
Tiga Bulan Kemudian
Tidak terasa tiga bulan telah berlalu sejak hari berdamai nya Raymond dan Raiyan.
Itu artinya kehamilan Axnes juga sudah memasuki usia lima bulan.
Raiyan dan Axnes saat ini sedang bersiap untuk memeriksakan kandungan Axnes.
"Sayang, kau tahu aku gugup sekali. Lebih gugup dari saat pertama kita memeriksa nya." Ucap Raiyan mondar mandir seperti cacing kepanasan.
"Astaga, tenanglah Rai. Kau membuatku pusing." Axnes mengomeli suaminya.
Raiyan terkekeh.
Raiyan kemudian berlutut di depan istrinya yang sedang duduk di sofa ujung ranjang mereka lalu menggenggam tangan nya.
"Sayang, kau ingin anak laki laki atau anak perempuan?" Tanya Raiyan dengan mata berbinar.
Axnes tampak sedang berpikir.
"Em..sebenarnya aku tidak keberatan. Jika anak perempuan tidak masalah karena dari sebelah keluarga mu belum ada anak perempuan. Begitupun jika laki laki, dari pihak keluarga ku belum punya anak laki laki. Jadi mau laki laki atau perempuan sama saja. Asal dia sehat, cerdas, itu sudah cukup." Ucap Axnes girang.
Ngidam Axnes yang secara tidak langsung suka menyiksa Raiyan pun mulai berkurang saat usia kehamilan nya menginjak usia bulan ke empat.
"Kau memang yang terbaik sayang." Ucap Raiyan mencubit pelan hidung istrinya.
"Bisa kita pergi sekarang?" Tanya Raiyan meminta kepastian.
"Aku dari tadi juga sudah siap dan tinggal pergi. Kau saja yang bertele, mondar mandir seperti cacing kepanasan." Ucap Axnes kesal.
Raiyan tersenyum malu.
"Ayo." Ucap Raiyan menuntun istrinya untuk berdiri lalu melangkah keluar dari kamar mereka.
"Rai, Axnes kalian mau kemana?" Tanya Vivian yang berpapasan dengan anak menantunya di ruang tamu.
"Aku ingin membawa Axnes untuk periksa Ma." Ucap Raiyan berbinar.
Vivian mengangguk mengerti.
"Baiklah. Hati hati dijalan. Jangan menyetir terlalu cepat Rai." Ucap Vivian memeluk putra dan menantunya bergantian.
"Baiklah." Ucap Raiyan.
Mereka pun kembali melanjutkan langkah mereka hingga mencapai mobil Raiyan.
Raiyan menuntun istrinya masuk ke dalam mobilnya lalu kemudian dirinya.
Setelah itu sesuai pesanan Mamanya, Raiyan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Sayang, rasanya aku masih seperti mimpi bahwa kita akan menjadi orang tua sebentar lagi." Ucap Raiyan menggenggam tangan istrinya.
"Aku juga Rai. Bahkan rasanya seperti baru kemarin kita bertemu dan berkenalan. Tapi ternyata sekarang kita sudah akan menjadi orang tua sebentar lagi." Ucap Axnes terharu.
"Maaf sayang jika saat itu aku memaksa mu hingga akhirnya seperti ini dan kau jadi tidak bisa melanjutkan profesi mu sebagai model." Ucap Raiyan merasa bersalah.
"Tidak Rai. Aku tidak pernah menyesali apapun. Profesi tersebut memang hanya sementara. Tidak akan bertahan lama. Lagipula aku sekarang sudah bersama dengan orang yang aku cintai, dan aku juga punya keluarga besar yang begitu menyayangi ku. Sebentar lagi aku juga akan menjadi Mama. Itu semua sudah cukup berharga bagiku." Ucap Axnes menepis perkataan suaminya.
"Terima kasih sayang. Kau memang yang terbaik." Ucap Raiyan mengecup punggung telapak tangan istrinya.
Axnes hanya tersenyum manis.
__ADS_1
Mereka pun sampai di rumah sakit.
Mereka tetap menggunakan jasa dokter Jen untuk berkonsultasi dan periksa, karena Vivian juga menyarankan dokter Jen pada mereka.
Segera mereka pun masuk setelah turun dari mobil.
Raiyan berbicara sejenak pada bagian resepsionis sebelum akhirnya menuntun Axnes untuk masuk ke dalam ruangan dokter Jen setelah mendapat kepastian dari resepsionis.
"Hai, apa kabar mu?" Tanya dokter Jen pada Axnes.
"Aku baik dokter." Raiyan yang menjawab.
"Aku tidak bertanya pada mu anak nakal." Sarkas dokter Jen dan Raiyan hanya tersenyum tanpa rasa bersalah.
"Mari aku akan melakukan USG pada perut mu." Ajak dokter Jen pasa Axnes.
"Aku ingin ikut." Pinta Raiyan memelas.
Akhirnya dokter Jen mengijinkan nya untuk ikut masuk kedalam ruangan periksa yang masih menyatu dengan ruang kerjanya tersebut.
Dokter Jen pun mulai memutar alat bernama transducer pada mesin USG tersebut setelah mengoleskan gel dingin diatas perut Axnes.
"Bayi kalian sangat sehat. Dan wow..dia bergender laki laki." Ucap dokter Jen semangat.
Raiyan dan Axnes tampak bahagia.
"Kondisinya sangat baik, sepertinya semua yang diinginkan Ibunya saat masa mengidam kemarin selalu dipenuhi ya." Ucap dokter Jen menggoda Raiyan.
Raiyan hanya tersenyum kaku.
Ia masih ngeri mengingat bagaimana hampir setiap malam istrinya meminta tidur dengan menjambak rambutnya. Kadang kala istrinya juga meminta agar ia diikat tangannya sambil tidur.
Raiyan cukup tersiksa saat masa mengidam Axnes, namun saat ia bercerita pada Papa nya, rupanya ia baru tahu kalau Mamanya melakukan hal yang lebih gila saat sedang mengandung dirinya.
"Semuanya dalam kondisi baik. Apa ada yang mau ditanyakan?" Tanya dokter Jen lembut sambil menulis resep vitamin untuk Axnes.
Raiyan tampak berpikir.
"Sepertinya tidak ada dokter." Raiyan menjawab sopan.
"Baiklah. Ini resep untuk Axnes dan bayi kalian. Dikonsumsi secara teratur dan selalu ingat, jangan pernah membuat Axnes merasa stres atau tertekan walau kehamilannya sudah besar." Ucap dokter Jen serius.
Raiyan mengangguk.
Mereka pun keluar dari ruangan dokter Jen lalu pergi ke apotik terdekat untuk menebus vitamin Axnes.
Setelah selesai, mereka pun kembali masuk kedalam mobil, dan perlahan Raiyan melajukan mobilnya.
"Sayang, kau ingin berjalan jalan dulu? Atau kau ingin makan sesuatu?" Tanya Raiyan perhatian.
Axnes menggeleng.
"Tidak sayang. Aku merasa agak lelah. Kita pulang dan beristirahat saja." Ucap Axnes pelan.
Raiyan pun menurut.
Ia melajukan mobilnya kembali ke rumah.
Sepanjang perjalanan Axnes memejamkan matanya walaupun tidak tidur.
Dalam hatinya ia merindukan kedua orang tua nya walaupun Raymond dan Vivian sangat menyayangi nya, tapi tetap saja Max dan Vanessa adalah orang tua kandung nya.
__ADS_1
Raiyan tahu ada sesuatu yang mengganggu pikiran istrinya, jadi Raiyan biarkan istrinya diam sejenak agar menenangkan diri.
"Sayang, kita sudah sampai." Ucap Raiyan pelan menepuk pundak istrinya
"Ah..iya." Ucap Axnes sedikit tersentak karena ia baru saja hampir tertidur.
Raiyan turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Axnes dan membantunya keluar dari mobil.
"Pelan pelan." Ucap Raiyan memapah istrinya.
"Aku hanya hamil Rai, bukan sakit berat." Protes Axnes walaupun ia sebenarnya senang.
Raiyan hanya tersenyum dan terus memapah istrinya hingga masuk ke dalam rumah.
"Sayang." Ucap Max dan Vanessa serentak.
"Mama, Papa." Ucap Axnes bahagia dan langsung berlari memeluk kedua orang tua nya.
Raiyan meringis melihat tingkah ceroboh istrinya.
"Pelan pelan sayang. Kau bisa membahayakan janin mu." Ucap Vanessa mengingatkan.
Axnes hanya terkekeh.
"Apa kabar Ma?" Tanya Raiyan memeluk Ibu mertua nya.
"Mama baik Rai. Kau bagaimana?" Tanya Vanessa perhatian sambil melepaskan pelukan mereka.
"Aku juga baik Ma." Ucap Raiyan.
Saat giliran Max hendak mendekati nya, ia menghindar.
"Aku ke kamar dulu Ma untuk menyimpan vitamin Axnes. Sayang kau mengobrol lah dengan Mama." Ucap Raiyan pamit pada Ibu mertua nya lalu pamit juga pada istrinya.
Max yang merasa diabaikan hanya bisa menghela nafas kasar.
Selama kurang lebih lima bulan ini, Raiyan tidak pernah sekalipun berbicara pada nya. Jika Axnes menghubungi mereka, Raiyan hanya akan berbicara pada Vanessa.
"Papa dan Mama akan berada di Shanghai berapa lama?" Tanya Axnes semangat.
"Mungkin akan lama sayang. Kami kali ini benar benar tujuannya hanya untuk liburan dan melihatmu serta cucu kami." Jawab Vanessa
"Pa, sudahlah. Nanti saja bicarakan semuanya saat ia sudah merasa lebih baik." Ucap Axnes mencoba membujuk Ayahnya yang sedari tadi terus memandang kearah kamarnua dan Raiyan.
"Oh iya, Mama Vivi kemana?" Tanya Axnes bingung.
"Mama Vivi mu tadi ijin untuk keluar sebentar." Ucap Vanessa menjelaskan.
Axnes mengangguk mengerti.
Mereka pun hanyut dalam obrolan mereka sesama wanita.
Max memilih bangkit dari duduk nya dan pergi ke taman belakang yang dekat dengan kamar Raiyan dan Axnes.
"Rai."
...~ To Be Continue ~...
######
Sepertinya akan segera END nih..
__ADS_1
Like dan komentar janagn lupa..makasih.