
"Hoam." Raiyan menguap lebar saat baru tersadar dari tidur nya.
"Cantik sekali." Ucap Raiyan tersenyum manis saat menatap wajah calon istri nya yang masih terlelap dalam pelukan nya.
"Aku beruntung memiliki mu." Ucap nya lagi.
Raiyan mengedarkan pandangan menelisik keadaan kamar nya, ia mulai mendengar seperti ada suara gaduh dari luar ruangan.
"Ini masih pagi, siapa yang membuat keributan?" Batin Raiyan penasaran.
"Eng." Axnes melenguh pelan dan mulai ikut tersadar dari tidur nya.
"Selamat pagi, Rai." Ucap Axnes dengan suara serak nya.
Raiyan tersenyum.
"Kau sangat sexy sayang." Goda Raiyan pada kekasihnya.
Axnes bukannya marah atau kesal, ia malah semakin memeluk kekasihnya itu dan menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Raiyan.
Raiyan semakin gemas dengan tingkah calon istri nya.
"Suara apa itu?" Tanya Axnes dengan suara malas.
"Aku tidak tahu. Apa Papa mu sedang sekarat?" Tanya Raiyan sembarangan.
Bukk
Axnes memukul dada nya.
"Kalau bicara jangan sembarangan." Ucap Axnes sedikit kesal.
Raiyan hanya tersenyum tanpa rasa bersalah.
"Argh ya ampun, berisik sekali." Ucap Axnes geram.
Ia lalu bangkit dari posisinya dan turun dari ranjang, sebelum berniat turun ke bawah ia memutuskan untuk masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci wajah dan menggosok gigi nya.
Raiyan juga melakukan hal yang sama.
Setelah selesai, mereka memutuskan untuk turun ke bawah dan melihat apa yang sedang terjadi.
Yang pertama kali mereka lihat adalah lima orang yang sangat mereka kenal sedang berdebat hebat.
"Astaga, jadi mereka yang ribut?" Tanya Axnes tak percaya.
Mereka berdiri mematung di tengah tangga.
"Max, aku tidak mau tahu. Aku ingin desain undangan pernikahan anak kita yang seperti ini." Tegas Raymond menunjuk selembar contoh desain kartu undangan pernikahan Raiyan dan Axnes.
"Dan aku mau yang seperti ini." Ucap Max juga tegas sambil menunjuk selembar contoh desain lain nya.
"Dan kami mau yang ini." Titah Vivian dan Vanessa bersamaan menunjuk selembar contoh desain lain nya yang berbeda dari pilihan Raymond dan Max.
"Bagaimana yang ini saja?" Tanya Ayvin menunjukkan hasil desain nya sendiri.
"Diamlah anak kecil." Ucap Max kesal mengusap wajah Ayvin dengan telapak tangannya.
"Hei, singkirkan tangan mu pak tua." Ucap Raiyan segera menuruni anak tangga saat melihat Max "Mengasari" adik nya.
Axnes mengikuti dari belakang.
"Ah, Rai. Kalian sudah bangun. Baguslah." Ucap Vivian.
"Kemarilah dan duduk." Titah Vanessa menepuk tempat kosong di samping nya.
Raiyan dan Axnes menurut dan duduk bersamaan dan berdampingan.
__ADS_1
Raiyan menatap tajam pada Max.
Max hanya tersenyum sinis.
"Rai, Axnes yang ini bagus kan?" Raymond memulai pertanyaan duluan sambil menunjukkan desain kartu undangan pilihan nya.
"Tidak tidak. Kalian harus pilih yang ini." Kini Max yang bersuara dan melakukan hal yang sama.
"Tidak. Kalian harus pilih yang ini pokoknya." Ucap Vivian dan Vanessa bersamaan.
"Oh ayolah, desain ku yang terbaik." Ucap Ayvin tak mau kalah.
"Astaga. Siapa yang menikah sebenarnya? Kenapa malah kalian yang berdebat?" Tanya Raiyan mendengus kesal.
Kelima orang itu hanya tersenyum tanpa rasa bersalah.
Raiyan memperhatikan setiap desain yang ditawarkan oleh kelima orang itu.
Ia menatap kekasih nya sejenak. Axnes mengangguk pelan saat melihat kode tatapan dari Raiyan.
"Untuk undangan, kami memilih Ayvin." Ucap Raiyan tegas mewakili Axnes.
Ayvin tersenyum penuh kemenangan.
"Baik kak. Aku akan melakukan yang terbaik." Ucap Ayvin penuh percaya diri.
"Dan untuk persiapan lainnya, kami akan menyiapkan sendiri. Kalian duduk tenang dan tunggu saja hasilnya." Titah Raiyan masih sedikit kesal dengan keempat orang tua dan adiknya.
"Tapi Rai ... "
"Ayolah Ma, aku meminta kalian datang untuk membantu, bukan untuk berdebat. Jika pada akhirnya kalian hanya berdebat, lebih baik kami melakukan persiapan ini sendirian." Ucap Raiyan tegas.
Keempat orang tua itu hanya menunduk.
"Aku akan segera bersiap, begitupun Axnes. Setelah ini kami yang akan pergi berbelanja dan memesan segala pernak pernik yang akan kami butuhkan nanti nya." Tegas Raiyan lalu bangkit dari duduk nya dan membawa Axnes kembali ke kamar.
"Aku tidak marah. Hanya sedikit kesal. Bagaimana bisa mereka malah berdebat untuk hari bahagia kita?" Ucap Raiyan kesal.
"Itu artinya mereka peduli pada kita dan ingin memberikan yang terbaik untuk kita." Ucap Axnes.
Raiyan mendengus kesal.
"Ya sudah. kau mandilah dulu, kemudian aku. Lalu setelah ini kita berangkat untuk mencari dan memesan segala yang kita butuhkan." Titah Raiyan.
Axnes mengangguk dan segera masuk kedalam kamar mandi.
Raiyan memilih untuk menyiapkan pakaian untuknya dan Axnes.
Mereka tidak berbelanja setelah sampai di Jepang, karena malah Vanessa yang berbelanja dan menyiapkan semua nya untuk mereka.
Raiyan memilih yang akan membuat penampilan mereka terlihat serasi.
Tak lama Axnes pun keluar, lalu berganti Raiyan yang masuk kedalam kamar mandi.
Axnes segera mengenakan pakaian nya setelah mengeringkan tubuh nya.
Ia juga mengeringkan rambut nya dengan hairdryer, kemudian memoles wajahnya dengan make up tipis.
Raiyan pun keluar dari kamar mandi. Segera Raiyan juga bersiap.
"Sudah?" Tanya Raiyan lembut setelah ia selesai bersiap.
"Sudah." Axnes menjawab semangat.
Raiyan meraih satu tangan Axnes kedalam genggaman nya.
Mereka berjalan ke luar dari kamar dan turun kebawah.
__ADS_1
Kelima orang itu masih berada pada posisinya.
"Kami akan keluar. Mungkin akan sampai sore." Ucap Raiyan berpamitan.
"Hati hati." Ucap Vanessa lembut.
Raiyan dan Axnes mengangguk.
Mereka pun keluar dari rumah dan masuk kedalam mobil.
Setelah itu Raiyan segera melajukan mobilnya menuju ke pusat perbelanjaan.
Mereka ingin mencari apa saja yang mereka perlukan dan bisa temukan di pusat perbelanjaan.
Tiga puluh menit kemudian mereka pun sampai.
Mereka masuk kedalam pusat perbelanjaan itu setelah Raiyan memarkirkan mobilnya dengan benar.
"Sudah lama aku tidak kesini." Ucap Axnes girang saat melangkahkan kakinya masuk kedalam pusat perbelanjaan itu.
Raiyan tersenyum melihat tingkah kekasihnya.
Mereka pun berjalan menelusuri lorong demi lorong pusat perbelanjaan itu.
Mereka juga sudah mendapat beberapa pernak pernik yang mereka butuhkan.
"Axnes?" Sapa seorang pria saat mereka sedang berada di toko perhiasan yang ada didalam pusat perbelanjaan itu.
Raiyan dan Axnes menoleh ke arah sumber suara.
"Ren?" Axnes sedikit terkejut melihat ternyata Ren yang menyapanya.
Ren tampak bersama seorang gadis cantik.
"Kau sedang apa disini?" Tanya Ren terlebih dulu.
"Kami sedang memilih cincin yang cocok untuk pernikahan kami. Lalu kau?" Jawab Axnes lalu bertanya kembali pada Ren.
"Aku juga ingin mencari cincin pernikahan. Oh ya, perkenalkan ini calon istri ku Alina." Ucap Ren sambil memperkenalkan gadis disamping nya.
"Axnes." "Raiyan." Ucap Axnes dan Raiyan bergantian menyalami Alena.
"Kalian akan menikah disini?" Tanya Axnes penasaran.
"Iya. Ibuku keturunan Jepang asli, sedangkan Ayahku orang Amerika. Jadi kami memutuskan untuk menikah disini saja setelah mendapat persetujuan dari Papa dan Mama." Ucap Alena menjelaskan dengan sopan.
"Wah, pantas saja kau cantik sekali." Ucap Axnes berbinar.
Alena menunduk tersipu.
"Ya sudah, kalian lanjutkan saja memilih cincin pernikahan kalian. Kami juga akan memilih punya kami." Ucap Ren mempersilahkan kedua orang itu.
"Jika ada waktu nanti, datanglah ke acara kami." Kini Raiyan yang bersuara.
Ren tersenyum.
"Tentu Rai. Asal hari pernikahan kita tidak bertepatan saja." Ucap Ren tersenyum manis.
Raiyan hanya megedikan bahu nya acuh.
Setelah itu mereka pun kembali sibuk memilih cincin pernikahan yang cocok dan sesuai dengan keinginan mereka.
...~ To Be Continue ~...
*******
Like dan komentar jangan lupa. Makasih.
__ADS_1