Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
Penyesalan itu terlambat.


__ADS_3

"Vanessa ... Vanessa jangan pergi, jangan tinggalkan aku." Max berteriak dan berjalan sempoyongan memasuki rumah sakit. Bau aroma minuman keras sangat kuat pada tubuhnya. Badan nya babak belur, bahkan tidak sedikit bagian yang mengeluarkan darah.


"Tuan mohon untuk menjaga ketenangan rumah sakit." Ucap salah satu perawat laki laki yang kebetulan melewati nya.


"Jangan mengganggu ku." Ucap Max mendorong tubuh perawat itu menjauh.


Ia terus melangkah terseok membawa tubuh lemah nya yang terluka.


"Vanessa, aku mohon jangan pergi. Bawa aku bersama mu." Ucap nya seperti orang gila. Bayangan wajah Vanessa terus berputar di otak nya.


Vanessa yang mampu membuat nya tersenyum, Vanessa yang selalu tidak ragu mengatakan cinta padanya walau tidak mendapat balasan, dan Vanessa yang, ah semua yang terbaik yang Vanessa berikan pada nya berputar di otak nya.


"Maafkan aku sudah mencelakai mu." Ucap nya lagi.


Ia kini sudah ada didepan pintu ruangan Vanessa tadi dirawat. Terlihat beberapa perawat mulai melepas berbagai selang yang menempel pada tubuh Vanessa. Rex tidak disana.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Max mendorong satu persatu perawat yang melepaskan selang pada tubuh Vanessa.


"Apa kau ingin membunuh Vanessa ku hah?" tanya Max dengan suara menggelegar.


Max benar benar seperti orang gila.


"Tuan tenangkan dirimu. Tidak ada gunanya kau emosi seperti ini." Ucap salah satu perawat laki laki yang baru saja masuk.


Max tidak peduli, ia berjalan menghampiri tubuh pucat Vanessa diatas ranjang.


"Vanessa, bangunlah. Aku tahu kau sedang marah pada ku karena itu kau ingin menghukum ku kan?" Ucap Max getir. Ia menggoyang goyangkan pundak Vanessa seperti sedang membangunkan orang tidur.


"Kau menang Vanessa, kau menang. Aku kalah. Aku tidak bisa, aku tidak ingin tanpa mu. Jika kau mau pergi bawa aku bersama mu. Aku mohon Vanessa buka mata mu." Ucap nya lagi, dan kini ia memeluk tubuh kaku Vanessa.

__ADS_1


"Aku mohon Vanessa ... " Max menangis meraung. Tidak ada lagi Max yang kejam, Max yang suka menyiksa, Max yang penggila perempuan. Yang ada saat ini hanya seorang Max yang bertekuk lutut memohon pada seorang perempuan yang sudah tidak bernyawa untuk hidup kembali.


Max kalah. Vanessa benar benar mengalahkan nya. Tapi untuk apa lagi kekalahan nya, jika Vanessa juga pergi meninggalkan dirinya. Max terpukul, penyesalan benar benar datang terlambat. Jika saja Max mau menurut dan lebih cepat mengambil keputusan, mungkin saat ini Vanessa sedang tertawa bahagia dalam pelukan nya, atau mungkin mereka sedang berperang panas diatas ranjang.


Semua itu hanya tinggal mimpi. Max kini merasakan kehancuran. Lebih hancur dari apapun. Lebih hancur dari saat ia melihat Vivian bersama Raymond. Tidak, kehancuran nya kali ini sudah tidak dapat dibandingkan dengan apapun. Ia sudah seperti kehilangan separuh atau bahkan seluruh nyawa nya.


Ia terlambat menyadari perasaan nya pada Vanessa. Bolehkah jika Max meminta agar Tuhan memutar waktu kembali? Rasanya tidak adil bagi nya, tapi ini setimpal dan mungkin belum ada apa apa nya dibanding kejahatan nya dulu.


Menculik dan menyiksa Harley yang sudah menyelamatkan nyawanya dari ambang kematian beberapa tahun lalu, tidak hanya itu, Harley juga yang menjamin kelangsungan hidupnya setelah ia sembuh hingga bisa sukses kembali seperti sekarang.


Menyekap bahkan menyetubuhi wanita yang dulu ia cintai hanya karena obsesi dan penolakan yang ia terima. Tentu saja itu juga sangat menghancurkan hidup Vivian. Mungkin Vivian akan seumur hidup mengingat kejadian pahit itu.


Menyiksa adik kandung nya seperti dan memperlakukan nya tak jauh berbeda dengan seekor binatang. Luar biasa, luar biasa apa yang sudah Max lakukan dulu.


"Vanessa aku mohon ... " Ucap nya lagi. Kini ia terduduk lemas di lantai. Ia terus memandangi samar tubuh kaku Vanessa yang tergeletak di atas ranjang. Bolehkah Max saja yang menggantikan Vanessa pergi dari dunia ini? Jika semua itu bisa menebus dosa nya ia akan suka rela melakukan itu. Ia memukul dadanya yang terasa sesak.


"Max, aku mencintai mu dan aku ingin cinta mu." Kalimat itu kembali terdengar di telinga nya.


"Aku mencintai mu Vanessa. Aku juga mencintai mu." Ucap nya berkali kali sambil berlari kesana kemari seolah mencari. mengejar seseorang. Terkadang dia akan tertawa seperti orang tidak waras.


"Max, apa yang kau lakukan?" tanya Rex mendekati Max. saat ia melihat Max berlarian seperti orang gila didalam ruangan itu.


"Rex, kemari lah, lihat Vanessa sedang bermain dengan ku. Dia sedang bersembunyi dari ku." Ucap Max menunjuk pada salah satu sudut ruangan itu.


"Sadarlah Max. Terima kenyataan kalau Vanessa sudah tiada. Kenyataan tidak bisa diubah." Ucap Rex berusaha menghentikan pergerakan Max dan meraih Max dalam pelukan nya.


"Vanessa berbohong Rex. Dia bilang mencintai ku, tapi ia pergi meninggalkan ku." Ucap Max meraung dalam pelukan adiknya. Rex mungkin marah pada kakak nya, tapi dia tidak bisa berdiam diri melihat kakak nya terpuruk seperti ini.


"Sudah lah kak. Semua itu sudah terlambat. Vanessa bahkan aku sudah berkali kali mengingatkan mu untuk berhenti sebelum semuanya menghancurkan mu lebih dalam, tapi kau sama sekali tidak mendengar perkataan kami." Ujar Rex mengusap punggung kakak nya.

__ADS_1


"Pukul aku Rex, pukul aku, sakiti aku." Max melepaskan pelukan Rex dan ia meraih tangan Rex agar memukuli dirinya.


"Semua itu tidak ada gunanya kak. Tidak bisa merubah kenyataan kalau Vanessa sudah tiada." Rex menghempaskan tangan Max kuat.


"Aku, aku akan menyusul mu Vanessa." Entah dari mana tiba tiba Max sudah meraih sebuah pisau kecil dalam genggaman nya, ia berusaha untuk memotong pergelangan tangan nya, namun sebelum dia sempat melakukan itu, Rex menendang kuat tangan Max yang memegang pisau hingga akhirnya pisau tersebut terpelanting entah kemana.


"Kau pikir dengan kau mati semua akan menjadi lebih baik Max? Kau pikir setelah kau mati nyawa Vanessa bisa kembali? Mental Vivian bisa pulih seperti dulu?" Rex bertanya dengan suara datar tanpa ekspresi.


"Tidak Max." Ucap Rex menggelegar.


"Semua tidak akan kembali seperti semula, dan penyesalan mu sudah tidak ada gunanya." Ucap Rex lagi.


"Tidak ada hal yang baik yang kau lakukan dalam hidup mu Max. Tidak ada satu pun. Semua yang kau lakukan akhirnya menghancurkan mu lebih parah." Rex tidak peduli lagi jika perkataannya akan sangat menyakiti Max.


Lebih baik menyakiti Max, daripada ia harus melihat Max kembali jatuh kejurang yang sama atau bahkan lebih dalam lagi.


"Aku akan segera menyiapkan pemakaman untuk Vanessa. Jika kau sadar dan kau benar benar mencintai nya, maka datang lah ke pemakaman nya dan berikan Vanessa penghormatan serta ucapan perpisahan yang terakhir." Ucap Rex tanpa ingin basa basi lebih lama lagi. Ia pun segera keluar dari ruangan itu untuk mengurus segala administrasi Vanessa.


"Vanessa ... "


***********


Tuhkan babang Max. nyesal tuh gak ada obat nya. Ngeyel sih dibilangin dari awal.


Percuma bang menyesal sekarang.


Btw, makasih buat kalian semua yang tidak pernah bosan untuk memberikan dukungan kalian buat aku.


Selalu tinggalkan komentar, like, vote, dan juga favorit cerita nya yah.

__ADS_1


Mampir juga di karya ku yang judulnya "IF LOVE " yuk.


Sayang kalian dan selalu jaga kesehatan yah.


__ADS_2