
"Honey bangunlah." Ucap Raymond menggoyangkan pelan tangan Vivian. Vivian yang masih nyaman dengan tidurnya merasa enggan bangun. Ia kemudian menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Akhirnya muncul ide jahil dari Raymond agar bisa membuat calon istrinya itu bangun dari tidurnya.
Ia menarik selimut yang menutupi tubuh Vivian hingga keujung kaki Vivian. Ia lalu sengaja naik kebadan Vivian dan mulai membuka satu persatu kancing dress tidur Vivian dengan perlahan. Vivian yang merasakan pergerakan Raymond dengan segera membuka matanya dan mencekal tangan Raymond untuk bergerak lebih. Raymond tersenyum melihat kelakuan kekasih nya calon istrinya.
"Bangunlah. Bukankah kita akan bertemu WO(Wedding Organizer) hari ini?" ucap Raymond mengingatkan Vivian.
Vivian menepuk jidatnya lalu ia mendorong tubuh kekar Raymond hingga terjungkal kesamping dan segera berlari ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Raymond hanya menggeleng melihat kelakuan gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.
Ponsel Raymond berdering dan saat ia melihat nya ternyata adalah Harley Lu Ayahnya.
"Hallo Pak tua, apa kabar mu disana?" tanya Raymond saat mengangkat panggilannya itu.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan dirimu dan calon istri mu?" tanya Harley dari balik panggilannya.
"Kami baik-baik saja Ayah. Hari ini kami akan menemui pihak WO untuk membicarakan mengenai persiapan pernikahan kami." Raymond menjawab Ayahnya sambil tersenyum.
"Anak bocah ku ini sekarang sudah dewasa yah." Harley menimpali.
"Tentu saja Ayah. Aku akan menjadi lebih baik dari Ayah hehe." Raymond terkekeh meledek Ayahnya.
"Ayah percaya kau pasti akan lebih baik dari Ayah. Jalani rumah tangga mu nanti dengan baik nak. Apapun yang terjadi selesaikan baik-baik. Jika salah satu dari kalian sedang menjadi api maka yang lainnya harus menjadi air." Ucap Harley menasehati putra terkasih nya.
"Baik Ayah aku mengerti." Ujar Raymond sambil mengangguk. Lalu obrolan mereka pun berlanjut. Sesekali Raymond tertawa mendengar perkataan Ayahnya. Sesekali ia meledek Ayahnya. Memang Harley lah sandaran satu-satu nya sejak Ibunya pergi meninggalkan mereka. Sampai sekarang ia menemukan Vivian dalam hidupnya.
"Sayang aku sudah selesai." Ucap Vivian yang baru keluar dari kamar mandi masih dengan rambut setengah basah namun sudah berpakaian lengkap. Raymond yang baru saja mengakhiri panggilannya dengan Ayahnya langsung menelan kasar ludahnya melihat penampilan calon istrinya. Sangat menggoda itulah yang ada dalam benaknya.
"Sabar Ray sabar. Tidak lama lagi kau akan menikmati itu semua dengan bebas." batin Raymond sambil menggeleng berusaha mengusir pikiran kotornya.
__ADS_1
"Baiklah. Giliran ku sekarang." Ia pun langsung beranjak menuju kamar mandi dan mulai membersihkan dirinya.
Setelah selesai ia keluar dengan hanya mengenakan handuk yang terlilit sempurna dipinggang nya dan bagian atasnya terekspos indah dengan otot-otot yang menghiasi. Vivian yang melihat itu dibuat takjub, sangat indah itu yang ada dalam pikiran Vivian.
"Sadarlah Vi sadarlah. Jangan menatapnya seperti itu atau kau yang akan dapat masalah." batin Vivian menggeleng kepalanya. Raymond tidak sadar kekasihnya sedang menatapnya. Jika ia mengetahui sudah pasti ia akan mengerjai kekasihnya itu.
Setelah selesai mereka pun menuju ruang makan untuk sarapan.
"Honey kau ingin konsep apa untuk pernikahan kita nanti?" tanya Raymond disela-sela kegiatan mereka.
"Hem, aku tidak keberatan dengan konsep apapun. Tapi aku lebih suka jika itu Outdoor." Jawab Vivian santai. Ia memang bukan tipe perempuan cerewet pada umumnya.
"Baiklah kita akan melaksanakan pernikahan kita dengan konsep outdoor. Lalu tema apa yang kau inginkan?" Raymond bertanya lagi.
"Bagaimana jika kita menggunakan tema Black and White? Sepertinya itu akan unik." Vivian mengusulkan.
Setelah selesai sarapan mereka pun berangkat. Raymond menyetir sendiri karena ia menugaskan Jiro untuk melakukan hal lain selain itu hari ini juga bertepatan dengan weekend. Setelah hampir empat puluh lima menit akhirnya mereka sampai di sebuah kantor WO yang cukup terkenal di kota itu.
Raymond dan Vivian melangkah dengan pasti memasuki gedung itu. Beberapa pegawai disana menatap mereka dengan tatapan kagum. Sangat serasi itu yang ada dalam pikiran mereka. Selain itu dua sejoli ini memang sedang hangat diperbincangkan baik didunia nyata maupun dunia maya.
"Aku ingin bertemu dengan Mr. Zhang. Aku sudah membuat janji dengan nya." Ucap Raymond pada Resepsionis sambil menunjukkan bukti janji nya dengan Mr. Zhang pada Resepsionis itu. Resepsionis itu kemudian menghubungi Mr. Zhang melalui telepon. Setelah selesai ia pun mengantar dua sejoli ini menuju ruang Mr. Zhang. Namun langkah mereka terhenti saat mendengar panggilan dari seorang perempuan.
Raymond menoleh dan tersenyum lebar melihat perempuan yang memanggilnya. Perempuan yang terlihat sangat anggun dan cantik. Ia kemudian melepas tangan nya yang dari tadi menggenggam tangan Vivian lalu berjalan mendekati perempuan itu. Ia memeluk erat perempuan itu sambil berbincang dan sesekali tersenyum bahkan tertawa kecil. Setelah selesai ia pun kembali kesisi Vivian dan menggandeng tangan Vivian untuk mengikuti Resepsionis tadi menuju ruang Mr. Zhang.
Vivian mengira Raymond akan memberitahu nya siapa perempuan itu, namun nyatanya nihil. Vivian mencoba menepis pikiran buruknya bagaimanapun sebentar lagi mereka akan menikah.
"Hallo Tuan Raymond apa kabar?" tanya Mr. Zhang sambil memeluk Raymond.
__ADS_1
"Aku baik." Ucap Raymond singkat dan membalas pelukan nya.
"Hallo Nona Vivian. Kau terlihat lebih cantik aslinya daripada difoto." Ucap Mr. Zhang mengulurkan tangan nya pada Vivian. Vivian membalas uluran tangan dari nya sambil tersenyum.
Setelah mempersilahkan mereka untuk duduk, Mr. Zhang pun memulai pembicaraan. Mereka terlihat sangat antusias apalagi kedua calon mempelai. Terutama Raymond, wajahnya berseri sekali. Setelah kurang lebih hampir dua jam akhirnya meeting mereka selesai dan mereka sudah meraih hasil yang mereka inginkan.
Raymond dan Vivian kemudian meninggalkan kantor Mr. Zhang dan menuju ke toko perhiasan yang juga adalah toko perhiasan terbaik dikota itu. Toko yang hanya menyiapkan perhiasan dengan kualitas terbaik dan pastinya edisi terbatas. Mereka sedang memilih cincin pernikahan yang akan mereka kenakan nantinya. Kurang lebih dua jam namun mereka masih belum menemukan yang cocok. Akhirnya mereka pun pergi setelah membuat ulang janji ketemu dengan pihak toko perhiasan itu.
"Ray." Vivian memanggil Raymond lembut.
"Ada apa?" tanya Raymond meraih tangan Vivian kedalam genggaman nya. Vivian diam sejenak, ia ragu apa perlu menanyakan tentang perempuan tadi ataupun tidak.
"Tidak. Aku hanya memanggil mu saja. Nanti setelah menikah aku pasti akan jarang memanggil nama mu." Vivian mengalihkan pembicaraan. Raymond hanya terkekeh sambil mengacak rambut Vivian.
Kita beralih ke pria peneror. Kini si pria peneror sedang berada di sebuah kamar. Ia sedang menggantung foto-foto indah Vivian pada tali yang ia pasang dikamar itu. Kamar nya minim akan cahaya menambah kesan seram bagi yang melihatnya. Seringai tipis lagi-lagi terukir di wajah nya.
"Kita akan bertemu sebentar lagi sayang. Kita akan hidup bersama setelah kita bertemu nanti." Ucap nya sambil mengelus salah satu foto Vivian yang tergantung ditali.
**********
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak di kolom komentar berupa kritik atau saran dan masukan yang membangun serta like nya setiap kali kalian selesai membaca satu part.
Favorit dan Vote serta berikan rate bintang 5, 4, 3 untuk "Mr. Mafia or Mr. Psychopath?" ya.
Terima kasih yang sebesar besarnya.
Follow IG ku @zml1104_
__ADS_1
^^^Salam Semangat.^^^