Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
Extra Chapter ROL 7 - Keputusan Terbaik


__ADS_3

"Eng.." Raiyan melenguh pelan dan perlahan membuka matanya.


Ia baru tersadar dari tidurnya akibat mabuk berat tadi malam.


"Sayang?" Gumam Raiyan melihat Axnes sedang berjalan mondar-mandir.


Axnes tidak sadar kalau Raiyan sudah sadar.


"Sayang, kau sudah bisa berjalan?" Tanya Raiyan bahagia dan langsung memeluk istrinya.


"Lepaskan aku Rai, kau sangat bau!" Ketus Axnes.


Axnes tidak berbohong, Raiyan sangat bau alkohol.


"Kau hamil lagi?" Tanya Raiyan yang malah salah mengartikan ucapan istrinya.


"Lihatlah! Baru saja aku berniat untuk membuka pintu maaf bagimu, tapi sekarang kau menuduhku hamil lagi." Ketus Axnes langsung mendorong Raiyan menjauh.


"Bukan begitu sayang. Saat kau hamil Yanes dulu kau juga mengatai ku bau." Ucap Raiyan menggaruk tengkuknya.


"Bodoh. Kau pikir aku ini apa? Bisa hamil tanpa melakukan hubungan suami istri?" Tanya Axnes geram.


"Maaf, aku salah." Ucap Raiyan hendak memeluk Axnes namun Axnes segera menahannya.


"Mandilah dulu. Sungguh bau alkohol mu sangat menyengat." Usir Axnes.


Raiyan hanya menurut.


"Aku harap kali ini keputusan ku tidak salah." Gumam Axnes lalu menyiapkan pakaian untuk Raiyan.


Satu jam kemudian Raiyan keluar dari kamar mandi dengan sedikit menggigil. Bagaimana tidak? Raiyan mandi berulang kali hingga ia yakin bau alkohol sudah hilang sepenuhnya dari tubuhnya.


"Astaga, kau mandi atau berenang Rai? Kenapa menggigil seperti ini?" Tanya Axnes panik.


"Aku hanya berusaha menghilangkan bau alkohol dari tubuhku." Jawab Raiyan gemetar.


"Aku rasa otakmu benar-benar sudah rusak!" Ketus Axnes kesal.


"Sayang, aku hanya tidak ingin kau semakin kecewa dengan ku." Ucap Raiyan mengenakan pakaian yang Axnes siapkan.


"Dimana anak kita?" Tanya Raiyan bingung.


"Bersama Mama dan Papa mu dari tadi malam." Jawab Axnes.


"Sudah? Ayo kita keluar. Semuanya sudah menunggu untuk sarapan." Ajak Axnes namun ia berjalan lebih dulu.


"Selamat pagi Pa, Ma." Ucap Axnes begitu sampai diruang makan.


"Pagi..selamat pagi." Jawab Raymond dan Vivian bergantian.


Raiyan bingung kenapa orang tuanya tidak terkejut melihat Axnes sudah bisa berjalan normal.


"Kau kenapa melamun? Apa melamun bisa membuat kenyang perutmu?" Tanya Raymond ketus.

__ADS_1


Raiyan salah tingkah lalu ikut duduk di samping Axnes.


"Dimana Ayvin dan kakek?" Tanya Raiyan.


"Kakek mu sedang dirumah sakit untuk memeriksa kesehatannya bersama Ayvin." Jawab Vivian sambil menyuapi cucu kesayangannya.


"Sepagi ini?" Tanya Raiyan bingung.


"Waktu pagi adalah yang paling tepat untuk periksa sebelum tubuh kita menerima asupan makanan dan minuman." Jawab Vivian.


Raiyan hanya mengangguk.


Mereka pun menyantap sarapan mereka dengan hening.


"Um, Pa Ma, ada yang ingin aku bicarakan." Ucap Axnes menghentikan kegiatan makannya.


"Aku juga. Biar aku saja yang dulu." Selah Raiyan.


"Bicarakan nanti saja. Jika sedang makan harus fokus." Ucap Raymond tegas.


Keduanya menurut dan kembali menyantap makanan mereka.


Setelah selesai, mereka pun berkumpul di ruang keluarga.


"Ma, Pa, kami pulang." Sapa Ayvin sambil memapah Harley yang sebenarnya masih tampak gagah.


"Bagaimana hasilnya Ayah?" Tanya Vivian cemas.


"Kakek bohong. Kata dokter gula darah kakek sedikit tinggi dari bulan lalu." Jawab Ayvin langsung menggendong Yanes.


"Sudah aku duga. Akhir-akhir ini Ayah jarang sekali menjaga pola makan." Ujar Vivian membuat Harley cengengesan.


"Baiklah, apa yang ingin kalian katakan tadi?" Tanya Raymond mengingatkan Axnes dan Raiyan.


"Aku dulu. Aku sudah memikirkan dan memutuskan semuanya. Aku ingin mundur dari Lu Technology." Ucap Raiyan tegas.


"Apa? Lalu kau ingin jadi apa? Mau kau kasih makan apa anak istrimu?" Tanya Vivian bertubi.


"Aku sudah ambil keputusan Ma. Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama." Ucap Raiyan.


"Bodoh! Yang salah itu bukan jabatan atau pekerjaan mu. Yang salah adalah dirimu." Ketus Raymond.


"Tapi Pa ... "


"Sebaiknya kau akhiri semua kerja sama dengan klien mu itu dan bayar ganti rugi berapapun yang mereka minta. Lebih baik aku kehilangan hartaku daripada keluarga ku porak poranda." Tegas Raymond memotong perkataan Raiyan.


Raiyan akhirnya diam dan mengangguk.


"Lalu, apa yang ingin kau sampaikan Axnes?" Tanya Raymond beralih kepada Axnes.


"Aku..aku memutuskan untuk memberikan satu kesempatan pada Rai untuk menebus kesalahannya dan memperbaiki dirinya." Jawab Axnes menunduk.


Raymond tersenyum, Vivian mengelus dada karena bahagia, begitupun Harley. Ayvin bersorak dalam diam sambil bermain dengan Yanes.

__ADS_1


Raiyan??? Jantungnya berdegup sangat sangat kencang saat mendengar perkataan istrinya.


"Apa kau sudah siap menceritakan semua masalah ini pada orang tuamu? Bagaimanapun mereka harus tahu dan kau belum pernah menceritakan pada mereka." Tanya Vivian.


"Sebenarnya aku tadi malam sudah menceritakan semuanya pada mereka. Awalnya mereka marah terutama Papa. Tapi akhirnya mereka tetap menyerahkan semua keputusan kepadaku." Jawab Axnes menatap Vivian.


"Kau tidak akan mengubah keputusan lagi kan? Jangan melakukan semuanya karena terpaksa Axnes. Semuanya harus dari hatimu." Ujar Vivian.


"Aku sudah memikirkannya sepanjang malam dan aku yakin." Jawab Axnes tegas tak terbantahkan.


"Baiklah. Kami akan selalu mendukungmu." Ujar Raymond.


"Um..aku ingin kekamar sebentar." Pamit Axnes lalu beranjak dari tempat duduknya.


Sebenarnya ia hanya memancing suaminya untuk mengikutinya. Bagaimanapun mereka tetap perlu bicara berdua.


Raiyan pun segera mengejar istrinya.


"Sayang, terima kasih." Ucap Raiyan memeluk istrinya dari belakang setelah mereka didalam kamar.


Axnes memilih diam sejenak untuk merasakan hangatnya pelukan dari suaminya yang sangat ia rindukan itu.


"Terima kasih, kau mau memberiku satu kesempatan lagi." Ucap Raiyan lagi saat tak mendapati jawaban dari Axnes.


"Aku melakukan semua ini demi putra ku." Ujar Axnes dingin sambil melepaskan tangan Raiyan dari perutnya.


Axnes lalu berjalan dan duduk disofa ujung ranjang mereka.


"Sayang, aku berjanji aku akan ... "


"Tidak perlu berjanji hal yang nantinya akan membuat ku kecewa. Cukup kau buktikan dengan niat mu." Ucap Axnes memotong perkataan Raiyan.


"Baik sayang. Tapi, bolehkah aku meminta satu permintaan dari mu?" Tanya Raiyan ragu.


"Katakan!" Titah Axnes pelan.


"Bolehkah kita kembali ke rumah kita dan tinggal di rumah kita saja. Disini ada banyak orang yang mengawasi ku, bisa saja aku melakukan perubahan ku hanya karena tertekan oleh mereka. Tapi dirumah kita, hanya ada kita bertiga. Dan aku berjanji aku akan mencari seorang pelayan untuk meringankan pekerjaan kita." Ucap Raiyan sungguh-sungguh.


Axnes diam dan sejenak berpikir.


"Baiklah. Tapi aku harap kali ini kau tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada." Ucap Axnes tegas.


"Aku berjanji." Raiyan menimpali tak kalah tegas.


Raiyan langsung memeluk erat Axnes.


"Semoga ini adalah keputusan terbaik yang aku ambil." Batin Axnes.


...~ TO BE CONTINUE ~...


######


satu bab lagi udah bnran selesai ya..

__ADS_1


__ADS_2