.


"Sion, aku teringat sesuatu." Ucap Jiro memecah keheningan.


"Apa?" tanya Sion singkat.


"Beberapa tahun lalu saat Nona Vivian masih kuliah, dia pernah menanyaiku apa yang akan aku lakukan jika ada seseorang yang meneror ku." Ucap Jiro. Mereka masih terus melanjutkan pencarian mereka tanpa kenal lelah.


"Kau serius?" tanya Sion tidak percaya lalu menghentikan kegiatan nya sejenak dan memandang kearah Jiro. Jiro pun demikian, ia menghentikan kegiatan nya sejenak dan memandang kearah Sion.


"Hem. Aku tidak bohong." Jawab Jiro serius.


"Lalu apa yang kau katakan padanya?" tanya Sion penasaran.


"Aku bilang aku akan menunggu sampai si peneror itu muncul dengan sendirinya dihadapan ku." Ucap Jiro santai.


"Bodoh." Sion melempari Jiro dengan gelas kosong yang ada didekatnya namun berhasil ditangkap Jiro.


"Memang nya kenapa? Aku tidak takut pada peneror." Ucap Jiro polos.


"Kau jangan samakan dirimu dengan Nona Vivian. Dia itu perempuan dan kau laki laki." Ucap Sion mengomeli Jiro. Jiro terdiam mendengar perkataan Sion.


"Harusnya kau menyarankan nya untuk memberitahu Tuan Ray." Sion melanjutkan perkataannya. Jiro masih terdiam seperti sedang berpikir.


"Apa menurut mu ini ada hubungan nya dengan Louise?" tanya Jiro tiba tiba.


"Bagaimana kau bisa berkata begitu?" Sion balik bertanya pada Jiro.


"Aku merasa sedikit aneh saat ia memutuskan untuk pergi secara tiba tiba tanpa berjuang sedikit pun untuk mendapatkan Nona Vivian. Bukan berarti aku mendukung nya jika dia melakukan itu. Hanya aneh saja jika seorang pria melihat perempuan yang ia cintai bahagia bersama laki laki lain, lalu ia memutuskan pergi begitu saja tanpa ada perjuangan sedikit pun. Dan juga aku beberapa kali melihat James ada didekat Nona Vivian dan tampak mencurigakan. Tidak mungkin kan kalau itu hanya kebetulan." Ucap Jiro panjang lebar. Selama ini memang James l ah yang selalu mengirimkan foto foto Vivian dan melaporkan setiap pergerakan Vivian pada Max dan tentu saja atas perintah Max.


"Benar juga. Jika aku mencintai seorang perempuan, aku pasti akan berusaha untuk mendapatkan nya walau pun dia sudah punya kekasih dan mungkin aku akan kalah. Tapi setidak nya aku berusaha dulu." Sion menyetujui pemikiran Jiro tadi.


"Apa kita perlu memberitahu Tuan Ray?" tanya Jiro kemudian.


"Tidak perlu." Ucap Raymond tiba tiba. Ia berjalan kearah Jiro dan Sion sambil mengepalkan tangannya dan mengeraskan rahang nya.

__ADS_1


"Tuan." Jiro dan Sion serentak memanggil Raymond.


"Lacak James atau Louise sekarang." Raymond memerintahkan Jiro dan Sion dengan suara yang menyeramkan. Matanya memerah karena amarah. Bahkan sosok nya terlihat lebih menyeramkan dari sebelumnya.


"Ba baik Tuan." Ucap Jiro sedikit terbata sedangkan Sion hanya mengangguk. Mereka kemudian mulai mencoba melacak keberadaan James atau Max.


"Sayang makan lah." Ucap Max yang baru memasuki kamar Vivian dan membawa nampan berisi makanan. Ia berjalan mendekati Vivian.


Vivian duduk di tepi dalam ranjang dan menatap Max penuh kebencian. Kakinya ia tekuk dan ia peluk. Sedangkan Max hanya tersenyum sinis melihat Vivian menatap benci kepadanya.


"Mengapa kau lakukan ini Max?" Tanya Vivian lirih.


"Aku? Apa yang ku lakukan sayang?" tanya Max seolah bingung dengan apa yang Vivian bicarakan.


"Kau bilang kau akan rela melihat ku bahagia bersama Ray. Tapi kenapa kau lakukan ini?" ucap Vivian terisak.


Max tersenyum sinis kemudian ia mencengkeram dagu Vivian dengan kuat membuat Vivian meringis kesakitan.


"Jangan sebut nama bangsat itu. Dia tidak pantas untuk mu." Ucap Max geram. Ia benar benar tidak terima gadis nya menyebut nama laki laki lain.


"Kau yang bangsat Max. Kau yang bangsat karena tidak menepati perkataan mu." Ucap Vivian berteriak dan menepis kuat tangan Max dari dagu nya.


"Aku benci pada mu Max." Batin Vivian.


"Dari awal kau adalah milik ku maka tidak ada yang boleh memiliki mu selain aku." Gumam Max saat ia sudah berada di luar kamar Vivian. Ia lalu memutuskan untuk keluar sebentar dari apartemen nya untuk mencari kesenangan.


Rex yang memperhatikan pergerakan Max sedari tadi langsung menuju kamar Vivian dan masuk kedalam setelah kepergian Max.


"Vi, kau tidak apa apa?" tanya Rex sedikit khawatir. Vivian hanya menggeleng.


"Tenanglah Vi. Ayo aku akan membawa mu keluar dari sini." Ucap Rex lalu menggenggam tangan Vivian.


"Benar kah?" tanya Vivian ragu.


"Hem. Ayo sebelum kakak ku kembali." Ucap Rex. Rex lalu menggenggam tangan Vivian dan berjalan dengan posisi Vivian dibelakang nya. Ia berhasil membawa Vivian keluar dari apartemen Max, dan masuk kedalam lift untuk menuju ke lantai dasar apartemen tempat mobilnya diparkir.


"Rex." Teriak seorang pria dengan suara menggelegar. Saat Mereka berbalik ternyata itu adalah Max. Ternyata ia belum benar benar pergi dan masih ada didalam mobil nya. Ia kemudian mendekat dan menarik Vivian untuk lepas dari gandengan Rex.


"Jangan kak." Ucap Rex masih berusaha menahan Vivian dibelakang nya.

__ADS_1


"Lepaskan Rex. Jangan ikut campur jika kau masih sayang dengan nyawa mu." Ucap Max mengancam adiknya.


"Kak aku mohon sadarlah. Cinta tidak bisa untuk kau paksakan." Ucap Rex. Ia terus berusaha melindungi Vivian.


BuKk


Max menonjok wajah Rex membuat Rex terpelanting dan jatuh tersungkur kelantai. Max dengan mudah langsung menarik tangan Vivian untuk ikut dengannya.


"Max lepaskan aku." Vivian berteriak dan meronta. Namun tenaga Max tidak dapat ia lawan.


"Jangan mencoba membantah jika kau masih ingin aku baik kepada mu." Ucap Max dingin.


Ia menarik Vivian kembali ke apartemen nya. Ia mendorong Vivian dengan sangat kuat hingga terpelanting keatas ranjang saat mereka sudah ada didalam kamar.


"Max jangan seperti ini. Aku mohon." Ucap Vivian terisak. Ia menatap Max dengan tatapan pilu.


"Kau tidak perlu menangis sayang. Jika kau menurut aku tidak akan pernah menyakiti mu." Ucap Max mengelus pipi Vivian dan mengusap bibir Vivian dengan jempol nya. Refleks ia pun ******* bibir Vivian, tidak lupa ia merekam nya dan kali ini ia sengaja memperlihatkan wajahnya. Vivian semakin terisak dan terus meronta untuk lepas.


Setelah puas dengan aksinya ia pun melepas tautan bibir mereka dan meninggalkan Vivian. Ia kembali mengirimkan video tadi kepada Raymond.


"Sial." Ucap Raymond saat menerima Video dari Max. Ia meninju dinding didekatnya beberapa kali hingga buku buku jari nya mulai berdarah.


"Aku akan menbunuh mu Louise." Ucap Raymond.


**********


Terima kasih selalu ku ucapkan untuk readers tersayang yang selalu setia menunggu kelanjutan kisah Vivian.


Jangan pernah bosan ya.


Selalu tinggalkan jejak di kolom komentar baik itu kritik ataupun saran yang membangun dan juga like nya setiap kali kalian selesai membaca satu part.


Favorit, Vote, dan rate bintang 5, 4, 3 jangan lupa.


Mampir juga di karya ku yang judul nya "If Love". Klik bio ku langsung aja biar gak bingung.



__ADS_1


Salam semangat.


__ADS_2