Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
ROL 7 - Pembalasan


__ADS_3

NOTE : Aku ada nulis cerita baru judulnya "Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)" atau langsung klik di bio aku aja. Jangan lupa mampir yah dan tinggalkan jejak dan favorit.


...~ Happy Reading ~...


.


.


.


"Hah, melelahkan sekali." Ayvin mengeluh karena lelah setelah selesai dari kelas melukis nya.


"Untung saja ini sudah hari terakhir ujian, jadi besok aku bisa malas malasan." Timpal nya semangat.


Ia pun berjalan menuju tampat sepeda kesayangan nya di letakkan. Ayvin memang lebih sering menaiki sepeda jika ia bepergian sendiri.


"Sebaiknya aku pulang sekarang." Gumam nya.


Segera ia pun menaiki sepeda nya dan mengayuh nya perlahan keluar dari gedung tempat kelas melukis nya.


"Woi bocah." Seseorang berteriak dari belakang memanggil Ayvin.


Ia pun menghentikan sepeda nya dan menoleh kebelakang. Saat ia lihat, ternyata lima pria berbadan kekar sedang berjalan mendekati nya.


"Ada apa?" Ayvin bertanya santai.


"Turun dari sepeda mu." Pria yang menjadi ketua itu memerintah sambil menunjuk Ayvin.


"Kenapa?" Ayvin kembali bertanya santai.


"Jika kau ingin aman, turun dari sepeda mu dan hadapi kami." Pria tersebut menimpali.


"Jika aku hadapi kalian, sama aja aku tidak aman." Ucap Ayvin tertawa kecil.


"Jangan banyak bicara." Pria itu mendekat dan hendak menyerang Ayvin, dengan sigap Ayvin mengangkat sepeda nya dan memutar tubuh beserta sepeda nya untuk melindungi diri.


"Bangsat." Ucap pria preman itu.


Ayvin tidak takut, karena walaupun terlihat lemah, tapi ia sangat pandai bela diri.


"Sudah paman. Jangan sampai kau kelelahan." Ayvin mengejek pria preman itu.


"Banyak bicara." Pria itu kembali menyerang nya dan Ayvin berhasil menangkis nya berkali kali. Bahkan mereka berlima menyerang Ayvin bersamaan pun tidak membuat Ayvin lemah.


"Menyerah saja paman." Ayvin berkata sedikit berteriak sambil menangkis pukulan para preman itu.


Para preman itu bernafas terengah dan kelelahan bahkan wajah mereka sudah banyak lebam.


"Sudah aku harus pulang." Ucap Ayvin lalu berjalan untuk meraih sepeda nya.


Langkah nya terhenti saat melihat seseorang yang sedang mengintip nya dari salah satu pohon besar tak jauh dari nya.


"Dia ... "


BUKK


Ayvin diserang dari belakang dengan balok kayu membuat ia jatuh tersungkur. Merasa mendapat kesempatan, para preman itu kembali menyerang Ayvin dengan tendangan hingga Ayvin lemah.


"Ayo pergi." Si ketua preman mengajak para anak buah nya untuk pergi.

__ADS_1


Dengan menahan sakit, Ayvin berusaha untuk berdiri dan meraih sepeda nya. Tidak mampu mengayuh nya, ia memutuskan untuk mendorong nya perlahan.


Untung saja rumah nya tidak terlalu jauh dari kelas melukis nya. Ia berjalan perlahan dan menahan sakit.


Saat sampai kerumah nya, ia meletakkan asal sepeda nya, lalu berjalan masuk ke rumah.


"Ayvin, ada apa dengan mu?" Raiyan yang kala itu masih berada di ruang keluarga nya terkejut melihat keadaan adik nya yang terluka dan berantakan.


Ayvin hanya menggeleng.


"Katakan Ayvin, siapa yang melakukan ini?" Raiya menuntut jawaban.


Lagi lagi Ayvin hanya menggeleng.


"Ayvin katakan. Kau tidak pernah berbohong." Raiyan sedikit membentak adiknya.


"Jika aku bilang yang melakukan ini adalah Emily, apa kakak percaya?" Ayvin berucap sesuai kenyataan.


Ia melihat Emily mengintip nya tadi.


"Emily lagi. Benar benar mencari mati dia." Ucap Raiyan geram.


"Ayo kita obati dulu luka mu." Raiyan menuntun adik nya kedalam kamar dan mengobati luka adik nya.


"Sudah kau istirahat saja." Titah Raiyan pada adiknya setelah ia selesai mengobati luka adik nya.


"Kak." Ayvin meraih tangan kakaknya dan menggeleng kepalanya. Ia tidak ingin kakaknya menyakiti siapapun lebih dari batas wajar.


"Kau istirahat saja." Raiyan kembali menyuruh adiknya istirahat dengan tegas lalu berjalan meninggalkan adiknya tanpa peduli adiknya lagi.


Tujuan nya sekarang adalah membalas perbuatan Emily.


Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi diikuti beberapa orang suruhan nya dari belakang.


Sampai di apartemen Emily, tanpa berlama lama ia pun segera bergerak menuju unit apartemen Emily.


Ia tidak perlu menekan bel, karena sudah tahu password nya.


"Sayang kau datang?" Emily yang saat itu memang sedang berada di ruang utama menyambut nya bahagia.


Orang orang suruhan nya menunggu di depan pintu.


"Aku merindukan mu." Emily memeluk sensual tubuh Raiyan yang sudah duduk di samping nya.


"Aku sedang sedih. Ayvin dipukuli preman tadi." Raiyan pura pura bercerita sedih.


"Bagaimana bisa?" Emily bertanya pura pura.


"Entahlah, tap dia pulang dalam keadaan babak belur. Hati ku sakit melihatnya. Jika aku tahu siapa pelakunya, aku pasti akan menghukum orang itu berkali lipat." Raiyan sengaja memancing ketakutan Emily, dan dia berhasil.


Emily mulai menunjukkan ekspresi takut.


"Mungkin saja ada kesalahpahaman Rai." Emily mencoba membujuk Raiyan.


"Aku rasa kesalahpahaman yang diciptakan oleh mu Emily." Raiyan mulai berterus terang.


"Apa maksud mu?" Emily masih berpura pura dan berusaha menyangkal.


" Jangan pura pura. Kau yang sudah menyerang Ayvin." Raiyan tidak lagi basa basi.

__ADS_1


"Aku tidak Rai." Emily menjauh dari Raiyan sambil menggelengkan kepalanya.


"Kalian masuk lah." Raiyan memerintahkan kepada orang orang suruhan nya tadi.


Pria berbadan besar dan berwajah menyeramka berjumlah lima orang itu pun masuk satu persatu.


"Kalian lihat ini? Bagaimana menurut kalian?" Raiyan menunjuk Emily yang sudah ketakutan.


"Sepertinya nikmat Tuan." Salah satu menjawab.


"Kalau begitu, silahkan nikmati. Aku sedang berbaik hati." Raiyan berdiri sedikit menjauh dari Emily.


"Ah, tunggu sebentar. Disini tidak akan nyaman untuk kalian bergerak, di dalam saja." Raiyan menunjuk kearah kamar.


Salah satu pria dari pria berjumlah lima orang itu sigap mengangkat tubuh Emily dengan paksa menuju ke kamar.


Ia melempar Emily keatas ranjang lalu merobek paksa pakaian Emily.


"Apa yang mau kalian lakukan? Menjauh dari ku." Emily berteriak.


"Tenanglah sayang. Mereka hanya akan memberi mu kenikmatan, tidak akan sesakit yang kau berikan pada adik ku." Raiyan berdiri bersandar didepan pintu sambil memegang ponselnya untuk merekam.


"Rai, aku mohon jangan lakukan ini." Emily meminta ampun saat pria pria itu mencumbu tubuh nya.


"Lalu apa salah adik ku sampai kau menyiksa nya seperti itu?" Rai bertanya dengan suara datar tidak peduli pada tangisan Emily.


"Aku minta maaf Rai. Aku mohon." Ia kembali meminta ampun.


Pria pria itu masih bergantian mencumbu nya.


"Sayangnya aku tidak bisa mengampuni mu begitu saja. Kau harus menerima hukuman atas apa yang sudah kau lakukan." Ucap Raiyan geram.


Emily terus meronta. Entah mendapatkan kekuatan dari mana, tiba tiba ia menendang area pribadi para pria yang sedang berada diatas nya lalu secepat kilat berlari keluar dari apartemen nya.


Sedikit kesusahan membuka pintu namun berhasil. Raiyan yang terlambat menyadari karena gerakan Emily yang cepat pun segera mengejarnya diikuti para pria yang sedang menahan sakit itu.


Emily berlari ke arah tangga darurat yang justru membawanya semakin naik keatas gedung apartemen itu. Berharap ada pertolongan yang ia temui.


Sayang, sepertinya nasib tidak berpihak pada nya, ia tidak menemukan siapapun yang bisa ia mintai pertolongan.


"Berhenti Emily selama aku masih baik pada mu." Raiyan berteriak terus mengejar Emily.


Emily ternyata cukup cepat untuk berlari dengan tubuh yang hanya berbalut pakaian dalam nya.


Emily tidak mendengar nya dan terus berlari, hingga mentok diatas rootop apartemen nya.


"Mau lari kemana kau sekarang?" Raiyan menyeringai.


"Tidak Rai, jangan mendekat. Aku mohon." Emily berjalan mundur menghindari Raiyan dan orang orang suruhan nya yang maju perlahan menghampiri nya.


"Kemarilah. Tidak akan sakit." Raiyan melambaikan tangannya pada Emily.


"Tidak Rai. Aku bersalah membiarkan pria lain menyentuh ku hari itu. Aku salah karena aku marah pada mu. Tapi jangan menghukum ku seperti ini. Aku mohon." Emily terus meminta ampun dan terus berjalan mundur.


"Dan aku juga sudah bilang, jangan menyentuh keluarga ku apalagi sampai melukai mereka. Maka tidak akan ada ampun bagimu atau siapapun itu." Raiyan menyeringai dan terus maju mendekati Emily.


"Aaaa."


...~ Lanjut Nanti ~...

__ADS_1


Like dan Komen jangan.


Selamat Berpuasa hari ini, semangat yah.


__ADS_2