
"Sayang, selamat pagi." Ucap Max memeluk Vanessa dari belakang. Vanessa sedang di dapur menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Max.
"Pagi." Vanessa membalas sapaan dari Max, ia menoleh dan mengecup pipi Max. Lagi lagi Max tersenyum manis.
Ia kemudian melepaskan pelukan nya dan berjalan menuju meja makan. Sambil menunggu Vanessa, ia tidak sedikit pun mengalihkan pandangan nya. Perempuan cantik yang mampu membuat jantung nya berdetak tak karuan.
"Ini untuk mu." Ucap Vanessa menyodorkan sepiring makanan yang sudah ia buat kehadapan Max.
Max menerima dengan senyum manis. Setelah itu Vanessa pun duduk di hadapan Max sambil menikmati makanan nya.
"Vanessa ... " Max memanggil nama itu dengan sangat lembut.
"He em?" Jawab Vanessa singkat.
"Maukah kau tinggal di sini bersama ku?" tanya Max penuh harap.
Vanessa menghentikan pergerakan nya. Ia beralih menatap dalam mata tajam Max.
"Aku akan tinggal di sini, jika kau berjanji untuk melepaskan obsesi mu itu." Ucap Vanessa tegas.
Seketika Max bingung. Apa yang harus ia pilih? Jujur ia sudah mulai merasakan sedikit cinta pada Vanessa. Tapi keinginan nya untuk memiliki Vivian masih sangat besar.
Vanessa pun terdiam. Jujur hati nya sakit melihat Max yang begitu ingin memiliki wanita lain selain dirinya. Ia sangat ingin menjadi satu satunya yang ingin Max miliki.
"Pikirkan itu baik baik Tuan. Jangan sampai kau membuat keputusan yang akan membuat mu menyesal." Ucap Vanessa menepuk pundak Max, kemudian berlalu meninggalkan Max.
Dengan langkah cepat ia menuju mobilnya dan masuk kedalam. Setelah ia mengunci pintu kamar nya, ia mulai terisak. Seketika ia menjadi lemah karena tahu keinginan Max untuk memiliki wanita lain masih sangat besar.
Ia tidak sadar kalau Max sedang memperhatikan nya. Tangan Max mengepal kuat. Bukan marah, tapi entahlah. Max benar benar tidak bisa menjelaskan perasaannya.
Kemudian Vanessa melajukan mobilnya meninggalkan rumah itu. Seperginya Vanessa, Max juga ikut pergi. Tujuannya adalah apartemen nya sekarang.
Ia ingin menjalankan rencana nya untuk memiliki Vivian. Ia tidak peduli lagi dengan perasaan Vivian pada nya. Obsesi nya hanya tertuju pada tubuh Vivian. Dan obsesi terbesar nya adalah ingin menghancurkan kebahagiaan Vivian. Ia bahkan tidak peduli kalau dulu pernah mencintai Vivian.
Setelah sampai di apartemen nya, ia segera masuk kedalam. Ia menuju ke kamar dimana ia sedang menahan Harley. Sengaja ia membuka pintu dan mendorong kuat. Membuat tubuh lemah Harley yang sedang istirahat terperanjat kaget.
"Wah wah, nyaman sekali tidur mu?" ucap Max menyindir Harley.
__ADS_1
Ia sedang memainkan sebuah pisau kecil ditangan nya. Dengan seringai menakutkan ia berjalan mendekati Harley. Harley merubah posisinya menjadi duduk.
"Wah, kau ingin membunuh ku sekarang?" tanya Harley meremehkan Max.
"Haha tentu saja tidak." Ucap Max kemudian menggoreskan pisau kecil itu dilengan Harley. Harley hanya meringis menahan sakit.
Setelah itu ia kemudian meraih ponselnya dan memotret hasil kerjanya. Ia tampak mengirim foto itu pada seseorang. Lalu ia pun beranjak meninggalkan Harley. Saat akan keluar dari kamar itu, ia menghentikan langkahnya dan berbicara pada Harley.
"Kau tahu pak tua, aku sudah tidak sabar mencicipi tubuh menantu mu itu. Tenang saja, saat aku melakukan itu aku akan membawa mu untuk menyaksikan nya." Ucap Max dengan nada menakutkan. Kemudian ia keluar dan menutup pintu dengan sangat kuat.
Ia berjalan dengan santai mengayunkan pisau kecil nya sambil bersiul. Seringai menakutkan tak pernah luntur dari wajahnya. Ia hanya perlu menunggu Vivian masuk kedalam perangkap nya.
#####
Vivian yang sedang berusaha menenangkan suaminya itu tiba tiba merasakan ponselnya bergetar. Ia meraih ponselnya dan membuka nya perlahan. Ia terbelalak tidak percaya melihat foto Harley sedang terluka.
"Jika kau ingin mertua mu pulang dengan selamat, Datanglah ke apartemen ... SENDIRI. Jangan coba coba membawa siapa pun atau ku habisi si tua itu saat ini juga." Isi pesan dibawah foto.
Hati dan pikiran Vivian menjadi tidak tenang. Ia ingin membantu suaminya menemukan mertua nya, tapi ia tidak tahu akan berhadapan dengan siapa nanti nya.
"Tidak sayang." Ucap Vivian berusaha tersenyum manis dan membawa kepala Raymond untuk bersandar di dada nya.
Raymond hanya mengikuti pergerakan nya. Raymond saat ini sangat down, anak buah nya belum menemukan tanda tanda keberadaan Harley sama sekali. Ia merasa frustasi karena tidak ada tanda tanda kemunculan Harley dimana pun. Semuanya seperti disusun sangat rapi oleh si penculik Ayahnya.
"Sayang bagaimana jika aku tidak berhasil menemukan Ayahku?" tanya Raymond dengan suara pilu.
"Sttt, semua akan baik baik saja. Kau pasti bisa menemukan Ayah." Ucap Vivian sambil mengusap punggung suaminya.
"Um, Ray aku akan keluar sebentar untuk membeli sesuatu." Vivian mencoba mencari alasan agar bisa pergi dari sana.
"Aku akan menemani mu." Raymond mengusulkan.
"Tidak tidak. Aku tidak akan lama. Kau sebaiknya menunggu di sini. Nanti jika Ayah mu berhasil ditemukan, kau bisa untuk langsung mengambil keputusan untuk menyelamatkan Ayah." Ucap Vivian berusaha meyakinkan suami nya.
"Baiklah sayang. Hubungi aku jika kau butuh jemputan atau apapun itu." Ucap Raymond memeluk istrinya.
Vivian pun berlalu setelah Raymond melepaskan pelukan nya. Hati nya sedikit tidak tenang, namun ia harus mencoba demi menyelamatkan Ayah mertua mya. Ia tahu yang menjadi target utama dari penculikan Ayah mertua nya ini adalah dirinya.
__ADS_1
Dengan menggunakan taxi, ia pergi ke alamat yang sudah dia didapatkan dari pesan tadi. Ia benar benar tidak membawa siapa pun sesuai yang diperintahkan.
Sepanjang perjalanan ia merasa khawatir, takut secara bersamaan. Entah apa yang terjadi dan siapa yang akan ia hadapi. Ia tidak punya gambaran sedikitpun mengenai itu.
Tak lama ia pun sampai di apartemen tersebut. Mata nya tampak memperhatikan sekeliling apartemen itu hingga akhirnya ia menyadari sesuatu.
"Max?" batin Vivian.
"Apa mungkin ... ?" Vivian tidak melanjutkan perkataannya. Ia langsung menuju ke unit yang sudah diberitahukan kepada nya saat ia sedang dalam perjalanan.
"Ini unit milik Max dulu." Batin Vivian lagi saat ia berdiri tepat di depan pintu unit apartemen milik Max.
Ia mencoba menekan bel yang ada disamping atas pintu, berkali kali namun tidak ada jawaban. Ia kemudian mencoba membuka pintu itu, dan ternyata pintu itu sengaja dibiarkan terbuka sedikit.
Dengan langkah ragu Vivian mulai menginjakkan kaki kedalam ruangan itu. Takut, adalah perasaan Vivian saat ini. Saat ia sudah didalam, pintu tiba tiba tertutup dan otomatis terkunci. Mendengar pintu yang terkunci, seketika membuat Vivian berbalik dan melihat seseorang berdiri di depan nya.
Belum sempat ia melihat wajah orang itu, ia sudah diserang duluan. Mulutnya hingga hidung nya dibekap dengan kain berbius hingga membuatnya mulai hilang kesadaran.
"Selamat kembali ke rumah sayang." Kalimat terakhir yang ia dengar, suara seorang pria dan ia merasa pria itu mencumbu nya sebelum akhirnya ia benar benar hilang kesadaran.
Max berhasil membuat Vivian pingsan dengan bius yang sudah ia olesi di kain tadi. Ia tersenyum penuh kemenangan. Segera ia pun membawa tubuh lemah Vivian kedalam kamar. Sebelumnya ia sudah memindahkan Harley ketempat lain.
Ia membaringkan Vivian diatas ranjang nya kemudian mengikat tangan Vivian pada besi dikepala ranjang. Perlahan ia mulai melucuti pakaian Vivian hingga tersisa hanya pakaian dalam nya.
Ia memotret beberapa foto Vivian dan memutuskan untuk mengirimkan nya pada Raymond. Setelah selesai, ia pun bangkit dan duduk di samping Vivian.
"Kita hanya akan bermain main sampai kita puas sayang." Ucap Max menyeringai sambil menelusuri tubuh Vivian dengan ujung pisau kecil nya.
********
Babang Max berulah lagi yah. Nakal.
Jangan lupa selalu tinggalkan komentar, like, vote dan favorit cerita nya ya.
Mampir juga di karya ku yang judul nya "IF LOVE"
Makasih dan sayang kalian selalu.
__ADS_1